My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 126 PANAS



“ jauhkan tangan nona dari pintu kamar ini dan serahkan keycard kamar ini “ tanpa menunggu lama wanita itu segera menyerahkan keycard kamar tersebut pada Dipta dan melangkah mundur menjauh dari pintu.


Dipta segera menyerahkan sebuah cek pada wanita itu dan menyuruhnya menulis nominal sesuai perjanjian tadi, Dipta segera memberikan cek tersebut dan dengan isyarat tangan meminta orang kepercayaan Azkar untuk membawa wanita itu pergi. Pelan pelan Dipta membuka pintu kamar tersebut, seketika kedua matanya membulat sempurna melihat sosok Fajrin yang tak berdaya meringkuk di lantai dengan hanya mengenakan boxer. Dipta segera menutup kembali pintu kamar dan mendekati Fajrin


“ panas... wajahnya merah. “ gumam Dipta.


“ tolong.... aku merasa.... badanku panas.... terasa aneh. “ ucap Fajrin dengan terputus-putus sambil meraih tangan kiri Dipta.


Dipta segera melangkah masuk ke kamar mandi dan mengisi penuh bathtub dengan air dingin dari shower.


“ aku akan membantumu menghilangkan rasa panas ini. “ ucap Dipta pelan sambil menarik paksa tubuh Fajrin yang terasa hangat.


“ sial.... obat apa yang kamu masukkan sampai asetnya bisa seperti ini “ gumam Dipta yang melihat sesuatu yang menonjol di balik boxer Fajrin.


Dipta segera memasukkan tubuh Fajrin kedalam bathtub yang sudah penuh dengan air dingin dan shower yang masih mengeluarkan air dingin. Kedua pipi Fajrin memerah kedua tangannya terlipat di dada seperti menahan sesuatu pada dirinya.


Dipta tidak tahan melihat kondisi Fajrin yang sangat tersiksa di bawah pengaruh obat yang membuat assetnya menonjol di balik boxer. Sesekali Dipta mengarahkan shower tepat di atas kepala Fajrin, membuat Fajrin kesulitan bernafas karena air shower mengenai wajahnya. Selama setengah jam Dipta berusaha keras meredakan rasa panas yang membuat Fajrin tidak nyaman, setelah wajah Fajrin tidak semerah saat pertama kali dia menemukan Fajrin tergeletak di lantai. Dipta keluar dari kamar mandi dan menghubungi seseorang.


“ besok siang kita bertemu di ruang kerja papi, ada hal yang ingin aku bicarakan “ suara tegas Dipta membuat seseorang di ujung sambungan telepon terlihat bingung dan heran.


Sementara orang-orang kepercayaan Davis masih belum menemukan keberadaan Fajrin, semua karena kerja keras para pengawal Azkar yang sudah menghilangkan jejak Fajrin. Saat ketiga orang yang membawa Fajrin dalam perjalanan menuju hotel, salah seorang pengawal Azkar mengecoh para orang kepercayaan Davis sehingga mereka kehilangkan jejak orang-orang yang membawa Fajrin.


Dipta mengirim pesan singkat pada Ningsih mengatakan bahwa malam ini ada hal penting yang harus dia lakukan dengan Fajrin, Dipta juga mengirim pesan singkat pada Azkar mengatakan bahwa Fajrin sudah aman di bawah pengawasannya. Dipta terduduk di sebuah sofa yang sudah dia geser sehingga dapat melihat Fajrin yang masih terendam di dalam bathtub.


“ ternyata selama ini bang Azkar selalu melindungimu, aku yakin kamu bukan ornag biasa di mata bang Azkar. Maafkan kebodohan Ditya, maafkan kesalahpahaman ini.... aku menyayangi kedua adikku tapi aku juga menghargaimu karena kamu sudah membantuku mempertemukanku dengan wanita yang menjadi istriku “ gumam Dipta sambil menatap tubuh Fajrin yang mulai terkulai lemas di dalam Bathtub.


Kedua tangan Fajrin keluar dari Bathtub sementara seluruh tubuhnya masih terendam air dingin, Dipta membetulkan posisi shower agar tepat mengenai rambut Fajrin.


“ wajahnya sudah tidak memerah dan badannya sudah tidak terasa hangat “ gumam Dipta sambil memegang lengan Fajrin.


“ aku biarkan saja dia berendam sampai pagi.... aku tidak tahu seberapa kuat obat itu “ gumam Dipta yang sudah melangkah keluar kamar mandi dan kembali duduk di sofa.


Menjelang Shubuh ponsel Fajrin berdering membuat Dipta terbangun dengan terkejut mencari asal suara, dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul. Dipta berusaha mencari ponsel Fajrin yang masih berdering.


“ SUNFLOWER.... “ gumam Dipta dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.


“ Hallo “ salam Dipta dengan suara berat dan serak


“..... “ Dipta tersenyum getir mendengar suara wanita yang ternyata bukan Divya dan terdengar jelas sangat kuatir.


“ ..... ” Dipta menepuk dahinya pelan mendengar jawaban dari penelpon tersebut..


“ oooo.... kakak kamu sedang bersama saya...“ jawab Dipta Asal.


“ ..... “ Dipta lega karena adik Fajrin tidak merasakan sesuatu yang mencurigakan.


“ iya, ada beberapa pekerjaan yang harus kami selesaikan secepatnya “ jawab Dipta asal.


Dipta meletakkan ponsel Fajrin di meja kecil tepat di samping pintu kamar mandi, karena kedua mata Dipta masih berat sehingga Dipta kembali tertidur di sofa.


Tepat pukul 7 pagi Fajrin tersadar dan melewatkan sholat shubuh Fajrin membuka pelan-pelan kedua matanya, badannya masih terasa sakit semua juga kepalanya masih terasa penat. Fajrin mencoba keluar dari bathtub meski pun kepala dan badan masih terasa tidak nyaman, dengan berjalan pelan dan meraih handuk putih yang terdapat di dalam kamar mandi tersebut.


“ apa yang aku minum semalam sampai aku berakhir di bathtub seperti ini “ gumam Fajrin sambil melepas boxer yang dia kenakan.


“ apakah semalam ada orang yang dengan sengaja mencampur sesuatu di minumanku? “ gumam Fajrin sambil melihat bathtub yang masih penuh dengan air dan shower yang masih terbuka.


Fajrin melihat kebawah memastikan asetnya.


“ Astagfirullah..... jahat sekali.... apa aku sudah melakukan sesuatu yang membuat orang lain tersinggung? “ gumam Fajrin yang masih bingung.


Di saat Fajrin sibuk memikirkan berbagai kemungkinan alasan sehingga membuat dirinya berakhir di bathtub, tiba-tiba suara berat menyadarkannya dari lamunan.


“ bagaimana? Apa kamu sudah sedikit lebih baik atau mungkin masih merasa aneh? “ suara Dipta membuat Fajrin melangkah mendekatinya.


Fajrin menatap dalam-dalam kedua mata Dipta mencari tahu apakah Dipta menyembunyikan sesuatu darinya, terlihat jelas Dipta sangat gugup dan tidak tahu bagaimana menjelaskan keberadaannya saat ini.


“ apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku? Kenapa aku dan kamu bisa berada di kamar yang sama? Bagaimana aku bisa berakhir di bathtub yang penuh dengan air dingin? “ seribu pertanyaan ingin Fajrin tanyakan pada Dipta tapi Dipta hanya bisa diam seribu bahasa.


“ pakai pakaianmu ini, tadi adikmu menelpon dan maaf aku mengangkatnya. Aku tadi hanya mengatakan kalau kita sedang lembur “ ucap Dipta mengalihkan perhatian Fajrin


“ kamu berhutang banyak penjelasan padaku.... “ ucap Fajrin sambil meraih pakaiannya dan kembali masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


Dipta mengetuk pintu kamar mandi dan menyerahkan sebuah kantung kertas berisi boxer untuk Fajrin pakai karena boxer milik Fajrin basah. Kantung kertas ini Dipta ambil karena tergeletak di depan pintu kamar tepat setelah setengah jam Dipta membasahi rambut Fajrin, besar kemungkinan orang kepercayaan Azkar yang meletakkan kantung tersebut.


Dipta mengantar Fajrin pulang sementara motor yang Fajrin pakai sudah terparkir rapi di area parkir motor gedung Surendra, tentu saja yang melakukan itu semua ada orang-orang kepercayaan Azkar. Sepanjang perjalanan pulang, tak ada pembicaraan apa pun di antara Fajrin dan Dipta, Dipta berkali-kali menarik nafas panjang seperti mencoba melepaskan beban pikirannya.