
Sudah dua minggu lebih ini Fajrin sibuk dengan pekerjaannya, bahkan Azkar memintanya untuk memimpin 3 tim Arsitek dan 2 tim desain interior. Gultom menjadi koordinator tim 1, Irvan menjadi koodinator tim 2 dan 1 staff baru bernama hilman menjadi koordinator tim 3. Sementara Ryan, cahyo, andra, dan muslim bergabung dengan mereka. Menjadi pemimpin sebuah bagian atau manager Area 2 yang bertanggung jawab untuk desain project di sektor pariwisata, membuat Fajrin semakin sibuk. Bukan karena kedekatan Fajrin dengan Azkar yang membuat Azkar menaikkan jabatan Fajrin dari staff ahli menjadi manager Area, tapi karena sudah banyak staff ahli dan sudah waktunya Fajrin menduduki posisi managerial.
Mendapatkan kenaikan jabatan bukan membuat Fajrin berbangga diri tapi justru membuat Fajrin memiliki amanah yang lebih besar, karena posisinya menyangkut hajat hidup seluruh timnya.
Pintu lift terbuka, Fajrin melangkah keluar dan masuk ke ruang kerjanya. Tinggallah Azkar dengan Roby.
“ Bro... aku dukung apa pun keputusan kamu selama bisa membuat kamu bahagia “ gumam Roby dalam hati dan menarik nafas panjang.
“ kenapa kamu begitu? “ pertanyaan dingin Azkar membuat Roby sedikit bingung.
“ tidak ada apa-apa bos.... terbiasa dekat dengan Nara... kalau dulu kangen Nara tinggal terbang 50 menit sampai di Lampung, sekarang kalau kangen adiknya harus terbang 15 jam baru sampai “ ucap Roby menutupi kebenaran yang dia dengar pagi ini.
“ aku yakin bukan Nara yang dipikirkan saat ini.... tapi Divya “ ucap Azkar yang sudah melangkah keluar dari lift.
Roby mengikuti langkah kaki Azkar, belum sempat Azkar masuk tiba-tiba ponselnya berdering. Azkar melihat layar ponselnya sebentar.
“ Assalamu'allaikum..... ada yang bisa Azkar bantukah? Pagi sekali om Davis menghubungi Azkar “ ucap Azkar sambil tangan kanannya membuka pintu ruang kerjanya.
“ ..... “
“ bisa... bagaimana kalau nanti siang kita bertemu “ ucap Azkar sambil melepas jasnya.
“..... “ Azkar tersenyum mendengar nada suara Davis yang terdengar jelas sangat senang.
“ baik om.... Azkar tunggu kabar dari om Davis “ ucap Azkar yang sudah bisa menebak apa yang ingin Davis bicarakan.
“.... “ sekali lagi Azkar tersenyum mendengar nada suara Davis yang sangat bersemangat.
“ baik om ....Wa'alaikumsalam “ ucap Azkar dan tersenyum tipis memikirkan beberapa hal yang mungkin Davis ingin tahu.
“ para orang tua masih saja ingin tahu urusan anak muda.... minggu kemarin setelah acara lamaran Norin.... Abba dan Amma mendudukan kami karena Fajrin.... sekarang om Davis.... “ gumam Azkar sambil membuka laptopnya.
Fajrin yang di sibukkan dengan jabatan baru membuatnya dapat melupakan sejenak sosok Divya dalam otaknya tapi saat semua pekerjaan sudah selesai, kembali sosok Divya memenuhi otak dan hatinya. Di saat Fajrin termenung menatap laptop memeriksa hasil desain tim 1, tiba-tiba ponselnya berdering. Fajrin meraih ponselnya dan terlihat nama ‘Om Rendra', Fajri sedikit ragu untuk menerima panggilan tersebut mengingat perlakuan Maya pada dirinya di hadapan Nara.
“ Assalamu'allaikum om... “ salam Fajrin berusaha bersikap biasa.
“.... “ Fajrin tersenyum getir mendengar suara wanita di belakang Rendra.
“ Alhamdulillah sehat om.... maaf saya belum sempat silahturahmi ke rumah om.... banyak pekerjaan dan beberapa hal yang harus saya selesaikan.... Insya ALLAH kalau ada waktu luang, saya akan menyempatkan diri silahturahmi ke rumah om “ ucap Fajrin yang sudah berdiri dari kursi dan melangkah keluar ruangan.
“..... “ nasehat Rendra membuatnya mengingat sosok yang membuat Nara gemas akan sikapnya.
“ Aamiin..... Insya ALLAH, kalau boleh tahu...... ada sesuatukah yang ingin om Rendra bicarakan dengan saya? “ tanya Fajrin sambil menunjuk garis diagonal yang Gultom buat.
“..... “ sekali lagi Fajrin mendengar suara Maya yang dengan jelas agar Rendra segera mengatakan maksud dan tujuannya menghubungi Fajrin.
“ ..... “ ucap Rendra di sambut senyum bahagia Maya.
“ baik om.... terima kasih sudah mengundang saya makan siang.... kalau begitu saya kembali kerja dulu om.... Assalamu'allaikum “ ucap Fajrin dan memutus panggilan setelah mendengar salam dari Rendra.
Fajrin memasukkan ponsel ke saku celana dan menulis jadwal makan siang di agenda yang dia pegang. Yuni menerima kembali agenda tersebut, dan menatap punggung bidang Fajrin yang sudah melangkah mendekati Irvan yang sedang berdiskusi dengan Hilman. Mendengar apa yang mereka diskusikan membuat Fajrin teringat akan masa-masa di New Delhi dan mengingat kembali sosok Divya yang manja.
“ permintaan mereka seperti ini.... tapi kalau di buat seperti ini jadi kurang menarik “ ucap Hilman sudah kehabisan ide.
Melihat Irvan yang juga sudah kehabisan ide untuk Hilman, hanya bisa menarik nafas panjang.
“ coba kamu diskusikan desain kamu ini pada client kita.... jelaskan semua yang menjadi pertimbangan kamu.... aku yakin mereka mau memahami permasalahan dan menerima masukkan yang kamu berikan..... mumpung masih ada waktu 1 bulan sebelum project di mulai.... kamu minta Yuni untuk membuat janji “ ucap Fajrin sambil menepuk bahu kanan Hilman memberi kekuatan agar mau berdiskusi dengan client.
Kesibukkan yang semakin bertambah, amanah yang semakin besar dan project desain yang semakin banyak membuatnya lupa akan pesan singkat dari nomor yang berbeda-beda. Fajrin menjadi terbiasa dengan isi pesan dari nomor tidak di kenal itu, Fajrin hanya membacanya singkat menghapus pesan dan memblokir nomor tersebut. Hanya itu yang bisa Fajrin lakukan, tapi tidak dengan Nara. Nara sudah melakukan kloning ponsel Fajrin, jadi pesan apa pun yang Fajrin terima secara otomatis akan tersimpan di ponsel Nara. Nara sengaja melakukan ini sebagai antisipasi bila terjadi hal-hal di luar kendali Fajrin mau pun Azkar.
Menjelang adzan Dhuhur, Fajrin segera melangkah keluar dari ruangannya dan menuju masjid gedung bersama para koordinator dan anggota mereka.
KEDIAMAN DAVIS
Melihat Divya yang masih bingung mau mengambil kursus atau kuliah fashion design, membuat Davis memutuskan harus bertindak cepat agar Divya tidak semakin gamang dan tidak menyesali keputusannya. Davis menarik nafas panjang melihat Divya yang sibuk membolak-balik lembaran-lembaran brosur kampus dan tempat kursus.
“ aku harus segera menemui Fajrin.... atau mungkin berbicara dengan Azkar dulu baru setelah itu bicara pada Fajrin “ gumam Davis dengan isyarat tangan memerintahkan Jason untuk menghubungi Azkar.
Tanpa menunggu lama, sambungan telepon terhubung pada Azkar.
“ ..... “ mendengar suara Azkar membuat Davis segera bangkit dari kursi meja makan.
“ Wa'alaikumsalam, kamu tahu saja kalau om butuh bantuanmu..... begini bisakah kita bertemu untuk sekedar makan siang dan berbicara santai? “ tanya Davis sedikit menjauh dari meja makan
“ ..... “ Davis lega mendengar jawaban Azkar.
“ kalau begitu saya akan minta Jason memesan tempat makan siang untuk kita “ ucap Davis senang.
“ ...... “ Davis mulai memikirkan apa saja yang akan dia bicarakan pada Azkar.
“ biar nanti Jason yang mengirim pesan lokasi restauran “ ucap Davis yang sudah duduk di ruang tengah.
“ ..... “ Davis mematikan ponselnya dan menyerahkan kembali pada Jason.
“ make a reservation at the restaurant for lunch with Azkar.... try not to let Divya find out (buat reservasi di restauran untuk makan siang dengan Azkar.... usahakan jangan sampai Divya tahu) “ perintah Davis membuat Jason segera menghubungi beberapa restauran untuk mencari tahu ketersediaan tempat untuk makan siang nanti.
“ masalah mereka berdua harus beres dalam minggu ini. “ gumam Davis dalam hati.