
“ Bestemoren din tvang også bestefar til å kjøpe Oswinns aksjer og gi dem til Asma og Woro... men de nektet og Woro bestemte seg for å returnere til Jakarta og døde eierandelene med bestefar..... da Azkar bestemte seg for å overta stillingen av administrerende direktør Surendra .... Jeg håper at Azkar kan finne deg kvinner..... bestemor insisterte på å sette Afkar til jenta..... og bestemor tvang også bestefar til å endre navnet på aksjeposten til Fahrids navn. .... (Nenek kalian juga yang memaksa kakek untuk membeli saham milik Oswinn dan memberikan pada Asma dan Woro.... tapi mereka menolak dan Woro memutuskan untuk kembali ke Jakarta meninggal saham kepemilikan itu bersama kakek..... saat Azkar memutuskan mengambil alih posisi CEO Surendra.... nenek berharap Azkar bisa menemukan kalian.... kalian tahu saat Azkar mengatakan menemukan Fajrin...... nenek sangat bahagia sekali dan ingin bertemu kalian, tapi saat Azkar mengatakan bahwa Woro dan Fahrid tidak ada..... dan Asma memiliki anak perempuan..... nenek bersikeras menjodohkan Afkar dengan anak perempuan itu.....dan nenek juga yang memaksa kakek agar merubah nama kepemilikan saham itu menjadi nama Fahrid.....) “ cerita Erhan membuat Afkar sulit percaya.
“ da den unge mester Azkar ga nyheten om at fru Asma var død..... den gamle damen Ni Ao var veldig knust og helsen hennes ble dårligere..... (waktu tuan muda Azkar memberi kabar bahwa nyonya Asma meninggal..... nyonya besar Ni Ao sangat terpukul dan kesehatannya menjadi menurun..... ) “ ucap Ralf melanjutkan cerita Erhan.
Erhan tidak sanggup melanjutkan ceritanya karena melihat Afkar yang terdiam seribu bahasa. Afkar diam dengan mengerutkan kulit di antara kedua alisnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
“ passende ... hver gang en kvinne prøver å nærme seg Afkar .... bestemor sier alltid at Afkar allerede har en fremtidig kone .... det viser seg at hun mener Nara ... (pantas... setiap kali ada wanita yang berusaha mendekati Afkar.... nenek selalu mengatakan bahwa Afkar sudah memiliki calon istri.... ternyata Nara yang nenek maksud....) “ gumam Azkar dalam hati.
“ Så hele denne tiden tvang bestemor meg til å reise til Jakarta fordi bestemor ville at jeg skulle møte Nara på min egen måte (jadi selama ini nenek memaksaku pergi ke Jakarta karena nenek ingin aku bertemu Nara dengan caraku sendiri) “ gumam Afkar dalam hati dan tersenyum tipis mengingat semua ucapan Ni Ao padanya.
“ Fajrin..... dette er grunnen til at bestefar beholdt 10% av Fahrids Rosenkrantz-aksjer som nå er dine..... Bestemor og bestefar kan ikke betale tilbake det foreldrene dine har gjort..... selv denne aksjen gjør' Det ser ut til at de betaler nok det de har ofret for oss. (Fajrin..... inilah alasan kakek mempertahan 10% saham Rosenkrantz milik Fahrid yang sekarang menjadi milikmu..... nenek dan kakek tidak bisa membalas apa yang sudah kedua orang tuamu lakukan..... saham ini pun sepertinya tidak cukup membayar apa yang sudah mereka korbankan pada kami.) “ ucap Erhan sambil menyerahkan berkas kepemilihan 10% saham Rosenkrantz pada Fajrin yang sedari tadi Ralf pegang.
Fajrin dengan tangan bergetar menerima berkas itu dan memandangnya sesaat.
“ Afkar du holder….. Jeg vet ikke hvordan jeg skal styre et så stort selskap som Rosenkrantz (Afkar kamu yang pegang..... aku tidak tahu bagaimana mengurus perusahaan sebesar Rosenkrantz) “ ucap Fajrin dan merasa sedikit lega karena semua sudah terjelaskan.
Tapi pikiran Fajrin masih merasa berat mengingat ucapan Nara padanya juga sorot mata Nara yang tertutup kesedihan dan kemarahan padanya.
“ Afkar lov meg.... hvor enn du går vil du alltid ta med søsteren min..... ikke la min egen søster vente på deg (Afkar berjanjilah padaku.... kemana pun kau pergi akan selalu membawa adikku..... jangan biarkan adikku sendiri menunggumu) “ ucapan sedih Fajrin membuat Afkar tertegun.
Afkar teringat akan keinginan Nara yaitu kemana pun dirinya pergi, Nara harus selalu berada di dekatnya juga membawa semua anak-anak mereka.
“ Jeg lar ofte lillesøsteren min være alene hjemme.... Jeg overlater ofte søsteren min til Satya eller Azkar..... Jeg kan ikke oppfylle søsterens ønsker.... Søsteren min vil bare alltid være ved min side hvor enn Jeg går... men jeg kan ikke oppfylle ønsket hans (aku sering meninggalkan adik sendiri di rumah.... aku sering menitipkan adik pada Satya atau bang Azkar..... aku tidak bisa memenuhi keinginan adik.... adik hanya ingin selalu berada di sisiku kemana pun aku pergi.... tapi aku tidak mampu memenuhi keinginannya itu) “ ucapan sedih Fajrin membuat Afkar paham kenapa Nara ingin sekali seperti kakek Gunnvør dan nenek Alice.
“ Jeg lover....overalt hvor jeg går...skal jeg ta med meg kone og barn (aku berjanji.... kelak kemana pun aku pergi.... aku akan membawa istri dan anak-anakku pergi juga) “ ucap Afkar sambil tangan kirinya menepuk bahu Fajrin.
Afkar melangkah masuk ke kamarnya dengan membawa berkas kepemilikan 10% saham Rosenkrantz milik Fajrin, melihat Nara yang sudah tertidur. Afkar meletakkan berkas kepemilikan saham Fajrin di sebuah meja, dan berganti pakaian dengan pakaian tidur.
Fajrin menatap punggung Afkar dengan perasaan campur aduk, Fajrin memutuskan untuk bermalam di kediaman Afkar karena ingin menyelesaikan sesuatu dengan Nara. Sedangkan Freya, Selo, Norin, Dean juga keluarga kecil Azkar kembali ke kediaman masing-masing.
Fajrin tidak bisa memejamkan kedua matanya, Fajrin memikirkan apa yang membuat Nara semarah itu padanya. Karena tidak bisa menemukan apa yang membuat Nara semarah itu padanya akhirnya Fajrin tertidur dengan rasa gelisah dan terbangun saat terdengar Adzan Shubuh. Selesai sholat Shubuh, Fajrin melihat keluar jendela dan mendapati Barra yang sedang berolah raga dengan D4rkC0d3. Ingin rasanya Fajrin ikut mereka berolah raga tapi Fajrin kuatir bila terlalu fokus dengan olah raga, dirinya akan lupa dengan tujuannya menginap di kediaman Afkar. Fajrin menghela nafas dengan kasar dan melangkah keluar dari kamar tamu menuju dapur, terlihat sudah beberapa pelayan yang sudah sibuk menyiapkan beberapa menu makan pagi.
“ kenapa ini terpisah dengan yang lain? “ tanya Fajrin pada seorang pelayan.
“ ini.... untuk nyonya muda Nara.... sesuai apa yang tuan Afkar minta..... “ jawab pelayan itu singkat dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Fajrin menatap pintu kamar Afkar yang masih tertutup dan menarik nafas panjang, Fajrin tidak tenang bila belum mendapatkan maaf dari Nara. Fajrin berjalan kesana kemari tidak jelas menunggu Nara keluar kamar, karena Fajrin kuatir bila harus mengentuk pintu kamar Afkar akan menganggu mereka. Akhirnya Fajrin memutuskan untuk berjalan keluar menghirup udara segar.
Setengah jam kemudian Fajrin melihat Afkar dan Nara keluar kamar, dengan perlahan Fajrin mendekati Nara.
“ dik..... “ suara pelan Fajrin yang sedikit ragu belum berhasil menarik perhatian Nara.
Fajrin menarik nafas panjang menguatkan diri tapi saat hendak memanggil Nara, Fajrin seketika terdiam mendengar ucapan Afkar dan memilih diam membiarkan Afkar menyelesaikan ucapannya.
Sekali lagi Fajrin menepis keraguannya dan dengan perlahan mendekati Nara mencoba meraih tangan Nara, tapi belum sempat Fajrin menyentuh tangan adiknya. Nara sudah memasukkan tangannya ke dalam saku abaya.