
Pukul 1 tengah malam Fajrin sudah sampai di depan rumahnya, dengan mobil perusahaan yang menjemputnya di Bandara. Melihat suasana rumah yang gelap gulita membuat Fajrin yakin bahwa Divya tidak menginap di rumahnya. Tubuh dan otak Fajrin terasa penat, tapi melihat 1 koper penuh pakaian kotor menjadi tidak tega membiarkannya diam di sudut ruang tengah. Fajrin memasukkan pakaian kotor kedalam mesin cuci dan baru beranjak naik ke lantai 2 setelah semua pakaian kotornya masuk ke dalam mesin cuci.
“ besok pagi lepas Shubuh saja dijemur. “ gumam Fajrin sambil menuangkan serbuk detergen dan cairan pewangi di kotak kecil mesin cuci otomatis.
Fajrin naik ke lantai 2 dan langsung merebahkan tubuhnya yang penat.
“ aroma khas Divya “ gumam Fajrin dalam hati sambil menghirup bantal yang beberapa hari Divya pakai tidur selama dirinya dalam perjalanan bisnis.
30 menit sebelum adzan Shubuh Fajrin terbangun dan langsung membersihkan diri untuk segera Sholat Shubuh di masjid perumahan. Pukul 5.30 Fajrin baru pulang dari sholat Shubuh karena para bapak-bapak perumahan mengajaknya berbincang-bincang tentang banyak hal. Sampai di rumah Fajrin melepas juba yang dia pakai dan hanya mengenakan celana pendek selutut untuk menjemur pakaian, karena Fajrin berpikiran bahwa Divya tidak mungkin pagi-pagi sekali ke rumahnya.
Di saat Fajrin sibuk menjemur pakaian tanpa Fajrin sadari Divya sudah berdiri 3 meter di belakang Fajrin tepat di pintu belakang yang menghubungkan rumah dan halaman belakang.
Kedua mata Divya tidak berkedip sama sekali melihat punggung polos Fajrin yang menampilkan otot punggung yang atletis dengan masa lemak yang sedikit.
“ he is so hot.... “ gumam Divya dengan mengulum senyum.
Kedua matanya tidak mau beralih pada hal lain, Divya masih setia memandangi punggung Fajrin yang menurutnya sangat seksi.
“ pasti depannya lebih seksi lagi.... “ gumam Divya yang sudah duduk di kursi teras halaman belakang.
Memandangi tubuh atletis Fajrin dari belakang membuat otak Divya berhalusinasi, membanyangkan tangan kanannya menyentuh otot pectoralis dan otot perut Fajrin. Disaat otak Divya berhalusinasi, Fajrin memalingkan badannya melihat Divya yang duduk di kursi dengan tatapan mata yang terlihat jelas sedang berhalusinasi. Fajrin mengusap kedua lengannya bergantian karena basah dengan kerigat pagi, tapi kedua matanya menatap Divya heran karena meski pun kedua mata mereka bertemu tapi mata Divya seperti tidak melihat dirinya.
“ kenapa Divya kesini pagi-pagi sekali? Itu kenapa matanya.... melihat kemari tapi seperti tidak melihat kemari “ gumam Fajrin yang masih belum paham apa yang Divya lihat dan Divya pikirkan.
Fajrin melangkah mendekati Divya, dan berdiri tepat di depan Divya. Tanpa berpikir panjang Divya menyentuh otot perut Fajrin, Divya merasa masih di bawah dunia halusinasi. Fajrin merasakan hal aneh dengan sentuhan lembut jari jemari Divya di atas otot perutnya.
“ Divya.... “ panggil Fajrin tapi masih belum mengeluarkan Divya dari dunia halusinasi.
“ keras sekali..... seperti menyentuh aslinya “ gumam Divya sambil memiringkan kepalanya ke kanan.
“ Divya..... “ panggil Fajrin sekali lagi tapi Divya masih belum juga sadar dari halusinasinya.
“ duuh...... jadi lembab punyaku “ gumam Divya pelan tapi terdengar jelas bagi Fajrin.
Semburat merah muncul di leher hingga rahang Fajrin dan asetnya menjadi siaga tiga, Fajrin menguatkan diri menarik nafas panjang dan menggenggam tangan kanan Divya yang membelai otot perutnya.
“ seperti ada yang memegang tangan Divya “ gumam Divya mulai merasa bahwa ada yang menggengam tangannya.
“ Divya..... “ ucap Fajrin sekali lagi dengan menahan asetnya agar tetap di kondisi siaga dua.
“ seperti suara ayang.... “ gumam Divya pelan.
Sedetik kemudian Divya membuka mulutnya, otaknya sudah kembali ke dunia nyata. Divya menengadahkan kepala melihat sosok yang menggengam tangannya.
“ ayang.... “ ucap Divya terkejut dan menarik tangannya agar jari tengahnya tidak bergerak-gerak menyentuh otot perut Fajrin.
“ aduh...... kenapa tangan ini bisa menyentuh otot seksi itu.... bukankah tadi ayang berdiri disana..... kenapa jadi bisa di depan Divya “ gumam divya sambil mengikuti langkah kaki Fajrin.
Tanpa Divya sadari Fajrin berhenti tepat di pintu sehingga membuat Divya menabrak punggung berotot Fajrin.
“ aduh..... kenapa ayang berhenti tidak memberi tanda.... “ ucap Divya sambil mengusap dadanya yang membentur punggung berotot Fajrin.
“ kenapa pagi-pagi kesini? Ada apa? “ ucap Fajrin dan kembali melangkah menuju tangga lantai 2.
“ kangen ayang..... “ ucap Divya manja dan mengerucutkan kedua bibirnya.
Fajrin membalikkan badan dan memiringkan wajahnya mencoba melihat wajah Divya yang sudah menunduk, Fajrin tersenyum terlihat jelas wajah Divya yang merindukan dirinya. Fajrin pelan-pelan memberanikan diri memeluk Divya, Fajrin tahu ini salah tapi Fajrin juga tidak tega melihat wanita yang sangat berarti dihidupnya terlihat sedih karena dirinya. Divya terkejut dan tidak percaya kalau Fajrin berani memeluknya tanpa kain yang menutupi kulitnya.
“ sekali ini saja ayang peluk Divya..... setelah ini tidak ada lagi pelukkan seperti ini sampai kita halal “ ucap Fajrin sambil memeluk erat Divya.
Divya dengan senang membalas pelukkan Fajrin dengan melingkarkan kedua tangannya di tubuh Fajrin.
Untuk beberapa detik mereka hanya berpelukkan tanpa ada kata-kata yang terucap. Hingga suara langkah kaki Liam membuat Fajrin segera melepas pelukkannya, dan saat Liam melihat mereka yang Liam lihat hanya Divya memeluk erat Fajrin. Fajrin melihat kedatangan Liam dengan sedikit rasa canggung begitu juga dengan Liam, tapi tidak dengan Divya yang menatap Liam dengan tatapan elang.
“ how dare you interrupt it (berani sekali kamu mengganggu) “ gerak bibir Divya membuat Liam merinding dan segera menjauh dari Divya.
Setelah Liam menjauh, Divya pelan-pelan melepas pelukkannya membuat Fajrin sedikit lebih lama berusaha keras menahan diri agar tidak menjadi siaga dua. Fajrin segera melangkah naik ke lantai 2 dan Divya mengikutinya.
“ Ayang.... tadi malam sampai jam berapa? “ tanya Divya yang berusaha mengikuti Fajrin.
“ Jam satu “ jawab Fajrin singkat.
“ Jam satu..... berarti ayang hanya tidur kurang dari 3 jam.... “ gumam Divya dalam hati.
“ Ayang sudah makan pagi? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
“ Ayang belum makan pagi..... ayang mau tidur lagi..... dan Divya berhenti di situ.... sebelum ayang khilaf “ ucapan Fajrin kali ini cukup membuat Divya menghentikan langkahnya 2 meter di belakang Fajrin.
“ sepertinya.... lebih baik Divya di bawah saja.... “ ucap Divya sambil membalikkan badan menuruni anak tangga.
Fajrin tersenyum tipis melihat tingkat Divya yang ternyata membuatnya menjadi siaga satu. Fajrin memijat pelipis kanannya dan berjalan dengan langkah lebar masuk ke kamar mandi, menyelesaikan aset sudah berubah siaga satu sejak Liam menjauh.
Divya yang sudah berada di bawah, menghubungi seorang pelayan di kediaman Davis menyuruhnya ke rumah Fajrin untuk menyiapkan makan siang Fajrin.
“ Tadi.... itu.... “ human Divya sambil mematikan ponselnya mengingat-ingat sesuatu saat Fajrin memeluknya.
Seketika tangan kanannya menutup mulutnya yang membuka lebar karena menyadari ada perubahan dan dalam didi Fajrin.
“ aduh.... repot sekali menuju halal “ human Divya sambil duduk di sofa dengan kasar.