My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 173 DUKA FAJRIN



Tepat tengah hari Fajrin terbangun oleh suara Adzan Dhuhur, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Mencium aroma harum masakan membuat perutnya yang kosong menjadi meronta-ronta, Fajrin segera bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan sholat Dhuhur di rumah karena kalau sholat Dhuhur di masjid sudah pasti akan menjadi makmur masbuq.


Selesai sholat, Fajrin turun ke bawah dan melihat Divya sedang membantu seorang pelayan menata beberapa menu makan siang. Mereka makan siang berdua dengan suasana canggung, otak mereka memutar kembali kejadian tadi pagi. Selesai makan Fajrin dengan canggung berjalan menuju dapur meletakkan piring kotor, Divya tersenyum senang melihat sikap Fajrin yang canggung.


Hari berganti sore dan waktunya Divya untuk pulang. Fajrin sediri lagi, jadwal lamaran mereka sudah dekat hanya dalam hitungan jari saja. Fajrin kembali dengan kesibukannya dengan project Miyakojima, project besar yang mempertaruhkan nama baiknya.


“ mulai besok senin harus mulai merombak semua desain “ gumam Fajrin sambil mencoret coret kertas menulis konsep project Miyakojima.


Jadwal lamaran semakin dekat dan Fajrin semakin sibuk dengan desain project Miyakojima, sudah 2 hari Fajrin lembur hingga tengah malam yang pada akhirnya harus tidur di kantor dan hari ini karena mata dan tubuhnya terasa penat. Selepas Shubuh Fajrin kembali tidur di sofa hingga tidak menyadari kehadiran para rekan-rekan timnya.


“ kasihan pak Fajrin ini hari ke tiga beliau tidak pulang.... jadi tidak enak membangunkan beliau “ ucap Cahyo sambil merapikan gulungan kertas kalkir di meja gambar yang semalam Fajrin pakai.


“ loyalitas tanpa batas.... pantas kalau perusahaan besar Rosewood mempercayakan project mereka pada beliau.... dan kita tidak boleh membuat beliau kecewa “ ucap Irvan yang baru masuk ruangan dengan membawa handuk dan tas kecil.


“ lo.... semalam kamu tidur disini juga? “ tanya Hilman sambil meletakkan tas kerjanya di meja.


“ hmmmm..... menyelesaikan desain Miyakojima dan beberapa laporan kontur tanah lokasi project “ ucap Irvan sambil duduk di kursinya.


Satu persatu staff di bawah pengawasan Fajrin berdatangan.


Pukul sepuluh Fajrin terbangun dan sudah merasa segar, Fajrin duduk sebentar memijat tengkuknya yang tidak terasa penat sebelum berdiri untuk mengambil handul juga peralatan mandi dan pakaian ganti. melangkah keluar ruangannya dengan membawa handuk juga kantung kertas berisi peralatan mandi dan pakaian ganti.


“ pak.... jangan mandi di kamar mandi ujung.... saluran airnya buntu.... siang ini baru di betulkan “ ucap Irvan saat melihat Fajrin baru keluar dari ruangannya.


“ hmmm “ jawab Fajrin singkat dan keluar dari ruang bagiannya.


Kali ini Fajrin mandi di kamar mandi yang biasa para office boy dan cleaning service pakai untuk mandi sore.


Fajrin melangkah keluar dari kamar kecil karena baru selesai mandi, melihat kedatangan Azkar dengan kedua orang tuanya juga Norin membuatnya tiba-tiba rindu akan Nara.


“ belum pulang? “ tanya Azkar sambil menepuk punggung Fajrin.


“ baru selesai.... nanti sore saja pulang “ ucap Fajrin sambil mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi bergetar


terlihat dil layar ponsel nama adiknya.


“ sebentar bang.... adik telepon “ ucap Fajrin sambil sedikit menjaga jarak dengan Azkar dan keluarganya.


“ Assalamu'allaikum dik “ salam Fajrin


“..... “ Fajrin terlihat bingung dan heran mendengar suara Nara yang terbata-bata seperti menahan rasa sakit.


tiba-tiba tubuh Fajrin menegang mendengar teriakan Nara.


“ dik.... adik... adik “ panggil Fajrin berkali-kali tapi tidak mendapat jawaban dari Nara dan hanya terdengar suara tangis dan rintihan Nara yang menahan sakit.


Fajrin mematikan ponselnya dan mencoba menghubungi Afkar tapi berkali-kali panggilannya masuk kotak suara sama seperti yang Nara terima, Fajrin menarik nafas panjang menghubungi Barra.


Tanpa Fajrin sadari Azkar dan keluarganya memperhatikan Fajrin dengan tatapan heran dan penuh pertanyaan.


“ Wa'alaikumsalam, tolong kamu ke rumah Afkar sekarang.... adik baru saja meminta tolong padaku “ ucap Fajrin dengan cepat dan gugup juga kuatir bila terjadi sesuatu pada Nara.


“ ...... “ Fajrin semakin tidak tenang


“ kalau adik bersama Afkar tidak mungkin adik menelponku dan minta tolong “ suara keras Fajrin terdengar jelas oleh Azkar yang masih berdiri di depan lift membuatkan keluarganya masuk lift terlebih dahulu.


Fajrin menutup ponselnya dan berjalan cepat mendekati Azkar.


“ bang aku cuti beberapa hari.... aku mau lihat Nara “ ucap Fajri dengan tangan bergetar.


“ ada apa dengan Nara? “ tanya Azkar heran.


“ mungkin janinnya keluar? “ ucap Fajrin singkat dan membuat Azkar terkejut.


Dengan cepat Azkar menarik lengan Fajrin masuk ke dalam lift.


“ lepas bang.... aku mau pulang.... aku harus menemui adikku “ ucap Fajrin frustasi.


Azkar menarik Fajrin hingga masuk ke ruangannya membuat kedua orang tuanya dan Norin heran melihat mereka.


“ katakan apa yang tadi kamu ucapkan “ suara Azkar membuat kedua orang tuanya terkejut.


Fajrin dengan frustrasi menarik nafas panjang.


“ dua atau tiga hari lalu adik mengirim pesan kalau kedua janinnya tidak berkembang dan tadi sepertinya kedua janinnya keluar... sekarang aku tidak bisa menghubunginya lagi.... aku minta Barra untuk kerumah Afkar, aku tidak bisa menghubungi Afkar “ jelas Fajrin yang tubuhnya mulai lemas dan terduduk di lantai.


Azkar segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Afkar tapi mendapatkan kotak suara saja. Azkar mengirim pesan pada Afkar, Abba dan Norin juga melakukan hal yang sama seperti Azkar lakukan.


“ jangan beritahu kakek, jangan buat kakek sedih “ ucapan Freya menghentikan Azkar dan Norin mengetik sesuatu di ponselnya.


“ pergi ke Oslo sekarang.... Nara butuh kakaknya.... maafkan Afkar maafkan kami yang tidak mampu menjaga Nara “ ucap Freya dan menarik tubuh Fajrin untuk berdiri.


Terlihat jelas kesedihan di wajah Fajrin, Azkar segera memanggil Roby yang baru saja datang membawa beberapa berkas.


“ siapkan Sundth Air untuk membawa Fajrin ke Oslo “ ucapan tegas Azkar membuat Roby dengan buru-buru meletakkan berkas di sembarang tempat.


“ bagaimana dengan visaku “ ucap Fajrin yang mulai menguatkan diri untuk melangkah


“ aku akan hubungi rekanku di kedutaan. Pergilah sekarang “ ucap Azkar sedih.


Fajrin dengan cepat keluar dari ruangan Azkar kembali ke ruangannya untuk mengambil tas kerja dan pulang kerumah. Semua staff melihatnya dengan penuh tanya karena baru kali ini mereka melihat Fajrin berkali-kali mengusap kedua matanya.


Sampai di rumah Fajrin langsung naik ke kamar memasukkan pakaian ke dalam koper tanpa melipatnya, dan tidak memperdulikan Divya yang berkali-kali memanggilnya.


“ ayang... ada apa? Kenapa ayang menangis? Ayang mau kemana? Ayang tidak hendak melarikan diri karena jadwal lamaran kita yang semakin dekat bukan? “ tanya Divya dengan dada teras sakit karena Fajrin seperti tidak mendengar suaranya.


Fajrin mengusap air matanya yang sudah membasahi pipi, ini pertama kalinya Divya melihat laki-laki seperti Fajrin menangis tanpa alasan. Selesai memasukkan pakaian Fajrin mencuci muka, matanya terasa pedih.