
Keluar dari lift Divya memasang wajah bahagia tapi sebaliknya dengan Elena, dia menatap Arbab dengan wajah tidak suka. Arbab melihat mereka berjalan keluar lift dengan tatapan heran karena kedua wanita itu memiliki ekspresi yang berbeda.
“ apa yang kalian bicarakan? apa kamu membujuknya untuk memyetujui kontrak ini? ” tanya Arbab tidak sabar.
Arbab dan Elena adalah saudara satu ayah beda ibu, mereka hanya berbicara menggunakan bahasa Inggris bila membahas tentang pekerjaan tapi meraka akan berbicara dengan bahasa Indonesia bila mereka kesal satu sama lain. Seperti sekarang ini Arbab mau pun Elena sangat kesal terlihat saling kesal satu sama lain.
“ sudah jelas dia tidak mau menyetujui kontrak ini..... aku sangat malu memiliki bos sepertimu.... aku tidak yakin kamu menyelidikinya dengan benar. ” Ucap Elena geram dan menyerahkan berkas kontrak pada Ben.
“ apa maksud ucapanmu? Itu kontrak yang sangat mengguntungkan bagi dia..... apa dia bukan pria normal? Semua pria normal akan dengan senang hati menerima semua persyaratan kontrak yang aku berikan " ucap Arbab mulai emosi.
“ tentu semua pria normal akan senang membaca kontrak ini dan langsung menyetujui...... tapi dia lebih dari pria normal..... dia sangat menjaga batas-batasnya, dia sangat memahami aturan dan tidak akan melanggar aturan. ” Ucap Elena penuh emosi dan berjalan masuk ke mobil.
Divya mengikuti Elena sedikit berlari kecil dengan sepatu berhak setinggi lime centimeter.
“ Divya....jangan berlari.... apa kamu tidak takut kalau kakimu terkilir? ” tanya Elena heran dengan ulah Divya.
“ Elena..... apa Arbab akan menyetujui perubahan kontrak itu.... aku sangat ingin mengenal kak Fajrin.... aku akan lakukan kontrak itu hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa dekat dengan kak Fajrin " rengek Divya membuat Elena merasa kasihan dan memeluknya erat.
“ kalau Arbab tidak mau menyetujui kontrak itu..... akan aku adukan dia pada kakek " ucap Elena sambil menatap Arbab dengan tatapan membunuh.
Arbab dan Ben masuk ke dalam mobil.
“ gila..... apa untungnya dengan syarat yang dia ajukan..... mana ada pria yang tidak mau kontak fisik dengan supermodel the plug media " ucap Arbab geram.
“ kamu harus merubah kontrak itu..... kalau kamu tidak mau..... aku akan mengatakan pada kakek kalau kamu tidak bisa mengatasi berita skandal ini " ucap Elena mengancam Arbab.
“ ini kontrak sangat tidak masuk akal..... apa kamu tidak bisa memahami setiap persyaratan yang dia ajukan? ” ucap Arbab sambil meremas berkas kontrak tersebut.
“ karena aku sangat paham isi kontrak itu maka aku akan mengajukan pada kakek sekarang juga. ” Ucap Elena sambil mengeluarkan ponselnya.
“ baiklah.... baiklah.... kita rubah kontrak ini.... Ben kita kembali ke New Delhi sekarang, besok pagi kita temui Fajrin lagi. ” Ucap Arbab dengan kesal.
Sepanjang perjalanan kembali ke New Delhi, mereka diam tak mengeluarkan suara sekali pun, Arbab yang masih emosi dengan penolakan Fajri dan Elena yang masih emosi mengingat isi kontrak yang Arbab tulis. Divya yang sedari tadi diam memikirkan pakaian seperti apa yang pantas dia pakai bila suatu hari keluar dengan Fajrin. Divya mengamati celana dan pakaian yang dia pakai dan sesekali melihat Elena juga Arbab.
“ aku tidak memiliki satu pun pakaian yang pantas aku kenakan bila suatu saat keluar dengan kak Fajrin " ucapan pelan Divya terdengar jelas di telinga Elena juga Arbab.
“ kak Fajrin..... apa dari awal kalian sudah saling mengenal? ” tanya Arbab terkejut dan menarik rambutnya dengan tangan kiri.
“ kak Fajrin sahabat bang Dipta “ ucap Divya sambil menghembuskan nafas dengan kasar karena memikirkan pakaian yang akan dia pakai besok saat bertemu Fajrin untuk penandatanganan kontrak.
“ apa kamu bertanya padaku tentang dia? .... aku tahu semua ini dari bang Dipta.... tapi baru beberapa hari yang lalu aku bisa menghubungi kak Fajrin itu pun hanya tulisan ‘hmmm’ setelah itu kak Fajrin hanya membaca pesanku saja " ucap Divya sambil memperlihatkan isi pesan Fajrin.
“ dan kamu tidak memberitahu itu semua padaku juga pada Elena? ” ucap Arbab geram melihat tingkah Divya yang merasa tidak bersalah padanya.
“ Elena tahu nama kak Fajrin.... dia yang memberitahuku nama lengkap kak Fajrin " ucap Divya dengan tersenyum mengingat bagaimana dia tahu nama lengkap Fajrin.
Elena memalingkan wajahnya menatap jendela berpura-pura tidak tahu bahwa Arbab menatapnya dengan geram.
“ Elena...... kamu sudah mempermainkanku..... kamu bilang Divya tidak tahu.... tapi ternyata sebaliknya. ” Ucap Arbab semakin geram.
“ sengaja.... aku ingin melihat bagaimana kamu menyelesaikan masalah ini tanpa bantuan kami para manager. ” Ucap Elena santai.
“ aku tidak akan menyetujui perubahan kontrak itu, tidak ada untungnya bagi management juga bagi Divya. ” Ucap Arbab dengan sombong.
“ tidak apa kamu tidak menyetujui..... lagi pula kakek sudah menyetujuinya.... dan aku sudah mendapatkan salinan kontrak itu..... aku tinggal melakukan sedikit perubahan dan persyaratan yang Fajrin ajukan.... setelah itu kakek akan menandatanginya. ” Ucap Elena sambil memperlihatkan pesan dari kakek mereka di ponselnya.
Arbab geram dengan tingkah Elena yang selalu meremehkannya.
“ Arbab.... aku akan melakukan kontrak itu sesuai dengan persyaratan yang kak Fajrin ajukan.... aku tidak keberatan dengan perubahan kontrak itu.... aku ingin bisa dekat dengan kak Fajrin.... “ ucap Divya memohon pada Arbab.
Arbab menarik nafas panjang menenangkan emosinya dan sesaat kemudian menganggukan kepalanya.
“ baiklah aku akan menyetujui perubahan kontrak itu.... aku melakukan ini karena aku sangat mengenalmu dan aku tidak ingin kamu meninggalkan the plug media " ucap Arbab tertunduk.
Elena tersenyum penuh kemenangan karena sekali lagi berhasil mengalahkan Arbab yang selalu egois dan memaksakan kehendaknya.
“ kalau suatu saat nanti ada keluhan dari kalian atau dari para client karena kinerjamu menurun dan itu ada kaitannya dengan kontrak ini..... aku tidak akan membantu kalian menyelesaikan keluhan itu " ancam Arbab pada Elena dan Divya, tapi mereka berdua mengabaikannya dan terlihat sangat gembira mendengar ucapan Arbab.
Sampai di apartemen tempat Divya dan Elena tinggal, Ben segera mengetik ulang kontrak yang Arbab buat sesuai dengan perubahan yang Fajrin ajukan. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Ben untuk menyelesaikannya, setelah Ben mencetak rangkap dua kontrak itu dan menyerahkan pada Arbab untuk dia tanda tangani.
Kini berkas kontrak yang sudah ada tanda tangan Arbab, berada di tangan Elena untuk dia baca sekali lagi memastikan tidak ada satu kata pun yang terlewatkan. Elena menganggukan kepalanya dan meraih pena dari tangan Arbab, Elena juga Divya menandatangani kontrak itu bergantian di tempat yang sudah tersedia.
“ aku serahkan kontrak itu padamu, malam ini juga aku kembali ke Kualalumpur. “ ucap Arbab yang sudah melangkah mendekati pintu unit yang Elena tempati.
Seketika Divya dan Elena teriak kegirangan begitu Arbab menutup pintu unit Elena, Arbab mendengar jelas teriakan mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Malam ini juga Arbab kembali ke Kualalumpur, sedangkan Elena menghubungi beberapaa brand pakaian yang menurut Elena menyediakan pakaian yang bisa membantu mewujudkan keinginan Divya.