
“ ada di 2078 Rue Jean-Paul-Riopelle, Le Vieux-Longueuil... dan sedang menerima panggilan skype..... dari lokasi kakak berada..... “ ucap Nara dengan jelas dan sedikit terputus-putus untuk memastikan hasil peretasannya.
Davis, Jason dan semua pengawal Davis yang berada di ruang tersebut begitu juga Ditya yang masih mendengar jelas pembicaraan antara Fajrin dengan adiknya. Seketika semua orang itu tersentak terkejut mendengar ucapan Nara yang sangat detail menyebutkan lokasi salah satu mansion milik Davis di Montreal, meski pun Jason dan para pengawal tidak lancar berbahasa Indonesia tapi mendengar ‘ Rue Jean-Paul-Riopelle ‘ sudah cukup membuat mereka tersentak dan heran.
“ iya dik.... beliau sedang melakukan panggilan skype dengan salah satu anaknya yang berada di Montreal “ jelas Fajrin pelan berusaha agar Nara tidak mengucapkan kalimat tegas kembali.
“ oooo..... baiklah.... Assalamu'allaikum om.... saya Nara adik kak Fajrin..... ada sesuatu yang ingin om bicarakan pada Nara? “ ucap Nara dengan suara pelan dan tidak setegas saat pertama kali saat menghubungi Fajrin.
“ wa'alaikumsalam..... terima kasih sudah bersedia berbicara dengan om.... kalau om boleh tahu..... bagaimana kamu bisa tahu lokasi mansion kami? “ tanya Davis pelan dan menekan tombol unmute agar suara Ditya terdengar.
“ apa Nara perlu menjelaskan bagaimana peretas bekerja? “ pertanyaan Nara membuat semua orang yang mendengarnya tersentak kecuali Fajrin yang malah menepuk dahinya pelan.
“ apa kamu... meretas sistem kami? Apa kamu yang melakukan pemblokiran semua akun perbankan kami? “ tanya Davis pelan dengan suara tenang.
“ mmmm.... iya..... dan Nara melakukannya karena Nara tidak suka ada orang yang selalu mengirim pesan singkat pada kakak.... orang itu sudah mengirim pesan singkat bernada sama sejak..... sejak.... kalau tidak salah sejak kakak tidak pulang tanpa kabar dan paginya pulang dalam keadaan sedikit berantakan.... atau mungkin sebelum itu.... Nara lupa pastinya.” Jelas Nara membuat Davis menarik nafas panjang.
“ apa kamu mengetahui semua isi pesan singkat itu? “ tanya Davis sambil meminta Fajrin menunjukkan pesan-pesan yang Nara maksud.
“ saya sudah menghapus semua pesan itu dan memblokir semua nomor yang mengirim pesan itu “ suara pelan Fajrin membuat Davis sedikit lega, tapi suara pelan Fajrin dapat Nara dengar meski pun hanya sayup-sayup.
Davis lega karena hanya dua pesan ini sebagai bukti yang membuat Nara memblokir semua keuangan perusahaannya, dan Davis yakin sekali Nara tidak akan bisa menunjukkan isi pesan-pesan yang lain.
“ kakak bisa menghapus semua pesan-pesan itu dan memblokir semua nomor pengirim pesan itu di ponsel..... tapi kakak tidak bisa menghapus semua pesan itu di server provider atau pun di ponsel Nara..... maaf.... Nara sudah melakukan kloning ponsel kakak ke ponsel Nara yang lama “ suara Nara terdengar sangat santai, tapi Fajrin menepuk dahinya pelan.
Fajrin seakan-akan lupa keahlian Nara, Ditya yang gusar terlihat berusaha tenang berusaha berpura-pura tidak tahu menahu tentang apa yang mereka bicarakan. Sementara Davis tidak percaya begitu saja atau masih ragu dengan ucapan Nara dan masih berusaha membuktikan apa yang Nara katakan.
“ apakah kamu bisa menunjukkan pada om..... pesan pertama kali yang kakak kamu terima dengan nada yang sama seperti pesan hari ini? “ tanya Davis dengan yakin bahwa Nara tidak akan dapat menunjukkan pesan tersebut atau lebih tepatnya Nara hanya melakukan gertakan kecil.
“ pesan pertama ya...... tunggu sebentar Nara cari berdasarkan tanggal pengiriman yang berarti..... bisa jadi tanggal sebelum kakak pulang pagi tanpa kabar...... “ ucapan Nara terhenti dan hanya suara jari jemari yang menekan tombol-tombol keyboard.
setelah menunggu kurang lebih 3 menit, 3 menit yang cukup membuat Davis yakin bahwa Nara kesulitan mencari apa yang Davis minta. Detik berikutnya di layar LCD ruang tempat Davis dan yang lainnya berada, terlihat 5 pesan singkat dari nomor yang sama. Nomor yang tidak ada di dalam kontak Fajrin, Davis tersenyum getir mengetahui nomor pengirim pesan itu karena Davis tahu betul siapa pemilik nomor seluler itu.
“ bisa... sebentar Nara buka aplikasi telepon dulu “ ucap Nara dan terdengar suara nada panggil.
Ditya yang masih menggunakan 2 nomor seluler, 1 nomor seluler Indonesia dan 1 nomor seluler Canada menjadi terlihat ketakutan saat melihat ponselnya yang menggunakan nomor Indonesia berdering. Davis melihat Ditya yang terlihat jelas takut gugup kuatir, menjadi semakin geram.
“ Ditya.... angkat panggilan itu “ perintah Davis dengan suara tegas membuat Ditya menjauhkan ponselnya.
“ Jason.... tell them to come in (Jason.... suruh mereka masuk) “ perintah Davis dengan suara tegas membuat Jason segera menghubungi seseorang yang menjadi tangan kanan Davis di masion yang Ditya tinggali.
Beberapa detik kemudian terlihat di layar LCD orang tangan kanan Davis yang tinggal di Mansion yang Ditya tinggali, mereka melihat layar laptop Ditya dan menyuruh 2 orang pengawal menjauhkan Ditya dari laptop juga ponselnya.
“ accept that call (terima panggilan itu) “ ucap Davis tegas.
orang tersebut menerima panggilan dari Nara.
“ Hello... do you own this number? Where is your position? May I know what is your name? (Halo... apa anda pemiliki nomor ini? Dimana posisi anda? Boleh tahu siapa nama anda?) “ tanya Nara dengan bahasa Inggris yang sangat lancar.
Davis menganggukan kepala memberi isyarat pada orang tersebut untuk menjawab pertanyaan Nara dan menyebutkan apa yang Nara tanyakan, Davis dan Jason tertunduk mendengar percakapan antara Nara dengan salah seorang tangan kanan Davis. Semua orang yang berada di dalam ruangan yang sama dengan Davis mendengar suara Nara dari ponsel Fajrin dan suara dari Montreal di LCD.
“ sudah cukup....Nara matikan sambungan telepon “ ucap Davis sambil menarik nafas panjang.
Nara mematikan sambungan telepon ke nomor Indonesia milik Ditya, Fajrin memijat tengkuknya yang terasa sakit. Bagian belakang kepala Fajrin menjadi berdenyut memikirkan tindakan yang Nara lakukan.
“ bisakah Nara mengirimkan semua pesan singkat bernada seperti ini yang kakak kamu terima dari nomor-nomor yang tidak ada di kontak kakak kamu? “ tanya Davis sekali lagi dan membuat mereka semua terdiam hanya suara jari jemari Nara yang sibuk mengetik sesuatu.
Setelah menunggu kurang lebih 1 menit lebih 5 detik, tablet yang berada di tangan Jason berdering. Jason terkejut membuka notifikasi tersebut yang ternyata surat elektronik atau email yang tidak menampilan alamat pengirim surat elektronik tersebut, dan sekali lagi Jason terkejut saat membuka isi pesan tersebut yang ternyata berupa file pdf yang memperlihatkan semua isi pesan singkat yang Fajrin terima beserta nomor pengirim pesan, lokasi pengirim pesan juga tanggal dan jam pengiriman pesan.
“ Sir (tuan) “ ucap Jason sambil menunjukkan isi pesan surat elektronik tersebut pada Davis.
Davis membaca satu persatu isi file yang Nara kirim di alamat email Jason, Davis tersenyum getir membaca semua file itu dan saat memperhatikan lebih teliti sekali lagi Davis tersenyum getir yang ternyata alamat pengirim surat elektronik itu hanya berupa huruf x sebanyak 3 huruf.