
Fajrin mempresentasikan desainnya di hadapan para tamu undangan jamuan makan malam Keemaya management kurang lebih selama lima puluh menit, para petinggi Rosewood Group menatap Fajrin yang sedang melangkah kembali ke meja tempat dia duduk dengan tatapan bangga dan kagum dengan kemampuan arsitek pilihan Radha.
"you did a good job i'm proud of choosing you (kamu melakukan pekerjaan dengan baik, saya bangga dengan memilihmu)" ucap Radha sambil menepuk bahu Fajrin.
"I'm proud to know you too (saya juga bangga mengenal kamu)” ucap Sonia membuat Timothy dan Alex mengacungkan kedua ibu jarinya pada Fajrin.
Fajrin sangat malu mendengar semua pujian itu, dia menundukkan kepala dan mengusap tengkuknya pelan. Sementara Divya semakin mantapnya dengan bangga bahwa pria yang sangat dia kagumi sangat dia inginkan bisa membuat seisi ruangan bertepuk tangan mendengarkan semua penjelasannya.
Beberapa menit kemudian sejumlah pramusaji mulai menyajikan beberapa menu makanan di setiap meja para tamu undangan tanpa terkecuali. Dan ini berarti bahwa Fajrin tidak bisa memakannya, para petinggi Rosewood juga Krishna sangat paham bahwa Fajrin dan tim Jakarta tidak bisa menyantap hidangan ini.
"We understand, you can't eat this and if you want to go out for a while.... just come out..... we don't mind (kami paham, kamu tidak bisa memakan ini dan kalau kamu ingin keluar sebentar.... silahkan keluar saja..... kami tidak keberatan)" ucap Sonia yang melihat jelas wajah Fajrin yang terlihat gusar melihat menu yang mereka sajikan.
"thank you, I'll excuse myself for a moment (terima kasih, saya permisi keluar sebentar)" ucap Fajrin sambil membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat pada para petinggi Rosewood dan Keemaya.
Fajrin melangkah keluar ballroom di ikuti keenam tim jakarta, mereka masuk ke dalam lift dan menuju kamar masing-masing. Mereka menikmati menu makan malam yang telah Jatinra siapkan yaitu seloyang besar yang tertata beberapa mangkok kecil yang berisi Dal Methi, Palak Chanan Dal, Aloo Gobhi, Bhindi Masala, Nasi Jeera, Aloo Matar, Matar Paneer, Aloo Patta Gobi, Baigan Ka Bharta, dan Mong Dia Khichdi. Selesai makan Fajrin membawa loyang kosong ke kamar Irvan, entah mengapa dia harus membawa loyang ini keluar dari kamarnya. Selepas makan Fajrin turun ke bawah tapi tidak segera masuk ke dalam Ballroom karena para tamu undangan masih menikmati makan malam mereka.
Fajrin melangkah keluar ke sebuah taman kecil tepat di samping ballroom yang tak jauh dari Resepsionis. Menikmati langit malam kota New Delhi tanpa bintang satu pun seperti langit Jakarta yang biasa dia lihat, gelap tak terlihat satu pun bintang. Saat Fajrin menikmati itu semua tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara seorang wanita yang berteriak dengan bahasa yang tidak dia mengerti, Fajri mencoba mencari asal suara dengan berkeliling sekitar taman dan mendapati dua orang pria bertubuh besar sedang menarik paksa seorang wanita yang mengenakan pakaian Saree.
Fajrin mendekat pelan melihat apa yang akan mereka lakukan, saat pelan-pelan memastikan apa yang akan kedua pria itu lakukan Gultom dan Ryan mendekatinya. Membuat Fajrin sedikit terkejut yang kemudian memberi tanda dengan jari telunjuknya untuk diam. Kedua pria itu masih menarik paksa wanita tadi dan menghadapkan pada seorang pria yang sedang memegang sebuah gelas dengan cairan yang berwarna merah gelap. Pria itu menjepit kedua pipi wanita itu dengan tangan kirinya dan memaksanya meminum minuman dari gelas yang dia pegang dengan tangan kanan, sekeras apa pun wanita itu berontak tetap saja tidak merubah posisinya yang kedua tangannya sedang di pegang oleh dua orang pria berbadan tegap.
segelas minuman sudah masuk ke dalam mulut wanita itu, saat pria itu membalikkan badannya membelakangi wanita itu. Tanpa pria itu sadari wanita itu menyemburkan sisa minuman yang berada di mulutnya tepat mengenai rambut belakang pria itu. Dan pria itu seketika menampar keras pipi kiri wanita itu, Fajrin merasa geram melihat seorang wanita di perlakukan kasar kedua tangan Fajrin mengepal keras hingga ujung-ujung jarinya merah karena tekanan di telapak tangannya. Begitu juga dengan Gultom dan Ryan, mereka sangat marah melihat wanita itu di tampar. Dengan memberi isyarat tangan pria tadi menyuruh kedua pria berbadan tegap membawa wanita itu, Fajrin dan dua rekannya mengikuti mereka saat sebelum mencapai pintu yang menghubungkan taman dan lobi. Fajrin segera menarik kerah belakang salah satu pria berbadan tegap dan memberikan pukulan keras di pelipis kiri dengan tangan kanannya sehingga darah segar mengalir dari kelopak matanya yang sobek. Gultom tak tinggal diam dia ikut memukul satu pria lagi sedangkan Ryan menahan tubuh wanita itu karena tidak sadarkan diri, setelah kurang lebih lima belas detik baku hantam antara Fajrin dan Gultom dengan kedua pria tadi. Tiba-tiba wanita itu tersadar dan melihat sosok yang dia sangat kenal.
“kak Fajrin" ucap wanita itu pelan tapi terdengar cukup jelas di telinga Ryan.
“pak..... dia mengenal bapak" ucap Ryan sedikit keras memanggil Fajrin dan membuat Fajrin memberikan satu pukulan keras tepat di tulang hidung lawannya dan membuatnya tersungkur ke belakang.
Fajrin menghampiri Ryan dan memegang tubuh Divya yang lemas, membopongnya seperti membopong seorang mempelai wanita.
Gultom mengatur nafas membuat Ryan menepuk punggungnya.
“kalian bantu aku membawa wanita ini... cepat sebelum bos mereka datang" ucap Fajrin tegas dan membuat Gultom serta Ryan segera membuka pintu penghubung taman dan lobi.
Tak menunggu lama untuk masuk lift sedetik setelah Ryan menekan tombol lift, Fajrin segera masuk di ikuti Ryan dan Gultom.
“bapak mengenal wanita ini?” tanya Ryan ragu.
“tidak" jawab Fajrin singkat membuat Gultom dan Ryan saling memandang satu sam lain.
Pintu lift terbuka Ryan dan Gultom segera keluar lift juga Fajrin, tepat di depan pintu kamarnya Fajri berhenti meminta gultom untuk membuka pintu kamarnya. Mereka segera masuk, Fajrin meletakkan tubuh wanita itu di ranjang.
“sekarang apa yang harus kita lakukan pak? Kita tidak mengenal wanita ini?” tanya Ryan bingung.
“kalian temui pak Krishna dan Jatinra.... minta mereka kemari” ucap Fajrinsm sambil membasuh kedua tangannya yang sedikit berdarah karena baku hantam tadi.
Gultom dan Ryan segera keluar kamar dan menemui Krishna juga Jatinra, sementara Fajrin menutupi tubuh wanita itu dengan sebuah selimut. Saat Fajrin hendak melangkah keluar tiba-tiba wanita itu bersuara.
“kak Fajrin.... jangan pergi" ucap wanita itu pelan tapi cukup terdengar dengan jelas oleh Fajrin.
Fajrin melihatnya dengan heran mencoba mengingat-ingat siapa wanita yang saat ini terbaring lemas di ranjang yang seharusnya menjadi tempatnya beristirahat malam ini, Fajri masih belum menemukan jawabannya mengusap kasar wajahnya dan melangkah keluar kamar. Di depan pintu kamar Fajrin berdiri termenung memikirkan siapa wanita tadi.
“aku tidak mengenal satu pun wanita disini..... tapi dengan jelas dia menyebut namaku.... kalau pun dia salah satu tamu di acara jamuan makan malam tentu dia akan memanggil dengan sebutan ‘Mr’ bukan ‘kak’ " gumam Fajrin bingung.
“dia menyebutku ‘kak’ pasti dia bukan wanita India? Tapi kenapa dia memakai Saree?” gumam Fajrin semakin pusing memikirkan siapa wanita itu.