My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 156 MELURUSKAN MASA LALU



Satu persatu teman masa SMA Fajrin keluar dari restauran syafril, tapi Viana masih saja duduk. Sementara Syafril, Ferri, Roby dan Fajrin yang tentunya masih menggengam tangan kanan Divya mengantar teman-teman mereka hingga di area parkir. Setelah semua teman-teman mereka pulang, tinggallah mereka berempat juga Divya masuk kembali ke dalam restauran.


“ Fajrin.... kamu harus menceritakan semua bagaimana coklat itu ada di tangan Viana “ ucap Syafril sambil menarik 2 kursi untuk dirinya dan Fajrin duduk.


Akhirnya mereka berempat duduk kembali dan Viana ikut bergabung dengan mereka. Roby dan Fajrin menarik nafas panjang hampir bersamaan.


“ sebenarnya bukan maksud Fajrin memberikan coklat itu pada Viana, Fajrin sengaja memegang coklat itu supaya dari jauh terlihat oleh adiknya.... tapi karena yang melihat duluan coklat itu adalah Viana..... dan kita tahu kalau Fajrin pernah di tolak Viana, mungkin Viana berpikir kalau Fajrin masih mengejarnya dengan memegang coklat untuknya “ jelas Roby seingatnya.


“ bagaimana kamu bisa tahu kalau Fajrin tidak berniat memberikan pada Viana? “ tanya Syafril tidak percaya.


“ aku tahu karena dia pinjam uang sama Ferri dan Ferri bilang ke aku kalau Fajrin pinjam uang buat beli coklat untuk adiknya.... ya..... meski pun ukuran coklatnya tidak sebesar yang kamu beli.... tapi setidak-tidaknya coklat itu sampai di tangan adiknya. “ jelas Roby sambil melempar kulit kacang ke Syafril.


“ oooo begitu.... pantas setiap kali bertemu adiknya selalu saja bilang kalau aku pelit.... coklat sudah sebesar itu masih di bilang pelit.... akhirnya aku belikan dua batang coklat. “ ucap Syafril mulai paham.


“ ayang kenapa tidak bilang kalau coklat itu bukan buat dia tapi buat Nara “ bisik Divya yang masih terdengar oleh Viana.


Viana masih tidak percaya dengan ucapan Roby.


“ bagaimana ayang mau menjelaskan pada dia.... dia.... setelah mengambil coklat dari tangan ayang..... langsung pergi..... sambil bilang ‘Fajrin aku terima coklatmu tapi aku menolak cintamu’..... sudah begitu keras pula suaranya..... malu ayang.... “ cerita Fajrin dengan sedikit kesal mengingat masa lalu.


“ hahahaha...... kalian bertiga ini lucu.... kenapa sih..... masalah coklat saja sampai selama ini baru selesai.... hutang dia saja sudah lunas waktu pertama kali terima gaji.... “ suara keras Ferri membuat Fajrin menggelengkan kepala.


Viana yang mulai merasa malu karena selama ini telah salah paham pada Fajrin hanya bisa menatap Fajrin dengan penuh pertanyaan, tapi tidak menurunkan niatnya untuk mendekati Fajrin. Viana justru semakin semangat untuk mendekati Fajrin.


“ bukan begitu..... kalau aku tahu dari awal akan enak.... telinga kami bertiga jadi selamat tidak kena jewer ibunya “ ucap Syafril kesal.


“ hampir setiap hari kami kena jewer ibunya..... hanya karena mulut adeknya yang terlalu jujur “ luapan kekesalan syafril pada Nara terucapkan dengan lancar.


Ferri tertawa keras mendengar pengakuan Syafril, karena selama ini Ferri berpikir kalau Syafril menyukai adiknya Fajrin.


“ harusnya kalian ikut senang punya teman yang adiknya jujur..... kalau tidak uang saku kalian habis buat hal-hal tidak penting “ ucap Ferri sambil menahan tawa melihat syafril yang kesal.


Divya yang sedari tadi mendengarkan mulai tertarik untuk mengeluarkan suara.


“ memangnya kenapa kalian memberi Nara coklat? “ seketika ketiga mata para pria teman Fajrin menatapnya dengan terkejut.


Sedangkan Fajrin meremas tangan Divya membuat Divya meringis.


“ Fajrin..... kamu belum menceritakan padanya? “ tanya Ferri bingung.


“ ayang sekarang saja “ pinta Divya dengan manja membuat Fajrin ingin sekali mencubit pipi Divya tapi hanya bisa meremas tangannya sendiri.


Ketiga pria memandang Fajrin seperti memaksa Fajrin untuk bercerita masa-masa kenalan mereka waktu SMA.


“ Baiklah ayang ceritakan..... Divya mau mulai dari mana? “ ucap Fajrin dengan lemas.


“ dari ayang di tolak sama Viana “ ucapan Divya membuat Viana menatapnya dengan tajam.


Fajrin menarik nafas panjang dan mulai menceritakan awal mula dirinya di tolak oleh Viana hingga setiap kali memegang coklat pasti Viana ambil sampai bagaimana mereka bertiga selalu mendapat hukuman dari ibunya Fajrin. Viana mendengarkan cerita Fajrin dengan tidak percaya yang terkadang membuat dia ingin menyela cerita Fajrin, tapi Roby selalu memasukkan makanan kecil ke mulut Viana setiap kali Viana akan mengeluarkan suara. Perlakuan Roby pada Viana membuat Ferri menahan tawa, tapi saat melihat perlakuan Fajrin membelai kepala Divya setiap kali nama Viana di sebut membuat Ferri tersenyum bangga padanya.


“ jadi selama ini apa yang kita bertiga pikirkan bahkan hampir satu kelas pikirkan tidak benar semua? “ Fajrin menganggukan kepala menjawab pertanyaan Ferri.


“ Bro.... lantas kamu kemanakan surat itu kalau Viana menolak..... “ tanya Roby yang mulai curiga.


“ aku kembalikan ke pemiliknya..... aku bilang apa yang Viana bilang..... memang membuat Sulthon sedih tapi bagaimana lagi aku hanya kurir surat cinta Sulthon.... “ Divya tersenyum penuh kemenangan menatap Viana yang sekarang terlihat lemas karena sudah salah paham.


“ tapi setelah itu kenapa aku tidak melihatnya di sekolah..... apa dia sedih dan pindah sekolah.... “ tanya Syafril sambil menyerahkan segelas teh hangat untuk Fajrin dari pegawainya.


Fajrin menarik nafas panjang merasa bersalah pada Sulthon.


“ Sulthon pindah sekolah ke Malaysia..... karena ayahnya di pindah ke KL.... kami masih sering saling mengirim pesan “ ucap Fajrin sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Fajrin memperlihatkan pesan singkat yang Sulthon kirim, Roby mengambil alih ponsel Fajrin dan membaca pesan singkat Sulthon. Tapi saat Fajrin hendak mengambil kembali ponselnya, Ferri menolak tangan Fajrin dan mengambil ponsel Fajrin dari tangan Roby, yang akhirnya ponsel Fajrin berakhir di tangan Syafril dan membuat Viana tergelitik untuk ikut melihatnya.


“ aku cukup tahu dirilah.... untuk menyukai teman wanita apa lagi seperti Viana.....kalian tahu sendiri aku masuk SMA itu bagaimana..... kalian berangkat sekolah sudah membawa mobil atau paling tidak motor CBR..... sedangkan aku pakai sepeda..... aku cukup tahu diri status sosialku di lingkungan sekolah. “ ucapan Fajrin yang apa adanya membuat Roby menepuk bahu Fajrin.


“ Vi.... sekarang sudah jelas bukan..... siapa yang sebenarnya menyukaimu..... jadi sebaiknya jangan menjadi orang ketiga di hubungan mereka berdua “ ucap Roby sambil menunjuk Fajrin dan Divya.


Divya tersenyum senang juga bahagia mendengar cerita Fajrin dan teman-temannya. Fajrin sekali lagi membelai kepala Divya membuat Divya menyandarkan pelipisnya di bahu kiri Fajrin. Syafril dan Ferri terdiam melihat Viana yang tadi sangat percaya diri tapi menjadi tertunduk lemas saat sudah mengetahui kebenaran yang selama ini Fajrin simpan.


“ kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau surat itu dari Sulthon? “ suara lemas Viana membuat Fajrin menghentikan belaian tangannya di kepela Divya.


“ Sulthon yang memintaku merahasiakan semua itu..... kalau aku hari ini baru menceritkan pada kalian..... itu juga atas izin Sulthon.... kalau dia tidak mengizinkan.... aku tetap akan menyimpan rahasia itu sampai Sulthon mengizikan aku menceritakan pada kalian..... Syafril buka 6 singkat dari Sulthon yang tadi malam “ ucap Fajrin dengan santai


Syafril membuka kembali pesan singkat dari Sulthon dan menunjukkan pada Viana, seketika Viana menangis seperti menyesali semua ini. Tak ada yang tahu kenapa Viana menjadi seluka ini tapi Roby hanya bisa menenangkan dengan membelai punggung Viana.