
Divya berkali-kali memandangi sosok Fajrin di ponselnya karena selama acara anniversary Zulian, dengan sembunyi-sembunyi Divya mengambil gambar Fajrin dengan ponselnya.
“tampan sekali...... dia sangat berbeda.... tapi keren sekali waktu pakai jaket kulit.... “ gumam Divya sambil membayangkan sosok Fajrin.
Saat Divya terlena memandangi sosok Fajrin tiba-tiba seseorang mengentuk kamar.
“siapa sih..... pagi-pagi begini mengganggu" gerutu Divya dan masih mengabaikan ketukan pintu.
Sekali lagi suara seseorang mengetuk pintu membuat Divya bangkit dari ranjang dengan malas.
“ada apa bang..... pagi-pagi sudah ganggu Divya" gerutu Divya yang mengabaikan Ditya di depan pintu kamarnya.
“hari ini tidak ada jadwal?” tanya Ditya yang sudah duduk di sebuah sofa.
“kosong sampai lusa.....” ucap Divya sambil memainkan ponselnya.
“nanti malam ikut abang mau tidak? Teman abang ada acara di cafe..... nanti abang kenalkan sama teman abang yang paling tampan" rayu Ditya.
“tampan kalau matanya jelalatan muka mesum..... hilang tampannya" ucap Divya asal.
“tenang...... kali ini ada teman abang yang lurus sekali orangnya.” Ucap Ditya sambil tangan kanannya memperagakan gerakan lurus.
“entahlah lihat nanti saja..... Divya lagi malas keluar rumah" ucap Divya sambil menarik lengan Ditya untuk keluar dari kamarnya.
Divya dengan bersenandung melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, selesai membersihkan diri Divya berganti dengan pakai casual kaos tank top warna hitam yang memperlihatkan tali bra di bagian belakang dan celana rok setinggi paha. Divya turun ke ruang makan dan melihat seorang pelayan.
“bi...... Divya lapar..... ada makanan tidak?” tanya Divya yang sudah duduk di kursi.
“non Divya mau makan apa? Bibi akan siapkan" ucap bi ina
“ada sayur asem tidak?” tanya Divya sambil mengedipkan kelopak matanya.
“ada non..... tapi sayur ini buat makanan orang belakang non" ucap bi ina sambil melihat sepanci sedang sayur asem buatannya.
“bagi Divya semangkok dung..... Divya lagi ingin makan sayur asem..... tempe bacem sama ayam ini" ucap Divya yang sudah melangkah ke dapur dan melihat masakan bi ina.
“non Divya yakin mau makan ini?” tanya Bi ina meyakinkan diri.
“bibi siapkan ya..... Divya tunggu" ucap Divya sambil melangkah kembali ke kursi makan.
Bi ina menyiapkan makanan untuk Divya, bi ina biasa menunggu Divya makan dengan duduk di seberang Divya tapi bila Ditya atau pun Dipta ada di rumah maka bi ina akan duduk di bawah menunggu Divya hingga selesai makan.
“bi..... bibi tahu tidak kenapa ada laki-laki tidak mau menjabat tangan wanita?” tanya Divya di sela-sela memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“memangnya non Divya pernah melihat laki-laki yang seperti non bilang?” tanya bi ina heran.
“ada bi.... kemarin malam di acaranya pak Zulian rekan bisnisnya bang Dipta" ucap Divya dengan mulut penuh makanan.
“Masya ALLAH ternyata masih ada laki-laki seperti itu..... bibi kita sudah tidak ada..... apa lagi kalau lihat wajah dan tubuh non Divya pasti tidak ada satu pria pun menolak berjabat tangan dengan non.” Ucap Bi ina sambil memikirkan sesuatu.
“kok bibi bilang begitu?” tanya Divya tidak terima.
“maksud bibi..... semua pria yang pernah bibi lihat di sekitar non Divya selalu mengulurkan tangannya terlebih dahulu untuk berjabat tangan dengan non..... meskipun non Divya sering menjabat tangan mereka hanya sesaat dan tidak jarang non menolaknya...... apa pria yang non maksud itu tidak mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan non Divya?” ucap Bi ina dengan penasaran.
“nah itu bi..... dia hanya begini saja" ucap divya sambil memperagakan tangan Fajrin saat mereka berkenalan.
“ooooo begitu..... Alhamdulillah masih ada yang menghormati non Divya" ucap bi ina bahagia.
“kenapa bibi bilang begitu? Seharusnya dia membalas uluran jabat tangan divya dung..... bukan malah begini" ucap Divya jengkel dan sekali lagi memperagakan tangan Fajrin.
“bukan begitu non..... itu berarti laki-laki itu sangat menjaga hijabnya dan sekaligus menjaga kehormatan non Divya..... biasanya laki-laki seperti itu lebih paham aturan-aturan yang sudah di tentukan oleh agama kita...... misal tidak memandang dan bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya, tidak mau berbicara berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya dan biasanya Sholat juga ngajinya bagus non.” Jelas bi ina membuat Divya termangu.
“bibi....... mana ada laki-laki berhijab..... perempuan yang berhijab..... bibi ini ada-ada saja" ucap Divya sambil menggelengkan kepala.
“hijab itu kalau dalam bahasa Arab berarti penghalang atau penutup, Hijab adalah segala hal yang menutupi sesuatu yang dituntut untuk ditutupi atau terlarang untuk disentuh. hijab bisa berarti penutup yang mengalangi sesuatu agar tidak bisa dilihat. Contohnya seperti pintu, pintu disebut sebagai hijab karena menghalangi orang untuk masuk atau pun menghalangi untuk melihat isi rumah. Karena seorang pria tidak mengenakan penutup diri selain pakaian maka pria itu menghalangi diri untuk tidak menyentuh wanita yang bukan mahram.” Jelas bi ina membuat Divya mulai sedikit paham.
“ooooo begitu......” ucap Divya sambil menganggukan kepala.
“non..... tadi tuan muda Dipta pesan..... kalau non sudah bangun di suruh datang ke kantor tuan muda Dipta" ucap bi ina sambil membereskan peralatan sisa makan Divya.
“malas harus ke kantor....” rajuk Divya.
“Tuan muda Dipta bilang..... kalau non mau tahu tentang pria idaman non..... pukul dua siang non harus sudah di kantor tuan muda.” Ucapan bi ina membuat Divya segera meraih jaket hoodie dari tangan bi ina.
Divya memacu mobil Bugatti Chiffon super sport 300+ warna merah miliknya menuju gedung Brahma Corp, sepanjang jalan Divya bersenandung membayangkan bahwa hari ini akan bertemu kembali dengan Fajrin. Sampai di lobi gedung Divya segera menyerahkan kunci mobilnya pada seorang satpam gedung, satpam di gedung ini sangat paham siapa Divya jadi saat asal-asalam melempar kunci mobil dan berlalu pergi tanpa mengucap kata ‘terima kasih' mereka hanya menggelengkan kepala.
“hai..... bang Dipta ada?” tanya Divya pada sekretaris Dipta yang berpakaian sangat seksi hingga menyembulkan buah dadanya dan terlihat jelas membentuk belahan dada.
“ada di dalam sedang ada tamu" ucap Mira dengan sinis.
Divya segera masuk ke ruang Dipta dan terlihat kecewa saat melihat tamu Dipta.
“hai cantik" salam Roby membuat Divya jengah.
“Divya kira tamunya kak Fajrin, ternyata kak Roby.... ternyata perkiraan Divya salah" ucap Divya kecewa dan lemas yang sudah menjatuhkan pantat seksinya di sebuah sofa dekat Dipta.
“kamu yakin Divya tertarik sama Fajrin?” ucapan Roby membuat Divya bersemangat kembali.
“kalau Fajrin bisa membantuku merubah sedikit kelakuan barbar Divya kenapa tidak aku coba untuk mendekatkan Divya dengan Fajrin" ucap Dipta penuh perhitungan.
“melihat penampilan Divya..... sepertinya Fajrin tidak akan mau mengenal Divya apa lagi sekadar berbicara formal." Ucapan Roby membuat Divya membulatkan kedua matanya pada Roby.
Roby dan Dipta tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Divya.