
Fajrin tersenyum mendengar suara Divya menyebut dengan benar semua huruf arab yang dia tunjuk, Divya tersenyum sombong membanggakan dirinya karena masih ingat dan bisa membaca huruf arab. Fajrin tersenyum tipis melihat senyum sombong Divya, sambil menggeser beberapa layar ponselnya dua kali.
“ kalau ini bagaimana bacanya? “ tanya Fajrin dan membuat Divya kembali fokus pada layar ponsel Fajrin.
Divya melihatnya dengan heran dan memiringkan kepalanya ke kiri sebentar juga ke kanan sebentar seperti sedang berpikir.
“ ini apa? “ tanya Divya sambil menunjuk tanda baca pada huruf arab.
Fajrin tersenyum sedikit lebih lebar melihat ekspresi Divya.
“ ini namanya tanda baca fathah dan huruf yang ada tanda baca ini harus bersuara ‘ a ‘. Kalau yang ini tanda baca kasrah dan huruf yang ada tanda baca ini harus bersuara ‘ i ‘ “ belum sempat Fajrin lanjut menjelaskan Divya sudah memotong kalimat Fajrin.
Membuat Fajrin tersenyum tipis melihat Divya yang sangat antusias.
“ dan kalau ini tanda baca dhommah harus bersuara ‘ u ‘.... sekarang Divya ingat “ ucap Divya sambil mengepalkan kedua tangannya memberi semangat pada dirinya sendiri.
“ yakin ingat? Nanti lupa? Atau jangan-jangan dulu tidak bisa dan sekarang jadi lupa? “ ucap Fajrin sedikit menggoda Divya.
“ kalau kak Fajrin tidak percaya... coba saja kakak tunjuk huruf mana yang harus Divya baca.... Divya pasti bisa “ ucap Divya menyombongkan diri.
Fajrin tersenyum melihat semangat Divya dan mulai menunjuk satu huruf untuk Divya baca. Satu persatu huruf yang Fajrin tunjuk dapat Divya baca dengan lancar dan benar, Fajrin tersenyum tipis melihat ekspresi Divya yang menyombongkan dirinya bahwa membaca huruf arab tidaklah sulit.
“ pintar.... sekarang kalau ini bagaimana bacanya? “ ucap Fajrin mulai memperlihatkan layar ponsel yang menampilkan huruf arab yang sudah tersambung-sambung.
“ jujur.... kalau sudah di sambung seperti ini Divya tidak bisa.... Divya menyerah saja. “ ucap Divya yang sudah menegakkan punggungnya bersandar di sandaran sofa.
“ kenapa menyerah.... kamu belum mencoba untuk membacanya.... coba saja dulu “ rayu Fajrin membuat Divya memberanikan diri untuk mencoba membaca tiga huruf arab yang bersambung menjadi satu.
Pelan-pelan Divya membacanya karena Divya masih sedikit bingung bila huruf arab sudah di sambung-sambung, satu persatu kata yang Fajrin tunjuk dapat Divya baca dengan benar meskipun pada awalnya Divya sedikit kesulitan mengenali huruf arab tersebut.
“ pintar.... itu bisa.... kalau kamu belum mencoba.... bagaimana kamu tahu kalau kamu bisa atau tidak? “ ucap Fajrin memuji Divya
Tanpa mereka sadari waktu sudah menunjukkan jam makan siang dan lambung Divya sudah berbunyi cukup keras untuk Fajrin dengar. Divya tersenyum malu karena perutnya berbunyi, Fajrin menahan tawanya melihat Divya malu.
“ kak..... kita istirahat dulu ya.... Divya lapar “ pinta Divya dengan manja.
“ iya..... kamu mau makan apa? Tadi kakak lihat di bawah ada cafe di dekat lobi apartemen.... apa kita makan di sana saja? “ ucap Fajrin yang sudah berdiri dari sofa dan melihat ke sekeliling ruang tengah.
“ jangan makan disana.... pesan antar saja “ ucap Divya dengan cepat.
Divya sebenarnya masih kuatir bila di dalam cafe itu masih ada pemburu berita atau paparazi yang menyamar untuk mencari berita tentang dirinya.
“ boleh..... kamu tahu nomor cafe itu yang bisa kakak hubungin? “ Divya menjawab pertanyaan Fajrin dengan menggelengkan kepalanya.
“ terus kalau kamu tidak tahu nomor cafe yang bisa kakak hubungi dan kakak tidak boleh membeli langsung.... bagaimana kita makan siang? Bagaimana agar lambung kamu berhenti bersuara? “ ucapan Fajrin sukses membuat Divya meringis.
Fajrin berjalan ke dapur dan melihat-lihat isi dapur.
“ apa di dalam lemari ini ada bahan makanan? “ tanya Fajrin yang sudah memegang pegangan pintu sebuah lemari.
“ sepertinya ada “ ucap Divya ragu karena selama tinggal di unit ini Divya sama sekali tidak pernah mengisi lemari-lemari itu dengan bahan makanan apa pun karena semua sudah Elena tangani dengan baik.
Fajrin membuka lemari es dan melihat beberapa butir telur, jamur kancing dan okra yang masih terbungkus rapi, wortel dan asparagus yang juga masih terbungkus rapi dan sebuah kol merah yang mulai menyusut.
“ ini ada banyak sayuran.... apa kakak boleh memasak ini untuk makan kita? “ tanya Fajrin sambil memegang sebungkus wortel dan jamur kancing.
Divya malu melihat Fajrin mendapati lemari pendinginnya hanya menyimpan sayuran yang sedikit lagi sudah tidak bisa di makan.
“ kakak bisa masak? “ tanya Divya heran.
“ kalau di Jakarta kakak sering memasak makan pagi dan makan malam untuk adik, tapi kalau makan siang kami harus beli karena tidak mungkinkan kakak untuk memasak buat adik “ jelas Fajrin sambil mencari pisau dan membaca kemasan beberapa bumbu masakan yang ada.
Divya berjalan duduk di sebuah meja makan mengamati Fajrin yang kedua tangannya mulai sibuk mengolah sayur-sayuran yang sudah Fajrin keluarkan dari lemari pendingin. Dengan tangan kanannya Divya menopang dagunya, kedua bola matanya mengikuti kemana pun tangan dan tubuh Fajrin bergerak.
“ dari mana kak Fajrin belajar memasak? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin menghentikan gerakan tangannya untuk sesaat dan menarik nafas panjang.
Divya tidak tahu kalau Fajri sudah kehilangan kedua orang tuanya.
“ kakak bisa memasak karena keadaan yang mengharuskan kakak untuk bisa.... kamu kalau mau belajar pasti bisa juga. “ ucap Fajrin sambil memasukkan okra ke dalam sebuah penggorengan.
Memang peralatan masak di dapur unit Divya lengkap tapi Divya tidak pernah memakainya karena yang biasanya memasak menu makan pagi Divya adalah Patrick, Patrick mengatur semua pola makan dan olah raga supaya bentuk tubuh Divya tetap terjaga. Patrik tidak mengijinkan Divya memakan makanan berlemak dan berminyak, tapi kali ini Divya mengabaikan saran Patrick dan sangat menantikan bisa memakan masakan Fajrin.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Fajrin selesai masak, menghidangkan semangkuk besar sup sarang bulut walet yang berisi telur menyerupai serabut sarang burung walet dan potongan kecil wortel okra asparugu juga jamur. Divya sudah tidak sabar ingin mencoba memakan sup itu, Fajrin mencari mangkok kecil dan sendok sayur yang tidak bisa dia temukan.
“ kak Fajrin mencari apa ? “ tanya Divya heran.
“ apa kamu tidak menyimpan mangkuk dan sendok sayur? “ tanya Fajrin sambil membuka-buka semua lemari kecil di dapur.
“ maaf sepertinya tidak. “ ucap Divya tertunduk.
“ kalau begitu kamu makan saja dulu.... kakak makan setelah kamu. “ ucap Fajrin yang sudah menghentikan pencariannya.
Divya dengan semangat memasukkan sedok ke dalam sup tersebut, saat hendak memasukan sedok dengan potongan sayuran ke dalam mulutnya. Tiba-tiba Elena dan Patrick masuk dengan membawa beberapa bungkus makan siang Divya.