My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
EXTRA PART 4 MEET FUTURE AUNT



“ beri waktu abang buat berpikir “ ucap Ditya.


“ tidak ada waktu.... jawab sekarang.... terima atau tidak..... “ ucap Divya dengan tegas membuat Ditya mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.


Ditya menatap tajam kedua mata Divya.


“ abang mau menggantikan posisi papi..... tapi seluruh posisi managerial yang diduduki oleh para keturunan Prakash Lohia akan di ganti oleh profesional management.... begitu juga dengan posisi direktur dan komisaris..... semua harus profesional management “ ucap Ditya dengan yakin dan terkesan tidak membuka celah negosiasi.


Divya menatap Davis yang terlihat jelas sedikit keberatan dengan syarat yang Ditya ajukan.


“ bila para keturunan Prakash Lohia ingin menduduki posisi di perusahaan atau pun bekerja di perusahaan.... maka mereka harus mengajukan lamaran dan mengikuti serangkaian profesional test yang akan Ditya serahkan pada perusahaan konsultan. “ ucap Ditya sekali lagi dan membuat Davis tertunduk.


Apa yang Ditya katakan benar, karena selama ini para keturunan Prakash Lohia bekerja di perusahaan tanpa melalui seleksi atau pun tes apa pun. Mereka bekerja dan menduduki posisi karena mereka keturunan Prakash Lohia.


Dengan usaha Divya pada akhirnya Davis mengikuti kemauan Ditya.


Dua tiga hari ini Davis menyiapkan berkas-berkas pemisahan puncuk pimpinan Perusahan Prakash Lohia. Divya dan Fajrin setiap hari mengajak keempat balita kembarnya berkeliling kota Montreal, seperti hari ini mereka bermain salju dengan Ditya.


“ So ​​it's like this...... every time on the phone you always say busy..... it turns out that you are busy playing with children...... (jadi begini...... setiap di telpon selalu bilang sibuk..... ternyata sibuk bermain sama anak-anak...... ) “ ucap seorang wanita yang sudah berdiri tepat di belakang Ditya.


Ditya terkejut juga bingung kenapa wanita ini bisa menemukan dirinya.


Ditya segera berdiri dan meminta keempat keponakannya untuk mengucap salam.


“ what......they're your kids? Where's their mama? (apa...... mereka anak-anakmu? Mana mama mereka?) “ ucap wanita itu dengan kesal.


“ tahu begini..... kemarin terima saja tawaran kembali ke Surabaya “ gumam wanita itu dengan kesal.


Ditya tersenyum mendengar gerutu wanita yang berdiri di depannya.


“ beri salam aunty Lusi “ ucap Ditya sambil membantu Eyza mengulurkan tangan kanan pada Lusi.


“ aunty..... sejak kapan aku nikah sama uncle mereka? “ ucap Lusi semakin kesal.


Ditya tersenyum dan tetap membantu keponakannya berjabat tangan dengan Lusi, Lusi menyambut jabat tangan mereka meski pun dengan wajah kesal.


Fajrin dan Divya yang memperhatikan dari jauh terlihat sangat heran dan ingin tahu, mereka berjalan mendekati dan saat tinggal beberap langkah. Flo dan Levi berteriak.


“ papa..... mama..... “ Flo dan Levi teriak memanggil Fajrin dan Divya hampir bersamaan.


Lusi mengalihkan pandangan melihat siapa yang kedua anak itu panggil, Fajrin segera mengangkat Flo dan memeluknya erat.


“ kenalkan ini adikku Divya dan ini adik iparku Fajrin..... dan mereka ini keponakkanku “ ucap Ditya santai memperkenalkan keluarga Divya.


“ kalian.... kenalkan ini Lusi.... dia mahasiswa LPDP S3 dari Surabaya.... “ ucap Ditya memperkenalkan Lusi yang terlihat malu karena sudah su'udhon pada Ditya.


Divya mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Lusi, tapi saat Lusi mengulurkan tangan kanannya pada Fajrin dengan sopan Fajrin menolak. Fajrin meletakkan tangan k ananya di dada dan sedikit membungkuk membalas salam Lusi. Lusi terlihat jelas sangat malu dan membuat Ditya tersenyum tipis karena baru kali ini melihat lusi sangat malu.


“ bang.... kalau sudah yakin.... di halalkan saja.... jangan pacaran...... zina “ bisik Divya membuat Ditya tersedua air ludahnya sendiri.


“ siapa yang pacaran..... kita hanya teman dekat..... “ ucap Ditya gengsi.


“ ya sudah kalau hanya teman..... nanti malam keluar sama Huda atau Ismail ya..... hmmmm..... kakaknya sama Ismail saja deh.... “ ucap Lusi pelan dan mengeluarkan ponsel hendak mengetik sesuatu.


Tapi dengan cepat Ditya merebut ponsel Lusi.


“ memang kenapa tidak boleh..... ? “ tanya Lusi dengan tegas.


“ sekali tidak boleh ya tidak boleh “ ucap Ditya yang semakin kesal.


Melihat Ditya dan Lusi yang mulai beradi argumentasi membuat Divya gemas.


“ sudah... hentikan..... kenapa masih gengsi mengakui kalau abang punya pacar.... sudah sana kalau masih mau beradu argumentasi.... jangan di depan kembar..... “ ucap Divya sedikit keras karena keempat balita kembar melihat Ditya dan Lusi beradu argumentasi.


“ hihihi..... uncle sama aunty lucu.... seperti kucing aunty Elena..... “ ucap Resta membuat Ditya tersenyum tapi membuat Lusi semakin kesal pada Ditya.


Lusi yang masih kesal berjalan cepat meninggalkan Ditya, Ditya pun tak tinggal diam. Ditya segera berlari kecil mengejar Lusi hingga berada tepat di depan Lusi.


“ gengsinya masih tidak berubah.... “ gumam Divya membuat Fajrin mencubit pipi kanan Divya.


“ mereka sudah dewasa mereka pasti paham mana batasan-batasan yang tidak boleh mereka lewati...... apa lagi Lusi berhijab.... ya meski pun hijabnya masih di lilit di leher.... setidak tidaknya Ditya tidak akan melewati batas yang sudah Lusi buat. “ ucapan bijaksana Fajrin membuat Divya tersenyum dan mengedipkan kelopak matanya dengan genit.


“ jangan genit.... mau ayang habisi nanti malam “ goda Fajrin membuat Divya merinding.


“ nanti malam mau tidur sama Levi.... “ ucap Divya dan melangkah menuju boneka salah yang belum selesai kembar buat.


Fajrin memperhatikan Divya dan anak-anak, sesekali melihat interaksi antara Ditya dan Lusi. Fajrin berjongkok tepat di belakang Divya, sesekali merapikan hijab yang mengulur hingga ke tanah karena Divya juga berjongkok.


“ Fajrin..... berapa lama kalian disini....? “ tanya Ditya dengan malu-malu.


“ kenapa..... apa kau memerlukan bantuanku “ tanya Fajrin sedikit heran.


Dengan malu-malu Ditya memberi isyarat agar Fajrin mau mengikutinya.


“ katakan disini saja.... aku tidak mau ada rahasia dan menbuat istriku su'udhon.... katakan saja apa yang aku butuhkan.... “ ucap Fajrin sambil berdiri.


Ditya sedikit mencondongkan tubuhnya hingga mulutnya tepat di samping telinga sebelah kiri Fajrin.


“ bantu aku belajar sholat dan mengaji...... juga menghapal Al Qur'an. “ bisik Ditya membuat Fajrin menahan senyum.


Fajrin mulai paham apa yang membuat Ditya berubah seratus delapan puluh derajat, Fajrin melihat kedua kaki Lusi dan tersenyum.


“ kapan mulai? Sekarang? “ ucapan Fajrin membuat Divya berdiri dan menatap Fajrin.


“ kalian mau buat rahasia apa.....? “ pertanyaan Divya membuat Ditya malu.


Fajrin dengan cepat membisikkan permintaan Ditya, seketika Divya tersenyum dan meraih lengan Lusi mengajak Lusi bermain dengan keempat balita kembar mereka.


“ bagaimana mba Lusi bisa mengenal abang? “ pertanyaan Divya membuat Lusi malu.


“ aunty...... aunty teman uncle Ditya...... apa aunty suka uncle Ditya “ pertanyaan Eyza membuat kedua pipi Lusi bersemu merah.


“ aunty.... uncle Ditya baik.... kemarin uncle temani Flo main air..... “ ucap Flo sambil memainkan salju yang berada di genggaman tangannya.


Lusi tersenyum mendengar celoteh Eyza dan Flo.


“ mba Lusi yang sabar ya.... kalau menghadapi abang..... abang masih belum bisa menghilangkan gengsinya..... “ ucapan Divya membuat Lusi mengangguk-anggukan kepala.