
Melihat Divya cemberut membuat Fajrin mulai paham bahwa Divya menginginkan perhatian darinya.
“ sudah selesai di kemas semua untuk besok? “ dengan masih cemberut Divya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.
Fajrin mendekati Divya memeluknya erat memberikan ciuman kecil di kepala.
“ besok siang kita sudah berada di Kualalumpur dan jadwal sayang besok lusa..... berarti masih ada waktu untuk kita jalan-jalan sebentar “ ucap Fajrin sambil mencoba merencanakan sesuatu.
“ maksud ayang? “ tanya Diya yang mulai mencoba menerka kemana arah ucapan Fajrin.
“ ayang ada rencana ingin menemui tuan Mexrat.... ada hal penting yang ingin ayang bicarakan pada beliau..... sayang mau ikut....? atau sayang mau sedikit melakukan pengarahan pada agensi juga model sayang.... ? “ ucapan Fajrin yang langsung pada hal yang akan Divya hadapi seketika membuat Divya melonggarkan pelukkan Fajrin.
“ agensi....? model..... ? bagaimana ayang bisa tahu hal itu....? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin terlihat gugup.
Fajrin sengaja merahasiakan bahwa dirinya sudah membuat kontrak dengan sebuah agensi di Kualalumpur yang menaungi dua puluh orang model yang akan mengenakan pakaian hasil desain Divya.
“ ayang hanya menebak saja.... “ ucap Fajrin berkelit sambil mengangkat tubuh Divya seperti seekor panda.
Tapi Divya merasa bahwa Fajrin menyembunyikan sesuatu darinya, Divya memandang dalam-dalam kedua mata Fajrin mencari tahu apa yang sedang suaminya sembunyikan.
“ serius.... ayang tidak mencoba menyembunyikan sesuatu dari Divya...... “ ucap Divya mencoba membuat Fajrin menatap kedua matanya.
Fajrin tersenyum melihat rasa ingin tahu Divya yang begitu besar.
“ serius..... ayang tidak menyembunyikan apa pun..... buat apa ayang menyembunyikannya..... sayang sudah melihat semua “ ucap Fajrin dan pelan pelan berbisik di telinga kiri Divya.
Membuat Divya merasa geli dan membangkitkan sesuatu dalam dirimya.
“ I've prepare a little surprise for you when we arrive in Kualalumpur (ayang hanya menyiapkan sedikit kejutan untuk sayang disana) “ bisik Fajrin membuat Divya bingung bagaimana bersikap dengan apa yang Fajrin ucapkan.
Di satu sisi Divya ingin tahu apa kejutan Fajrin dan di satu sisi Divya merasa bahwa Fajrin membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Kegiatan pelebaran dinding rahim membuat ruangan berpendingin terasa panas, dinginnya suhu kamar tidak mampu menahan butiran keringat yang keluar dari pori-pori mereka. Fajrin yang tidak pernah puas menikmati haknya berkali-kali membuat Divya teriak tertahan menyebutnya.
Menjelang Adzan Shubuh Fajrin pelan-pelan membuka kedua kelopaknya memperhatikan wajah tenang wanita yang sudah membuatnya semakin egois, Divya yang masih terpejam dengan lengan kiri berada di atas dada bidang Fajrin perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya. Fajrin mengulas senyum tipis melihat wajah Divya yang terlihat jelas masih mengantuk.
“ sholat shubuh dulu yuk..... “ ajak Fajrin dengan perlahan merubah posisi tidurnya menjadi sedikit duduk.
Divya tersenyum dan merentangkan kedua tangannya, Fajrin mengerti apa yang Divya inginkan. Tanpa menunggu lama Fajrin segera mengangkat tubuh Divya dan membawanya masuk ke kamar mandi untuk mandi besar. Hanya mandi besar karena Adzan shubuh sudah berhenti berkumandang.
“ iya..... kalau perlu.... sayang bisa memperkerjakan Elena untuk membantu sayang mengawasi apa yang sayang kerjakan. “ ucap Fajrin sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
Persiapan Divya mau pun Fajrin sudah selesai bahkan dua buah mobil sudah menunggu mereka di depan rumah, Liam dan 2 orang pengawal memasukkan satu persatu koper yang Divya gunakan untuk menyimpan pakaian hasil desainnya. Fajrin menjadikan Liam sebagai kepala pengawal juga asisten Divya akan membantu semua hal yang Divya butuhkan selama di Kualalumpur.
Tepat pukul satu siang waktu Kualalumpur, mereka menginjakkan kaki di KLIA tidak ada yang menyambut kedatangan Divya mau pun Liam juga Fajrin. Meski pun ini bukan pertama kalinya Divya juga Liam berada di Kualalumpur tapi penampilan Divya yang sudah banyak berubah membuat dirinya tidak di kenali, dan ini juga bukan pertama kalinya Fajrin menginjakkan kaki di Kualalumpur. Meski pun Fajrin sudah beberapa kali menginjakan kaki di Kualalumpur tapi itu semua karena urusan bisnis Surendra bukan urusan pribadi.
Lokasi muslim fashion festival kali ini sedikit tertutup yang di selengarakan di sebuah hotel berbintang lima. Fajrin memutuskan bermalam di hotel tersebut karena Fajrin tidak ingin Divya dan yang lain kelelahan bila harus berkali-kali bolak balik hotel lokasi acara. Mobil yang mereka sewa berhenti tepat disebuah hotel, membuat Divya hampir saja tidak percaya.
“ ayang..... kenapa kita ke lokasi festival hari ini..... acaranya masih besok.... “ ucap Divya sedikit bingung.
“ kita bermalam di sini..... ayang sudah pesan tiga kamar..... satu kamar untuk kita, satu kamar untuk mereka dan satu kamar connecting room dengan kita untuk semua barang-barang sayang.... “ ucap Fajrin dan memberikan ciuman kecil di dahi Divya sebelum turun dari mobil.
Divya tidak bisa berkata-kata hanya bisa mengikuti langkah kaki Fajrin, Liam dan rekannya mulai di sibukkan dengan beberapa koper milik Fajrin dan Divya juga koper yang berisi tiga puluh model pakaian syar'i. Di dalam kamar yang di fungsikan sebagai workshop sementara, Divya mulai menata satu persatu pakaian yang akan di kenakan oleh para peragawati yang dia sewa. Disaat Divya sibuk dengan pakaian-pakaian desainnya seseorang mengetuk pintu kamar, membuat Fajrin dengan sigap segera membuka pintu kamar tersebut.
“ selamat siang tuan Fajrin..... senang bertemu anda kembali..... “ salam Elena saat melihat siapa yang membuka pintu.
“ selamat siang..... terima kasih sudah kemari.... masuklah.... “ ucap Fajrin sambil mempersilahkan Elena masuk.
Elena tidak datang sendiri tapi bersama dua puluh para peragawati yang akan menampilkan pakaian desain Divya. Saat Elena meminta para model yang dia bawa untuk masuk ke kamar, Fajrin memberi isyarat tangan pada Elena agar jangan menceritakan bahwa dirinya mengatur semua ini. Elena tersenyum dan membalas dengan isyarat tangan menyetujui permintaan Fajrin. Divya yang masih tidak terlalu perduli dengan siapa yang datang, tiba-tiba di kejutkan dengan seseorang yang menepuk bahunya beberapa kali.
Divya terkejut juga tidak percaya bahwa Elena, managernya dulu yang berdiri di belakangnya saat ini.
“ bagaimana kamu tahu aku ada disini? Apa Liam yang mengontakmu? “ tanya Divya tidak percaya dan sedikit melihat Liam yang sudah terlihat jelas sangat gugup juga sedikit takut.
Elena tersenyum menjawab pertanyaan Divya, Elena mulai sibuk memperkenalkan para model yang akan membantu Divya. Satu persatu para model tersebut mulai mencoba satu persatu pakaian desain Divya, sesekali Divya menatap tajam Liam membuat Liam merinding dan pelan-pelan menghindar dari pandangan mata Divya.
“ sir.... if miss angry with me..... you have to take responsibility..... miss angry is very scary (tuan.... kalau nona marah pada saya..... tuan yang harus tanggung jawab..... nona kalau marah sangat mengerikan) “ bisik Liam yang sudah berdiri di belakang Fajrin.
Fajrin tersenyum dan menganggukan kepala.
“ I'm sure Elena won't tell her what we've done (aku yakin Elena tidak akan menceritkan apa yang sudah kita lakukan) “ ucap Fajrin dengan yakin.
Fajrin tidak bisa melihat Divya berjuang membangun karir di dunia desain pakaian seorang diri, Fajrin akan membantu sebisa yang dia lakukan tanpa sepengetahuan Divya.