My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 143 MASALAH BARU



Suasana ruang tengah menjadi hening, tiba-tiba ponsel Fajrin berdering. Nada dering yang Fajrin sangat hapal betul, Divya dan Davis melihat ke arah Fajrin. Fajrin segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya, dan membaca pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Fajrin tertunduk dan bergeser sedikit menjaga jarak dengan Davis, Divya dan Davis heran melihat sikap Fajrin yang tiba-tiba menjaga jarak. Fajrin melihat sekeliling memperhatikan satu persatu para pengawal yang melihat kebersamaannya dengan Divya dan Davis.


“ sepertinya, saya harus segera pergi.... ada beberapa hal yang harus saya selesaikan “ ucap Fajrin gugup membuat Davis curiga.


“ kenapa sikap kamu tiba-tiba berubah.... apa yang terjadi “ ucap Davis ingin tahu.


Kedua tangan Fajrin yang masih memegang ponsel terlihat jelas bergetar seperti orang ketakutan, membuat Davis semakin berusaha mendekati Fajrin yang pelan-pelan melangkah mundur menjauhi Davis. Karena Fajrin melangkah mundur tanpa melihat kebelakang hingga tidak sengaja menabrak tubuh seorang pengawal dan Davis berhasil merebut paksa ponsel Fajri. Davis semakin ingin tahu apa yang berusaha Fajrin tutupi hingga membuatnya gugup dan ketakutan seperti ini.


Davis membaca isi dua pesan singkat yang membuat Fajrin gugup hingga setakut ini, seketika kedua mata Davis membulat sempurna terkejut membaca isi pesan tersebut. Rahang bawah Davis mengeras geram membaca isi pesan tersebut.


“ Jason.... contact Ditya now (Jason.... hubungi Ditya sekarang) “ suara tegas Davis membuat Fajrin tertunduk.


Seorang pengawal menahan tubuh Fajrin dan mendudukkan di sebuah sofa, Divya terlihat bingung karena tidak tahu apa pun yang terjadi. Wajah Davis yang terlihat jelas menahan amarah membuat Jason dengan buru-buru segera mengambil tablet di ruang kerja Davis untuk melakukan panggilan video ke Montreal menggunakan aplikasi skype. Jason berusaha menahan tangannya agar tidak bergetar saat mencoba menghubungkan tablet dengan layar LCD di ruang tengah agar Davis leluasa melihat wajah Ditya.


Karena saat ini di Montreal pukul 4 pagi, Setelah menunggu beberapa menit dan beberapa kali panggilan akhirnya terlihat wajah kusut dan tertekan Ditya. Wajah Ditya yang terlihat kusut karena baru saja pulang dari pesta.


“ apa yang kamu lakukan? “ bentakan Davis membuat semua pengawal yang berada di ruang tengah tersentak.


“ kenapa papi marah? Apa yang Ditya lakukan sampai papi semarah ini? “ ucap Ditya yang bingung dengan kemarahan Davis.


Pada awalnya Ditya sedikit terkejut karena melihat Fajrin bersebelahan dengan Divya yang duduk tak jauh dari Davis, tapi Ditya berpura-pura tidak mengenalnya bahkan berpura-pura tidak melihatnya.


“ apa ini kurang jelas? Sudah berapa lama kamu mengirim pesan seperti ini? “ bentakan Davis sambil menunjukkan pesan singkat di ponsel Fajrin yang masih dia pegang.


Seketika mata Ditya membulat sempurna terlihat jelas berusaha menutupi rasa gugup dan bersikap biasa.


“ jangan bilang kalau ini bukan kamu yang mengirimnya.... dan pesan ini jelas sekali..... “ ucap Davis penuh amarah.


Saat Davis mengeluarkan kata-kata kasar pada Ditya, ponsel Fajrin yang berada di dalam genggaman Davis berdering. Davis melihat layar ponsel dan terlihat nomor yang tidak terdaftar di kontak Fajrin.


“ 4712? “ ucap Davis heran sambil melihat ke arah Fajrin yang masih berusaha menguatkan diri.


Tanpa berpikir panjang Davis segera menekan tombol terima panggilan juga tombol loudspeaker.


“ Wa'alaikumsalam, adik.... ada apa? “ ucapan Fajrin yang masih berusaha menguatkan diri.


“ kakak.... pesan gambar yang kakak terima itu bohong..... restauran milik kak syafril masih aman..... “ ucapan Nara yang terdengar oleh semua orang membuat Davis semakin geram.


“ Alhamdulillah ya ALLAH “ ucap Fajrin yang tanpa sadar meneteskam air mata.


Melihat Fajrin meneteskan air mata membuat dada dan tenggorokan Divya terasa sakit, baru kali ini Divya melihat Fajrin menangis hanya karena mendengar kabar tentang keadaan temannya. Siapa yang tidak merasa terkejut hingga lemas bila menerima pesan gambar berupa sebuah restauran yang terbakar, restauran yang sangat dia kenal.


“ kak.... pesan itu di kirim oleh orang yang sama..... kali ini Nara akan menahan semua dana perusahannya.... tidak peduli siapa pun yang melakukan penarikan dana. “ ucapan tegas Nara membuat Davis sekali lagi terkejut.


“ Nara memang tidak tahu seperti apa wajah pelaku yang mengirim pesan pada kakak.... tapi Nara bisa tahu asal dari pesan yang selama ini kakak terima “ ucapan tegas Nara terhenti dan hanya terdengar suara ketikan jari jemari Nara di atas keyboard.


Saat semua orang terdiam ponsel Jason bergetar, Jason menerima beberapa pesan singkat dari orang tangan kanan Davis di Montreal. Jason membuka semua pesan itu dan membacanya dengan perasaan campur aduk, takut sedih kuatir semua rasa menjadi satu. Pelan-pelan Jason mendekati dan memperlihatkan semua pesan tersebut pada Davis.


“ Sir....we can't withdraw all company funds anywhere....not only documents signed by young master Ditya, but also other people....all banking accounts in the name of our company are also banking accounts with Prakash and Lohia's last names can't make any transactions.... including the use of any card is all blocked (tuan.... semua dana perusahan di mana pun tidak bisa kita lakukan penarikan.... tidak hanya dokumen yang bertanda tangan tuan muda Ditya saja, tapi juga orang lain.... semua akun perbankan atas nama perusahan kita juga akun perbankan dengan nama belakang Prakash atau pun Lohia tidak dapat melakukan transaksi apa pun.... termasuk penggunaan kartu kredit apa pun terblokir semua) “ jelas Jason pelan dan berbisik membuat davis duduk tertunduk lemas.


Ditya yang melihat Jason membisikkan sesuatu pada Davis terlihat jelas gusar juga panik, meski pun tidak tahu apa yang Jason bisikkan. Fajrin sudah dapat menguasai dirinya mencoba bangkit dari sofa dan meraih ponselnya yang berada tepat di depan Davis, saat tangannya sudah memegang ponsel tiba-tiba tangan Davis menahannya.


“ bolehkah papi berbicara dengan adikmu? “ ucap Davis pelan dengan kepala menunduk.


Fajrin menjauhkan tangannya tidak jadi mengambil ponsel dan dengan menganggukan kepala Fajrin mengizinkan Davis berbicara dengan Nara.


“ dik..... adik posisi dimana? Bergen atau Oslo? “ tanya Fajrin dengan suara yang sudah tenang.


“ masih di Bergen..... mas Afkar masih ada urusan sama kakek..... kenapa kak? “ suara Nara yang terdengar sudah tidak setegas tadi.


“ dik.... ada yang ingin berbicara dengan adik.... beliau papi calon kakak iparmu.... “ ucap Fajrin pelan.


Saat Fajrin menyebut kata ‘ beliau ‘ Ditya berusaha mengatakan sesuatu tapi dengan sigap Jason menekan tombol mute sehingga tidak terdengar suara Ditya.


“ oooo..... apa kakak sekarang sedang bersama keluarga calon kakak ipar Nara? Apa pria itu juga berada dalam satu ruangan dengan kakak...... tapi tunggu kakak di Jakarta.... lokasi pengirim pesan saat ini berada di...... “ ucapan Nara terhenti dan hanya suara jari jemari yang mengetik sesuatu.