
Fajrin segera masuk ke kamar mengambil pakaian bersih dan membersihkan diri untuk segera ke masjid. Sejak ayahnya meninggal Fajrin merasa harus memberi contoh yang baik kepada adiknya, membantu ibunya dengan menjaga Nara sepulang sekolah. Dan tanggung jawabnya semakin bertambah sejak ibunya meninggal, dimana saat itu baru beberapa bulan bekerja di sebuah perusahaan kontruksi. Dengan gaji dan bonus yang dia dapatkan, Fajrin membawa ibunya berhaji tapi takdir berkehendak lain. Pergi haji berdua dengan ibu tapi pulang sendiri, hatinya hancur melihat Nara menangis. Sejak itu Fajrin bertekat bahwa dia akan menjadi kakak, ibu juga ayah bagi Nara.
Seperti biasa Fajrin sampai kantor lebih pagi dari yang lain, Fajrin mulai menyibukkan diri dengan beberapa maket project kontruksi yang sudah dia kerjakan satu minggu ini. Azkar memberinya kepercayaan untuk merancang sebuah resort dengan fasilitas taman hiburan air di daerah Sumatera Utara.
Satu per satu rekan satu timnya berdatangan dan mulai membantu Fajrin di beberapa bagian dari maket yang sedang dia kerjakan.
“bagaimana menurutmu?” tanya Fajrin pada rekan kerjanya.
“aku rasa cukup.... aku sudah membuatkan kamu janji dengan asisten big bos....” ucap Gigih menghindar.
“Anda masih tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri" ucap Fajrin santai.
Tepat pukul sepuluh kurang lima belas menit Fajrin sudah berada disebuah ruangan siap dengan maket yang selama satu minggu ini dia kerjakan dengan sedikit bantuan dari rekan-rekannya. Tepat pukul sepuluh Azkar dan beberapa orang direksi masuk ke ruang rapat mereka duduk di kursi dengan meja berbentuk huruf U.
“Assalamu'allaikum, bagaimana kabarmu Fajrin?” salam Azkar sambil menepuk bahu Fajrin.
“wa'alaikumsalam, Alhamdulillah sehat bang" balas Fajrin pelan dan terdengar jelas di telinga Azkar bahwa Fajrin memanggilnya bang sesuai dengan permintaan Azkar.
Beberapa direksi mengamati maket buatan Fajrin dan terlihat jelas mereka kagum dengan hasil kerja keras Fajrin.
“seperti biasa perencanaan sangat detail dan mengesankan." Ucap salah seorang direksi.
“melihat design kamu seperti ini, aku yakin hasil nyatanya lebih bagus dari ini" ucap salah seorang direksi sambil menunjuk maket Fajrin.
“Alhamdulillah bila bapak bapak direksi terkesan dan puas dengan perencanaan saya" ucap Fajrin yang masih berdiri di depan.
“jadi kira-kira mulai kapan pengerjaannya?” tanya salah seorang direksi.
“Hari ini tim surveyor akan mengirimkan hasil pengukuran mereka dan Insya ALLAH lusa para pekerja level dasar sudah sampai lokasi karena beberapa material sudah berdatangan hari ini” jelas Fajrin
“apa kamu akan mengawasi langsung project ini? Aku lihat sudah ada beberapa project lagi yang membutuhkan kemampuan kamu” puji seorang direksi yang dulu pernah meragukan kemampuannya tapi sekarang malah sering memujinya.
Fajrin bukan seorang pekerja keras yang terlena dengan pujian, baginya pujian adalah sebuah sindiran halus yang harus dia perbaiki lagi kinerjanya.
“kamu awasi saja project ini, biarkan tim area satu yang terjun langsung ke lapangan... ada satu project yang penting dan besar.... kami para direksi sepakat untuk kamu yang mengendalikan project ini dan untuk tim lapangan kamu pilih sendiri orang-orang yang bisa kamu andalkan.” Ucap seorang direksi yang sangat mengenal Fajrin karena beliau adalah salah satu sahabat almarhum ayahnya.
“baik kalau memang bapak-bapak direksi berkehendak demikian, saya akan serahkan salinan data dan detail material project ini ke tim area satu.”ucap Fajrin dengan sopan.
Para direksi dan Azkar bergantian menanyakan detail project setiap ruang dan bangunan yang terdapat di maket yang Fajrin buat. Tak terasa sudah menjelang istirahat siang, para direksi bergantian keluar ruangan hingga menyisahkan Fajrin dan Azkar yang mengamati perubahan aura di wajahnya yang terlihat jelas menyimpan sebuah kesedihan kekecewaan yang mendalam.
“tidak ada bang" jawab Fajrin singkat tapi masih terlihat jelas oleh Azkar aura kesedihan dan kekecewaan itu.
“baiklah.... kalau kamu tidak mau membicarakan denganku.... tapi ingat apa pun masalah yang kamu hadapi jangan sekali pun membuat kamu menyerah hingga membuat Nara sedih. Sudah cukup Nara menangis karena kehilangan seorang ibu, jangan sampai dia menangis lagi karena kakaknya sedih.” Ucapan Azkar membuat Fajrin diam membisu serasa tercambuk untuk bekerja lebih giat lagi lebih baik lagi karena dia memiliki tanggung jawab besar yaitu seorang adik perempuan.
Saat Azkar hendak melangkah keluar ruangan, seketika Fajrin tersadar.
“bang, apakah project kali ini mengharuskan aku untuk meninggalkan jakarta dalam beberapa bulan kedepan?” tanya Fajrin antusias.
“hmmmmm.... kita di beri waktu empat belas bulan untuk menyelesaikan project ini, general manager area tujuh sudah menunjuk dua orang arsitek dan empat orang sipil untuk membantumu. Kenapa?” tanya Azkar heran.
“jadi kemungkinan besar dalam empat belas bulan itu saya tidak berada di jakarta.... atau lebih tepatnya saya akan menetap hingga project benar-benar selesai seratus persen" ucap Fajrin mempertegas maksud Azkar.
“iya...... apa kamu keberatan?” tanya Azkar curiga.
“tidak bang..... saya hanya ingin memastikan saja. Baik bang..... saya akan segera berkoordinasi dengan teman-teman yang lain.” Ucap Fajrin kembali membereskan berkas dan segera membawa maket ke ruang kerjanya.
Saat Fajrin hendak masuk ke dalam lift, seseorang menghentikan langkahnya.
“bagaimana presentasinya?” tanya Roby
“Alhamdulillah lancar.... ini mau aku bawa ke tim area satu.” Ucap Fajrin sambil menyerahkan berkas yang dia bawa pada Roby.
“bagaimana kemarin?” mendengar pertanyaan Roby membuat Fajrin terdiam dan hanya menarik nafas panjang seperti berusaha melepaskan beban berat.
“seperti perkiraanku..... " ucap Fajrin berusaha kuat.
“sabar ya..... mungkin dia belum jodohmu" ucap Roby menenangkan Fajrin.
“sudahlah.....tak perlu di pikirkan.... lebih baik bantu aku bawa ini semua ke tim satu.” Pinta Fajrin sambil menarik folding table with wheels masuk ke dalam lift.
Roby mengikuti Fajrin masuk ke dalam lift tanpa bertanya lebih jauh lagi tentang hal kemarin. Roby sahabat paling dekat dengan Fajrin mereka bersahabat sejak di bangku SMA, jadi Roby sangat paham betul kondisinya. Hampir semua permasalah yang Fajrin hadapi Roby akan tahu lebih dulu tapi ada kalanya Fajrin tidak akan menceritakan pada Roby bila masalah itu bisa dia selesaikan sendiri.
Saat pintu lift terbuka di lantai yang mereka tuju, Fajrin segera mendorong folding table yang dia bawa dan keluar lift melangkahkan kakinya ke ruangan tim area satu. Fajrin menyerahkan maket yang dia bawa ke supervisor tim area satu dan menjelaskan beberapa hal penting yang mereka perhatikan. Roby menyerahkan salinan data dan material pada supervisor itu.
“baik pak Fajrin, nanti semua laporan dari lapangan akan saya tambahkan ‘to’ nya ke pak Fajrin dan ‘cc’ juga ke para direksi serta CEO.”ucap supervisor tim area satu.