My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 241 PCOS



“ why the size of my wife's egg cell is smaller than the normal size? And is there some kind of medicine or therapy to normalize the size of the egg? (kenapa ukuran sel telur istri saya lebih kecil dari ukuran normal? Dan apakah ada semacam obat atau terapi untuk menormalkan ukuran sel telur)? “ tanya Fajrin langsung pada intinya.


Davis menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Fajrin yang langsung pada intinya, Davis berpikir kalau Fajrin sebenarnya sudah paham apa yang sedang Divya alami tapi terkesan belum paham.


“ There are many factors that influence this, including genetic or hereditary, resistance to the hormone insulin, hormonal balance disorders. But more often this small egg size occurs in people with PCOS or polycystic ovary syndrome, thyroid gland disorders, or experiencing premature ovarian failure. (ada banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, di antaranya genetik atau bawaan, resistensi terhadap hormon insulin, gangguan keseimbangan hormonal. Tapi yang lebih sering ukuran sel telur yang kecil ini terjadi pada penderita PCOS atau sindroma ovarium polikistik, gangguan kelenjar tiroid, atau mengalami kegagalan ovarium prematur..... )" dokter tersebut terdiam sesaat sebelum melanjutkan penjelasannya.


“ I will give drugs to trigger ovulation clomiphene and letrozole. If this treatment does not work, we do gonadotropin injections. There is a study conducted on 100 infertile women and are PCOS patients, consuming 1,000 mg of calcium and 100,000 IU of vitamin D daily can treat and is recommended to reduce the risk. And this condition may make women with PCOS take a year or more to get pregnant


(saya akan berikan obat untuk memicu ovulasi clomiphene dan letrozole. Jika pengobatan ini tidak berhasil, kita lakukan suntikan gonadotropin. Ada sebuah penelitian yang dilakukan kepada 100 wanita infertil dan merupakan pasien PCOS, mengkonsumsi 1.000 mg kalsium dan 100.000 IU vitamin D setiap harinya dapat mengobati dan direkomendasikan untuk menurunkan resiko. Dan Kondisi ini kemungkinan bisa membuat wanita yang mengalami PCOS membutuhkan waktu satu tahun atau lebih agar bisa hamil.) “ penjelasan dokter kali ini sedikit banyak memberi harapan bagi Divya untuk bisa hamil secara normal tanpa harus melalui program bayi tabung.


Fajrin mengenggam erat tangan Divya, mencoba menguatkan Divya.


“ Then what about the results of Fajrin's examination?


(lantas bagaimana dengan hasil pemeriksaan Fajrin)? “ tanya Davis yang mencoba mengalihkan perhatian Divya.


“ for Mr. Fajrin..... everything is normal, there are no abnormalities in his seeds (untuk pak Fajrin..... semuanya normal tidak ada kelainan pada benih beliau) “ jawaban dokter bukan membuat Divya tenang tapi membuat Divya semakin kuatir dengan pemikirannya sendiri.


Divya takut bila Fajrin meninggalkannya dan menikahi wanita lain demi mendapatkan satu atau dua keturunan.


“ doctor, we will follow all the doctor's advice to overcome my wife's PCOS (dokter kami akan ikuti semua saran dokter untuk mengatasi PCOS istri saya) “ ucapan tegas Fajrin membuat dokter tersebut tersenyum dan segera menuliskan sebuah resep untuk Divya.


Davis dan Divya menatapnya tidak percaya, di dalam otak Divya bergelut berbagai pemikiran yang salah satunya bagaimana mungkin Fajrin bisa lebih bersemangat dari pada dirinya.


“ bagaimanan kalau sampai bertahun tahun Divya tetap tidak bisa memberi ayang keturunan..... apa ayang akan tetap seperti ini atau akan berpaling dari Divya? “ gumam Divya dalam hati.


“ apa yang ada di dalam otak dan hatimu? “ gumam Davis dalam hati.


Fajrin dengan tenang menunggu dokter menuliskan resep untuk Divya, dan Fajrin tidak melepaskan genggaman tangannya. Dalam otak Fajrin saat ini hanya satu, ingin segera keluar dari ruangan ini dan kembali ke Jakarta secepatkanya membuat Divya agar melupakan hasil pemeriksaan ini.


Beberapa detik kemudian dokter menyerahkan resep tersebut, dan mereka pun keluar dari ruangan itu. Fajrin dengan masih tetap menggenggam tangan Divya, mengajaknya melangkah menuju instalasi Farmasi.


“ ayang..... apa yang akan ayang lakukan setelah ini..... sudah jelas Divya yang bermasalah..... sampai kapan pun ayang tidak akan bisa memiliki keturunan dari Divya “ ucap Divya dengan wajah tertunduk sedih.


Davis yang mengikuti mereka dan duduk tepat di belakang Divya sesekali menarik nafas panjang, Davis hanya bisa diam tidak bisa berkata-kata.


Fajrin tertunduk memejamkan kedua matanya dengan kedua tangan masih menggenggam erat kedua tangan Divya.


“ sayang...... semua itu hanya hasil pemeriksaan manusia..... yang berhak menentukan kita memiliki keturunan atau tidak.... hanya ALLAH..... mungkin saat ini ALLAH masih sayang sama kita dan belum ingin memberi kita ujian berupa amanah seorang anak..... bila ALLAH sudah menghendaki kita memiliki amanah seorang anak..... In Syaa ALLAH..... sayang akan hamil cepat atau pun lambat..... semua rezeki kita sudah ada yang mengatur.... tidak akan pernah tertukar satu sama lain “ ucap Fajrin berusaha meyakinkan Divya agar tidak merasa putus asa.


Divya menatap dalam-dalam kedua mata Fajrin mencoba mencari tahu kesungguhan dari semua ucapan suaminya.


“ kalau seandainya dalam sepuluh tahun pernikahan kita dan Divya masih belum juga hamil..... apa ayang akan berpaling dari Divya..... “ ucap Divya dengan pelan.


Fajrin melepas genggaman tangannya dan menangkup kedua pipi Divya yang tertutup rapi kain hijab, membuat Divya menatap kedua matanya.


“ sayang..... bagaimana sayang bisa berpikir seperti begitu....... pegang ucapan ayang.... sampai kapan pun ayang tidak akan berpaling dari sayang...... apa pun yang terjadi nanti..... kita akan menjalani berdua..... “ ucap Fajrin berusaha meyakinkan Divya agar membuang jauh jauh pemikiran itu.


Perlahan lahan Divya mulai tersenyum dan memeluk erat leher Fajrin, Fajrin membalasnya dengan pelukan hangat dan membelai punggung Divya.


“ jadi bagaimana.... sayang mau meminum resep ini atau tidak? “ Divya menjawab dengan menganggukan kepalanya.


Perlahan-lahan mereka mengurai pelukan.


“ ayang beli dulu resep ini “ ucap Fajrin sambil berdiri tapi saat hendak melangkah menuju meja penyerahkan resep, Divya menahan tangan Fajrin.


Fajrin menatap Divya heran.


“ ikut “ ucap Divya singkat dan membuat Fajrin tersenyum.


Mereka melangkah menuju meja penyerahan resep dengan Fajrin menggenggam erat tangan kanan Divya, Divya menyandarkan kepalanya di bahu Fajrin. Beberapa kali Fajrin mencium kepala Divya membuat beberapa orang yang lalu lalang melihat mereka dengan tersipu malu dan tersenyum tipis. Fajrin tidak memperdulikan pandangan orang orang itu.