
Di sela-sela makan, Rendra memulai pembicaraan karena berkali-kali Maya menginja kaki Rendra.
“ Fajrin.... begini.... om perhatikan sejak kepulangan kamu dari India.... kamu belum dekat dengan satu orang wanita pun..... apa kamu tidak ada rencana untuk berkeluarga.... bukankah adikmu sudah menikah dan tinggal di Norwegia? “ pertanyaan Rendra membuat Fajrin mengulas senyum, tapi tidak dengan Delilah yang menatapnya penuh harap.
“ terima kasih.... om Rendra sudah memperhatikan saya.... kalau untuk rencana berkeluarga, Insya ALLAH ada tapi mungkin tidak dalam waktu dekat karena ada beberapa hal yang harus saya selesaikan. “ ucap Fajrin sambil menatap Rendra.
“ apa kamu sudah memiliki wanita sebagai calon Istri kamu? “ tanya Maya penuh selidik.
“ Insya ALLAH..... kalau ada wanita yang bersedia menerima segala kekurangan saya.... saya akan meminangnya. “ ucapan Fajrin yang terdengar membingungkan di telinga Rendra juga Maya membuat Rendra ingin segera mengatakan rencananya.
“ kalau seandainya.... om menjodohkan kamu dengan Delilah.... putri om.... bagaimana? “ Fajrin tersenyum mendengar ucapan Rendra yang terkesan tidak sabar begitu juga dengan Maya.
Dengan menarik nafas panjang, Fajrin menyiapkan diri bila terjadi hal-hal di luar perkiraannya.
“ terima kasih..... om Rendra dan tante Maya mempercayakan saya menjadi Imam bagi Delilah ..... saya sangat tersanjung..... tapi..... saya merasa tidak pantas menjadi imam bagi Delilah..... “ ucap Fajrin dengan pelan dan berhati -hati agar tidak menyingung perasaan Rendra mau pun Maya.
Mendengar penolakan Fajrin membuat Maya merasa terhina merasa di rendahkan.
“ maksud kamu..... kamu menolak rencana perjodohan ini..... sombong sekali kamu menolak putri kami “ ucap Maya dan meletakkan sendok juga garpu dengan kasar.
Rendra menarik nafas panjang mencoba melihat kejujuran di mata Fajrin yang masih menatapnya dengan rasa kuatir.
“ apa.... kamu sudah menemukan wanita yang membuatmu seperti ini? “ pertanyaan Rendra membuat Fajrin merubah ekspresi wajahnya menjadi terkejut.
Tanpa menunggu jawaban Fajrin, Rendra menepuk punggung Fajrin dan tersenyum membuat Fajrin semakin bingung.
“ Alhamdulillah.... kalau kamu sudah menemukan wanita yang mampu membuatmu seperti ini.... om kira selama ini kamu belum menemukam wanita itu...... “ ucapan Rendra membuat Fajrin tenang.
Sementara Delilah dalam hatinya ingin meloncat kegirangan karena Fajrin mengabulkan permintaannya, dulu Delilah memang suka sama Fajrin tapi sejak mengenal seorang professor muda spesialis bedah tulang. Hari-hari Delilah berubah menjadi penuh warna. Tanpa Delilah sadari, ternyata Maya memperhatikan raut wajah Delilah yang terlihat sama sekali tidak merasa bersedih atau kecewa.
“ kenapa kamu terlihat senang dengan penolakannya? Bukankah kamu menyukai dia? “ pertanyaan Maya membuat Delillah tertunduk tapi membuat Fajrin tersenyum tipis, sedangkan Rendra menatap Delillah dengan seribu pertanyaan.
“ dik.... jujur saja sama om dan tante....tidak baik di sembunyikan terus-terusan.... mereka berdua pasti akan senang dengan pilihan adik “ ucap Fajrin sambil meraih gelas minumnya.
Rendra dan Maya menatap tajam penuh tanya pada Delillah, Delillah yang menerima tatapan itu merasa takut dan berusaha meminta tolong pada Fajrin.
“ apa orang tua adik harus tahu dari orang lain? “ ucapan Fajrin membuat Rendra ingin tahu dan beralih menatap Fajrin curiga.
“ kamu tahu.... Delilah sedang menjalin hubungan dengan seseorang? “ tanya Rendra curiga.
Dengan menarik nafas panjang Fajrin menganggukan kepala menjawab pertanyaan Rendra.
“ pria yang beruntung yang bisa membuat Delilah selalu merasa lebih senang berada di rumah sakit menjalanin program internship.... “ ucapan Fajrin terhenti saat melihat sosok yang selama ini membuatnya kurang fokus masuk ke dalam restauran melalu pintu masuk yang lurus sejajar dengan Rendra.
“ bang.... jangan begitu melihatnya.... lepas nanti itu mata “ canda Delilah seperti angin lalu bagi Fajrin.
Karena Fajrin masih menatap sosok tersebut yang sudah duduk di sebelah seorang pria yang sangat dia kenal, pandangan mata Fajrin bertemu dengan pandangan mata seseorang yang dia hormati selama ini. Orang tersebut dengan isyarat tangan menunjuk ponselnya sendiri dan tiba-tiba ponsel Fajrin berdering, Fajrin segera mengangkatnya dan terlihat nama Azkar.
“ Assalamu'allaikum bang... “ salam Fajrin sedikit gugup.
“ Wa'alaikumsalam.... kenapa kamu duduk disana? Kenapa kamu tidak kemari? Apa kamu mau perempuan manja ini menjadi madunya Helen? “ kalimat terakhir yang Azkar ucapkan membuat Fajrin tersentak dan langsung berdiri dari kursi.
“ bang jangan bang.... aku kesana “ ucap Fajrin gugup dan bingung.
Azkar tersenyum melihat respon Fajrin yang terlihat jelas gugup dan bingung, Azkar menutup ponselnya dan kembali menatap Davis dengan tersenyum. Fajrin menatap wajah Rendra dan sedikit membungkukkan badannya untuk meminta maaf.
“ om.... tante terima kasih sudah mengajak saya makan siang yang mewah di sini.... terima kasih sudah mempercayakan Delilah pada saya.... tapi kami memiliki hati yang harus kami jaga. “ ucap Fajrin dengan suara gugup dan sudah tidak sabar untuk berpindah meja.
“ bang.... semangat... Delilah tunggu undangan abang “ suara pelan Delilah terdengar bahagia di telinga Maya juga Rendra.
“ kamu juga dik.... kamu harus segera mengenalkan professor itu pada mereka.... permisi “ ucap Fajrin dan melangkah lebar menuju meja yang membuatnya tidak sabar.
Detak jantung Fajrin menjadi tidak beraturan dan berdetak lebih kencang dari biasanya karena sosok yang selama ini membuatnya tidak fokus sedang menatapnya dengan senyum manis, Fajrin sedikit mencuri pandang pada sosok itu sebelum duduk di sebelah Azkar.
Sementara sekepergian Fajrin, Delilah mendapatkan seribu pertanyaan dari Rendra daan Maya membuat Delilah mengumpat pada Fajrin yang sudah membuka rahasianya selama ini.
Kedua tangan dan kaki Fajrin terasa dingin, Azkar melihat Fajrin meremas tangannya dan terlihat pucat. Dengan sedikit menggoda, Azkar menyentuh salah satu tangan Fajrin.
“ dingin sekali tanganmu.... apa takut karena ketahuan selingkuh? “ meski pun Azkar mengucapkan dengan nada bercanda tapi bagi Fajrin seperti sebuah tamparan.
“ siapa bang.... yang selingkuh.... satu saja susah sekali dapatnya “ ucapan Fajrin membuat Davis tersenyum tipis.
“ lantas kenapa kamu duduk di sana kalau ada kami disini.... aku melihat sepertinya mereka ingin menjodohkan kamu dengan putri mereka? “ ucapan Azkar yang terkesan memancing Fajrin membuatnya menarik nafas panjang.
“ iya.... tapi kami sudah ada hati yang harus kami jaga “ ucap Fajrin dengan jujur tapi semakin membuat Azkar terpancing untuk menggodanya.
“ kami.... maksudmu kamu dan putri mereka sudah ada hubungan khusus.... begitu maksud kamu? “ Fajrin semakin gugup mendengar ucapan Azkar yang salah mengartikan dari ucapannya.
“ bukan begitu maksudnya bang.... ayolah bang.... abang tahu betul maksud saya “ ucap Fajrin yang semakin gugup dan salah tingkah.
“ jadi bagaimana maksudmu....aku tidak pandai menebak pemikiranmu “
Terjadi perdebatan kecil antara Azkar dan Fajrin, membuat Davis menatap Fajrin dengan senyum bahagia bangga juga sangat terkesan. Sedangkan Divya menatap Azkar dengan tatapan memohon jangan berdebat di depan Davis, hingga ucapan Azkar yang mengejutkan Fajrin dan Divya.