My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 128 SISTER IN LAW



saat Divya menangis tersedu-sedu ponsel Nara berbunyi. Divya terdiam mendengar Nara yang berbicara dengan seseorang di telepon menatap Fajrin dengan tatapan penuh tanya, kemudian menyerahkan ponselnya pada Fajrin.


“ Assalamualaikum ” salam Fajrin.


“ ...... ” Fajrin diam mendengarkan penjelasan Afkar dan sesekali memberi isyarat pada Nara untuk jangan menyentuh makanan dulu.


“ kamu yang lebih tahu mana yang terbaik buat istrimu..... aku hanya menjaganya sampai dia siap menyusulmu. ” Divya terkejut mendengar ucapan Fajrin.


“ istrimu? “ gumam Divya dalam hati sambil menghapus air matanya.


“...... “


“ wa'alaikumsalam ” balas Fajrin sambil mematikan ponsel dan menyerahkan pada Nara.


Divya tertegun mendengar percakapan Fajrin, menatap Fajrin dan Nara bergantian dengan penuh pertanyaan di otaknya. Meski pun sudah beberapa kali Divya melihat foto adik Fajrin yang Dipta tunjukkan, tapi ingatan akan wajah di foto itu hilang begitu saja


“ apa mungkin ini adiknya ayang? “ gumam Divya dalam hati sambil menatap Fajrin yang memperhatikan Nara.


Divya menarik nafas panjang menghapus air mata yang membasahi pipi, menguat diri untuk bersuara.


“ ayang..... kenapa ayang mengabaikan aku? ” ucapan kecewa Divya membuat Fajrin sadar bahwa di depan Nara ada Divya.


Fajrin menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan sedikit kasar.


“ Dik.... kenalkan ini Divya..... Divya kenalkan ini Nara adikku " ucapan Fajrin membuat Divya membulatkan kedua matanya.


“ Assalamualaikum kakak ipar... ” salam Nara membuat Fajrin menggelengkan kepalanya.


“ ja.....jadi..... ini adik yang sering ayang bilang....? ” suara terbata-bata membuat Nara menganggukkan kepala.


“ kenapa ayang tidak bilang dari tadi..... aku kan malu.... “ ucap Divya sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


“ bukankah kamu sudah biasa seperti ini..... belum mendengar penjelasan sudah berpikir yang tidak-tidak dan sudah mengeluarkan semua kata-kata mutiaramu " Nara tertawa kecil mendengar ucapan Fajrin, tapi tidak dengan Divya yang semakin malu.


“ aku sudah pernah bilang..... aku bukan tipe laki-laki yang suka menyela ucapan orang dan aku bukan tipe laki-laki yang harus menjelaskan kebenaran.... kejujuran dan kebenaran tak perlu di ungkapkan karena akan terbukti pada waktunya di saat yang tepat. ” Ucapan Fajrin seakan-akan menampar Divya.


Divya terdiam mendengar ucapan Fajrin dan masih menatapn Nara yang sudah memasukkan beberapa sendok makanan ke mulutnya.


“ maaf..... Divya kira.....ayang selingkuh “ ucap Divya pelan tapi cukup terdengar dengan jelas di telinga Fajrin juga Nara.


Fajrin menarik nafas panjang dan melihat Nara sesaat yang seakan-akan tidak terganggu dengan keberadaan Divya.


“ mana bisa ayang selingkuh..... punya satu saja sudah repot.... apa lagi punya dua atau tiga “ ucapan Fajrin membuat Divya semakin malu.


Divya merasa tersanjung juga malu mendengar pengakuan Fajrin, tiba-tiba di otaknya terbersit untuk menanyakan sesuatu.


“ apa adik ayang ini yang menikah dengan Afkar si ice bear? “ tanya Divya pelan dengan tangan kanannya yang sedikit menutup mulutnya.


Fajrin menganggukan kepala menjawab pertanyaan Divya. meskipun Nara bisa mendengar ucapan Divya tak Nara memilih mengabaikan suara Divya.


“ ayang...... kenapa adik ayang pakai cadar? “ pertanyaan Divya membuat Nara jengah dan menendang sedikit kaki kiri Fajrin


Fajrin menarik nafas panjang, mencoba mencari kata-kata yang bisa dia mengerti Divya.


“ Divya sudah paham apa saja aurat wanita? “ tanya Fajrin sebelum menjawab lebih detail pertanyaan Divya.


Divya menganggukan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.


“ sebutkan “ ucap Fajrin santai tapi terdengar tegas di telinga Divya.


“ seluruh badan kecuali telapak tangan dan wajah “ jawab Divya pelan dan tidak yakin.


“ terus... ada lagi tidak? “ tanya Fajrin pelan tapi terdengar tegas di telinga Divya.


“ bila wajah yang terlihat bisa menimbulkan fitnah.... maka wajib memakai cadar untuk menghindari fitnah “ jawab Divya dengan suara pelan dan malu.


“ saat pertama kali Divya melihat wajah adik ayang..... apa yang pertama terlintas di pikiran Divya? “ sekali lagi pertanyaan Fajrin membuat Divya bingung dan tidak yakin ingin menjawabnya.


“ cantik.... “ ucapan Divya pelan dan tertunduk malu.


Fajrin memiringkan kepalanya menunggu kelanjutan ucapan Divya.


“ ayang rasa... tidak hanya itu yang ada di dalam otak Divya “ ucap Fajrin mencari tahu lebih dalam lagi.


“ cantik dan kenapa tidak membiarkan orang lain melihat wajah cantiknya “ ucap Divya cepat tanpa nafas membuat Fajrin tersenyum tipis.


“ ayang tidak suka apa yang menjadi hak serta kewajiban juga tanggung jawab ayang sebagai seorang kakak di lihat oleh orang lain, dan ayang hanya mengizinkan Afkar yang sekarang menjadi suami adik ayang menikmati apa yang menjadi tanggung jawab Ayang selama ini “ ucapan tegas Fajrin membuat Divya iri juga sedih.


“ kalau Divya marah dengan sikap dan perlakuan ayang pada adik sendiri.... Divya salah.... seharusnya Divya marah pada Ditya dan Dipta mungkin juga pada tuan Davis.... karena Divya saat in bukan tanggung jawab ayang. “ ucapan Fajrin yang tanpa filter terkesan menusuk di dada Divya.


Divya terdiam tak bisa mengucapkan kata-kata, yang akhirnya membuat Fajrin memilih makan menghabiskan menu yang sudah dia pesan. Untuk beberapa menit kedepan mereka terdiam hanya suara dentingan sendok dan garpu. Di sela-sela makan, Divya sesekali melihat wajah Nara.


“ mungkin kalau aku seorang pria seperti bang Ditya yang suka berganti-ganti pasangan.... pertama kali melihat wajah cantik Nara pasti aku akan berusaha menariknya ke dalam pelukkanku.... mungkin juga Nara akan aku kurung di kamar supaya aku bisa menikmati semuanya “ gumam Divya dalam hati sambil sesekali melihat wajah tenang Nara.


“ kak.... Nara sudah selesai..... habis dari sini langung pulang ya.... “ rengek Nara membuat Fajrin membelai pipi kanan Nara dengan lembut.


Sekali lagi Divya melihat perlakuan lembut Fajrin membuatnya iri juga kecewa, melihat Nara dengan leluasa bisa bergelayut manja di lengan Fajrin. Iri karena Fajrin sama sekali tidak pernah menyentuh kulitnya tanpa sarung tangan, kecewa karena Fajrin selalu menolak bila Divya menggenggam tangan Fajrin.


Divya menatap Fajrin yang sudah berdiri dari kursi membantu Nara menutup kembali kain niqab untuk menutupi wajah cantik Nara, membantu Nara berdiri juga mengambil alih kantung kertas belanjaan Nara yang sudah Nara bawa di kedua tangannya.


Dengan menarik nafas panjang, Fajrin menghadap Divya yang masih duduk dan menatap Nara dengan tatapan iri juga sedih.


“ ayang harus pulang sekarang kalau Divya masih ada perlu di mall ini... silahkan Divya lanjutkan... dan makanan ini.... ayang yang bayar. Assalamualaikum “ ucap Fajrin sambil meraih kantung kertas berisi belanjaan Nara.


“ wa'alaikumsalam “ balas Divya.


Sebelum Nara keluar dari ruangan itu, Nara berhenti tepat di pintu dan kembali mendekati Divya untuk mengatakan sesuatu dengan sedikit berbisik.