
Fajrin berada di Oslo selama satu minggu setiap pagi selepas shubuh waktu Oslo, Fajrin menyempatkan menghubungi Divya yang tentunya di Jakarta sudah masuk siang hari. Fajrin menceritakan bagaimana keadaan Nara, bagaimana Nara bisa keguguran hingga apa yang sudah Nara lakukan untuk membantu Afkar meski pun tanpa sepengetahuan Afkar. Bahkan Fajrin menceritakan rencananya untuk mengajari Nara sedikit ilmu bela diri hanya untuk berjaga-jaga bila ada orang yang berniat jahat padanya. Fajrin juga menceritakan selama menemani Nara jalan-jalan, beberapa kali dirinya melihat sosok yang selalu mengikuti Nara.
“ ayang.... bilang saja sama berua.....eh... Afkar kalau ada orang yang mencurigakan mengikuti Nara..... biar berua.... aaah... Afkar tahu kalau adik dalam bahaya “ ucap Divya sambil menempelkan gaun yang akan dia pakai di acara lamaran nanti.
Fajrin tersenyum tipis melihat wajah Divya yang kikuk menyebut nama Afkar, dan tersenyum bahagia melihat Divya yang menunjukkan gaun tersebut dan Fajrin mengacungkan ibu jarinya pada Divya.
“ cantik “ ucap Fajrin singkat.
“ cantik orangnya apa gaunnya? “ tanya Divya sedikit menggoda Fajrin.
“ gaunnya cantik..... orang lebih cantik lagi “ ucap Fajrin mencoba merayu Divya.
“ ayang belajar merayu dari siapa? Berua..... Afkar? Mana bisa pria itu merayu..... “ ucap Divya sambil menggantung gaun di sebuah hanger.
Fajrin sengaja tidak memberi tahu Nara bahwa sepulang dari Oslo akan melamar seorang wanita untuk menjadi kakak iparnya, Fajrin tidak ingin Nara melakukan penerbangan panjang di masa pemulihannya. Tapi Fajrin menceritakan rencananya ini pada Afkar dan meminta Afkar agar jangan mengatakan rencananya ini karena Fajrin ingin memberinya kejutan dengan acara pernikahannya.
Sebenarnya Nara mendengar apa yang Fajrin ceritakan pada Afkar karena saar Fajrin sedang berbicara dengan Afkar, Nara berada di balik pintu dan membuat Nara merasa sedih karena musibah ini membuat kakaknya menjadi jauh dengan wanita yang sudah membuatnya bahagia.
Beberapa jam sebelum Fajrin berangkat ke bandara Gardermoen untuk kembali ke Jakarta, Nara sengaja membelikan Fajrin sebuah perhiasan sebuah kalung Moonlight grape emas 22 karat karya George Jensen. Fajrin paham percuma saja menolak pemberian Nara, jadi Fajrin memilih diam dan membiarkan Nara memilih untuk dirinya. sebelum kembali ke rumah Afkar, Fajrin menceritakan wanita yang akan dia lamar besok tapi tetap tidak mengatakan pada Nara bahwa besok akan melamarnya. Fajrin hanya menceritakan bagaimana sosok Divya di matanya.
Afkar dan Nara mengantar Fajrin ke bandara karena Afkar sudah meminta Lief mempercepat jadwal penerbangan Sundth Air ke Jakarta mengingat begitu sampai di Jakarta, Fajrin harus segera melamar Divya.
JAKARTA
Dari sejak pagi Roby sudah harus melakukan negosiasi dengan pihak Sundth Air Jakarta agar melakukan koordinasi dengan Sundth Air Oslo terkait keberangkatan Fajrin, tapi karena Roby tidak terbiasa melakukan negosiasi dengan Sundth Air Oslo. Hingga menjelang siang waktu belum memberi kabar pada Fajrin.
“ bagaimana? “ pertanyaan mengerikan Azkar membuat Roby merinding dan keluar keringat dingin.
“ belum bisa pak..... Sundth Air Oslo belum mendapatkan informasi dari asisten pak Afkar. “ ucap Roby sekenanya.
Azkar menyisir kasar rambutnya, karena bila sampai sore belum ada kepastian keberangkatan Fajrin bisa di pastikan kedua orang tuanya akan mendudukkan dia. Tapi karena Afkar bergerak cepat dan Lief dengan cepat mendapatkan jadwal penerbangan untuk Fajrin, Azkar yang menerima pesan singkat dari Afkar sedikit merasa lega.
Menurut perhitungan Azkar kalau jadwal take off private jet Sundth Air dari Oslo pukul 8 malam berarti pukul 4 pagi hari waktu Jakarta sudah mendarat di Bandara Soekarno Hatta.
“ masih cukuplah mempersiapkan Fajrin “ gumam Azkar tenang.
Azkar pun memberitahu perkiraan pukul berapa Fajrin sampai di Jakarta pada kedua orang tuanya. Selo, Freya juga Wingga yang sudah berada di Jakarta percaya dengan perhitungan Azkar dan menjadi lega.
“ jam 10 pagi baru mendarat..... “ gumam Divya sambil mengigit bibir bawahnya.
Divya diam sesaat.
“ tunggu.... Oslo Jakarta.... ada beda waktunya “ gumam Divya sambil mengetik sesuatu di ponselnya mencari informasi beda waktu Oslo Jakarta.
Terlihat mata serius Divya yang mencoba memahami perbedaan waktu Oslo Jakarta, tiba-tiba terulas senyum tipis di bibir Divya.
“ jam 10 pagi waktu Oslo berarti jam 4 pagi waktu Jakarta..... “ gumam Divya dengan senyum lebar.
Divya bahagia karena besok pagi Fajrin sudah sampai Jakarta, dengan bahagia Divya masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil.
PESAWAT
Didalam pesawat Fajrin mencoba memejamkan mata agar besok pagi saat sampai di Jakarta dalam keadaan segar.
“ sir... flyet vårt må passere Indira Gandhi India..... kapteinen fikk informasjon om at over vannet i Det indiske hav er det en bandai (tuan... pesawat kita harus transit di Indira Gandhi India..... kapten mendapatak informasi bahwa di atas perairan Samudra Hindia ada bandai) “ ucap pramugara Sundth Air membangunkan Fajrin.
“ hvor lenge tror de....vi kan fortsette flyturen tilbake
(berapa lama perkiraan mereka.... kita bisa melanjutkan penerbangan kembali)? “ tanya Fajrin serius.
“ ikke sikker sir. (belum bisa di pastikan tuan..... ) “ ucapan pramugara Sundth Air membuat Fajrin menjadi sedikit kuatir bila tidak bisa sampai di Jakarta sesuai perhitungannya.
“ ok .... vi transitt på Indira Gandhi .... sikkerhet er viktigere (baiklah.... kita transit di Indira Gandhi.... keselamatan lebih utama) “ ucap Fajrin dan pramugara segera kembali ke dalam kokpit menginformasikan ucapan Fajrin pada kapten pilot.
Sesaat setelah Sundth Air mendarat, pramugara kembali menginformasikan pada Fajrin.
“ sir... alle flyvninger med ruter over Det indiske hav har blitt forsinket på ubestemt tid (tuan.... semua penerbangan dengan rute diatas samudera Hindia mengalami penundaan sampai batas waktu yang tidak di tentukan) “ mendengar ucapan pramugara tersebut seketika kepalanya menjadi pening.
“ Takk (terima kasih) “ ucap Fajrin pelan.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu hingga badai tersebut reda, dan Fajrin bersama kru Sundth Air memilih menunggu di ruang tunggu VIP kru Private jet. Fajrin tak henti-hentinya berdzikir berharap badai itu cepat berhenti atau setidak-tidaknya berpindah tempat tidak berada di rute penerbangan diatas samudra Hindia.
Fajrin mengirim pesan singkat pada Roby, Azkar juga Divya. Mengatakan bahwa Sundth Air transit di Indira Gandhi karena cuaca buruk di atas samudera Hindia dengan batas waktu yang tidak bisa di tentukan. Fajrin tidak memperdulikan sekarang pukul berapa di Jakarta, Fajrin hanya tidak ingin mereka yang di Jakarta kuatir dengan keadaannya dan memahami situasi penerbangannya.