My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 4 MENYERAH



Fajrin masih saja menenggelamkan diri dalam kesibukan persiapan keberangkatannya ke lokasi project besar, hingga karyawan lain melihat mereka seperti manusia penggila kerja.


“bro...... pulang jam berapa?” tanya roby yang sudah rapi siap untuk pulang.


“sedikit lagi..... kenapa?” ucap Fajrin yang masih sibuk menggambar di meja gambarnya.


“malam ini ada reuni SMA..... kita datang ya...” ucap Roby sambil membolak balikkan kertas Beermat A2 yang berada tidak jauh dari meja gambar Fajrin.


“jangan di bolak balik nanti rusak" ucap Fajrin membuat Roby meletakkan kembali kertas beermat dengan hati-hati.


“pak Fajrin, kami pulang dulu pak" ucap irvan dan gultom hampir bersamaan.


“silahkan..... kalian lanjutkan besok saja" balas Fajrin sambil melihat kepergian mereka.


“anggota tim kamu sudah pulang..... ayo pulang sekarang saja.” Ucap Roby sekali lagi membuat Fajrin menarik nafas panjang dan meletakkan pena di meja kerjanya.


“reuni dimana?” tanya Fajrin mulai tertarik dengan ajakan Roby.


“di resto milik Syafril..... katanya sekalian syukuran pembukaan resto barunya.” Ucap Roby sambil melihat-lihat design bangunan Fajrin.


“baiklah.... aku bereskan ini dulu" Fajrin membereskan beberapa gulung kertas kalkir juga kertas beermat.


Mereka ke resto milik Syafril menggunakan mobil Roby sedangkan motor Fajrin seperti biasa dia titipkan pada security. Sampai di resto sudah banyak rekan-rekan mereka yang hadir dan meramaikan suasana restoran moonlight, Roby memarkir mobilnya tepat di samping pintu masuk resto. Fajrin dan Roby di sambut oleh seorang waiters dan mengantar mereka ke meja yang sudah syafril alokasikan.


“Bro..... itu seperti Sofia" ucap Roby pelan sambil menepuk bahu kiri Fajrin.


“mana.....”Fajrin melihat ke arah yang Roby tunjuk.


Terlihat Sofia dan kedua orang tuanya sedang berbincang-bincang dengan sebuah keluarga.


“la..... itu kan Syafril...... kenapa dia ada disana?”


ucapan Roby membuat dada Fajrin terasa sakit.


“sudah kita duduk saja..... tidak enak kalau mereka melihat kita" ucap Fajrin mengalihkan pandangannya.


Beberapa menit kemudian Syafril datang mendekati meja tempat Fajrin dan Roby duduk.


“hai bro...... bagaimana kabarnya.... lama kita tidak bersua.” Ucap Syafril yang sudah duduk di sebelah Roby dan meminta beberapa karyawan restonya untuk segera menyajikan hidangan yang sudah Syafril alokasikan.


“restomu makin ramai dan sukses ya..... “ ucap Fajrin sambil meneguk segelas jeruk hangat.


“makin ramai makin sukses dan kita bakalan makin sering makan-makan gratis" canda Roby membuat Syafril tertawa kecil.


“Syafril.....” panggil seseorang membuat syafril segera berdiri dan menghampirinya.


Terlihat jelas oleh Roby dan Fajrin juga rekan-rekannya kalau syafril seperti sedang di marahi, Syafril hanya bisa tertunduk menahan malu dan emosi. Saat Syafril hendak kembali ke meja rekan-rekannya dengan serempak rekan-rekannya berpura-pura tidak melihat apa yang baru saja syafril alami.


“kalian tidak usah pura-pura tidak melihatnya..... mereka itu pak dhe dan bu dhe dari mamaku.... mereka sedang menjodohkan anaknya dengan pria pilihan pak dhe" ucap Syafril sambil meraih segelas air minum milik Fajrin.


“syaf.....itu punyaku kenapa kamu minum?” protes Fajrin.


Fajrin memandang Sofia dengan rasa kasihan juga sedih, Roby berdiri dan berjalan mendekati Fajrin memijat pelan kedua bahu sahabatnya. Syafril melihat jelas raut wajah Fajrin yang sedih kecewa juga putus asa.


“kenapa?” tanya Syafril heran.


“tidak ada apa-apa" jawab Roby singkat.


“kamu tidak ada apa-apa..... tapi tidak sama Fajrin, terlihat jelas dari raut wajahnya yang sedih kecewa putus asa begitu..... kenapa? Kalian tidak mau cerita” paksa Syafril.


“Sofia" satu kata meluncur dari mulut Fajrin dengan bergetar.


“kenapa dengan pacar kamu Sofia?” tanya Syafril makin heran.


Roby menunjuk Sofia dengan dagunya memberi isyarat pada Syafril, seketika Syafril terkejut hingga membuka mulutnya lebar-lebar dan segera menutup dengan tangan kanannya. Syafril mengucap nama Sofia pelan hingga hanya gerak bibirnya saja yang terbaca oleh Roby yang masih memijat kedua bahu Fajrin.


“itu pacar Fajrin?” tanya Syafril meyakinkan diri.


“dulu" ucap Fajrin pelan sambil meneguk segelas jeruk hangat yang baru saja dia terima lagi.


“tunggu...... biar aku perjelas..... itu Sofia pacar Fajrin yang selama ini kalian ceritakan itu. Sofia anaknya bu dhe pak dhe aku?” Roby menganggukkan kepala menjawab pertanyaan syafril.


“beruntung kamu tidak sampai melamar sofia..... jujur nih.... pak dhe dan bu dhe aku orangnya materialistis..... tadi saja mereka meminta mahar yang tidak terlintas sama sekali di otakku...... untung saja calon besannya orang kaya.....kalau tidak, bisa gila mereka buat menyiapkan maharnya" ucap Syafril sambil mengunyah tempe goreng.


“kasihan Sofia..... dia anaknya baik..... tapi orang tuanya....... ah sudahlah..... aku menyerah kalau harus memenuhi mahar sebanyak itu..... tak sanggup aku” ucap Fajrin sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


“iya..... kamu benar Sofia anaknya baik, cerdas, sholehah, dan satu lagi yang aku suka dari dia..... dia tidak sombong. Tapi melihat orang tuanya seperti itu sebagai anak tentu tidak bisa berbuat banyak demi memperjuangkan cintanya, kamu sendiri bagaimana? Ihklas dengan penolakan itu?” tanya Syafril yang sudah mulai tenang.


“berusaha untuk ihklas kalau ingat bagaimana Sofia menemani hari-hari beratku, menemaniku dari bawah hingga beberapa hari yang lalu dan selalu ada saat aku butuh seseorang untuk meyakinkan keputusanku..... sepertinya rasa kecewa dan ihklas tidak cukup.” Ucap Fajrin tertunduk lesu.


“mungkin saat ini dia belum berjodoh denganmu..... siapa tahu setelah kamu pulang dari project besar itu kamu akan di terima orang tua Sofia"ucap Syafril memberi semangat.


“dari mana kamu tahu aku pegang project besar? Dari dia ya....” tanya Fajrin yang sudah memegang pergelangan tangan Roby membuat Roby tidak bisa berjalan kembali ke kursinya.


“aku harus kasih tahu Syafril..... karena selama empat belas bulan kedepan kita tidak akan bisa berkumpul seperti ini lagi..... nanti kalau aku kesini sendirian bisa-bisa dia tidak percaya dengan ucapanku" jawab Roby yang tangannya sudah di lepas Fajrin.


“syukurlah kamu dapat project besar..... jadikan itu pembuktian buat mereka.”ucap Syafril.


“tak ada yang perlu di buktikan...... aku mau melunasi semua hutang-hutangku dulu. Minimal saat Nara kembali ke Jakarta aku sudah tidak punya hutang.”ucapan Fajrin membuat syafril dan Roby terdiam.


“sebentar ya...... bu dhe memanggilku" ucap Syafril saat melihat ke meja di mana bu dhe dan pak dhe-nya duduk.


“pasti di marahi lagi" ucap Roby malas.


“sudah.....biarkan itu urusan keluarga mereka bukan hak kita untuk ikut campur" ucap Fajrin sambil memakan sepotong nanas.


“sialan.....terserah aku dung..... mau berteman sama siapa saja.... apa urusan mereka..... “ umpat Syafril kesal dan menarik kasar kursinya.


“sabar.....orang sabar rezekinya banyak" ucap Roby mencoba menghibur Syafril.


“bunda saja tidak pernah melarang aku punya teman kalian..... ini bu dhe malah melarang aku.... emang bu dhe tahu apa" ucap Syafril dengan kesal.