My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 232 TERPESONA



Sekali lagi Mexrat membisikkan sesuatu pada pengawal putri kembarnya.


Fajrin tersenyum mendengar ucapan kedua putri kembar Mexrat yang terlihat jelas mengagumi pakaian rancangan Divya.


“ you know....who designed and made this outfit (kamu tahu tidak.... siapa yang merancang dan membuat pakaian ini)? “ ucap Fajrin pelan pada Helga.


Helga menatapnya dengan kesal karena menganggu fokusnya.


“ do you know brother..... this designer is a newcomer..... and the clothes he designs are just one piece..... he only makes one in each design (memangnya abang kenal..... perancang ini pendatang baru..... dan pakaian yang dia rancang ini tidak ada duanya..... dia hanya membuat satu di setiap desainnya). “ ucap Helga sambil menyodorkan kertas yang dia pegang sedari tadi.


Fajrin melihat sesaat dan tersenyum membaca tulisan di kertas tersebut.


“ I know the designer (abang kenal dengan desainer itu....) “ ucapan Fajrin membuat Helga juga Helsa menatapnya dengan heran.


“ impossible..... papa already told us about you..... brother only knew about buildings..... not this one (tidak mungkin..... papa sudah menceritakan semua tentang abang.... abang hanya tahu tentang gedung.... tidak dengan ini) “ ucap Helga merasa menang karena dia merasa Fajrin berbohong.


Fajrin mengangkat kedua bahunya sesaat.


Satu persatu pakaian hasil rancangan Divya melewati para tamu undangan hingga saat semua model sudah menampilkan semua rancangan Divya, seorang model menarik tangan kanan Divya untuk ikut tampil di depan para tamu undangan. Tepuk tangan para penonton memenuhi ruang terbuka itu, Divya berjalan dengan anggun mengikuti langkah kaki seorang model yang mengenggam tangan kirinya. Dan saat hendak mendekati kursi di mana Fajrin dan Mexrat duduk, model tersebut memperlambat langkahnya dan berhenti tepat di depan Fajrin. Fajrin segera berdiri karena sudah tahu maksud dari model tersebut dengan Divya dan bertepuk tangan, membuat Helga juga Helsa menatapnya heran.


Fajrin mengulurkan tangan kanannya dan meletakkan tangan kirinya di dada, senyum penuh cinta dan hangat terpancar di wajah Fajrin. Divya mengulas senyum bahagia dan mendekati Fajrin. Pelukan hangat Fajrin berikan pada Divya untuk sesaat sebelum Divya kembali mengikuti lagi langkah kaki model tadi. Fajrin tidak memberikan buket bunga atau pun sebuah bingkisan apa pun pada Divya atas keberhasilan perdananya ini. Divya tidak mempermasalahkan hal itu, karena apa yang Divya inginkan sudah Divya dapatkan.


Helga dan Helsa masih menatap heran wajah Fajrin.


Helga yang pernah menemani Mexrat menghadiri pernikahan Fajrin segera membaca kembali tulisan yang dia tunjukkan pada Fajrin.


“ seriously.... this brand name is sister-in-law..... why papa didn't tell..... why brother didn't tell me earlier (serius.... ini nama brand kak Divya..... kenapa papa tidak bilang..... kenapa abang tidak bilang dari tadi) “ protes Helga membuat Helsa bingung.


Mexrat menepuk dahinya pelan mendengar ucapan Helga, belum selesai keheranan Helga juga Helsa. Mereka berdua di buat jengkel dengan apa yang mereka lihat, seorang pria menyodorkan buket bunga mawar merah pada Divya dan seorang model yang berjalan di belakang Divya menerimanya.


“ you never gave me a flowers since that accident..... but you give our sister-in-law a flowers (kamu tidak memberiku bunga sejak kecelakaan itu.... tapi kamu memberi bunga kakak ipar kami) “ ucap Helsa pelan dan kesal.


Tentu saja Helsa sangat kesal karena pria yang menyodorkan bunga pada Divya adalah kekasihnya yang sudah membuatnya cedera hingga membuatnya duduk di kursi roda.


Helga juga tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan terlihat mengepalkan kedua tangannya.


“ brother...... looks sister-in-law...... are you not angry..... nor jealous (abang..... lihat kakak ipar.... abang tidak marah..... tidak cemburu)? “ ucap Helga kesal.


“ your sister-in-law didn't accept the flower.... neither shake hands nor hugged that man..... why I should be angry or be jealous (akak ipar kalian tidak menerima bunga itu.... tidak juga menjabat tangan atau pun memeluk pria itu..... kenapa abang harus marah atau cemburu)? “ ucapan Fajrin membuat Mexrat menggelengkan kepala.


Kesibukan Divya semakin bertambah setelah penampilan dari para model yang menampilkan rancangannya, karena satu persatu para tamu undangan mendatangi booth miliknya yang memperlihatkan semua pakaian rancangannya. Tak terkecuali Helga dan Helsa yang sudah menyuruh pengawalnya untuk segera mengamankan pakaian yang mereka inginkan. Mexrat dan Fajrin mengikuti langkah kaki Helga yang mendorong kursi roda Helsa menuju booth Divya.


Divya yang sedang melakukan wawancara kecil dengan tiga orang wartawan dunia Fashion, terlihat tersenyum saat melihat kedatangan Helga dan Helsa. Tanpa basa basi Divya segera menghampirinya.


“ Helga....we meet again....thank you for watching my first design.... (Helga.... kita bertemu kembali.... terima kasih kalian sudah melihat penampilan perdana rancanganku.....) “ ucapan Divya yang ramah membuat Helga sedikit canggung.


Helga tidak mengira kalau Divya akan mengingatnya, karena Helga sendiri tidak mengenali nama Divya di kertas yang dia pengang.


Melihat keakraban mereka membuat tiga wartawan tersebut tidak menyia-nyiakan moment tersebut dan segera mengabadikannya.


“ you knew each other (kalian saling mengenal)? “ tanya seorang wartawan pada Divya.


Divya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut dan memeluk Helga dengan erat.


“ she is our sister-in-law (dia kakak ipar kami) “ ucapan Helsa membuat ketiga wartawan tersebut menatap Divya tidak percaya.


Divya mengulas senyum tipis sebagai tanda membenarkan ucapan Helsa, sementara Mexrat dan Fajrin hanya melihat keakraban tiga wanita dengan tatapan bangga juga bahagia karena anggota keluarga mereka bertambah.


Dari kejauhan seorang pria menatap Divya dengan tatapan mata penuh cinta, melihat penampilam Divya yang berbeda dari terakhir kali membuatnya semakin terkesima dan tidak melihat atau pun menyadari orang-orang yang berada di sekitar Divya. Karena kedua matanya terlalu fokus pada wajah cantik Divya.


“ it turns out that you are prettier with your new appearance now..... this time I have to get you (ternyata kamu lebih cantik dengan penampilanmu sekarang..... kali ini aku harus mendapatkanmu) “ gumam pria itu tanpa sadar seseorang mendengarnya.


“ stop wanting to get it..... you won't be able to get it....


(hentikan niatmu mendapatkannya..... kamu tidak akan bisa mendapatkannya....) “ suara pelan Elena membuyarkan lamunan pria itu yang tak lain Arbab.


Arbab menatap Elena penuh tanya, tidak percaya dengan ucapann Elena.


“ I definitely get it this time….. I will prepare a special contract for her (aku pasti bisa mendapatkannya kali ini..... aku akan siapkan kontrak khusus untuknya) “ ucap Arbab ambisius dan keyakinan penuh.


Elena menggelengkan kepala malas berdebat dengan Arbab, dan melangkah mendekati Divya juga yang lainnya.


Divya memeluk erat Elena, memperkenalkan Elena kepada Helga dan Helsa. Seketika kedua mata Elena terkejut tidak percaya mendapati sosok wanita yang duduk di kursi roda. Otak Elena berkecamuk dengan berbagai pertanyaan juga jawabannya serta dugaan-dugaan yang tidak ada ujungnya.


Divya memeluk pinggang Fajrin dan mendapatkan kecupan kecil di puncak kepala, terlihat aura bahagia di wajah Divya. Aura yang membuat Arbab semakin terpesona dan tanpa sadar melangkahkan kakinya mendekati Divya.