
Karena keluarga besar Lohia masih ada yang tinggal beberapa hari di Jakarta sebelum kembali ke Canada, Fajrin yang setiap pulang kerja selalu ke kediaman Davis. Membuat beberapa sepupu Divya yang lain sangat ingin mengenal Fajrin dan bahkan ada yang terlihat sangat serius menatap Fajrin karena setiap kali mereka meminta Fajrin menceritakan bagaimana pekerjaannya, keluarganya atau pun siapa saja saudaranya dan kenapa keluarga Surendra yang menjadi keluarga besar Fajrin. Fajrin menceritakan tidak dengan detail. Seperti malam ini, malam terakhir Evan di Jakarta karena besok sore dia harus kembali ke Ottawa.
“ Fajrin.... the day after your engagement ceremony..... Uncle Davis told us actually that night you just came from Oslo? Do you have any relatives in Oslo? Don't tell me that Surendra's family too..... (Fajrin.... sehari setelah acara pertunangan kalian..... paman Davis cerita pada kami bahwa sebenarnya malam itu kamu baru saja datang dari Oslo? Apa kamu punya saudara di Oslo? Jangan bilang kalau keluarga Surendra juga.....) “ ucap Evan curiga.
Fajrin tersenyum tipis mendengar pertanyaan Evan.
“ That's right....that night I just came back from Oslo....it should have been ten o'clock in the morning Jakarta time....our plane had landed in Jakarta.....but because our pilot got information that over the Indian Ocean there was the hurricane and hurricane were right on our flight path..... so we had to transit in New Delhi first to wait for the storm to finish..... but I still managed to keep my promise (benar.... malam itu aku baru saja pulang dari Oslo.... seharusnya pukul 10 pagi waktu Jakarta.... pesawat kami sudah mendarat di Jakarta..... tapi karena pilot kami mendapat informasi bahwa di atas samudera Hindia ada badai dan badai itu tepat di jalur penerbangan kami..... sehingga kami harus transit di New Delhi dulu menunggu badai itu selesai..... tapi aku masih bisa memenuhi janjiku) “ Jelas Fajrin sambil tersenyum.
Evan semakin curiga dengan kata kami yang Fajrin sebut.
“ us.... who do you mean by us? And you haven't answered yet who is your relative who lives in Oslo? (kami.... siapa yang kau maksud dengan kami? Dan kau belum menjawab siapa saudaramu yang tinggal di Oslo?) “ pertanyaan Evan mulai terdengar mencurigakan di telinga Fajrin.
Tapi Fajrin berusaha menutupi kecurigaannya itu.
“ us..... I mean... the passengers and crew of the plane..... my sister lives in Oslo.... she married CEO Surendra's brother and lives there (kami..... yang aku maksud... adalah penumpang dan kru pesawat..... adik perempuanku tinggal di Oslo.... dia menikah dengan adik CEO Surendra dan menetap disana) “ jelas Fajrin tapi masih belum membuat Evan puas dengan penjelasan Fajrin.
Evan memicingkan kedua matanya menatap dalam-dalam kedua mata Fajrin. Divya menyadari maksud Evan dan mencoba menjelaskan maksud Fajrin.
“ his younger sister named Nara....she married a polar bear that I often tell you about...... do you remember the story about polar bear? (adik perempuannya bernama Nara.... dia menikah dengan beruang kutub yang sering aku cerita padamu...... kamu masih ingat cerita tentang beruang kutub?) “ ucapan Divya membuat Evan mengangguk-anggukan kepala.
Evan paham siapa yang Divya maksud dengan beruang kutub meski pun belum pernah bertemu sekali pun dengan beruang kutub yang Divya ceritakan, tapi Evan sudah bisa menebak seberapa dingin dan cueknya beruang kutub itu.
“ it must be that...... your sister is such an attractive and beautiful person that it can bring a polar bear to its knees and give up his heart..... (pasti...... adikmu orang yang sangat menarik dan cantik sampai bisa membuat beruang kutub bertekuk lutut menyerahkan hatinya.....) “ ucapan Evan membuat Fajrin tersenyum mengingat bagaimana Afkar melihat Nara pertama kali sampai membuat Nara takut.
Pembicaran mereka bergulir hingga menjelang waktunya Fajrin untuk pulang, tapi masih menyisahkan rasa ingin tahu di hati Evan tentang sosok Nara yang sudah menahklukkan hati beruang kutub cerita Divya.
“ Divya..... do you have a photo of his sister? (Divya..... apa kamu punya foto adiknya Fajrin?) “ pertanyaan Evan membuat Divya heran.
Divya terlihat berpikir mengingat-ingat apakah dirinya pernah memiliki foto Nara.
“ sorry... I don't have one..... the polar bear photo seems to exist..... but even that is only visible from the side (maaf.... aku tidak punya..... kalau foto beruang kutub sepertinya ada..... tapi itu pun hanya terlihat dari samping) “ ucapan Divya sudah cukup membuat Evan senang.
“ this is the polar bear (ini beruang kutubnya) “ ucap Divya sambil menunjuk sebuah foto.
Evan mengamati foto itu dengan cermat karena foto Afkar hanya terlihat dari samping kiri saja.
“ like I've seen this person..... but where is it..... (seperti pernah melihat orang ini..... tapi dimana ya..... ) “ gumam Evan dalam hati.
Divya heran melihat wajah Evan yang terlihat jelas sangat serius.
“ why.... have you ever met this bear? (kenapa.... apa kamu pernah bertemu dengan beruang ini?) “ tanpa sadar Evan menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Divya.
Evan masih mencoba mengingat-ingat wajah di foto itu, tiba-tiba Evan mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu di layar ponsel. Untuk beberapa saat ibu jari Evan terlihat bergerak-gerak di atas layar ponsel seperti mencari-cari sesuatu, Divya yang tidak memperdulikan apa yang Evan cari dan menyibukkan diri membolak-balikkan album yang dia pegang.
“ is this the same person (apa ini orang yang sama)? “ tanya Evan sambil memperlihatkan sebuah gambar di ponselnya.
Divya melihat sesaat dan menganggukan kepala menjawab pertanyaan Evan.
“ damn it..... he always gets ahead of me.... I always lose to him..... but how did they meet? Where did they meet? Hasn't GUN lived in Oslo all this time..... did GUN ever live in Jakarta? (sial..... dia selalu mendahuluiku.... aku selalu kalah dari dia..... tapi bagaimana mereka bisa bertemu? Dimana mereka bertemu? Bukankah selama ini GUN tinggal di Oslo..... apa GUN pernah tinggal di Jakarta?) “ gumam Evan dengan seribu pertanyaan muncul di otaknya.
“ if Fajrin's sister married with polar bear who is none other is GUN..... that means Fajrin's sister is...... Neptunia..... damn it..... (kalau adik Fajrin menikah dengan beruang kutub yang tak lain adalah GUN..... berarti adik Fajrin adalah...... Neptunia..... sial.....) “ gumam Evan sambil mengepalkan tangan kanannya.
Evan semakin geram karena ternyata pemain CTF yang selama ini dia jadikan target ternyata tidak jauh dari Divya, Evan sama seperti Afkar pemilik klub CTF peringkat satu di Canada dengan nama Maple Bacon tapi berada di peringatan 44 international. Beda dengan Shield yang sudah berada di peringkat enam international sebelum Neptunia bergabung dan menjadi peringat dua setelah Neptunia bergabung, meski pun saat berada di peringat enam international masih banyak kalangan muda Norwey yang belum mengenal Shield. Beda saat Neptunia sudah bergabung dengan Shield, kalangan muda dan pemain klub-klub kecil berebut untuk bergabung dengan Shield.
Evan menggeser-geser layar ponselnya mencari sesuatu.
“ if GUN got married last year.... it means when my two managers sent this email.... they haven't met yet or they have met but not close or they have met and are close enough...... aaahhhhhh (kalau GUN menikah tahun lalu.... berarti saat 2 orang managerku mengirim email ini....... mereka belum bertemu atau mereka sudah bertemu tapi belum dekat atau sudah bertemu dan sudah dekat...... aaahhhhhh) “ gumam Evan dalam hati dan tiba-tiba teriak keras membuat Davis menatapnya dengan tajam.
Evan malu mendapat tatapan tajam dari Davis.
“ uncle...later at Divya's wedding....uncle has to invite me... (paman.... di pernikahan Divya nanti.... paman harus mengundangku....) “ ucap Evan dan segera masuk ke kamar menyusul wanita yang dia bawa dari Canada.