My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 177 BADAI



Azkar yang sedang memimpin rapat dengan para general manager, tiba-tiba di kejutkan oleh getaran ponselnya. Azkar melihat ada pesan masuk dari Fajrin, membacanya seketika menjadi pening dan menatap Roby yang juga terlihat jelas sangat gugup dan kuatir bila Fajrin tidak datang sebelum Magrib. karena Acara lamaran akan di laksanakan pukul 7 selepas Adzan Isya.


Azkar tidak ingin kedua orang tua dan kakeknya kuatir, Azkar memutuskan untuk tidak memberitahu isi pesan singkat Fajrin pada kedua orang tua dan kakeknya.


Divya yang sibuk dengan para saudara sepupunya sesaat terlihat jelas kuatir setelah membaca isi pesan singkat dari Fajrin, Divya sedikit menjauh dari para saudara sepupunya untuk mencoba menghubungi Roby. Kepanikan dan kekuatiran Divya semakin terlihat jelas karena Roby tidak mengangkat teleponnya.


“ sampai kapan transit di India “ gumam Divya dalam hati.


Melihat Divya yang terlihat jelas panik, membuat Davis ingin tahu apa yang membuat Divya terlihat tidak tenang dan panik seperti ini.


“ Divya “ suara Davis membuat Divya semakin jelas terlihat tidak tenang, panik juga kuatir.


“ ada apa? Kenapa kamu seperti ini? “ pertanyaan Davis membuat lidah Divya terasa kelu.


Kedua mata Divya berkaca-kaca, tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada keluarga besarnya. Davis segera membawa Divya masuk ke ruang kerjanya.


“ kenapa? “ bukannya menjawab pertanyaan Davis, tapi Divya justru menangis.


Ponsel yang sedari tadi Divya pegang tiba-tiba terjatuh. Davis memungut ponsel Divya dan membaca pesan singkat yang membuat Divya seperti ini.


Davis menarik nafas panjang mencoba menenangkan Divya.


“ berdoalah agar badai itu cepat berlalu dan secepatnya penerbangan kembali di buka..... papi yakin..... saat ini Fajrin tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu...... hanya dengan berdoa semoga badai itu cepat berlalu dan penerbangan secepatkan kembali di buka .... “ ucapan Davis sedikit banyak membuat Divya tenang.


Divya segera masuk ke kamarnya melakukan apa yang Davis sarankan, berdoa sebisanya memohon agar badai segera pergi menjauh dari samudera Hindia dan secepatnya penerbangan kembali dibuka.


BANDARA INDIRA GANDHI


Sudah 50 menit Fajrin dan kru Sundth Air bertahan di ruang tunggu VIP tapi masih belum ada tanda-tanda jadwal penerbangan akan di buka kembali. Tidak ada jadwal kepastian kapan penerbangan kembali di buka membuat Fajrin berusaha tenang dengan berdzikir, seluruh kru Sundth air yang duduk tidak jauh darinya menjadi merasa kasihan karena baru kali membawa penumpang dan harus melakukan transit karena alasan cuaca. 50 menit yang terasa sangat lama bagi Fajrin meski pun mulutnya tidak berhenti berdzikir, 10 menit kemudian kapten pilot Sundth Air mendapat informasi bila penerbangan akan segera di buka karena badai sudah bergerak ke arah selatan yang berarti menjauh dari rute penerbangan.


Tanpa menunggu lama, Kapten Pilot Sundth Air segera melakukan negosiasi dengan pihak airnav bandara Indira Gandhi untuk mendapatkan izin melanjutkan penerbangan kembali. Selama 30 menit bernegosiasi akhirnya Kapten pilot Sundth Air mendapatkan izin terbang kembali, dengan segera memginformasikan pada Fajrin.


“ sir.... we can go back on the plane soon we will continue the flight to Jakarta (tuan.... kita kembali ke pesawat sebentar lagi kita akan melanjutkan penerbangan ke Jakarta) “ ucap pramugara yang sudah mendapatkan informasi dari Kapten mereka.


Karena terlalu senang hingga Fajrin lupa mengirim pesan singkat pada Azkar mau pun Divya. Tetapi bukan Azkar bila kehilangan akal, setelah rentang waktu 4 jam dari pesan Fajrin yang berisi transit di bandara Indira Gandhi. Azkar mencoba menghubungi Kapten pilot Sundth Air yang membawa Fajrin pulang ke Jakarta.


“ tidak bisa dihubungi nomornya.... jangan-jangn meraka sudah terbang kembali “ gumam Azkar sambil memainkan ponselnya.


Azkar segera melangkah keluar dari ruangan meminta Roby menghubungi pihak bandara agar menyambungkan ke alat komunikasi private jet Sundth Air, butuh waktu 15 menit untuk terhubung ke alat komunikasi Sundth Air. Azkar tersenyum lega karena mendapat informasi bahwa Sundth Air sudah berada di atas samudera Hindia dan sudah mendapatkan informasi perkiraan waktu sampai di Bandara Soekarno Hatta.


Setelah menempuh penerbangan selama 6 jam 35 menit akhirnya Sundth air mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Roby yang sudah menunggu Fajrin dari adzan Magrib terlihat bersemangat saat mendengar nomor penerbangan Sundth air telah mendarat dan berhenti dengan sempurna. Roby segera berlari menuju hanggar VIP mencari keberadaan private jet Sundth Air.


Melihat Fajrin yang turun dari private jet dan menarik koper besar membuat Roby bernafas dengan lega, Roby segera berlari kecil menghampiri Fajrin yang terlihat jelas sangat lelah juga tidak tenang.


“ untung masih ada waktu..... ayo cepat “ ucap Roby dengan nafas tersengal-sengal karena berlari menjemput Fajrin.


Tanpa banyak kata, Roby segera mengambil alih koper Fajrin dan dengan berlari kecil mereka menuju mobil.


“ bro.... pakaian gantimu ada di belakang.... kita berhenti di tempat kenalanku.... kamu bisa membersihkan diri di sana “ ucap Roby sambil memasukkan koper Fajrin ke dalam bagasi.


Fajrin meraih tas kertas dan kantung jas yang Roby maksud. Baru kali ini Roby menyetir mobil dalam keadaan tidak tenang, gugup, dan terburu-buru. Karena jam tangan sudah menunjukkan bahwa 1 jam lagi acara lamaran serta pertunangan Fajrin dan Divya akan di mulai.


Roby menghentikan mobilnya di sebuah penginapan kecil dan berbicara sebentar dengan kenalannya, tak seberapa lama Roby segera mengajak Fajrin untuk masuk ke sebuah kamar.


“ bro......kamu bisa pakai kamar mandi itu.... aku telepon big bos dulu “ ucap Roby sambil mengeluarkan ponselnya.


tak butuh waktu lama bagi Fajrin untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Melihat Fajrin yang sudah rapi, Roby segera mengajaknya masuk kembali ke mobil dan menuju hotel di daerah Mega Kuningan tempat acara mereka berlangsung.


Sepanjang perjalanan menuju lokasi, Fajrin mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak semakin kencang. Roby semakin terlihat jelas sangat tidak tenang dalam menyetir mobil, suasana di dalam mobil menjadi tidak nyaman bagi mereka berdua.


“ komperku tadi kamu simpan di bagasi? “ Roby menjawab pertanyaan Fajrin dengan menganggukan kepala.


Fajrin menepuk dahinya pelan.


“ kenapa? “ tanya Roby heran.


“ ada sesuatu buat Divya dari adik “ ucap Fajrin singkat.


“ Nanti sampai hotel bisa kamu keluarkan dari koper. “ ucap Roby yang terlihat serius mencari celah untuk lewat karena jalanan masih macet.


Setelah berkendara selama 45 menit, sampailah mereka di lobi hotel. Fajrin segera membuka bagasi dan membuka kopernya mencari kotak kalung pemberian Nara. Karena cincin yang Fajrin beli bersama Divya sudah berada di tangan Freya, dengan langkah lebar Roby menunjukkan lokasi acara. Dada Fajrin semakin berdebar tak beraturan, rasa gugup semakin menyelimuti dirinya terlihat jelas wajahnya yang sangat tegang keringat dingin mulai mengalir di tengkuk juga pelipisnya.


“ ini ruangannya “ ucap Fajrin dengan melihat pintu hall yang Roby tunjuk.


Dengan perlahan tangan kanan Fajrin membuka pintu hall mencoba supaya pintu tersebut tidak menimbulkan suara saat dirinya membuka pintu.