My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 195 ZENO



Pagi pertama di kota Penang setelah semalaman penuh beristirahat sedikit banyak membuat tubuh dan mata mereka segar kembali. Saat Fajrin duduk bersantai sambil murojaah di sebuah sofa yang sudah dia putar menghadap jendela yang menampilkan pemandangan laut dan matahari terbit, tiba-tiba ponselnya berdering sekali yang menandakan bahwa ada pesan singkat masuk. Fajrin menghentikan murojaah-nya dan mengambil ponsel, membaca sesaat isi pesan singkat tersebut dan terlihat mengerutkan kulit keningnya.


“ dari mana beliau tahu nomorku.... apa bang Azkar yang memberitahunya? “ gumam Fajrin dalam hati.


“ jam 9..... “ ucap Fajrin sambil memperhatikan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


“ sejam lagi saja siap-siap “ gumam Fajrin sambil melihat pintu kamar Divya yang masih tertutup.


Selepas sholat Shubuh Divya kembali tidur karena semalaman masih memikirkan bagaimana mendekati Gendhis.


Tepat pukul 8 pagi Divya bangun dan melihat Fajrin keluar dari kamar mandi.


“ ayang.... makan pagi sekarang? “ suara Divya hampir saja membuat Fajrin terkejut.


“ iya.... Divya siap-siap ya..... ayang telepon Gendhis dan om Henri dulu.... kita di undang makan pagi sama Mr. Oh Siew Nam “ ucapan Fajrin membuat Divya segera masuk kembali masuk ke kamar dan mandi.


Pukul 8 lebih 45 menit Fajrin, Divya, Henri dan Gendhis sudah berada di depan resturan Sarkies. Fajrin mengatakan bahwa ingin menemui Mr. Oh Siew Nam, dan seorang pelayan menunjukkan dimana Mr. Oh Siew Nam duduk.


Dari kejauhan seorang pria paruh baya berdiri dan tersenyum melihat kedatangan Fajrin dan Henri.


“ selamat pagi Mr. Oh Siew Nam..... saya Fajrin dan ini Pak Henri. “ ucap Fajrin memperkenalkan diri.


“ panggil saja saya Mexrat..... dan wanita ini pasti calon istri anda..... “ ucapan Oh Siew Nam yang sepertinya paham bahwa Fajrin kesulitan menyebut namanya.


Fajrin dan Henri tersenyum mendengar ucapan Mexrat, setelah berbasa basi memperkenalkan diri masing-masing mereka makan pagi bersama dengan menu yang sudah Mexrat pilih. Divya dan Gendhis memilih duduk bersebelahan karena ketiga pria dewasa ini akan melakukan pembicaraan bisnis yang pastinya tidak mereka pahami.


Selesai makan pagi sesuai dugaan Divya, Fajrin dan Henri terlihat sangat serius membicarakan beberapa kerjasama bisnis akan mereka lakukan. Divya sendiri mencoba akrab dengan Gendhis yang masih terkesan cuek dan acuh pada keberadaan Divya. Disaat Divya mulai akrab dengan Gendhis dan Gendhis mulai menceritakan apa pekerjaannya pada Divya, seseorang menghampiri ketiga pria dewasa.


“ selama pagi tuan Mexrat “ salam orang tersebut.


“ aaa..... selamat pagi Zeno.... kamu datang juga... aku kira rekanmu yang akan datang.... ooo... perkenalkan mereka ini dari Surendra Corp..... ini Fajrin dan ini Henri.... kami sudah sepakat akan melakukan kerjasama itu.... apa kau tidak tertarik bergabung dengan kerjasama kami? “ ucap Mexrat sambil mempersilahkan Zeno duduk.


Fajrin dan Henri bersalaman dengan Zeno, tapi saat Fajrin memperkenalkan diri terlihat senyum di bibir Zeno.


“ sepertinya saya pernah melihat anda.... mungkin lain kali kita bisa berbicara banyak hal berdua “ ucap Zeno sambil melirik dua wanita yang mulai terlihat akrab.


Fajrin dan Henri bukan tidak menyadari ke mana kedua mata Zeno melihat tapi Fajrin mau pun Henri belum berani untuk bertanya.


“ aaa... perkenalkan.... ini calon istri saya... dan ini putri pak Henri “ ucap Fajrin memperkenalkan dua wanita yang masih menikmati keakraban mereka.


Henri paham betul kemana kedua mata Zeno melihat.


Mexrat yang sudah paham siapa Zeno dan bagaimana Zeno hanya bisa tersenyum tipis.


“ apa kau tertarik dengan putri pak Henri? Kalau kau tertarik..... lepas semua wanita-wanita di sekitarmu “ ucapan Mexrat membuat Zeno tertawa renyah.


" anda terlalu berlebihan...... anda tahu sendiri mereka yang lebih suka berada di sekitar saya...... " ucap Zeno yang masih mencoba memperhatikan sosok Gendhis.


" kalau kau benar tertarik..... singkirkan dulu mereka..... baru dekati putri pak Henri " nasehat Mexrat membuat Zeno mati kutu.


Mexrat, Fajrin dan Henri kembali melakukan pembicaraan bisnis untuk membuat kesepakatan kerjasama bisnis, sesekali Zeno menimpali pembicaraan mereka dan terkesan kagum dengan beberapa ide Zeno. Tak terasa siang menjelang membuat keempat pria berpindah tempat duduk di sisi luar restauran begitu juga dengan Divya dan Gendhis.


Gendhis yang tidak lepas dari ponselnya mulai sibuk berbicara dengan seseorang dan terlihat sangat serius, beberapa kali Gendhis terlihat mengepalkan tangan kanannya dan memejamkan kedua matanya seperti sedang memikirkan sebuah cara untuk menyelesaikan masalah.


Pembicaraan antara Fajrin, Henri dan Mexrat semakin serius karena hampir mencapai sebuah kesepakatan dan saat kesepakatan itu sudah tercapai seorang asisten Mexrat menyerahkan beberapa berkas untuk mereka tanda tangani sebagai awal kesepakatan.


Kesepakatan kerjasama bisnis pertama kali bagi Fajrin dan Henri melihat semua itu dengan bangga juga kagum karena tidak menyangka bahwa Fajrin bisa belajar lebih cepat dari yang dia perkiraankan.


“ tuan Mexrat..... mulai hari ini dan seterusnya.... kerjasama antara PPB Group dengan Surendra Group di bawah pengawasan Fajrin.... “ ucap Henri dengan bangga.


“ mohon bimbingannya bila nanti ada hal yang tidak saya pahami dan tegur saya langsung bila nanti saya membuat kesalahan “ ucapan sopan Fajrin membuat Mexrat sangat terkesan.


“ anak muda lebih berani dalam mengambil keputusan.... beda dengan kami yang sudah tua.... kami tidak terlalu berani mengambil resiko. “ ucap Mexrat memuji Fajri.


Fajrin tersenyum merasa malu dengan pujian Henri juga Mexrat, sementara pandangan mata Zeno masih saja memperhatikan Gendhis. Bukan Fajrin dan yang lainnya tidak tahu akan sikap Zeno yang terlihat jelas memperhatikan Gendhis tapi mereka memilih diam, selama Zeno tidak bertindak di luar batas.


Selesai dengan urusan bisnis, Henri dan Fajrin kembali ke kamar masing-masing. Entah apa yang Henri katakan tapi terlihat jelas sikap Gendhis yang sedikit jengkel dengan berjalan cepat meninggalkan Henri yang menggelengkan kepala. Fajrin dan Divya melihat sikap Gendhis hanya bisa menarik nafas panjang hampir bersamaan.


“ ayang.... ayang merasa tidak kalau pria tadi selalu memperhatikan Gendhis.... sepertinya pria tadi tertarik dengan Gendhis “ ucap Divya sambil berandai-andai.


“ jangan berandai-andai tidak baik...... kalau mereka berjodoh pasti ALLAH akan memberikan jalan yang terbaik buat mereka..... “ ucap Fajrin sambil mengeluarkan keycard kamar mereka.


Fajrin sendiri tidak berani berandai-andai bila Gendhis berjodoh dengan Zeno, karena dia sendiri juga pernah merasa takut dengan otaknya yang berandai-andai bisa menghalalkan Divya. Meski pun pernikahannya tinggal menghitung minggu tapi tetap saja Fajrin selalu menyelipkan doa agar ALLAH selalu memudahkan niat baiknya, karena manusia hanya bisa berencana sebaik mungkin semampunya dan ALLAH yang menentukan hasil akhir dari semua usaha manusia.