
“ ternyata begini aslinya pemilik 10% saham Rosenkrantz..... dermawan sekali..... “ ucap Zeno yang lebih terkesan sedikit mengejek.
Fajrin melangkah duduk di kursi tepat di depan Divya dan Zeno duduk di samping Fajrin. Mereka terdiam dan hanya melihat Gendhis yang masih terisak dan sesekali mencondongkan tubuhnya melihat keadaan Henri.
Beberapa menit kemudian Zeno mendapat laporan bahwa private jet miliknya sudah mendapatkan izin untuk terbang. Divya menatap Fajrin penuh tanya.
“ bagaimana mereka bisa seakrab ini?.... baru juga kemarin kenal..... siap Zeno? apa hubungan mereka? “ Gumam Divya dalam hati sambil menatap tajam Fajrin.
Zeno yang melihat Gendhis dengan rasa iba, tiba-tiba melihat Divya dengan heran.
“ Fajrin.... apa kamu menunduk karena tidak berani menatap wajah calon istrimu “ goda Zeno mencoba mencairkan suasana yang terkesan sangat sedih.
Fajrin berpindah duduk di sebelah Divya, Divya masih menatapnya tajam.
“ apa yang ingin Divya tahu? “ tanya Fajrin sambil memasang sabuk pengaman.
“ semua “ ucapan singkat Divya membuat Fajrin tersenyum tipis.
“ dia..... saudara sepupu Afkar..... Divya ingat waktu ayang mendapatkan tranfer dengan jumlah yang sangat besar? “ Divya menganggukan kepala.
“ 4 hari setelah itu.... bang Azkar memasukan nomor ayang di pesan group generasi ke enam Rosenkrantz.... dan nama dia sebenarnya “ ucap Fajrin pelan dan sedikit berbisik saat menyebutkan nama Zeno yang sebenarnya.
Seketika Divya membulatkan mulutnya dan menatap Zeno dengan memicingkan kedua matanya.
“ ayang yakin itu namanya.... tapi dia tidak terlihat seperti namanya..... Divya pernah menerima kontrak iklan dari perusahannya..... tapi bukan wajah dia “ ucap Divya sambil melihat wajah Zeno yang juga menatapnya dengan heran.
“ apa yang kalian bicarakan?..... apa kamu menceritakan aibku pada istrimu? “ ucap Zeno kesal dan lebih memilih melihat Gendhis yang sudah tenang dengan mulut bergerak seperti sedang mengucapkan sesuatu tanpa suara.
Penerbangan dengan private jet dari Penang ke Jakarta lebih cepat dari pesawat komersial, sepanjang penerbangan Gendhis tak henti-hentinya berdoa berdzikir berharap Henri akan sehat kembali. Divya menyandarkan kepalanya di bahu Fajrin, Fajrin menarik nafas panjang memikirkan bagaimana kelangsungan Gendhis bila Henri meninggalkannya. Tatapan mata Zeno yang masih terpaku pada Gendhis membuat Fajrin ingin tahu kenapa Zeno menatap Gendhis seperti itu.
“ apa kamu tertarik dengan Gendhis? “ pertanyaan Fajrin membuat Divya menatap Fajrin heran.
Begitu juga dengan Zeno dan Gendhis masih tidak peduli dengan apa yang dia dengar dari mulut Fajrin.
“ tidak..... aku heran saja.... kemarin terlihat seperti gadis yang kuat dan lebih terkesan tomboy.... tapi hari ini terlihat sangat berbeda dari kemarin “ ucap Zeno membuat Fajrin tersenyum.
“ yakin tidak.... “ ucap Farjin meyakinkan Zeno.
Zeno menganggukkan kepala meyakinkan Fajrin.
“ orang-orangku sudah menghubungi asisten Azkar.... di bandara nanti akan ada tim medis yang menangani om Henri.... maaf aku hanya bisa mengantar kalian sampai bandara saja.... ini passport kalian.... orang-orangku sudah mengurusnya..... satu lagi jangan bilang Azkar kalau aku yanb mengantar kalian “ ucap Zeno sambil menyerahkan 4 buah buku passport pada Fajrin.
“ terima kasih sudah membantu kami “ ucap Fajrin sambil menerima passport dari Zeno.
Petugas medis membawa Henri, Gendhis segera menyusulnya mengabaikan Fajrin dan Divya yang hendak mengucapkan terima kasih dan salam pada Zeno. Fajrin dan Divya menarik nafas panjang melihat sikap Gendhis yang terkesan cuek pada Zano.
“ terima kasih sudah membantu kami.... maaf dia.... dia masih seperti anak kecil.... “ ucap Fajrin membuat Zeno tersenyum tipis.
“ satu keluarga harus saling membantu..... “ ucap Zeno santai sambil melangkah mengantar Fajrin ke pintu keluar pesawat.
Fajrin dan Divya melangkah di stair air.
“ apa kalian tidak akan mengundangku di acara pernikahan kalian..... “ ucapan Zeno membuat Fajrin juga Divya berhenti dan membalikkan badan.
“ keluarga harus datang “ ucap Fajrin singkat dan membuat Zeno tertawa terbahak-bahak.
“ kau harus datang membawa hadiah yang banyak untuk kami..... aku tidak menerima tamu dengan hadiah yang sedikit “ ucapan Divya membuat Zeno menepuk dahinya pelan.
Fajrin mengangkat kedua bahunya sekali, Fajrin dan Divya melangkah menuju mobil yang sudah siap mengantarnya pulang.
Pagi yang sangat menguras tenaga bagi Fajrin, belum makan pagi harus mengangkat Henri dari kamar menuju lift dan dari lift masih harus naik tangga ke roof top. Sampai rumah Fajrin segera merebahkan tubuh lelahnya di sofa dan memijat dahinya, Divya merasa kasihan melihat Fajrin terlihat jelas sangat lelah.
“ ayang..... Divya buatkan soup asparagus jagung ya..... kita tadi belum makan pagi.... di private jet hanya makanan kecil “ ucap Divya yang sudah melangkah menuju dapur.
Tanpa menunggu jawaban Fajrin yang sudah menutup kedua matanya, Divya memakai apron dan mulai membuat soup asparagus jagung. Ini pertama kalinya Divya memasak tanpa bantuan Nenek Ina mau pun pelayan.
Tepat tengah hari Fajrin terbangun melihat sekitar dan mencium aroma harum soup asparagus jagung.
“ harum sekali.... “ gumam Fajrin mencoba mencari asal aroma harum yang dia rasakan.
Melangkah melihat Divya yang sibuk di dapur membuat Fajrin tersenyum tipis, Divya yang masih sibuk dengan masakan karena ternyata Divya tidak hanya membuat soup asparagus jagung saja tapi 2 menu lagi.
“ butuh bantuan? “ suara Fajrin hampir saja membuat Divya menjatuhkan sebuah mangkuk.
“ ayang..... ayang sudah bangun.... ayang duduk saja.... sebentar lagi semua siap dan kita makan siang bersama “ ucap Divya sambil sibuk mengisi beberapa mangkuk kecil dengan soup dan menu yang lain.
Fajrin tersenyum sambil menarik sebuah kursi makan dan duduk memperhatikan punggung Divya. Rasa penat, lelah, pening semua hilang dalam sekejap saat kedua matanya melihat sosok wanita yang akan menjadi pendamping dunia akhiratnya berjalan ke sana ke mari mempersiapkan makan siang mereka.
Setelah setengah jam duduk memperhatikan punggung Divya, akhirnya Divya menyajikan apa yang sudah dia buat. Divya mendahulukan Fajrin untuk memakan apa yang sudah dia buat, terlihat wajah Fajrin sedang berusaha merasakan apa yang Divya masak.
“ lumayan.... untuk pemula “ ucap Farjin mencoba merasakan soup asparagus jagung buatan Divya.
Divya tersenyum dan tersipu malu mendengar pujian Fajrin, mereka pun akhrinya menghabiskan makan siang bersama. Sepanjang siang hingga sore, mereka hanya menghabiskan waktu dengan bersantai karena Fajrin paham mulai besok dia akan sibuk dan semakin sibuk dengan amanah baru yaitu menjadi direktur sementara hingga Henri benar-benar pulih. Kabar keadaan Henri sendiri sudah Azkar ketahui dan memutuskan selama Henri belum sehat, Fajrin yang akan bertanggung jawab pada semua pekerjaan Henri.
“ mulai besok..... ayang akan semakin sibuk.... bang Azkar memutuskan ayang sebagai pengganti om Henri sampai on benar-benar sehat....... jadi Divya jangan sedih kalau ayang kurang perhatian sama Divya..... ini akan menjadi ujian terakhir kita sebelum kita menikah...... ayang harap Divya bisa mengerti bila nanti ayang tidak bisa sering ke rumah Divya “ ucap Fajrin sambil memperlihatkan pesan singkat dari Azkar.