
“ kak...... apa orang itu masih berbuat jahat?..... Kakak yakin keluarga orang itu tidak ada niat jahat pada kakak lagi?..... tapi Nara merasa kalau mereka ingin sekali mempersulit kakak...... Nara merasa kalau sebenarnya mereka ingin tidak ingin kakak menjadi bagian dari keluarga mereka..... “ suara sedih Nara membuat Fajrin menarik nafas panjang.
“ Alhamdulillah sudah tidak lagi.... sejak adik memainkan saham mereka “ ucap Fajrin sedikit berbisik karena tidak ingin Afkar mendengarnya.
Nara bergelayut manja di lengan Fajrin, mereka berbicara dengan berbisik.
“ Alhamdulillah.... kakak harus cerita kalau mereka masih mengganggu kakak... Nara turunkan lag.....“ ucap Nara kesal dan membuat Fajrin menutup rapat mulut Nara.
“ apa.... adik sudah membuka blokir akun perbankan Ditya? “ tanya Fajrin dengan suara berbisik yang sangat pelan dan hanya Nara yang mendengarnya.
Nara menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.
“ kenapa? “ tanya Fajrin heran.
“ orang itu belum minta maaf ke kakak..... biar saja.... biar dia tahu bagaimana rasanya tidak bisa menggesek kartu kredit “ suara kesal Nara membuat Fajrin kembali menutup mulut Nara dengan tangan kanannya.
Kakak beradik ini tetap berbicara dengan berbisik tapi tanpa mereka tahu, sebenarnya Afkar bisa mendengar apa yang kakak beradik ini bicarakan. Saat mobil melewati sebuah gerbang yang besar.
“ ini rumah siapa? “ tanya Nara heran.
Fajrin menatap Nara dengan heran.
“ dik..... ini rumah suamimu.... “ ucap Fajrin yang lupa kalau Nara tidak pernah sama sekali menginjakkan kakinya di rumah ini.
“ Astagfirullah..... kakak lupa.... adik belum pernah kemari “ ucap Fajrin sambil menepuk dahinya.
Afkar tersenyum mendengar pembicaraan kakak beradik ini.
Mobil berhenti tepat di pintu masuk bangunan utama yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama berada di Jakarta, Freya dan Helen terlihat sangat bahagia menunggu kedatangan mereka. Afkar sudah berada di luar mobil dan berdiri menunggu Nara yang berusaha bangkit dari kursi belakang karena sedikit kesusahan.
“ lain kali duduk di tengah saja jangan di belakang..... susah turunnya “ protes Fajrin sambil membantu Nara bangkit dari kursi.
Afkar meraih tangan kanan Nara dan sedikit mengangkatnya agar kaki Nara tidak menginjak ujung abayanya.
“ berat “ bisik Afkar pura-pura tidak kuat mengangkat Nara.
“ mas sendiri yang buat Nara berat “ protes Nara dengan keras membuat Afkar tersenyum tipis.
“ dik..... “ tegur Fajrin membuat Nara menyipitkan kedua matanya karena meringis.
Saat Nara melangkah masuk ke dalam rumah, Fajrin menepuk bahu Afkar.
“ sabar ya..... adikku manja “ ucapan Fajrin membuat Afkar tersenyum tipis.
Melihat Nara yang sudah tidak menempel pada dirinya dan lebih terlihat gembira karena bertemu Norin, membuat Fajrin menarik nafas panjang.
“ sudah mau menjadi ibu..... masih saja seperti ini.... “ gumam Fajrin dalam hati.
Membiarkan Nara yang bercanda dan berbincang-bincang dengan sahabatnya membuat Fajrin tersenyum tipis. tiba-tiba Azkar menariknya dan mengajaknya duduk berkumpul bersama Selo dan Freya, Afkar juga Dean dan tentunya Lief juga ikut duduk bersama. Erhan tersenyum melihat orang-orang terdekatnya berkumpul.
“ vil du fortelle meg alt i dag (apa tuan akan menceritakan semua hari ini)? “ Erhan memggelengkan kepala menjawab pertanyaan Ralf.
“ i kveld samler du dem alle... Helen også (nanti malam kamu kumpulkan mereka semua.... Helen juga) “ pinta Erhan dan kembali masuk ke kamar untuk istirahat.
Freya, Selo, dan Azkar memberi banyak saran apa yang harus Fajrin lakukan saat hari H nanti, termasuk siapa saja yang akan membawa 26 kilo emas PAMP. Bahkan Afkar mengajukan diri untuk membawa 2 barang pelangkah.
“ la Lief ta den og du vil overlevere den til Fajrin.... (biar Lief saja yang membawa dan kamu yang menyerahkan pada Fajrin.... ) “ ucap Azkar membuat Ralf berjalan cepat mendekati mereka.
“ la meg bære filene og nøklene til Bugatti Centodieci... og Lief med Tour de I'lle Vacheron Constatin-klokken... ved leveringstidspunktet... vil vi stå ved siden av Mr. Fajrin. (izinkan saya yang membawa berkas dan kunci Bugatti Centodieci.... dan Lief membawa jam tangan Tour de I’lle Vacheron Constatin.... saat penyerahan.... kami akan berdiri di belakang tuan Fajrin.) “ ucapan Ralf terdengar oleh Nara.
“ Onkel Ralf….. Nara vil være den som overleverer 2 trinns gjenstander til den jævla mannen (paman Ralf..... Nara yang akan menyerahkan 2 barang pelangkah pada pria sialan itu) “ semua orang melihat ke arah Nara dengan heran termasuk Norin yang berdiri di samping Nara.
Tapi tidak dengan Fajrin, Fajrin menepuk pelan dahinya.
“ dik..... “ protes Fajrin membuat semua orang semakin curiga.
Afkar berdiri mendekati Nara.
“ sayang...... kenapa sayang kesal seperti ini? “ ucapan Afkar semakin membuat semua orang menatap Nara penuh curiga dan banyak pertanyaan di kepala mereka.
“ kak.... biar Nara sama mas Afkar yang serahkan pada pria sialan itu “ ucapan tegas Nara membuat semua orang semakin curiga.
Freya mengalihkan pandangannya pada Fajrin dan Azkar.
“ apa kalian tidak akan mengatakan sesuatu pada kami semua..... Fajrin..... Azkar..... “ ucap Selo.
Azkar dan Fajrin menarik nafas panjang, Afkar mengajak Nara duduk di sebelahnya dan Norin duduk di sebelah Dean.
Azkar dan Fajrin saling memandang seperti berbicara dengan mata mereka, tapi pada akhirnya Azkar mulai menceritakan apa yang terjadi pada Fajrin. Fajrin pun menceritakan juga apa yang terjadi pada dirinya juga pada Syafril, sorot mata Nara terlihat jelas sangat marah. Semua orang yang mendengarkan cerita Azkar dan Fajrin hanya bisa menggelengkan kepala, mengelus dada juga menarik nafas panjang. Bahkan Fajrin juga menceritakan apa yang sudah Nara lakukan pada harga saham keluarga Lohia, Afkar menggelengkan kepala mendengar cerita Fajrin. Sesekali Afkar menggenggam erat tangan kanan Nara, menenangkan hati Nara yang terlihat jelas tidak suka.
“ Lief... du hjelper Dean med å forberede alt jeg planla (Lief.... kamu bantu Dean menyiapkan semua yang aku rencanakan) “ ucapan Afkar membuat Selo dan Freya menatapnya heran.
“ sayang.... aku pergi dulu ya.... “ ucap Dean berpamitan dan mencium kening Norin.
“ kamu menyuruh mereka berdua melakukan apa? “ tanya Azkar heran.
“ aku ingin memberi sedikit kejutan pada keluarga Prakash Lohia “ ucap Afkar dengan senyum mengerikan.
“ Aduuh.... sakit sayang..... “ teriak Afkar tiba-tiba karena Nara mencubit lengan Afkar.
Selo, Freya dan Azkar menggelengkan kepala melihat Afkar dan Nara. Ralf yang sedari tadi diam menatap Fajrin dengan penuh rasa kasian.
“ hvis familien deres vet hvem du egentlig er..... selvfølgelig vil de skamme seg over det de har gjort mot deg.... (kalau keluarga mereka tahu siapa kamu sebenarnya..... tentu mereka akan merasa malu dengan apa yang sudah mereka lakukan padamu....) “ gumam Ralf dalam hati.
“ heldig unge mester Azkar er alltid nær deg..... ellers vet jeg ikke hva som vil skje med deg og store mester (beruntung tuan muda Azkar selalu ada di dekatmu..... kalau tidak entah apa yang akan terjadi padamu dan tuan besar) “ gumam Ralf dalam hati dan menarik nafas panjang.