
Hari keberangkatan ke Penang pun tiba, Gultom yang memilih penerbangan paling pagi sudah berangkat terlebih dahulu. Sedangkan Fajrin dan Henri saat ini masih berada di ruang tunggu keberangkatan. Henri mengajak anaknya yang ketiga yang masih tinggal bersamanya, Fajrin duduk bersebelahan dengan Divya dan tentunya Fajrin sudah mengenakan sarung tangan. Fajrin tidak ingin menyentuh kulit Divya, Fajrin tidak ingin terjadi hal-hal di luar kendalinya.
Henri memperhatikan kedekatan Fajrin dengan Divya, terlihat jelas Fajrin sangat gugup juga canggung. Sementara putri Henri terlihat sangat sibuk dengan buku bacaannya. Henri tersenyum tipis melihat tingkah Fajrin yang terlihat canggung duduk berdekatan dengan Divya.
Meski pun ini bukan penerbangan komersial pertama bagi Fajrin, tapi ini pertama kalinya Fajrin bepergian jauh membawa anak gadis orang dengan status belum halal. Bila sebelum-sebelumnya Fajrin selalu membawa Nara kecil atau Roby. Setelah menunggu kurang lebih selama 45 menit, akhirnya mereka antri masuk ke dalam pesawat.
Pesawat komersial yang akan membawa mereka ke bandara internasional kuala lumpur, mereka akan transit selama kurang lebih 2 jam sebelum melanjutkan penerbangan ke bandara internasional Penang. Mereka berempat duduk di kelas bisnis, Henri dengan putrinya duduk berjarak 2 kursi kebelakang dengan Fajrin. Divya dan Fajrin duduk bersebelahan.
“ ayang.... ini pertama kalinya ayang naik pesawat komersial ya.... gugup sekali.... mentang-mentang selalu naik private jet “ sidir Divya membuat Fajrin gemas dan ingin sekali mencubit hidung mancung Divya.
“ iya..... dan ini pertama kalinya ayang pergi jauh membawa anak gadis orang...... belum halal pula..... ini yang membuat ayang makin gugup. “ jawab Fajrin asal membuat Divya mengerucutkan kedua bibirnya.
“ ayang.... tangan “ pinta Divya dengan manja.
Bukannya Fajrin tidak paham dengan maksud Divya tapi Fajrin paham sekali maksud Divya, Fajrin hanya menarik nafas panjang dan menyerahkan tangan kanannya. Dengan cepat Divya memegang lengan Fajrin.
“ Ya ALLAH...... beri aku rasa sabar yang banyak.... “ gumam Fajrin dalam hati.
Perlahan-lahan pesawat mulai bergerak ke landasan pacu untuk melakukan takeoff, penerbangan menuju Kualalumpur di tempuh dalam waktu 1 jam 55 menit. Cuaca terlihat cerah begitu juga dengan hati Divya yang sangat cerah dan bahagia, setelah 30 menit di udara para pramugari mulai membagikan makan siang pada para penumpang. Karena ini penerbangan komersial pertama Fajrin, jadi selama duduk Fajrin tidak ada niat untuk melepas sabuk pengaman. Disaat Fajrin berusaha memejamkan kedua matanya menekan rasa yang tidak seharusnya muncul di saat-saat seperti ini akibat dari Divya memegang erat tangan kanan Farjin hingga menempel pada benda kenyal Divya. Tiba-tiba Divya melepas tangan Fajrin dan berdiri.
“ ayang.... Divya mau ke toilet sebentar “ ucapan Divya membuat Fajrin segera menarik tangan kanannya dan melipatnya di dada.
Melihat Divya keluar dari toilet dan berjalan mendekatinya membuat Fajrin kembali gugup. Tepat saat Divya masih berdiri di depan Fajrin, tiba-tiba pesawat mengalami goncangan dengan sigap Fajrin meraih pinggang Divya dan menarik ke dalam pangkuannya. Karena goncangan tidak mereda dan semakin keras, dengan kedua tangannya Fajrin memeluk erat pinggang Divya yang sudah duduk di pahanya. Bukan hanya Divya yang tidak siap dengan goncangan ini tapi semua orang yang di dalam pesawat bahkan para pramugari yang sedang sibuk menyajikan makan siang mengabaikan apa yang mereka pegang dan duduk di kursi kosong yang terdekat.
Sementara penumpang lain yang tidak sigap tubuhnya terlempar kesana kemari tak beraturan, beberapa bagasi kabin yang tertutup pun menjadi terbuka sehingga membuat beberapa barang penumpang berjatuhan dan terlempar tak tentu arah. Makanan dan minuman yang akan di sajikan oleh para pramugari pun beterbangan tak tentu arah, Fajrin menahan kuat tubuh Divya dengan kedua tangannya agar tubuh Divya tidak terpental tak tentu arah. Fajrin melihat sebuah nampan makanan berwarna biru yang sepertinya akan terlempar ke arahnya, dengan sigap tangan kirinya melindungi kepala Divya dan menekan kepala Divya untuk menelungkup di bahu kanannya. Hanya selang beberapa detik nampan itu mengenai lengan kiri Fajrin, Divya berteriak keras membuat Fajrin semakin mengeratkan tangan kanannya yang masih menahan pinggang Divya agar tidak bergerak dari pangkuannya.
Pesawat masih bergoncang tak terhitung lagi sudah berapa banyak nampan makanan terpental kesana kemari tak tentu arah, para pramugari yang duduk di sembarang tempat dengan sabuk pengaman yang terpasang berusaha semampunya meraih tangan atau pun anggota tubuh para penumpang yang terpental kesana kemari. Bahkan ada beberapa tubuh para penumpangan yang terpental dan menghantam kompartemen. Tubuh Divya bergetar di dalam pelukkan Fajrin, Fajrin sendiri juga takut tapi Fajrin berusaha kuat agar Divya tidak terlalu takut. Dengan kedua tangan menahan posisi Divya agar tetap berada di dalam pelukkannya, tak henti-hentinya mulut Fajrin berdzikir mengucap kalimat Tasbih Tahmid dan Takbir.
Tangan kanan Divya memegang erat tangan kanan Fajrin yang melingar di pinggangnya seperti sabuk pengaman dan tangan kiri memegang erat bahu kanan Fajrin, mendengar jelas setiap kata yang Fajrin ucapkan membuat Divya mengikuti apa yang Fajrin ucapkan.
Pesawat bergoncang kurang lebih selama 20 menit, turbulensi udara cerah terjadi saat langit dalam keadaan cerah tanpa indikasi visual semacam awan yang disebabkan oleh pertemuan massa udara yang bergerak dalam kecepatan yang berbeda-beda. Turbulensi ini tidak bisa diidentifikasi melalui mata telanjang atau oleh radar konvensional. Pilot hanya bisa menggunakan laporan dari pesawat lain, yang informasinya dikirim ke pengatur lalu lintas udara atau airnav, untuk melacak titik-titik keberadaan turbulensi udara cerah. Tapi kali ini pilot pesawat ini tidak mendapatkan informasi titik keberadaan turbulensi udara cerah.
Selama 20 menit itu pula, teriakan tangisan dan doa yang hanya bisa para penumpang lakukan tak terkecuali Fajri. Berusaha keras menahan tubuh Divya agar tetap berada di pangkuannya supaya tidak terpental kesana kemari tak tentu arah yang akan mengakibatkan tubuh Divya cedera, hanya doa dan dzikir yang mampu menguatkan hati Fajrin. Otak dan hati Fajrin sudah berserah diri bila terjadi kemungkinan paling buruk setidak-tidaknya sebelum hembusan nafas terakhir, Fajrin mampu menyelamatkan wanita yang sangat berarti di hidupnya.
20 menit yang terasa lama bagi semua penumpang, beberapa detik kemudian pelan-pelan goncangan mulai reda dan saat pesawat mulai tenang. pelan-pelan Fajrin melonggarkan kedua tangannya yang memeluk erat Divya tapi masih memeluknya karena Divya masih merasa takut, Farjin dapat merasakan hal itu dari kedua tangan Divya yang tidak mau melepas gengamannya di lengan bawah dan bahunya. Fajrin mencium kepala Divya yang tertutup rapat kain hijab berkali-kali dan mengucap hamdalllah berkali-kali.
keadaan di dalam pesawat sangat berantakan bagasi para penumpang berserakkan dimana-mana, para pramugari mulai membantu satu persatu para penumpang yang terpental tak tentu arah memastikan cedera yang di alami para penumpang. Di beberapa tempat terdapat bercak-bercak darah dan beberapa bagian terlihat penyok akibat dari tubuh para penumpang yang terlempar dan menghantam langit-langit pesawat. Pemeriksaan awal yang di lalukan oleh para pramugari terdapat 37 orang cedera.
“ duduk sendiri ya.... Insya ALLAH sudah aman “ suara pelan Fajrin sambil membantu Divya berpindah tempat duduk dari pangkuannya ke kursi penumpang.