My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 112 PERIODE



“ maksudnya begini.... para ulama memahami dan mentafairkan bahwa kedzaliman ghibah akan berlanjut di akhirat. Dimana orang yang dighibah akan mendapat pahala dari orang yang meng-ghibahnya. Sehingga ghibah mengurangi pahala seseorang. Sebaliknya, orang yang dighibah akan semakin bertambah pahalanya. Sudah paham? “ penjelasan Fajrin membuat Divya membulatkan kedua mulutnya.


Fajrin kembali membuat garis di kertas kalkir sedangkan Divya mengamati Fajrin.


“ cakep sekali..... “ gumam Divya sambil tersenyum menatap wajah serius Fajrin.


Fajrin kembali sibuk dengan kertas kalkir dan Divya sibuk memperhatikan Fajrin, tiba-tiba Roby masuk tanpa salam.


“ begini ya..... ternyata sekarang ruang ini sudah bertambah fungsinya. “ sindir Roby yang tiba-tiba masuk dan membuat Divya terkejut tapi tidak dengan Fajrin.


“ ada apa kemari? “ tanya Fajrin yang masih membuat garis di kertas kalkir.


“ big bos.... minta kamu jadi Imam sholat.... sekalian makan siang di luar “ ucap Roby yang sudah memainkan tabung penyimpanan kertas kalkir.


“ bisa tidak kamu berhenti memainkan tabung-tabung itu? “ suara Fajrin membuat Roby meletakkan kembali tabung yang sudah dia mainkan.


“ bisa tidak jadi Imam? “ tanya Roby yang sudah berdiri di samping Fajrin.


“ iya.... sudah Adzan-kah? “ Roby menganggukan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.


Tapi Fajrin tidak percaya begitu saja, Fajrin melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


“ 2 menit lagi baru Adzan “ ucap Fajrin yang sudah memutar tubuhnya dan mendapati Azkar sudah berdiri di pintu dengan menyandarkan bahu kirinya.


Azkar tersenyum tipis melihat keberadaan Divya juga kotak makan siang yang berada diatas meja kerja Fajrin.


“ jadi apa makan siang kamu kali ini? “ pertanyaan Azkar membuat Divya tertunduk malu.


“ ada ayam 1 ekor sama nasi sama sayur lalapan, tapi sepertinya nasibnya tidak cukup kalau aku harus berbagi sama bang Azkar. “ ucapan Fajrin membuat Divya malu.


“ Rob..... kamu beli nasi 2 bungkus lagi dan 1 ekor ayam panggang.... lepas Dhuhur kita makan di atas.... aku mau mengawasi mereka biar tidak ada setan yang menganggu mereka “ ucap Azkar sambil membuka sedikit tutup kotak makan siang Fajrin dari Divya.


Fajrin menarik nafas panjang melewati Divya dan keluar ruangan.


“ kamu tidak sholat? “ tanya Roby curiga.


Belum sempat Roby menjawab Fajrin sudah menarik tangannya dan membisikkan sesuatu, seketika Roby membulatkan kedua matanya karena terkejut.


“ dari mana kamu tahu? “ tanya Roby heran.


Roby melihat Divya dengan mengerutkan kulit di antara kedua alisnya, begitu juga Azkar yang melihat Fajrin dengan heran.


“ Divya.... jangan pergi ke mana-mana tetap duduk di situ jangan berdiri juga.... tunggu ayang “ suara tegas Fajrin membuat Divya hanya menganggukan kepala.


Mendengar kata ayang membuat Roby menahan tawa tapi tidak dengan Azkar.


“ hahahaha..... ayang.... hahahaha “ tawa keras Azkar membuat Divya malu juga Fajrin.


Selagi menunggu Fajrin selesai sholat Dhuhur, Divya memainkan ponselnya. Yuni yang masih curiga dan ingin tahu tentang Divya hanya berani menatapnya dari balik kaca. Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, Fajrin kembali ke ruang kerjanya dan membawa sebuah kantong plastik berwarna hitam pekat.


“ Assalamualaikum “ salam Fajrin membuat Divya meletakkan ponselnya asal.


Fajrin tidak menjawab tapi melangkah mendekati kursi kerjanya dan meraih jaket kulitnya.


“ pakai ini dan ganti dulu di toilet sebelah “ ucap Fajrin sambil mengulurkan jaketnya dan kantong plastik pada Divya.


Divya melihatnya dengan heran karena masih belum paham maksud Fajrin.


“ apa perlu ayang yang mengganti pembalut kamu? “ ucapan Fajrin membuat Divya sadar bahwa hari ini hari kedua periodenya.


Divya segera berdiri dan sedikit memutar roknya yang ternyata ada sedikit bercak darah periodenya, Divya melihat ke sofa tempatnya duduk dan bernafas lega.


“ ini “ ucap Fajrin yang masih mengulurkan jaket dan kantong plastik pada Divya.


Divya malu sekali dan segera menerima jaket kulit Fajrin untuk dia ikat di pinggang, dengan malu Divya menerima kantong plastik yang isinya sudah bisa Divya tebak. Divya melangkah keluar ruang kerja Fajrin dan Fajrin mengikutinya dengan membawa kotak bekal makan siang yang Divya buat.


“ toilet wanita sebelah sana “ ucap Fajrin sambil menunjukkan letak toilet untuk Divya.


Divya berlari kecil masuk ke toilet untuk mengganti pembalut sementara Fajrin menunggu di luar dengan tersenyum mengingat wajah Divya yang malu karena ketahuan periodenya. Setelah 10 menit menunggu akhirnya Divya keluar dengan tertunduk malu. Divya hendak melepas ikatan jaket kulit Fajrin dari pinggangnya.


“ pakai saja untuk menutupi rok kamu yang ada bercak darah periodemu.... malu... itu sudah kodrat wanita kenapa harus malu “ ucap Fajrin yang sudah melangkah menuju lift.


Divya mengikuti dari belakang dan diam seribu bahasa.


“ ayang sejak kapan tahu kalau rok Divya ada bercak darah? “ tanya Divya heran.


“ sejak kamu masuk ke ruang kerja “ jawab Fajrin santai sambil melangkah keluar lift.


“ haaaa..... jadi..... “ Divya terkejut dan merasa malu sekali.


Mereka sudah berada di sebuah taman gedung yang letaknya satu lantai dengan ruang kerja Azkar. Terlihat Azkar yang sudah duduk bersantai di sebuah kursi taman menunggu Fajrin.


“ Assalamualaikum “ salam Fajrin dan duduk di depan Azkar.


“ wa'alaikumsalam.... lama sekali? “ tanya Azkar heran dan memperhatikan Divya yang terlihat jelas malu seperti menyembunyikan sesuatu.


“ iya..... menunggu Divya ganti pembalut “ jawab Fajrin santai tapi semakin membuat Divya malu.


“ oooo.... terlambat kalau kamu malu dengan ucapan Fajrin.... dia sudah tahu apa itu pembalut, apa itu periode.... dia sendiri yang mendapati pertama kali adiknya mendapat periodenya.... dia juga yang mengajari adiknya bagaimana memakai pembalut.... percuma kamu malu...... mungkin juga dia lebih paham dari kamu tentang hal itu.” Ucap Azkar santai dan semakin membuat Divya malu.


Fajrin sibuk membuka dan menata kotak makan siang dari Divya, Divya semakin menundukkan kepala.


“ aku yakin sekali..... kamu belum tahu bahkan bisa jadi kamu tidak tahu cara menyucikan diri setiap kali periode kamu selesai, kamu tidak tahu cara melakukan semua itu “ ucap Azkar yang sudah tidak sabar untuk makan siang.


“ maksud bang Azkar? “ tanya Divya menatap Azkar dengan heran.


“ tanya saja sama ayang kamu itu..... dia lebih paham..... aku saja juga tahu dari dia bagaimana caranya mandi besar “ ucap Azkar santai tapi semakin membuat Divya bingung.


“ nanti ayang jelaskan.... Roby sudah datang.... kita makan siang dulu. “ ucap Fajrin sambil menyerahkan piring rotan yang sudah di lapisi kertas untuk meletakkan nasi dan sepotong ayam pada Divya.


Divya menerima piring rotan itu dan menatap kedua pria di depannya dengan heran. Roby datang membawa 2 bungkus nasi dan 1 ekor ayam panggang, akhirnya mereka berempat makan siang tanpa ada pembicaraan apa pun. Divya sesekali melihat Fajrin yang sangat menikmati menu makan siang yang dia bawa, bahkan sesekali Fajrin menyingkirkan tangan Roby saat hendak mengambil ayam yang Divya bawa. Azkar hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Fajrin yang egois dengan menu makan siangnya kali ini, Divya tersenyum senang melihat Fajrin menghabiskan makan siang yang dia bawa.