My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 124 DINNER (2)



“ bang.... sudahlah jangan bicara soal pekerjaan....itu bisa kalian bicarakan di kantor..... sekarang waktunya makan malam " rajuk Divya.


“ baiklah......kita makan malam dengan tenang tanpa pembicaraan apa pun..... Fajrin nikmati makan malam ini. ” Ucap Dipta yang sudah menyuruh para pelayan untuk menghidangkan menu utama makan malam.


Saat menu utama makan malam di hidangkan, ponsel Fajrin bergetar segera mengeluarkan dari dalam celana dan tertera nama SUNFLOWER.


“ maaf, saya permisi dulu ada telepon penting " ucap Fajrin yang sudah berdiri.


Fajrin melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari meja makan.


“ Assalamualaikum ” salam Fajrin yang sayup-sayup terdengar oleh Logika sekeluarga.


“......”


“ sebentar lagi kakak jemput, adik tunggu di lobi ya....Assalamualaikum ” Fajrin mematikan ponsel dan kembali mendekari meja makan.


“ maaf tuan Davis, Divya dan semuanya.... sepertinya saya tidak bisa berlama-lama disini..... ada hal penting yang harus saya lakukan..... tuan Davis terima kasih sudah mengundang saya makan malam..... “ Divya terkejut mendengar ucapan Fajrin dan segera berdiri meraih tangan Fajrin menggenggam erat.


“ ayang.... kenapa seperti ini..... ayang belum makan malam sama sekali..... abang bantu Divya membujuknya " pinta Divya pada Dipta.


“ Divya.... biarkan Fajrin pergi..... urusan dia lebih penting dari sekadar makan malam ini.... ” ucap Dipta sambil memasukan sepotong daging panggang ke mulutnya.


“ ta-pi bang...... baru kali ini ayang mau di ajak makan malam bersama..... ” ucap Divya yang sudah bertingkah seperti gadis manja.


“ Divya..... habiskan makan malammu " hardik Davis membuat Divya melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Fajrin.


“ sekali lagi.....maaf saya telah menganggu makan malam keluarga Lohia..... Assalamu'allaikum ” Fajrin berjalan keluar menuju motor tuanya yang terparkir dekat pos satpam.


Fajrin segera meluncur ke club menjemput Nara yang sudah lama menunggunya.


Sementara Divya menjadi tidak berselera untuk menghabiskan makan malamnya, dia hanya memotong-motong daging panggang di depannya menjadi potongan kecil-kecil tanpa berniat memasukkan ke mulutnya.


“ Divya......habiskan makanannya ” pinta Davis dengan suara yang sudah kembali normal


“ laki-laki seperti itu yang kamu bilang menarik..... apa mata kamu sudah bermasalah? ” Divya mengabaikan ucapan Ditya.


“ abang bisa mencarikanmu sepuluh laki-laki yang lebih baik lebih tampan dari dia...... laki-laki tidak tahu malu..... seenaknya saja menyukai adikku yang cantik dan seksi ini.... dia belum tahu siapa keluarga Lohia " ejekan Ditya membuat Divya meletakkan pisau dan garpu di meja dengan keras dan berjalan cepat masuk ke kamarnya yang berada di lantai 2.


“ jaga mulutmu.....jangan menghina orang kalau kamu belum mengenalnya...... tidak semua laki-laki tergiur dengan harta " ucap Dipta tenang.


“ memangnya abang mengenal dia? Paling dia hanya pegawai rendahan di Surendra.... ” ejek Ditya sekali lagi.


“ jaga mulut kotormu " ancam Dipta dengan suara tenang.


“ kamu mengenalnya? Berapa lama kamu mengenalnya? ” tanya Davis pura-pura mulai serius ingin tahu tentang Fajrin.


Dipta tidak tahu kalau Davis sudah mengamati Fajrin seizin Azkar.


“ kamu yakin dia arsitek itu..... tapi dia terlihat masih muda..... papi kira arsitek yang mendesign mess di Sonora seorang laki-laki yang sudah berumur. ” Ucap Davis dengan raut muka serius membuat Ditya heran.


Davis memang tidak pernah tahu siapa arsitek yang menangani projectnya, pihak Surendra hanya mengatakan bahwa arsitek yang membuat desain projectnya adalah arsitek andalan dan kebanggaan mereka.


“ kenapa papi mulai memihak dia...... papi dia itu hanya seorang gold digger..... pasti dia sudah merayu Divya kita hingga Divya tergila-gila padanya. ” Ucap Ditya sinis.


“ Fajrin bukan seorang gold digger..... dia kepala keluarga, dia seorang pekerja keras tidak sepertimu yang hanya bermalas-malasan menghabiskan uang papi. ” Ucap Dipta sambil melihat Ditya dengan pandangan membunuh.


“ abang sudah tertipu dengan penampilannya.... penampilan sederhana tapi di otaknya pasti ingin menguras harta Divya harta kita “ ejek Ditya sekali lagi.


“ apa yang membuat kamu yakin kalau dia bukan seorang gold digger seperti yang Ditya ucapkan? ” tanya Davis serius.


“ papi....tadi sudah Dipta katakan.....dia seorang kepala keluarga, dia bekerja untuk menafkahi seorang adik perempuan..... lima puluh persen gajinya dia pakai untuk biaya sekolah adik perempuannya.... kalau dia seorang gold digger tidak mungkin keluarga Surendra mengijinkan putra keduanya menikahi adik perempuannya..... “jelas Dipta yang mulai menahan emosi.


“ berarti dia sekeluarga gold digger..... ” ejek Ditya sekali lagi.


“ kalau papi tidak percaya apa yang Dipta katakan..... papi bisa menyuruh orang kepercayaan papi mencari informasi tentang Fajrin..... kalau perlu latar belakang keluarganya.... ” ucap Dipta sambil meneguk segelas air putih.


“ papi tidak mempercayai ucapan bang Dipta kan....? ” tanya Ditya serius.


Terlihat Davis yang sedang memikirkan sesuatu dan beberapa detik kemudian memanggil satu orang kepercayaannya.


“ suga.....kamu cari informasi tentang laki-laki itu..... sebelum aku kembali ke Montreal sudah aku terima informasi itu. ” Suga mendengar ucapan Davis tanpa membantah sedikit pun.


Tentu saja Davis melakukan semua ini hanya untuk menguji atau mengetahui lebih jauh seberapa besar keberadaan Fajrin mempengaruhi atau mungkin memicu pola pikir lain pada ketiga anak-anaknya, terutama pada Dipta dan Divya yang lebih lama tinggal di Jakarta. Tidak seperti Ditya yang lebih memilih tinggal di Montreal dan hanya sesekali tinggal di Jakarta bila ada perlunya.


“ siap tuan " jawab Suga singkat.


Surga adalah tangan kanan Ditya yang Ditya percaya salam Ditya berada di luar Jakarta.


“ papi serius mencari informasi tentang laki-laki itu? Sudah sejelas dia dan adiknya hanya gold digger " Ditya masih menghina Fajrin.


“ papi akan mencari tahu sendiri..... kita tunggu informasi dari Suga..... kalau memang benar dia gold digger .... papi pastikan dia tidak akan bisa melihat dunia lagi. ” Ucap Davis pura-pura berapi-api.


Ditya mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan mengetik sesuatu dengan cepat karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada Davis dan Dipta. Davis mengamati perubahan sikap kedua anak laki-lakinya.


“ mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang Fajrin, Dipta lebih melihat dari sisi positif mungkin karena Fajrin sudah membantunya membentuk keluarga kecilnya yang sekarang. Ditya lebih melihat dari sisi negatif, bisa jadi karena Ditya sayang sekali dengan divya... bisa juga karena Ditya belum mengenal pribadi Fajrin yang sebenarnya. “ gumam Davis dalam hati sambil melipat kedua tangannya di dada dan mengamati kedua anak lelakinya.


“ aku akan melihat kalian seberapa jauh kalian mengambil sikap pada pria yang Divya suka..... “ gumam Davis sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.


Sementara Divya di dalam kamar terlihat sangat kecewa marah dan sedih.


“ kenapa papi jadi bersikap seperti ini? kenapa berbeda sekali dengan tadi pagi? Apakah papi merencanakan sesuatu? “ kembali otak Divya tak mampu memikirkan berbagai kemungkinan yang akan Davis lakukan.


Meski pun makan malam keluarga Logika menjadi berantakan tapi Davis cukup senang karena bisa melihat sendiri pola pikir kedua anak lelakinya, mungkin terkesan licik di mata Divya mau pun Fajrin tapi Davis tidak perduli hal itu. Dia hanya ingin tahu bagaimana para lelaki muda yang masih duduk di depannya menyikapi kehadiran Fajrin di tengah-tengah keluarga Lohia.