My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 188 GAUN



Masalah mahar dan barang pelangkah sudah terselesaikan, bahkan Afkar selalu memberi kabar bagaimana perkembangan produksi barang yang berada di nomor urut 1 sedangkan barang yang berada di nomor urut 2 sudah Afkar dapatkan termasuk mahal 26 kilo. Hanya menunggu proses serah terima barang pelangkah nomor 1.


Divya juga menceritakan pada Davis mahar apa yang akan Fajrin berikan, Davis pun hampir tidak percaya dengan mahar yang Divya katakan.


“ sebanyak itu.... siapa sebenarnya di belakang pria itu.... apa jangan-jangan dia sebenarnya dari keluarga pebisnis sukses tapi tidak mau ambil bagian di bisnis keluarga..... tidak mungkin.... waktu perkenalan keluarga dan lamaran...... hanya keluarga besar Surendra yang menemaninya “ otak Davis sibuk memikirkan siapa yang di belakang Fajrin.


Davis memang tidak mengenal Afkar karena urusan bisnis Davis tidak pernah bersinggungan dengan Afkar, kalau pun perusahan Davis membutuhkan jasa dari Surendra Cyber maka yang akan menangani kontrak adalah Dean.


Selain di sibukkan dengan pekerjaannya, Fajrin juga harus mengantar Divya untuk mencoba beberapa gaun yang akan Divya pakai saat akad dan pesta begitu juga dengan dirinya. Hal yang menurutnya sangat melelahkan belum lagi kalau mengantar Divya dengan mobil milik Divya, harus punya stok sabar lebih untuk mencari area parkir. Mau mengantar Divya pakai motor belum halal untuk berdekatan, Fajrin menjadi merasa serba salah. Seperti hari ini Freya menghubunginya karena Freya ingin meminta pendapat Fajrin pakaian seperti apa yang terlihat bagus untuk Divya kenakan, sebenarnya Fajrin tidak mempermasalahkan Divya mau memakai gaun apa saja tetap akan terlihat cantik di matanya. Tapi karena desakan Freya dan Azkar yang menarik paksa dirinya untuk segera pergi ke butik yang sudah Freya tentukan, mau tak mau Fajrin harus pergi juga.


Setelah memarkir motornya Fajrin melangkah menuju sebuah butik 3 lantai.


“ permisi “ salam Fajrin sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Freya dan Divya.


Seorang pramuniaga menghampirinya.


“ selama siang pak.... ada yang bisa saya bantu? " tanya seorang pramuniaga membuat Fajrin sedikit kikuk.


“ mmmm.... saya mencari...... “ ucap Fajrin yang masih mengedarkan pandangannya.


“ ..... itu.... sebelah sana..... terima kasih.... saya kesana dulu “ ucap Fajrin sedikit kikuk dan melangkah menuju sebuah sofa dimana Freya sudah duduk manis seperti menunggu seseorang.


Freya tersenyum melihat kedatangan Fajrin dan segera menyuruh duduk di sebelahnya.


“ Divya masih di dalam..... sebentar lagi keluar.... “ ucapan Freya membuat Fajrin tersenyum tipis.


Saat sebuah tirai terbuka pelan-pelan terlihat sosok Divya yang sudah mengenakan gaun berwarna putih tulang dengan hijab yang terlilit di leher. Fajrin yang menunduk belum melihat penampilan Divya membuat Freya kesal.


“ Fajrin..... lihat Divya.... “ suara pelan Freya membuat Fajrin pelan-pelan melihat ke depan tepat di mana Divya berdiri.


Tapi saat baru melihat Divya setinggi pinggang entah mengapa dada Fajrin terasa sakit sampai saat penglihatannya tepat setinggi dada Divya, Fajrin menggelengkan kepala membuat Freya juga pramuniaga yang membantu Divya menjadi heran.


“ kenapa... tidak suka? Bagian mana yang kamu tidak suka? “ tanya Freya heran.


“ semua “ jawab Fajrin pelan dan singkat.


Freya semakin bingung dengan jawaban Fajrin.


Divya paham kenapa Fajrin hanya melihatnya sesaat dan terlihat jelas tidak suka dengan penampilannya saat ini.


“ ada gaun yang lain tidak.... yang lebih longgar dari ini? “ suara lembut Divya membuat Fajrin tersenyum.


“ kamu tidak suka Divya pakai pakaian seperti ini.... kamu mau Divya pakai pakaian yang tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya? kenapa tidak bilang dari tadi....... tahu begitu.... tante bawa di tempat yang Norrin kemarin beli.... “ ucap Freya sambil berdiri dari sofa mendekati pramuniaga yang membantu Divya berganti pakaian.


Entah apa yang di katakan Freya tapi sepertinya ucapan Freya cukup membuat pramuniaga itu sedikit kecewa. Divya paham kenapa Fajrin bersikap seperti ini, pramuniaga kembali menutup tirai karena Divya akan berganti dengan pakaiannya sendiri. Sedangkan Fajrin sudah menunggu di atas motornya.


“ sekarang kita kemana tante? “ tanya Divya sambil melihat Fajrin yang sudah duduk manis di atas motornya.


“ kita ketempat yang kemarin Norrin kunjungi “ ucap Freya sambil menggandeng tangan Divya mengajaknya masuk ke mobil.


Perjalanan yang seharusnya hanya 15 menit menjadi setengah jam lebih karena macetnya jalanan Jakarta, Fajrin yang tidak tahu kemana Freya akan membawa Divya hanya bisa mengikuti mobil yang mereka naiki dari belakang. Udara siang yang panas dan terik membuat Divya tidak tega melihat Fajrin naik motor sendiri. Sampai di area parkir Fajrin melihat sekeliling mencari butik yang Freya maksud dan seketika senyum tipis terulas di bibirnya.


Fajrin menunggu Divya dan Freya masuk dulu ke dalam butik, saat di dalam butik Fajrin segera menunjuk sebuah gaun.


“ tante Freya..... yang ini saja “ ucap Fajrin sambil menunjuk sebuah gaun berwarna putih tulang yang terpasang di sebuah manekin.


Freya tersenyum karena ternyata selera Fajrin sama dengan selera Afkar juga Dean.


“ tante paham sekarang selera kamu seperti apa..... ayo Divya....kamu coba gaun ini “ ucap Freya sambil menunjuk pada gaun yang Fajrin tunjuk.


Seorang pramuniaga membantu Divya mencoba gaun tersebut, 15 menit kemudian tirai di buka dan tanpa menunggu ucapan Freya. Fajrin melihat kedepan sesaat dan terlihat Divya sudah mengenakan gaun yang dia pilih.


“ bagaimana? Cantik tidak? “ goda Freya.


Fajrin terlihat jelas sangat gugup meski pun hanya melihat wajah Divya tidak lebih dari 2 detik.


“ i....iya..... cantik “ suara gugup Fajrin membuat Freya tersenyum lebar dan mengacungkan kedua ibu jarinya pada Divya.


Di saat Divya berganti dengan pakaiannya sendiri, Fajrin sudah bersiap dengan kartu titanium di tangan kirinya.


“ Fajrin..... belilah mobil..... “ ucapan Freya membuat Fajrin menarik nafas panjang.


Memang sempat terlintas di benak Fajrin untuk membeli sebuah mobil tapi Fajrin masih merasa nyaman menggunakan motor, masih belum butuh dan motornya masih layak pakai.


“ nanti saja tante..... kalau sudah butuh sekali..... sekarang masih belum butuh. “ ucap Fajrin sambil memainkan kartu debit titanium di tangan kirinya.


“ bapak sama anak sama saja.... kalau tidak benar-benar butuh tidak benar-benar rusak sampai tidak bisa di perbaiki lagi baru beli yang baru..... terserah kamu.... tante hanya mencoba memberitahu saja..... tadi Divya terlihat sedih saat melihat kamu naik motor di belakang kami. “ ucapan Freya membuat Fajrin tersenyum sesaat tapi di akhir ucapan Freya, Fajrin terlihat serius memikirkan sesuatu.


“ Insya ALLAH.... nanti kalau sudah menikah saja tante beli mobil..... biar nanti Divya yang pilih sendiri saja. “ ucapan Fajrin membuat Freya menarik nafas panjang dan menggelengkan kepala.