My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 101 BERAT



Hari yang di tunggu Divya tiba, jalan-jalan dengan Fajrin atau mungkin Divya mengartikan sebagai kencan. Hari ini sebenarnya Fajrin ingin mengingatkan Divya bahwa tiga hari lagi kontrak perjanjian mereka berakhir dan Fajrin ingin fokus pekerjaannya mengingat biaya kuliah Nara yang tinggi. Fajrin mengajak Divya bertemu di restauran milik Syafril.


“ kak Fajrin mau kemana? “ tanya Nara heran yang pagi-pagi sudah melihatnya rapi.


“ mau ketemu teman “ Jawab Fajrin singkat.


“ oooo.... berarti hari ini Nara yang setrika baju ya..... “ ucap Nara sambil menghitung uang di amplop yang Fajrin berikan tadi Shubuh.


“ setrika sebisa adik saja.... jangan terlalu memaksakan diri.... mata masih merah begitu mana kuat setrika “ ucap Fajrin sambil mengacak-acak rambut Nara.


“ ini uang SPP dan praktikum sementara 4.... banyak sekali? “ ucap Nara yang masih menghitung lebaran merah di dalam amplop.


“ lebihnya adik simpan buat SPP sementara depan.... kakak pergi dulu ya..... Assalamualaikum “ salam Fajrin yang sudah membuka pintu rumah.


Karena hari ini hari sabtu dan administrasi kampus hanya buka setengah hari, membuat Nara segera sadar.


“ kak..... antar Nara ke kampus sebentar “ teriak Nara dari dalam rumah membuat Fajrin melepas kembali sepatunya.


Fajrin kembali masuk ke dalam rumah dengan heran.


“ buat apa ke kampus.... ini hari sabtu.... apa adik ada janji sama seorang mahasiswa? “ tanya Fajrin penuh selidik.


“ kalau sabtu kantor administrasi kampus hanya buka setengah hari..... uang sebanyak ini kalau tidak langsung di bayarkan nanti Nara khilaf..... bisa-bisa nanti Nara pakai buat beli komputer server. “ ucap Nara meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Fajrin menepuk dahinya mendengar alasan Nara.


“ sana mandi cepat “ teriak Fajrin membuat Nara menyerahkan amplop uang di dada Fajrin yang mau tak mau harus dia pegang lagi.


Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, Nara siap berangkat ke kampus. Selama perjalanan ke kampus berkali-kali Fajrin menarik nafas panjang, meskipun Nara tahu ada sesuatu yang mengganjal di hati kakaknya tapi Nara tidak berani bertanya.


“ dik... nanti selesai urusan kampus sebelum pulang makan siang di moonlight ya... kakak tunggu disana “ ucap Fajrin dan melepas helm di kepala Nara.


“ Nara langsung pulang saja...... malas kesitu.... tidak bisa makan sesuka Nara “ ucap Nara cemberut.


“ sekali ini..... saja... dik “ rayu Fajrin sambil mengacungkan jari telunjuknya pada Nara.


“ tidak mau.... Nara langsung pulang saja.... Assalamualaikum “ salam Nara dan meraih tangan kanan Fajrin untuk mencium punggung tangan Fajrin.


Fajrin kembali menarik nafas panjang dan melajukan motornya ke arah resto moonlight. Setelah setengah jam berkendara Fajrin memarkir motornya di area parkir motor dan mengedarkan pandangannya mencari-cari mobil mewah yang kemungkinan dia kenal, Fajrin tersenyum mendapati satu mobil mewah yang sangat dia kenal.


“ sudah datang...... dia pakai mobil papinya.... “ gumam Fajrin sambil merapikan rambutnya.


Fajrin hapal betul apa saja mobil milik keluarga Dipta, meskipun hanya sekali menaikinya itu pun karena paksaan Dipta.


Seorang pelayan menyambut kedatangan Fajrin.


“ siang pak, mau bertemu pak Syafril? “ tanya pelayan itu yang sudah mengenal Fajrin.


“ Assalamualaikum.... maaf sudah menunggu lama “ salam Fajrin sambil menarik kursi untuk duduk.


“ Wa'alaikumsalam kak.... tidak lama.... baru juga 15 menit yang lalu. “ balas Divya dengan senyum manis.


Untuk beberapa detik kedepan mereka hanya terdiam, Fajrin seperti biasa menundukkan pandangannya dan Divya dengan senyum manisnya melihat wajah Fajrin dengan memiringkan kepalanya sedikit.


Fajrin menarik nafas panjang ingin mengatakan sesuatu tapi berat untuk memulainya.


“ kak.... kak Fajrin kenapa? “ tanya Divya heran.


“ apa kak Fajrin marah karena dua hari lalu Divya ke kantor tanpa memberi tahu kakak? “ tanya Divya mencoba menebak apa yang mengganjal di hati Fajrin.


“ kita pesan makanan dulu ya.... “ Fajrin membuka buku menu yang berada di meja dan memberi isyarat tangan pada seorang pelayan.


Fajrin menunjuk satu menu makanan dan minuman yang dia pesan.


“ kamu mau pesan apa? “ tanya Fajrin sambil menyerahkan buku menu pada Divya.


Karena menu di restauran milik Syafril ada menu lalapan dan Divya tidak bisa makan dengan tangan jadi Divya memutuskan hanya memesan minuman soda saja. Setelah pelayan itu menjauh, kembali Fajrin menarik nafas panjang.


“ kak.... ada apa? “ tanya Divya sekali lagi dan membuat Fajrin semakin berat untuk mengatakannya.


“ tidak ada apa-apa hanya berat saja keluar rumah saat weekend tanpa adikku “ ucap Fajrin yang berusaha menutupi apa yang akan dia katakan hari ini.


“ oooo..... Divya kira ada yang lain “ ucap Divya santai.


Divya mulai bercerita banyak hal sejak pertama kali menginjakkan kaki di bandara, bahkan Divya menceritakan bagaimana dia kabur dari rumah agar bisa menemui Helen. Mendengar cerita Divya yang harus merayap di sepanjang lorong ventilasi udara membuat Fajrin tersenyum bahkan tertawa saat Divya menceritakan bagaimana menyingkirkan empat ekor kecoa di ujung lorong ventilasi udara. Divya juga menceritakan bagaimana Azkar bila sudah berada di rumah, Fajrin tidak terkejut dengan cerita Divya tentang sikap Azkar bila sudah berada di rumah.


“ Divya tidak menyangka kalau kelemahan bang Azkar adalah istrinya “ ucap Divya sambil mengingat bagaimana Azkar terdiam bisa Helen sudah memanggilnya.


“ bang Azkar sudah banyak berubah setelah mengenal Helen...... dia akan melakukan apa pun asalkan bisa menikahi Helen “ ucap Fajrin mengenang masa-masa Azkar harus menghapal 5 juz.


“ cinta memang bisa merubah seseorang “ ucapan Divya membuat Fajrin menjadi teringat akan awal-awal karirnya di Surendra Corp.


“ ya...... cinta dapat memaksa seseorang untuk bertindak di luar batas kemampuannya..... meski pun sudah berusaha keras bila yang di Atas belum menghendaki..... semua usaha akan terasa sia-sia “ ucap Fajrin tertunduk mengingat bagaimana usahanya membuat Nara menjadi seperti sekarang.


“ apa kakak menyesal mengenal mantan kekasih kakak? “ tanya Divya ingin tahu.


Fajrin tersenyum getir mengingat semua ucapan kedua orang tua Sofia. Fajrin tidak menyesal mengenal sosok sofia dan masih bisa memaafkan semua ucapan orang tua Sofia, tapi tidak untuk melupakan semua kalimat penghinaan itu.


“ menyesal.... tidak.... tapi tidak untuk melupakan setiap kalimat “ ucap Fajrin dan meneguk minuman yang baru saja pelayan sajikan.


Divya bingung dengan maksud ucapan Fajrin dan memilih mengabaikan saja. Mendengar semua cerita Divya yang sangat senang dan bahagia sudah cukup membuat Fajrin tenang meski pun niat awal bertemu Divya bukan untuk mendengar cerita Divya, tapi karena berbagai pertimbangan akhirnya Fajrin memutuskan untuk tidak mengatakan maksud dari ajakan makan siangnya hari ini, Fajrin memutuskan akan mengatakan bila sudah mendekati akhir masa kontrak mereka.


Karena makanan dan minuman yang mereka pesan sudah tersajikan, dan Fajrin sudah merasa lapar akhirnya tanpa rasa malu atau pun canggung. Fajrin segera melahap pesanannya sendiri, Divya yang belum pernah melihat Fajrin makan dengan tangan melihatnya sedikit jijik tapi selesai makan Fajrin menjelaskan kenapa lebih suka makan dengan tangan.