My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 165 DEAN DAN NORIN



Setengah jam sebelum Adzan shubuh Fajrin sudah terbangun dan membersihkan diri juga sudah berganti dengan pakaian bersih untuk sholat Shubuh di masjid Hotel Surendra yang berada di Basement 1. Selesai sholat Shubuh Fajrin menyempatkan memasukkan beberapa buah segar juga roti isi ke mulutnya sebelum berangkat menjemput Divya, begitu juga dengan Freya dan Selo juga Erhan.


“ om.... tante.... kek.....Fajrin jemput Divya dulu, Assalamu'allaikum “ salam Fajrin sambil mencium punggung tangan Selo, Freya juga Erhan bergantian.


“ Wa'alaikumsalam.... hati-hati “ balas Freya dan Selo hampir bersamaan.


Sementara Fajrin dalam perjalanan menuju rumah Divya, Freya mulai sibuk dengan urusan para wanita di ruang ganti bersama saudara-saudara dari keluarga besar Surendra.


Hari ini di acara akad nikah juga pesta pernikahan Norin dan Dean, Fajrin yang harus menjadi bagian dari pendamping pria bagi Dean dan Divya menjadi bagian dari pendamping wanita bagi Norin. Membuat Fajrin dan Divya memakai pakaian berwarna senada, hari bahagia bagi kedua keluarga. Penampilan Fajrin sedikit berbeda bila pendamping pria yang lain tidak mengenakan sarung tangan, maka Fajrin mengenakan sarung tangan. Fajrin tidak ingin terjadi sentuhan antar kulit dengan Divya, Azkar yang memperhatikan Fajrin memakai sarung tangan membuatnya tergelitik untuk menggoda Fajrin sekali lagi. Tapi belum sempat melakukan itu, Helen sudah mencubit pinggang Azkar.


“ sayang.... jangan lakukan itu “ ucap Helen dengan tatapan yang membuat Azkar mati kutu.


“ kalau ibu hamil yang melarang.... mana berani aku melanjutkan “ gumam Azkar sambil berjalan di belakang Helen yang sudah mulai kesusahan melangkahkan kakinya.


Helen hamil dan kehamilannya sudah masuk minggu ke 32, Azkar menggandeng dua putranya.


“ titip ini.... biar aman “ ucap Azkar sambil menyerahkan kedua anaknya di bawah pengawan Fajrin.


Fajrin yang bingung hanya bisa menerima dua tangan kecil Azkar junior.


“ hari ini kalian bersenang-senang dengan om.... Abi kalian sedang dalam pengawasan Umma.... jadi biarkan Umma mengawasi Abi dengan tenang “ Azkar menatap tajam Fajrin yang sudah berhasil membuat kedua anaknya menurut.


“ Fajrin.... bagaimana kehamilan Nara.... sehat semuakah? “ tanya Helen sambil membetulkan hijabnya yang hari ini lebih ramai dari yang biasa dia pakai.


“ Alhamdulillah tidak rewel tidak merepotkan Afkar “ ucap Fajrin sambil mengajak bermain tangan dua Azkar junior.


“ Alhamdulillah..... kamu sendiri ihklas kalau di acaramu nanti Nara tidak bisa datang? “ pertanyaan Helen membuat Fajrin terdiam.


Helen juga Azkar diam menunggu jawaban Fajrin.


“ Insya ALLAH Ihklas “ ucap Fajrin yang belum terpikirkan sampai ke situ.


Saat Fajrin, Azkar juga Helen dan para pria berkumpul di sebuah ruangan yang sudah di sulap menjadi ruang tunggu bagi yang menunggu pasangannya yang sedang berhias. tiba-tiba Divya keluar membuat Azkar tergelitik untuk menggoda Fajrin tapi sayang, sekali lagi Helen berhasil menghentikan niat Azkar.


“ sayang jangan begitu..... Fajrin... Divya sudah selesai “ ucapan Helen membuat Azkar mengalihkan pikirannya yang jahil dengan membelai perut buncit 32 minggu Helen.


Fajrin memberanikan diri melihat wajah Divya satu kalimat meluncur keluar dari mulut Fajrin.


Belum sempat Fajrin melangkah, Helen sudah menarik ujung bawah mandarin suits yang Fajri pakai.


“ mau apa kamu.... ingat belum halal.... “ seketika Fajrin menundukkan pandangannya dan meraih tangan kiri Divya untuk memegangnya sebentar.


Karena acara akad nikah akan segera di mulai, seorang pengatur acara meminta para pendamping pria untuk segera duduk di tempat yang telah di sediakan sedangkan para pemdamping wanita tetap di ruang tunggu bersama Helen. Fajrin melepas tangan Divya dan mengajak 2 anak Azkar mengikuti pengatur acara.


Keluarga besar Dean sudah berada di ruang akad, Dean sudah duduk berhadapan dengan Selo dengan Azkar sebagai saksi dari pihak mempelai wanita. Dean terlihat tegang keringat dingin mengucur di pelipis dan dahi juga lehernya, Azkar memberikannya beberapa lembar tisu. Dengan mengucap Basmallah akad nikah di mulai, suara bergetar Selo menikahkan Norin membuat kedua mata Freya berkaca-kaca. Dean menyambut ucapan Selo dengan lantang dan tegas, sekali ucap tanpa ada kesalahan sedikit pun. Azkar dan para tamu undangan yang datang pun mengucapkan kata ‘ sah ‘ hampir bersamaan.


Kedua mata Freya, Selo juga kedua orang tua Dean tampak berkaca-kaca, Azkar segera berdiri untuk menjemput Norin yang sudah menunggu di ruangan tepat di sebelah ballroom. Dengan senyum manis Norin menggenggam tangan Azkar yang mengantarnya mendekati Dean, sementara Divya juga bersama para pendamping mempelawai wanita berjalan di belakang Norin dan Azkar.


Azkar menyerahkan Norin tepat di depan Dean, Divya memperhatikan setiap proses yang Dean dan Norin lakukan tapi tatapan mata Fajrin teralihkan dan tersenyum melihat wajah cantik juga serius Divya.


Prosesi akad nikah selesai kedua mempelai, kedua keluarga besar, para pendamping kedua mempelai juga para undangan yang menyempatkan datang di acara akad nikah ini. Silih berganti melakukan dokumentasi dengan kedua mempelai, Fajrin yang mendapatkan amanah menjaga 2 jagoan Azkar dengan terpaksa melakukan dokumentasi dengan tetap menggandeng 2 jagoan Azkar.


Setelah semua selesai, Dean juga Norin masuk kembali ke ruang ganti khusus kedua mempelai karena mereka akan langsung mengadakan pesta pernikahan. Begitu juga dengan yang lain, Helen yang merasa gerah membuat Azkar harus sigap menjadi kipas bagi Helen. Melihat perlakuan Azkar pada Helen membuat Divya sedikit iri.


“ ayang.... apa pesta pernikahan kita nanti disini juga? “ bisik Divya di telinga kiri Fajrin.


Membuat Fajrin geli dan sedikit menjauhkan telinganya.


“ bagaimana kalau di kantor urusan agama saja.... lebih simple lebih cepat tidak pakai lama “ ucap Fajrin yang berdiri melipat kedua tangannya memperhatikan 2 jagoan Azkar yang sedang bercanda.


“ terus.... keluarga Divya yang sudah jauh jauh dari Canada bagaimana? “ protes Divya membuat Azkar curiga.


Baru saja Azkar mau menegur Fajrin, seorang pengarah acara masuk meminta mereka semua berdiri di belakang kedua mempelai dan keluarga mempelai. Pengarah acara mengatur posisi kedua mempelai dan keluarga inti mempelai, Helen yang merasa kesulitan berjalan dengan terpaksa memilih berjalan di belakang Fajrin dan Divya.


Mereka memulai iring iringan untuk kembali masuk ke ballroom untuk acara pesta pernikahan atau walimatul ursy.


Para tamu undangan relasi bisnis Surendra Corp dan Surendra cyber juga para karyawan tetap mau pun kontrak dua perusahaan mulai berdatangan, para tamu yang mengenali Fajrin atau pun Azkar akan menyapa mereka sebelum memberi ucapan selamat pada kedua mempelai dan kedua orang tua mempelai.


“ jadi iri.... ingin secepatnya halal “ gumam Divya pelan tapi Fajrin masih bisa mendengarnya dengan jelas.


“ Aamiin.... Insya ALLAH..... semoga ALLAH melancarkan niat kita “ ucap Fajrin sambil menepuk punggung tangan kanan Divya.


Divya tersenyum dan segera memeluk lengan kiri Fajrin, membuat Fajrin merasakan badan korpus Divya yang kenyal. Fajrin pasrah karena bila memaksa melepas lengannya maka Divya akan semakin memeluknya dengan erat.