My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 5 PERMOHONAN



Kejadian di resto moonlight beberapa hari lalu semakin membuat Fajrin yakin bahwa untuk memperistri seorang wanita anak dari kedua orang tuanya haruslah memiliki modal dunia berlebih hingga berlimpah-limpah. Sudah tidak ada harapan baginya untuk bertahan dengan hati yang sama, sudah tidak ada kesempatan untuk mendapatkan ijin dari kedua orang tua Sofia dan sudah tidak ada cukup waktu lagi buatnya untuk tetap di jakarta.


“pak, ini dokumen perjalanan anda sudah siap. perusahaan sudah mengalokasi satu private jet Sundth Air untuk keberangkatan bapak dan tim ke kota lokasi project. Dan untuk akomodasi selama disana sudah di siapkan kantor cabang yang ada disana.” Ucap seorang admin yang menangani semua keperluan administratif Fajrin.


“terima kasih ning, selama aku tidak ada tolong setiap report yang aku kirim kamu simpan baik baik.” Ucap Fajrin yang sudah membuka-buka dokumen perjalanannya.


Hari ini semua orang di tim Fajrin sibuk karena dua hari lagi mereka akan segera berangkat ke Phu Quoc dan selama empat belas bulan kedepan akan menetap di sana hingga project selesai.


“pak, semua perlengkapan dan dokumen terkait sudah siap” ucap Muslim sambil menyerahkan seberkas surat yang harus dia tanda tangani.


“jangan sampai ada yang ketinggalan, kamu sudah ijin orang tua kalau selama empat belas bulan kedepan tidak ada di Jakarta?”tanya Fajrin sambil menyerahkan seberkas surat.


“Alhamdulillah sudah pak, mereka malah senang anaknya bisa keluar negeri.” Ucap Muslim tersenyum.


“baiklah, karena dua hari lagi kita akan berangkat hari ini kita makan siang bersama aku yang traktir.....” semua anggota tim senang mendengar ucapan Fajrin.


Menjelang jam istirahat makan siang Fajrin mengajak ke enam timnya makan siang di restoran milih Syafril. Roby yang mengetahui Fajrin menggunakan kendaraan kantor untuk makan siang di luar segera bergegas mengikuti dan segera duduk di samping supir.


“pak Roby ikut juga?” tanya Ryan yang tersenyum tipis melihat tingkah asisten CEO yang tidak seperti biasanya.


“kalian kalau makan siang ramai-ramai seperti ini harus mengajakku..... kalau tidak dokumen perjalanan kalian tidak akan aku proses.” Canda Roby dengan sedikit ancaman membuat anggota tim Fajrin yang satu mobil dengannya menjadi sedikit takut.


Sampai di resto moonlight mereka langsung menuju meja yang sudah di siapkan Syafril, Fajrin sudah menghubunginya saat masih di lobi. Beberapa menu makanan dan minuman disajikan oleh pramusaji membuat keenam anggota tim menjadi semakin bernafsu untuk segera menghabiskannya.


“kalian habiskan, empat belas bulan di Phu Quoc tidak akan ada makanan seperti ini..... jangan sampai kalian sakit karena kangen dengan makanan seperti ini.” Ucap Fajrin yang sudah mengambil seekor ikan nila goreng dan sambal mangga muda.


Saat mereka sedang menikmati makan siang dengan lahap dari meja makan yang tak jauh dari mereka ada sepasang mata yang memperhatikan dengan tatapan sedih dan penuh harap.


“kak Fajrin....” tiba-tiba Fajrin terkejut mendengar namanya di panggil oleh suara yang amat sangat dia kenali.


Fajrin menoleh ke kiri melihat sosok wanita berhijab yang model hijabnya sudah tidak seperti saat Fajrin mengenalnya.


“Sofia....”Fajrin berdiri dari kursi dan menghadap Sofia.


“kak.... kenapa kakak mengabaikan telepon dan pesan dariku?” tanya sofia yang sudah mulai berkaca-kaca.


“Fajrin, Sofia..... kalau kalian mau bicara sebaiknya kalian ke meja yang disana saja.... aku yakin Syafril tidak keberatan kalian memakainya sebentar" ucapan Roby yang terkesan tidak menyukai Sofia membuat Fajrin segera menarik ujung baju kurung sofia untuk mengikutinya.


Fajrin dan Sofia duduk di meja makan paling pinggir yang terpisah dari para tamu.


“kakak kenapa? Kenapa kakak tidak berusaha meyakinkan papa dan mama Sofi? Apa kakak sudah tidak mencintai Sofi?” tanya Sofia dengan mata mulai berkaca-kaca.


Fajrin menarik nafas panjang berusaha menahan rasa egoisnya.


“maaf..... bukan kakak tidak mencintai adik, kakak masih sangat mencintai adik tapi kalau untuk meyakinkan kedua orang tua adik untuk menerima lamaran kakak..... itu hal yang tidak bisa kakak lakukan. Meskipun kakak bisa memenuhi mahar permintaan kedua orang tua adik tapi tidak untuk saat ini atau pun satu tahun kedepan, adik tahu sendiri berapa banyak hutang kakak pada bang Azkar juga orang tuanya Roby. Kalau pun kakak ada rezeki lebih, kakak harus mendahulukan membayar semua hutang-hutang kakak. Tidak mungkin kakak membelikan mahar sesuai permintaan kedua orang tua adik kalau kakak masih memiliki hutang.”jelas Fajrin berusaha meyakinkan Sofia.


“apa kakak ihklas kalau Sofia di jodohkan dengan anak dari teman papa? Kakak ihklas?” tanya Sofia sekali lagi.


“kalau boleh jujur..... kakak tidak ihklas tapi kakak bisa berbuat apa? Kakak tidak bisa berbuat lebih dari yang sekarang..... adik masih memiliki orang tua masih berkewajiban untuk mematuhi setiap ucapan kedua orang tua. Beda dengan kakak yang sudah yatim piatu dan punya tanggung jawab seorang adik perempuan.” Ucap Fajrin yang masih berusaha meyakinkan Sofia.


“kalau Sofi meminta kakak untuk membawa Sofi lari dan menikah tanpa restu kedua orang tua..... apa kakak bersedia?” tanya Sofia berusaha memancing emosi Fajrin.


“tidak..... tidak kakak tidak akan melakukan itu..... kalau kakak membawa adik lari dan menikah tanpa restu orang tua adik..... pernikahan kita haram karena adik masih memiliki wali yang sah dan kakak tidak bisa kalau Nara mendapatkan karma karena perbuatan kakak" ucap Fajrin menolak mentah-mentah ide Sofia.


“tapi Sofi hanya mau menikah dengan kakak...... sofi tidak mau dengan yang lain.....” ucap Sofia berusaha meyakinkan dan memohon pada Fajrin.


Fajri menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan berusaha menahan diri tidak menuruti bisikan setan untuk membawa sofia lari.


“dik..... lusa kakak ke luar kota selama kurang lebih empat belas bulan, bang Azkar mempercayakan sebuah project besar pada kakak..... bila saat kakak kembali dan adik masih belum ada yang melamar, Insya ALLAH kakak akan berusaha melamar adik. Tapi bila saat kakak kembali dan adik sudah ada yang melamar, maaf sebaiknya adik meng-ihklas-kan hubungan kita berakhir seperti ini saja.”ucapan Fajrin pelan dan membuat Sofia terisak menangis dalam diam.


“Sofi akan menunggu kakak..... Sofi akan menolak semua lamaran yang datang..... Sofi hanya ingin kakak" ucap Sofi yang sudah berurai air mata.


“maaf kakak tidak bisa menjanjikan apa pun hanya ini yang bisa kakak lakukan, kalau seandainya kakak datang melamar lagi setelah project kakak selesai dan kedua orang tua adik tetap menolak kakak..... berarti kita tidak berjodoh. Sekali lagi maafkan kakak" ucapan Fajrin semakin membuat Sofia menangis.


Sofia berdiri dari kursi dan berlari ke toilet untuk membasuh wajahnya, Fajrin mengusap kasar wajah dengan tangan kirinya dan segera bangkit dari kursi kembali berkumpul dengan anggota timnya yang sedari tadi memperhatikan Fajrin dan Sofia.


“sabar bro..... kalau Sofia bukan jodohmu apa pun usaha yang kamu lakukan tidak akan bisa membuat kalian bersatu, tapi kalau dia jodohmu yakinlah setiap langkah dan keputusan yang kamu ambil akan selalu di mudahkan.”ucap Syafril yang sudah berdiri di samping Fajrin sambil menyerahkan segelas teh hangat.


“terima kasih..... selagi aku pergi tolong jaga kehormatan Sofia..... “ ucap Fajrin yang sudah menghabiskan segelas teh hangat dari Syafril.