My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 11 PERTANGGUNGJAWABAN



Irvan dan Gultom berlari kecil mendekati Fajrin yang sudah berdiri di depan pintu lift bersama beberapa staff yang lain.


“Assalamualaikum, pak Fajrin" salam Irvan dan Gultom hampir bersamaan.


“wa'alaikumsalam, sudah siap?” pertanyaan Fajrin seketika membuat kedua orang itu bergidik ngeri.


Meskipun Fajrin mengatakan dengan santai dan tenang seperti tidak ada beban, tapi di telinga mereka berdua seperti sebuah pertanyaan yang akan membantai mereka. Memang ini pertama kalinya bagi mereka berdua untuk mempertanggungjawabkan project terbesar pertama mereka, juga project luar negeri pertama mereka di hadapan para direksi dan pemilik perusahaan karena sebelum-sebelumnya pertanggungjawaban mereka hanya sampai di level manager saja.


“tenang ini project kalian yang pegang, kalian yang lebih tahu prosesnya hingga selesai dan siap di serah terimakan. Jadi santai saja" ucap Fajrin yang sudah melangkah masuk ke dalam lift bersama staff yang lain.


Irvan dan Gultom saling memandang satu sama lain tapi keringat dingin mengucur deras di balik kemeja mereka dan di pelipis mereka.


“Assalamualaikum, wiiiiidiiiiihhhhh..... ada bule Vietnam nyasar ke gedung ini” canda Roby saat melihat Fajrin melangkah keluar lift.


“wa'alaikumsalam.....kebetulan kamu disini..... ikut aku sebentar" Fajrin sudah memaksa Roby untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangannya.


“ada apa..... baru masuk kantor sudah ngajakin mojok..... ketemu bule yang suka sama kamu ya..” canda Roby sambil membolak balik kertas laporan Fajrin.


“bagi nomor rekening papa kamu, setelah pertanggungjawabanku selesai aku mau bayar hutang uang kuliah dan uang sekolah Nara" ucap Fajrin sambil membuka laptop.


“memangnya.... bonus project Phu Quoc sudah turun sudah tahu berapa nilainya?” tanya Roby penuh selidik.


“belum.... tapi aku mau melunasi itu semua.... tidak enak punya hutang banyak"ucap Fajrin sambil melepas jaket kulitnya.


“baiklah.... nanti kalau bonus kamu sudah turun aku info ke papa kalau kamu kamu bayar hutang.” Ucap Roby sambil membuka pintu ruangan Fajrin.


“Rob..... jangan bilang sama om Rendra kalau aku mau bayar.... nanti beliau tidak mau bagi nomor rekening" ucap Fajrin mulai menyusul Roby yang sudah berdiri tepat di depan meja gambar khusus untuk dirinya.


“tenang..... aku akan bilang kalau calon menantunya yang sholeh akan bayar hutang” canda Roby membuat Fajrin berbalik kembali masuk ke dalam ruangannya.


Fajrin jengah setiap kali mendengar candaan itu, Roby memang berusaha mendekatkan Fajrin dengan adiknya yang bernama Delilah seorang dokter muda yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis patologi klinik di sebuah Universitas terbesar di Jakarta.


Tepat pukul delapan semua tim yang menangani project Phu Quoc sudah datang dan berkumpul di depan ruangan Fajrin, mereka terlihat tegang karena ini pertama kalinya mereka mempertanggungjawabkan sebuah project di hadapan para direksi dan pemilik perusahaan. Selama ini mereka tidak mengenal siapa para direksi itu bagaimana wajah para direksi yang mereka tahu hanya wajah pemilik perusahaan atau CEO yang sangat dekat dengan Fajrin, tapi jarang sekali mereka melihat CEO itu berbicara dengan staff selain Fajrin.


Azkar memang sengaja menjaga jarak dengan para staff-nya, mengingat bahwa beberapa kali Helen istrinya merajuk mendapati Azkar sedang berbincang dengan salah seorang staff wanita yang dengan jelas menawarkan kemolekan tubuhnya.


Tepat pukul sembilan lebih empat puluh lima Fajrin dan keenam timnya masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar untuk menampung beberapa direksi dan mereka, pukul sepuluh satu persatu para direksi masuk ke dalam ruangan dan duduk di setiap kursi yang ada. Ke enam anggota tim Fajrin semakin jelas terlihat gugup sekali, Cahyo dan Muslim mulai berkeringat dingin meskipun pendingin ruangan sudah menyala.


Saat semua direksi dan Azkar sudah duduk di kursi masing-masing, Fajrin mengucap salam untuk mulai membuka pertanggungjawaban mereka. Fajrin menjelaskan beberapa detail perbuatan yang dia lakukan mengingat kondisi di lokasi project yang sempat terkena hembusan angin hingga menerbangan beberapa material bangunan non hayati maupun material hayati. Fajrin juga menjelaskan kenapa traget project tidak terpenuhi hingga membuatkanya mengambilkan keputusan untuk tidak menghentikan pekerjaan, semua Fajrin jelaskan dengan detail hingga tak ada celah bagi direksi untuk bertanya.


Para direksi dan Azkar sangat puas mendengar pertanggungjawaban Fajrin mereka memuji hasil kerja keras fajrin dan timnya selama delapan belas bulan di Phu Quoc. Pujian para direksi tidak membuat Afkar besar kepala atau pun lupa diri, Fajrin bersikap rendah diri dan tetap santun. Para direksi keluar ruangan satu persatu begitu juga dengan azkar, seketika ke enam timnya bernafas lega membuat salah seorang general manager kepala cabang menjadi heran.


“selamat...... kamu berhasil" bisik Roby di belakang punggung Fajrin saat melewatinya untuk mengikuti langkah kaki Azkar.


“kalian mendapatkan cuti enam hari untuk bonus lusa langsung masuk ke rekening kalian” ucap Roby yang hanya memperlihatkan kepalanya saja dari balik pintu.


“Astagfirullah.... pak Roby" ucap ke enam anggota tim Fajrin.


“kalian manfaatkan cuti enam hari ini untuk berkumpul dengan keluarga, jangan habiskan bonus project Phu Quoc. Belikan sawah atau tanah atau logam mulia untuk simpanan kalian, kalau ada hutang segera selesaikan" ucap Fajrin memberi nasehat dan juga pengingat diri sendiri.


“baik pak" ucap ke enam orang tim tersebut.


Fajrin keluar ruangan di ikuti ke enam anggota tim yang lain, saat mereka menunggu lift tiba-tiba seseorang menyapa Fajrin dari belakang membuat ke tujuh pria yang menunggu loft melihatnya dengan heran.


“pak Fajrin" sapa seseorang.


“iya pak..... ada perlu dengan saya?” tanya Fajrin yang sudah berdiri di tepat di depan ornag tersebut.


“perkenalkan saya Yudha general manager kantor cabang dua" ucap Yudha memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


Fajrin menyambut jabat tangan itu dengan sedikit tersenyum, Fajrin merasa Yudha terlalu erat menjabat tangannya hingga terasa bahwa tangannya sedang di remas.


“Bro..... kalian makan siang dimana?” teriakan Roby membuat Yudha semakin meremas tangan Fajrin.


Meskipun Fajrin berusaha menahan sakit tapi terlihat jelas oleh ke enam pria yang bersama Fajrin, Roby mendekati mereka dan melihat tangan Fajrin yang berusaha melepas jabat tangannya.


“selamat siang pak Yudha" ucap Roby membuat Yudha sadar dan melepas jabat tangannya.


“siang" balas Yudha dengan sombong dan melangkah pergi meninggalkan ke delapan pria dengan tatapan bingung.


“siapa dia? Berani sekali menyakiti tangan pak Fajrin”


“kalau tangan Pak Fajrin terluka dan tidak bisa


menggambar lagi bagaimana?”


“apa dia bisa menggantikan tangan pak Fajrin”


“baru juga jadi GM sudah sombong"


“dasar orang kaya"


Ucapan kejengkelan para anggota tim Fajrin melihat sikap Yudha yang terlihat jelas tidak suka pada Fajrin.