
Fajrin di temani Gultom dan Andra pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan beberapa jahitan di telapak tangan kirinya, sedangkan Gultom dan Andra mendapatkan perawatan untuk beberapa titik lebam di wajah dan tubuhnya sementara Muslim memilih kembali ke kostnya yang tepat dibelakang gedung Surendra Cyber. Azkar dan Roby kembali ke gedung Surendra Corp, sedangkan Dipta membawa para penghadang untuk dia interogasi. Azkar meminta tolong Dipta untuk mencari tahu bagaimana para penghadang itu mengetahui keberadaan Fajrin hingga apa hubungannya para penghadang itu dengan keluarga Zulian. Irvan dan yang lainnya juga kembali ke kantor, mereka berjanji pada Azkar tidak akan menyebarkan berita apa pun terkait penghadangan Fajrin tapi saat mereka sampai di kantor tanpa mereka sadari beberapa staff melihat aksi Fajrin dan yang lainnya saat menghadapi para penghadang.
“bagaimana keadaan Pak Fajrin?”
“bagaimana yang lainnya?”
“sekarang mereka dimana?”
“siapa mereka?”
“bagaimana mereka bisa tahu kalau pak Fajrin naik mobil itu?”
“kenapa kalian diam saja?”
Beberapa kalimat yang Irvan, Ryan, dan Cahyo dengar saat tiba di lobi hendak menuju ke lift. Irvan memberikan isyarat tutup mulut dan menunjuk ke atas memberi isyarat bahwa big bos yang memerintahkan mereka untuk diam. Seketika semua staff yang memburu mereka bertiga diam membatu, para staff tidak berani lanjutkan pertanyaannya.
RUMAH SAKIT
“dokter..... kira-kira berapa hari luka ini sembuh?” tanya Fajrin kuatir karena sebelum ambulance membawanya Azkar sudah melarangnya untuk pulang ke rumah.
“tergantung dari kondisi bapak dan asupan gizi yang bapak makan.... bisa saja dalam empat minggu luka ini mengering dan untuk lebam di pipi juga sudut bibir kurang lebih dua atau tiga minggu" jelas seorang dokter sambil menjahit telapak tangan kiri Fajrin yang sudah mulai bereaksi anestesi lokalnya.
Fajrin memijat dahinya dengan tangan kanan karena kepalanya tiba-tiba terasa pening memikirkan Nara yang akan dia tinggal sendiri selama empat minggu kedepan. Karena Azkar melarangnya pulang ke rumah selama luka lebam dan di tangan belum sembuh, Azkar tidak mau Nara menangis melihat kondisi Fajrin dan Azkar berjanji untuk menempatkan pengawal yang akan tinggal tidak jauh dari rumah Fajrin untuk menjaga Nara.
“empat minggu" ucap Fajrin lemas.
Telapak tangan Fajrin kurang lebih mendapatkan enam jahitan sedangkan jari jarinya masing masing mendapatkan satu jahitan kecuali ibu jari. Meskipun Fajrin kuat menahan rasa nyeri tapi tetap saja jari-jarinya harus di jahit, karena lukanya yang cukup dalam. Saat Fajrin dan Gultom serta Andra berjalan keluar dari UGD dan menuju ruang tunggu unuk menerima beberapa obat, tiba-tiba seseorang dengan kursi roda menghampirinya.
“kak Fajrin..... kakak kenapa?” tanya Delilah saat mendekati Fajrin dengan kursi roda.
“Delilah.... kamu sudah sadar? Bagaimana keadaan kamu.... ada yang masih sakit?” ucap Fajrin dengan wajah kuatir melihat wajah Delilah sesaat dan menundukkan pandangannya.
“kenapa tangan kakak? Kenapa ada luka lebam di wajah kakak?” Delilah mengabaikan pertanyaan Fajrin dan terus bertanya keadaan Fajrin.
Gultom dan Andra menatap mereka berdua dengan heran dan Fajrin menyadarinya dengan menarik nafas panjang Fajrin memperkenalkan mereka berdua pada Delilah.
“kenalkan.... ini Delilah adiknya Roby" ucapan Fajrin singkat padat dan jelas membuat Gultom dan Andra hanya membulatkan kedua bibirnya.
Delilah tersenyum melihat mereka berdua yang terlihat kompak.
“kakak tidak apa-apa hanya ada sedikit luka" ucap Fajrin santai, tapi tidak dengan Delilah yang mulai kuatir.
Fajrin dengan memberi Isyarat tangan kanannya meminta Delilah mendekatkan telinganya.
“kakak habis berlatih debus" ucapan pelan Fajrin yang masih dapat di dengar oleh Gultom dan Andra membuat mereka berdua menahan tawanya.
“tidak lucu" ucap Delilah kesal.
Saat Delilah dan Fajrin berbincang-bincang tiba-tiba ada suara wanita memanggilnya, seketika mereka berempat mencari asal suara. Fajrin dengan kaki kanannya mendorong pelan kursi roda Delilah untuk sedikit menjauh darinya, Gultom yang menyadari kaki fajrin segera membantunya pelan-pelan.
“Delilah..... kenapa kamu keluar dari kamar..... siapa meraka?” tanya Maya yang hanya melihat wajah Gultom dan Andra karen Fajrin sudah berpindah tempat duduk membelakangi Delilah tanpa sepengetahuan Delilah.
“mereka....” belum selesai Delilah berbicara Maya sudah mendorong kursi roda Delilah menjauhi ketiga pria itu.
Delilah melihat kebelakang dengan wajah sedih. Fajrin mengenal Delilah sejak SMA kelas dua saat itu Delilah masih kelas satu SMP, Fajrin sudah menganggap Delilah seperti adik sendiri bahkan golongan darah dan rhesus mereka sama. Pernah suatu kali Delilah membutuhkan darah karena harus menjalani operasi usus buntu sedangkan kadar hemoglobinya saat itu kurang dari enam, stok darah rumah sakit dan di PMI kosong untuk golongan darah Delilah. Hingga membuat Roby memberitakan di whatsapp group sekolah dan datanglah Fajrin menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya karena golongan darah Fajrin sama dengan golongan darah Delilah yaitu AB rhesus negatif. Mungkin bila Fajrin tidak mendonorkan darahnya bisa jadi Delilah akan menahan rasa nyeri di perut bagian kanan karena operasi usus buntunya tertunda hingga ada stok darah.
“cantik ya.... adiknya pak Roby....” ucap Gultom pelan dan mendapat pukulan kecil dari Fajrin.
“aduh..... sakit pak" ucap Gultom sambil mengelus bekas pukulan Fajrin.
“bapak sama adiknya pak Roby saja.....”ucap Andra yang sepertinya melihat sesuatu yang berbeda di Fajrin.
“jangan mimpi kamu....”ucap Fajrin yang sudah berdiri untuk mengambil obatnya.
mereka pulang ke tempat tinggal masing-masing kecuali Fajrin yang harus tinggal di apartemen milik Azkar sampai lukanya sembuh. Fajrin merebahkan tubuhnya di sebuah sofa sambil memandangi langit-langit apartemen.
“dengan cara apa lagi aku harus membuat Sofia melupakan rasa itu dan ihklas menerima Yudha.” Gumam Fajrin sambil mengeluarkan ponselnya.
Terlihat ada beberapa pesan suara masuk dari nomor yang tidak dia kenal, karena selama Fajrin menyelesaikan ide desainnya Fajrin mematikan ponselnya dan baru menyalakan setelah selesai presentasi tadi siang. Fajrin menekan pesan suara yang paling bawah.
“Assalamualaikum kak.... maaf kalau Sofi mengganggu kakak.... Sofi tahu ini salah tapi Sofi tidak tahu harus mengatakan semua ini pada siapa.... hanya kakak tempat Sofi mengeluarkan semua keluh kesah Sofi... Sofi capek kak..... Sofi tidak bisa membuat mas Yudha insyaf..... setiap malam mas Yudha pulang dalam keadaan mabuk tubuhnya bau minuman keras dan asap rokok.... berkali-kali Sofi mengingatkan mas Yudha untuk menjauhi minuman keras dan berkali-kali pula Sofi mendapat bentakan..... mama dan papa menyuruh Sofi untuk tetap menjalani pernikahan ini.... kak maafkan Sofi tidak bisa melupakan kakak.... Assalamu'allaikum “ satu pesan suara sudah membuat Fajrin merasa sedih tapi tidak bisa berbuat banyak untuk Sofi.
Fajrin menekan pesan suara lagi
“Assalamualaikum kak..... mas Yudha pulang dalam keadaan mabuk berat sampai Sofi meminta pak supir dan satpam depan rumah untuk membawa masuk ke kamar dan mengganti pakaian mas Yudha.... kak apa yang harus Sofi lakukan?” suara Sofi tiba-tiba berhenti dan terdengar suara Yudha yang memuntahkan isi perutnya.
Fajrin menekan kembali pesan suara berikutnya.
“Assalamualaikum kak..... apa Sofi berdosa tidak mematuhu suami sedangkan suami itu tidak pernah mendirikan Sholat sama sekali dari sebelum menikah hingga detik ini..... kakak pasti paham hukum pernikahan kami dengan kondisi mas Yudha seperti ini.... kak bantu Sofi.... Sofi mohon" suara Sofi berhenti dan hanya terdengar suara tangisnya.
Fajrin menarik nafas panjang dan meletakkan ponselnya di sembarang tempat, kepala dan badannya terasa capek semua hingga tanpa sadar Fajrin sudah terlelap.