My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 248 PROSEDUR



Setelah makan malam Divya mengalihkan fokus Fajrin dengan mengajak Fajrin berdiskusi tentang rumah sakit mana yang bisa mereka percayakan untuk melakukan program bayi tabung, mengingat rekam medis dan terapi yang sudah dia lakukan tidak juga memberikan hasil yang baik maka Divya sendiri yang memutuskan akan melakukan program bayi tabung dimana dan tentunya atas persetujuan Fajrin.


Beberapa hari sebelum mereka pergi melakukan konsultasi ke rumah sakit yang Divya tunjuk, mereka melakukan beberapa persiapan di antaranya persiapan mental juga fisik mengingat mereka akan menghadapi proses yang cukup melelahkan.


Pada hari yang sudah mereka sepakati bersama, Fajrin juga sudah mendapatkan persetujuan cuti dari Azkar.


“ sudah siap? “ pertanyaan Fajrin membuat Divya semakin gugup.


Divya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Fajrin, dengan langkah kaki yang gugup Divya masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Fajrin selalu menggenggam tangan kanan Divya, perjalanan menuju rumah sakit yang Divya pilih membutuhkan waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Dan saat sampai di rumah sakit semakin terlihat jelas wajah gugup Divya. Setelah melakukan proses administarasi, mereka duduk di depan sebuah ruang dokter menunggu seorang perawat memanggilnya namanya.


Perasaan cemas gelisah gugup menyelimuti hati Divya, ternyata bukan hanya Divya yang merasa demikian. Fajrin pun merasa gugup karena ini adalah usaha terberat juga sangat besar bagi mereka, berat karena proses yang melelahkan dan karena prosentasi keberhasilan tidak pasti.


Tiba giliran Divya dan Fajrin untuk masuk ke ruang dokter, setelah Divya dan Fajrin bergantian menjelaskan rekam medis masing-masing dokter tersebut terdiam seperti mencoba menganalisa apa yang sudah Divya lakukan.


“ karena anda sudah mencoba melakukan terapi dengan mengonsumsi obat dan program bayi tabung sudah menjadi keputusan final anda berdua.... saya akan menjelaskan beberapa hal sebelum kami melakukan proses pengambilan sel telur Ibu Divya dan benih Bapak Fajrin. “ ucap dokter tersebut sambil meraih sebuah kertas yang memperlihatkan prosedur apa saja yang akan mereka berdua jalani.


“ pada tahap pertama ini kami akan melakukan pemantauan masa subur bu Divya sebelum masa periode, kami akan memberikan antagonis GnRH seperti Ganirelix atau antagonis GnRH seperti Lupron. Obat ini berupa obat injeksi atau suntik dan yang memungkinkan kami untuk mengontrol siklus masa subur atau ovulasi Ibu saat memulai program bayi tabung..... tujuan kami melakukan ini..... kami ingin mengetahui siklus periode bu Divya. “ jelas Dokter tersebut.


Divya menganggukkan kepala memahami maksud dari penjelasan dokter tersebut.


“ kemudian di tahap simulasi atau pemantauan ovarium..... karena setiap ovarium hanya memproduksi satu sel telur setiap bulan.... maka saat menjalani program ini anda akan mengkonsumsi obat selama delapan sampai empat belas hari. Obat ini untuk mendorong folikel di dalam ovarium dan untuk memperbanyak jumlah produksi sel telur. Obat ini hanya bisa anda konsumsi dengan proses injeksi juga...... kurang lebih satu hingga empat kali dalam sehari selama satu minggu hingga sepuluh hari anda harus melakukan injeksi obat ini. “ penjelasan dokter kali ini membuat bulu-bulu halus di tangan, tengkuk bahkan dada Fajrin menjadi merinding.


Fajrin tidak sanggup melihat Divya yang setiap hari harus melawan rasa takut juga rasa sakit di tusuk jarum.


“ proses ini akan menghasilkan sel telur dalam jumlah banyak karena kami tidak hanya mengambil satu atau dua sel telur saja..... kami akan mengambil sel telur sebanyak mungkin yang bisa kami ambil untuk kami buahi dengan benih pak Fajrin. Semakin banyak sel telur matang yang kami ambil semakin besar kesempatan Ibu untuk hamil...... kami akan memantau pertumbuhan dan perkembangan folikel dengan cara melakukan tes darah dan USG setiap hari.... kami ingin memastikan kadar esterogen terutama estradiol.... untuk memastikan ovarium dalam kondisi tidur ..... “ penjelasan dokter membuat kepala Fajrin menjadi pening.


“ kami akan melakukan pemantau folikel ibu Divya setiap hari..... kami harap anda berdua benar-benar berkomitmen dalam melakukan program bayi tabung ini..... karena bila satu hari saja kami tidak melakukan pemantauan fokilel ibu Divya kami tidak bisa memastikan apakah dosis injeksi antagonis GnRH sudah sesuai atau belum.... juga kadar esterogen terutama estradiol sudah sesuai atau belum “ jelas dokter lebih lanjut.


Fajrin menggenggam erat tangan kanan Divya memberi isyarat bahwa dia akan menemani Divya bila setiap hari harus melakukan pemeriksaan disini.


“ sebelum proses pengambilan sel telur.... kami akan memberikan injeksi hcG untuk memicu proses kematangan oosit atau sel telur di dalam ovarium..... kami akan berikan injeksi tersebut bila folikel sudah berukuran delapan belas sampai dua puluh milimeter dan memastikan kadar estradiol dalam darah sudah lebih dari dua ribu pikogram dalam mililiter. Pemberian injeksi hormon hcG ini sebanyak satu kali dan harus pada waktu yang tepat. Jika terlalu dini, bisa-bisa telur tidak cukup matang. Tapi bila terlalu lama, telur akan terlalu tua dan tidak bisa dibuahi dengan baik. Maka dari itu, perlu menggunakan USG untuk melihat kapan waktu yang tepat dalam melakukan injeksi hormon ini..... jadi kami harap anda berdua benar-benar mengikuti semua prosedur ini dengan displin. “ penjelasan dokter kali ini membuat Divya dan Fajrin saling memandang.


Seperti sedang berbicara dengan kedua mata mereka, melihat mereka berdua saling memandang membuat dokter tersebut tersenyum.


“ bagaimana apa.... penjelasan saya masih ada hal yang belun anda berdua pahami? Atau mungkin anda berdua merasa bahwa proses program bayi tabung terlalu panjang dan menyita banyak waktu anda berdua.....? “ pertanyaan dokter membuat Fajrin menarik nafas panjang.


Benar apa yang dokter itu katakan, Fajrin mau pun Divya tidak mengira bahwa proses bayi tabung akan serumit dan sepanjang ini. Dengan tangan kanan yang masih di genggam Fajrin, Divya dengan mantap menatap dokter.


“ kami siap menjalani program bayi tabung “ ucap Divya dengan mantap dan yakin.


Fajrin tersenyum karena Divya menjawabnya dengan yakin.


“ kalau anda berdua benar-benar sudah berkomitmen melakukan program bayi tabung ini.... maka tahap selanjutnya adalah pengambilan sel telur.... proses ini kami lakukan setelah tiga puluh empat sampai tiga puluh enam jam setelah kami memberikan ibu Divya injeksi hormon hcG.... sebelum proses pengambilan sel telur, kami akan lakukan anastesi lokal agar ibu Divya tidak merasakan sakit saat kami memasukkan alat untuk mencapai folikel dan melakukan pengambilan sel telur. “ kepala Fajrin menjadi pening kembali.


Dalam otak Fajrin sudah tidak dapat menghitung berapa kali istrinya harus menghadapi jarum dan berapa kali harus melawan rasa takut terhadap jarum.


“ setelah proses ini selesai..... kami akan meminta anda untuk beristirahat beberapa jam karena proses ini memiliki beberapa efek samping.... seperti mual.... kembung.... diare..... nyeri atau merasa tidak nyaman di area perut.... bila Ibu Divya merasakan hal itu.... kami akan segera melakukan tindakan.... tapi ibu tidak perlu kuatir karena efek ini hanya di alami oleh sepuluh persen wanita yang menjalani program bayi tabung “ pada awalnya raut wajah Fajrin menjadi cemas tapi saat dokter mengatakan kemungkinan sepuluh persen, raut wajah Fajrin berubah menjadi lebih tenang.


Fajrin tidak tahu apakah hal ini akan membuat Divya merasa nyaman atau tidak, tapi melihat raut wajah Divya yang terlihat sangat antusias membuat Fajrin tersenyum tipis.