My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 162 KEBAHAGIAAN



Erhan masih di jakarta hingga satu minggu setelah pernikahan Norin, Norin yang mengharapkan Nara datang di acara pernikahannya hanya bisa merajuk dan kesal. Karena Afkar membawanya ke Istanbul untuk melakukan persiapan pembukaan perusahaan baru kerjasama dengan Murat. Tapi kekesalan kejengkelan Norin tidak berlangsung berhari-hari karena beberapa hari yang lalu ada kabar gembira dari Afkar juga Nara.


“ Abba ..... bestefar ..... Nara er gravid ..... dette er en kort melding fra Afkar, nå er de i Istanbul (Abba..... kakek..... Nara hamil..... ini pesan singkat dari Afkar, sekarang mereka berada di Istanbul) “ suara keras Freya membuat Erhan yang sedang menikmati langit malam kota Jakarta dari balkon ruang santai tiba-tiba berdiri seketika membuat Ralf mendekati dan memegang tangan kiri Erhan.


Ralf membantunya duduk di sofa ruang tengah


“ ring Afkar nå, jeg vil si noe til den vonde gutten (telepon Afkar sekarang, aku ingin mengatakan sesuatu pad anak nakal itu) “ pinta Erhan.


Freya segera menghubungi Afkar yang saat ini masih pukul 8 malam waktu Istanbul.


“.....” Freya segera menekan tombol loudspeaker agar Selo, Norin juga Erhan mendengar suara Afkar.


“ Wa'alaikumsalam.... jangan buat Nara lelah, perhatikan makannya, kalau Nara merajuk atau ingin makan sesuatu.... kamu segera carikan makan itu untuk Nara juga calon anak-anak kalian”


“ minta tolong pada tante kamu kalau Nara ingin makan makanan tertentu..... tante kamu pintar memasak seperti Amma kamu “


Nasehat Freya dan Selo bergantian dengan raut wajah bahagia, kebahagian yang berlimpah. Norin yang semula kesal menjadi ikut bahagia mendengar sahabatnya hamil.


“..... ” Ucap Afkar pelan.


“ er dere fremdeles i Istanbul? Til når? (kalian masih di Istanbul? Sampai kapan?)“ tanya Erhan


“...... “ mendengar jawaban Afkar membuat Erhan menarik nafas panjang dan dengan isyarat tangan memanggil Ralf.


“ Bestefar vil bytte privatfly som du bruker for å returnere til Oslo, bestefar vil ikke at det skal skje noe med bestefars tvilling oldebarn (kakek akan mengganti private jet yang kamu pakai untuk kembali ke Oslo, kakek tidak ingin terjadi apa-apa sama calon cicit kembar kakek) “ ucap Erhan membuat Ralf segera menghubungi pihak management Sundth Air kantor perwakilan Istanbul.


“..... " alasan Afkar membuat Erhan geram tapi membuat Norin tertawa senang karena Afkar di marahi Erhan.


“ Bestefar gjorde dette for hans fremtidige oldebarn ..... ikke for deg ... ingen flere unnskyldninger ..... du følger bare bestefarens ønsker og våre råd ..... du sier bare ja, hvorfor er det så vanskelig .... din sta jævel. (kakek melakukan ini untuk calon cicit kakek..... bukan untuk kamu... sudah jangan banyak alasan lagi..... kamu ikuti saja kemauan kakek dan nasehat kami..... kamu tinggal bilang iya saja kenapa sulit sekali..... dasar bandel.) “ ucapan tegas Erhan membuat Norin menahan tawa.


Norin membayangkan wajah kesal Afkar yang harus menerima semua nasehat juga permintaan Erhan.


“.... “ Erhan dan semua orang tersenyum mendengar jawaban Afkar.


“ Assalamu'allaikum “ salam Selo, Freya juga Norin hampir bersamaan


“.....” Freya memutus sambungan telepon dengan penuh kebahagian.


RUMAH FAJRIN


Sementara Fajrin yang masih sibuk memindai design-designnya ke dalam komputer server milik Nara, seketika meloncat kegirangan membaca pesan singkat dari Nara juga Afkar. Fajrin ingin sekali menghubungi Nara tapi melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih waktu Jakarta yang berarti pukul 8 lebih waktu istanbul, yang kemungkinan Nara sudah tertidur. Akhirnya Fajrin menghubungi Afkar, dengan harap-harap cemas semoga Afkar belum beristirahat dan tidak mengganggu waktu tidur Afkar mau pun Nara.


“...... ” Fajrin lega mendengar suara Afkar yang masih terdengar biasa


“ Wa'alaikumsalam.... apa Nara merasakan mual atau mungkin rewel seperti susah makan atau ada perubahan di sikap Nara....? “ tanya Fajrin ingin tahu dan tidak sabar ingin mendengarkan detail cerita Afkar.


“..... ” Fajrin bernafas lega mendengar penjelasan Afkar.


“..... ” pertanyaan Afkar membuat Fajrin mengingat adik kembarnya yang meninggal


“ iya... Nara anak kembar..... tapi saudara kembarnya meninggal karena bilirubinnya tinggi juga ada kelainan di organ pankreasnya.... dan meninggal di hari kedua “ cerita Fajrin sedih.


“.... ” mendengar keterkejutan Afkar membuat Fajrin mengusap kasar wajahnya.


“ kamu jaga baik-baik Nara... jangan buat dia bersedih..... sudah cukup dia melewati kesedihan “ ucap Fajrin yang terduduk di lantai.


“ ..... ” Fajrin tersenyum tipis mendengar ucapan Afkar.


“ sudah dulu ya.... Assalamu'allaikum “ salam Fajrin dan mematikan ponsel setelah mendengar salam dari Afkar.


Fajrin sangat bahagia hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan dia mengalami banyak hal yang tak terduga membuatnya sangat bahagia, dari mulai restu Davis, pertemuan 3 keluarga besar, latar belakang ayahnya hingga berita kehamilan Nara. Sungguh kebahagian yang tidak mampu dia ungkapkan dengan kata-kata, hingga membuatnya terlelap di kursi santai ruang server.


hari-hari Fajrin dan Divya penuh warna, Divya yang semakin bersemangat menyelesaikan rancangan pakaian syar'i untuk Nara terlihat sangat serius memadu padankan beberapa kain warna hitam atau pun hijau. Fajrin yang suka membayangkan tubuh mungil Nara berjalan dengan perut besar karena janin kembar, sering kali tersenyum dan tertawa sendiri membuat Divya sedikit curiga.


“ ayang..... ayang.... “ panggilan Divya masih belum membuat Fajrin sadar dari lamunannya.


Divya kesal karena Fajrin mengabaikan panggilannya dan tanpa Fajrin sadari dengan cepat Divya mengecup pipi kiri Fajrin, membuaat Fajrin tersadar dari lamunannya dan memegang pipi kirinya. Rahang bawah Fajri mengeras gemas dengan sikap Divya akhir-akhir ini yang semakin berani memancing sesuatu, Fajrin berdiri membuat Divya bersikap siap siaga.


“ Divya..... “ suara Fajrin yang terdengar berat karena gemas dengan sikap Divya.


Divya melangkah mundur bersiap lari menjauh dari Fajri, dan benar saja begitu Fajrin membalikkan badan hendak menangkap Divya dengan tangan kanannya. Divya sudah berlari masuk ke ruang tengah bersembunyi di belakang manekin.


“ Divya.... ayang sudah bilang berkali-kali jangan lakukan hal itu lagi “ suara Fajrin yang terdengar semakin gemas dengan sikap Divya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.


“ sengaja..... ayang sendiri.... akhir-akhir ini sering melamun mengabaikan panggilan Divya..... apa ayang mulai memikirkan wanita lain... ? “ ucap Divya dengan memicingkan kedua matanya mencari tahu kebenaran di balik sikap Fajrinbyang sering melamun.


Fajrin semakin gemas dengan pertanyaan Divya, Fajrin melangkah mendekati sofa yang Divya pakai untuk meletakkan beberapa potong kain.


“ duduk sini “ Divya menggelengkan kepala menolak ajakan Fajrin.


Fajrin menarik nafas panjang.


“ adik hamil kembar dan mungkin sekarang usia kehamilannya sudah 9 minggu lebih “ Divya terkejut juga gembira mendengar bahwa Nara hamil.


Wajah Divya menjadi bahagia seperti wajah Fajrin, tapi itu tidak berlangsung lama.


“ apa itu berarti saat acara lamaran nanti..... Nara tidak bisa datang.... dan juga saat acara pesta pernikahaan kita.... Nara juga tidak bisa datang “ ucap Divya cemberut.


Merasa sedih karena apa yang dia kerjakan menjadi tidak berguna.


“ kita doakan saja semoga kehamilannya tidak ada masalah supaya bisa datang ke acara kita “ ucap Fajrin berusaha menghibur Divya agar semangat melanjutkan apa yang sudah dia mulai.


Fajrin tersenyum karena sekilas melihat wajah cemberut Divya yang mengerucutkan kedua bibirnya yang sedikit berbeda dengan Nara, bila Nara mengerucutkan kedua bibirnya makan kedua pipinya akan mengembung tapi Divya sebaliknya.