
Semenjak Divya mendapatkan pesan singkat dari Dipta tanggal keberangkatan Fajrin yang bertolak ke Jaipur dan tinggal disana selama lima belas bulan ke depan, Divya di sela-sela jeda jadwal pemotretannya selalu melihat jadwal penerbangan komersial Jakarta New Delhi. Divya berpikir bahwa Fajrin akan menggunakan penerbangan komersial dan dia memperkirakan kalau Fajrin akan mengambil penerbangan malam dan itu berarti pagi hari Fajrin sudah sampai di New Delhi.
Pagi-pagi sekali Divya mengetuk pintu unit yang di tempati oleh kedua pengawalnya Bibhu dan Liam, membuat kedua pengawal heran.
“drive me to the airport now.... hurry (antarkan aku ke bandara sekarang.... cepat) “ ucap Divya dengan semangat sambil menarik-narik lengan Liam.
Liam yang hanya mengenakan celana santai dan kaos tanpa kerah tanpa lengan hanya sempat meraih sebuah jaket berbahan jeans dan mengikuti langkah kaki Divya, tepat pukul sembilan waktu setempat Divya sudah berdiri di depan pintu kedatangan pesawat yang membawa penumpang dari Jakarta dengan satu kali transit di bandara Changi Singapore. Divya dengan gugup dan cemas menanti kemunculan sosok yang selama ini memenuhi pikirannya. Saat pengeras suara menyebutkan nomor penerbangan yang Divya nantikan, segera saja Divya melepas kacamata hitam yang dia pakai merapikan rambut dan pakaiannya juga menambah sedikit bedak di kedua pipi dagu dan dahinya.
Sudah satu jam lebih setelah informasi kedatangan nomor penerbangan yang Divya tunggu, tapi tidak terlihat sedikit pun sosok yang dia nantikan. Divya mulai kesal dan berpikir bahwa Dipta berbohong, Divya segera menghubungi Dipta tanpa memperdulikan bagaimana posisi Dipta saat ini.
“kenapa tidak di angkat sih....” gumam Divya kesal.
Divya tetap mencoba menghubungi Dipta, hingga setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit dan setelah menghubungi berkali-kali akhirnya Dipta menerimanya.
“abang berbohong ya.... Divya sudah menunggu selama dua jam lebih tapi kak Fajrin tidak kelihatan sama sekali" ucapan Divya yang sangat kesal dan tidak mau di sela sama sekali.
“Div..... aaah...... na....nti a... bang tel..... pon .... lagi.....” suara yang Divya dengar membuat otak Divya berpikir kemana-mana.
Selanjutnya bukan hanya suara Dipta yang terputus-putus dan terdengar aneh yang Divya dengar tapi suara desahan Ningsih memanggil Nama suaminya, membuat Divya segera mematikan ponselnya.
“gila.... lagi making love terima telepon..... mana tidak di matikan pula..... waaaa...... kemana kak Fajrin" gumam Divya dengan kesal dan segera menutup mulutnya karena hampir saja berteriak.
Divya segera merapikan diri memakai kembali kacamata hitam dan berjalan kembali ke area parkir, dengan kesal Divya masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan dari bandara menuju apartemen Divya mengumpat memaki Dipta membuat Liam menutup telinganya dengan earphone.
Sampai di depan unitnya Divya membentak Liam untuk segera membukakan pintu unitnya, Liam sangat hapal betul kebiasaan Divya bila sedang bad mood. Liam membuka pintu unit dan belum sempat mengucapkan kata-kata, Divya sudah membanting dengan keras pintu unitnya hingga membuat Liam sedikit tersentak dan membuat Elena juga Joana keluar mencari tahu apa yang terjadi tapi hanya mendapati Liam yang diam tertegun.
Meskipun badan kedua pengawal Divya tinggi tegap tanpa lemak dan massa ototnya hampir mendekati lima puluh persen tapi bila harus menghadapi Divya yang bad mood, maka Liam lebih memilih untuk menjauh karena Divya bisa melemparkan apa saja yang ada di genggaman tangannya kesembarang tempat.
“What is wrong? What else would she? (ada apa? Kenapa lagi dia?)” tanya Joana heran sambil merapikan beberapa kuas make up yang dia pegang.
Liam hanya mengangkat kedua bahunya sebagai isyarat ketidaktahuannya karena memang dia tidak tahu. Elena menggelengkan kepalanya heran dan meminta Liam untuk bersiap karena jam dua siang akan ada pertemuan yang mengharuskan kehadiran Divya. Sementara Divya sudah menenggelamkan kepalanya di atas bantal dan berteriak kencang memaki-maki Dipta, selama kurang lebih dua puluh menit Divya meluapkan kekesalannya pada bantal tiba tiba ponselnya berbunyi. Dengan tangan kirinya Divya meraba-raba mencari ponsel yang tadi dia letakkan di ranjang asal-asalan.
“halo..... siapa ini.....” bentak Divya membuat Dipta menjauhkan ponsel dari daun telinganya.
“......”
“bang...... abang bohong..... Divya sudah menunggu dua jam lebih di Terminal kedatangan international tapi pesawat penerbangan malam dari Cengkareng transit Changi tidak ada satu pun sosok kak Fajrin.” Cerita Divya tanpa memberi jeda Dipta untuk menjelaskan.
“......”
“terminal pesawat komersial" ucap Divya percaya diri tapi membuat Dipta tertawa terbahak-bahak.
“......” Divya semakin kesal karena merasa di bohongi Dipta dan semakin jengkel.
“......” Divya masih tidak percaya mendengar penjelasan Dipta
“pasti mau bohong lagi .....sudahlah kalau abang hanya mau jahilin Divya.......lebih baik jangan bagi info apa pun deh....” ucap Divya semakin kesal.
“.......” Divya mendengar suara Dipta berbicara dengan Ningsih istrinya membuat Divya sedikit terkejut.
“abang...... abang serius sudah menikah sama Black pearl?” Divya heran dan membuat Dipta tertawa lagi.
“......”Divya membulatkan kedua matanya tidak percaya mendengar cerita Dipta.
“private jet? Serius? Kalau begitu hari ini pasti akan Fajrin sudah ada di Jaipur..... “ tanya Divya meyakinkan diri.
“.....”
“sudah..... tapi tidak ada balasan" ucap Divya sambil cemberut.
“.......”
“tidak" ucap Divya pelan membuat Dipta yang berada di ujung sambungan menepuk dahinya.
“......” Divya mendengarkan penjelasan Dipta hanya bisa membulatkan kedua bibirnya.
“iya.... paham..... maaf.... pantas pesan Divya tidak ada respon" ucap Divya menyesali kebodohannya.
“......” Divya memutus sambungan tanpa membalas salam Dipta.
Saat Divya memikirkan kalimat apa yang akan dia kirim sebagai perkenalan dan untuk membuka komunikasi pertama kali dengan pujaan hatinya, tiba-tiba Elena masuk dan membuyarkan lamunannya. Seketika membuat Divya terkejut dan menjadi kesal kembali karena Elena mengganggu konsentrasinya.
“ada apa?” tanya Divya dengan kesal.
“kamu harus segera bersiap-siap pukul empat sore kita harus bertemu dengan kepala strategi dan marketing” Elena yang sudah mendorong pelan Divya untuk segera membersihkan diri.
Kurang lebih empat puluh lima menit Divya menghabiskan waktu untuk membersihkan diri, karena akan bertemu dengan pemilik Kalyan maka hari ini semua pakaian dan aksesoris yang dia pakai akan di atur oleh para stylist. Divya mengenakan gaun malam berwarna hijau gelap tanpa lengan dengan memperlihatkan area sekitar kedua bahunya yang mulus, panjang gaun hingga menutupi kaki dengan belahan di samping kanan setinggi paha dan seorang fashion stylist menyempatkan semua coat berbahan wool untuk menutupi bahunya.
Tepat pukul tiga lebih tiga puluh menit Divya dan Elena serta para tim-nya sampai di sebuah restauran mewah, seperti biasa semua mata kaum Adam memandangnya dengan kagum dengan kecantikannya. Elena mengatakan sesuatu pada seorang staff restauran dan berjalan mengikuti staff tersebut, begitu juga dengan Divya dan para tim stylist juga kedua pengawalnya. Derek fashion stylist-nya mengambil coat dan merapikan sisi belakang gaun yang dia pakai. Di sebuah ruangan khusus sudah duduk manis pimpinan talent management tempat Divya bernaung Arbab, dan seperti biasa setiap kali Arbab bertemu dengan para modelnya dia akan menjabat tangan dan mencium punggung tangan model tersebut.
“how are you (bagaiman kabarmu)?” tanya Arbab basa basi.
“fine...... who will we meet today (baik...... siapa hari ini yang akan kita temui)?” tanya Divya berusaha menyembunyikan kekesalnya karena gagal melihat Fajrin.