
Hari hari yang mencemaskan mulai menyelimuti Divya juga Fajrin, selama dua puluh empat jam mereka menunggu kabar dari pihak rumah sakit terkait proses pembuahan sel telur. Fajrin sengaja tidak masuk kantor dan mengajak Divya menyibukan diri dengan murojaah untuk menenangkan pikiran juga hati Divya. Disaat mereka sudah tenggelam dalam murojaah, tiba-tiba ponsel Fajrin berdering dan mereka menghentikan murojaah.
Fajrin menerima panggilan telepon tersebut yang ternyata dari pihak rumah sakit yang mengabarkan bahwa proses pembuahan sudah terjadi dan mendapatkan enam buah embrio, yang berarti empat hari lagi Divya akan menjalani proses inseminasi.
“ Alhamdulillah.... semoga ini menjadi rezeki kami “ ucap Fajrin sambil mematikan sambungan telepon.
“ ayang bagaimana? Apa kata mereka? berapa yang jadi embrio? “ Fajrin tersenyum mendengar pertanyaan Divya yang terlihat jelas sudah tidak sabar menunggu kabar baik.
Fajrin meletakkan ponselnya di sembarang tempat dan menangkup kedua pipi Divya yang terlihat sedikit tembem.
“ In Shaa ALLAH enam embrio dan empat hari lagi mereka akan melakukan inseminasi tapi sebelum proses itu... sayang harus mendapatkan injeksi hormon progesteron “ ucap Fajrin dengan kedua mata yang menatap dalam dalam kedua mata Divya.
Divya tersenyum bahagia dan seketika memeluk erat leher Fajrin.
“ Bismillah semoga ini rezeki kita “ ucap Divya senang dan bahagia.
Hari-hari Divya menjadi penuh kebahagian karena Divya sudah tidak sabar untuk segera menjalani tahap inseminasi, setiap hari setiap waktu Divya selalu menyempatkan murojaah bahkan terkadang Divya menghentikan aktivitasnya menggambar sketsa desain pakaian dan memilih berdzikir.
Hingga tiba waktunya bagi Divya juga Fajrin untuk melakukan tahap selanjutnya inseminasi, tak henti-hentinya hati Fajrin dan Divya berdzikir saat menunggu seorang perawat membawa ke enam embrio mereka. Dan saat dokter mulai melakukan inseminasi, Fajrin berkali-kali bersholawat. Proses yang menegangkan juga mengharukan bagi mereka berdua, lima embrio masuk ke dalam uterus dengan dinding uterus yang sudah siap menerima perekatan embrio.
“ sudah selesai dokter? “ tanya Fajrin singkat.
“ sudah pak... sekarang semua tergantung kepada anda..... apakah kelima embrio ini akan berkembang semua atau sebagian atau tidak sama sekali..... saya akan memberikan resep vitamin dan suplement yang akan menyeimbangkan nutrisi dalam darah bu Divya bagi embrio anda “ ucap Dokter sambil melepas sarung tangan lateks.
Sementara sampai dua tiga jam ke depan Divya harus istirahat sebelum pulang ke rumah, dan Fajrin melakukan tugasnya menembus resep vitamin atau pun supplement untuk Divya. Selagi menunggu Fajrin, Divya membelai perutnya yang masih rata.
“ Ya ALLAH..... Engkau Maha Mengetahui.... apa yang terbaik buat kami...... berilah kami amanah ini..... jadikanlah embrio ini rezeki kami “ doa Divya dalam hati dengan kedua tangannya membelai perut ratanya.
Beberapa menit kemudian Fajrin kembali dengan membawa sebungkus vitamin yang harus Divya konsumsi selama satu bulan, melihat Divya tersenyum membelai perutnya yang masih rata membuat hati Fajrin seperti teriris-iris.
“ sebahagia itukah sayang dengan semua ini......” gumam Fajrin dalam hati.
“ Ya ALLAH.... Engkau Maha Pemurah..... jadikanlah embrio ini amanah kami..... rezeki kami..... Engkau satu satunya tempat bagi kami berharap semua ini...... “ gumam Fajrin sambil membuka lebih lebar tirai yang menjadi penutup tempat Divya istirahat.
Divya tersenyum melihat kedatang Divya.
“ ayang..... “ suara pelan Divya membuat dada Fajrin terasa sesak karena tidak mampu menahan rasa haru bahwa Divya mampu melawan rasa takut akan jarum.
Sepulang dari rumah sakit, Fajrin memutuskan untuk memindah kamar tidur mereka ke lantai satu. Fajrin tidak ingin Divya lelah naik turun tangga.
sejak kepulangan Divya dari rumah sakit, Fajrin tidak mengizinkan Divya untuk melakukan pekerjaan apa pun selain untuk kepentingan pribadinya. Bahkan Fajrin menghubungi Helga secara langsung agar tidak melakukan launching produk desain Divya dalam satu bulan kedepan. Fajrin ingin agar Divya fokus pada kelima embrio mereka yang sudah berada di dalam uterus Divya. Bahkan Fajrin meminta Divya untuk lebih sering berdzikir juga murojaah, dan Fajrin pun melakukan hal yang sama. Setiap selepas syuruq hingga setengah jam sebelum berangkat kerja dan selepas Magrib hingga lima menit sebelum Adzan Isya', Fajrin selalu murojaah di depan Divya. Fajrin berharap embrio yang berada di dalam uterus Divya berkembang sesuai harapan mereka. Bahkan saat Fajrin terbangun tengah malam, Fajrin menyempatkan berdzikir kurang lebih selama sepuluh menit di samping Divya yang tertidur pulas.
“ Rabbi hab li minas-saalihiin (Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang yang shaleh) “ suara dzikir Fajrin.
Setiap akhir pekan Fajrin dan Divya lebih banyak menghabiskan waktu dengan murojaah bahkan Divya setiap akhir pekan mampu menyelesaikan 1 Juz.
Tiga puluh hari sudah keenam embrio bersemayam di uterus Divya, dan hari ini tiba waktunya bagi Divya untuk memeriksakan diri.
“ Bismillah semoga ada embrio yang menjadi rezeki kami “ ucap Fajrin sebelum menyalakan mobil.
“ Aamiin..... semoga ini menjadi rezeki kita “ ucap Divya mengaminkan doa Fajrin.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, kedua tangan dan kaki Fajrin terasa sangat dingin. campur aduk pikiran dan hati Fajrin juga Divya, satu bulan penuh mereka tidak henti-hentinya berdzikir berdoa murojaah merayu ALLAH dan hari ini mereka mencoba memastikan apakah usaha mereka memberikan hasil sesuai keinginan mereka atau tidak.
Menunggu giliran pemeriksaan membuat detak jantung mereka berdebar-debar, perasaan tak menentu menyelimuti hati dan otak mereka berdua. Fajrin menggenggam erat kedua tangan Divya.
“ ayang kenapa.....gugup.....” ucap Divya membuat Fajrin tersenyum tipis.
“ In Shaa ALLAH.... ini rezeki kita..... “ ucap Divya menenangkan Fajrin yang terlihat jelas juga tidak tenang.
Beberapa menit kemudian giliran Divya untuk melakukan pemeriksaan USG, kedua tangan dan kaki Fajrin semakin dingin dan perasaan tidak menentu semakin menyelimuti dirinya.
Divya berbaring di ranjang pemeriksaan, seorang perawat membantunya membuka pakaian agar dokter bisa melakukan USG pada perut bagian bawah Divya. Perasaan Fajrin semakin tidak menentu saat dokter menggerakkan tranduser USG di atas perut Divya. Detik demi detik yang menegangkan bagi Fajrin juga Divya, bagaimana tidak karena dokter tersebut belum mengucapkan sepatah kata pun.
“ pak Fajrin silahkan perhatikan ini..... “ ucap dokter sambil menunjuk layar monitor USG.
Seketika kedua tangan dan kaki Fajrin terasa mulai lemas.
“ ini kantung kehamilan....... “ ucap Dokter dengan ibu jarinya yang menunjukkan kantung kehamilan yang di maksud.
Kedua tangan Fajrin seketika menutup mulutnya rapat-rapat, kedua matanya berkaca-kaca.
“ selamat... program bayi tabung anda berhasil..... ada empat kantung kehamilan jadi ada empat embrio yang berkembang.... “ ucapan dokter membuat Divya terharu hingga kedua matanya berkaca-kaca.
Sedangkan Fajrin seketika kedua kakinya lemas hingga membuatnya luruh ke lantai.
“ Masya ALLAH...... “ ucap Fajrin yang sudah terduduk di lantai.
Kedua mata Fajrin tidak mampu membendung air mata yang perlahan menetes di kedua pipinya.
“ ayang.... “ ucap Divya menyadarkan Fajrin yang masih terduduk di lantai.
Sedetik kemudian Fajrin sadar dan segera melakukan sujud syukur, selama lebih dari satu menit Fajrin bersujud membuat Divya tak mampu membendung air matanya. Kebahagian yang tidak dapat mereka ungkapkan dengan kata-kata, rasa syukur yang tak terkira.
END