
“ why are they all very familiar with Fajrin.....how does Fajrin know them... I've been having a hard time getting into their business circle (kenapa mereka semua sangat akrab denagn Fajrin.....bagaimana Fajrin mengenal mereka... aku saja selama ini sangat sulit masuk di lingkaran bisnis mereka) “ gumam Martha sambil menbalas jabat tangan Mexrat.
“ my choice was not wrong this time..... even though from outside he looks normal but the people around him are extraordinary..... if Fajrin wants to occupy a position in Prakash or Lohia's company.... I'm sure Rosewood and PPB will be willing to cooperate with us (pilihanku tidak salah kali ini..... meski pun dari luarnya terlihat biasa saja tapi orang-orang di sekitarnya sangat luar biasa..... kalau Fajrin mau menduduki salah satu posisi di perusahan Prakash atau Lohia.... aku yakin Rosewood dan PPB akan bersedia menjalin kerjasama dengan kami) “ gumam Davis sambil membalas jabat tangan Mexrat.
Fajrin pun mengundang kedua orang tua Sofia, dan mereka datang bersama Sofia juga Yudha. Mutia mengedarkan pandangannya menatap setiap tamu undangan yang datang.
“ para tamu mereka separuhnya orang asing semua.... bagaimana anak itu bisa mengenal mereka semua “ gumam Mutia sambil berjalan pelan menuju pelaminan.
“ apa aku salah menilai tentang anak itu..... dulu pernikahan Sofia tidak semewah ini dan tidak ada satu pun dari mereka pernah hadir pernikahan Sofia “ gumam Pras yang juga melakukan hal yang sama yang Mutia lakukan.
Saat Mutia dan Pras hendak memberi selamat pada Fajrin, Mutia dan Pras memperhatikan Selo dan Freya. Sofia meski pun sudah bisa membuat Yudha menjadi lebih baik tapi masih terlihat jelas sorot mata yang menyayangi Fajrin.
“ selamat kak..... “ ucap Sofia yang terdengar sedih di telinga Fajrin juga Divya.
Sofia memeluk Divya dan Yudha menjabat tangan Fajrin.
“ jaga kak Fajrin baik-baik.... dia pria hebat “ bisik Sofia yang terdengar sedih di telinga Divya.
Divya hanya membalasnya dengan menyungging senyum.
“ selamat berbahagia “ ucap Yudha singkat.
Seperti tidak ada habisnya para tamu undangan berdatangan dan memberi selamat pada Fajrin juga Divya. Para tamu undangan setelah memberi selamat, mereka akan di arahkan untuk duduk di meja yang sudah staff wedding organizer tentukan dan satu persatu hidangan mereka sajikan mulai dari hidangan pembuka hingga hidangan penutup.
“ selamat..... akhirnya menikah juga kamu..... kamu orang terakhir di angkatan kita yang menikah “ ucap Alif membuat Fajrin tersenyum.
“ terima kasih sudah datang.... apa kau datang sendiri? “ ucap Fajrin dengan senyum bahagia.
“ tidak.... itu istriku “ jawab Alif sambil menunjuk pada seorang wanita yang berjalan pelan dari depan Selo.
Saat wanita itu sudah berdiri di depan Fajrin, Alif memperkenalkan istrinya. Tapi saat wanita itu melihat siapa yang berdiri di samping Fajrin seketika membuatnya terkejut dan hampir tidak percaya.
“ lo.... Divya.... “ ucap Fitri sambil menunjuk wajah cantik Divya.
Divya tidak kalah terkejutnya dengan Fitri.
Fajrin dan Alif menatap mereka berdua dengan heran, akhirnya Fitri menjelaskan siapa Divya.
“ ooo... pantas aku pernah melihat suamimu berada di kantor ayang.... tapi sedikit berbeda waktu aku melihatmu bertemu dengannya di kantin dulu “ ucap Divya sambil mengingat sosok Alif waktu di kantin kampus dan di gedung Surendra.
Karena antrian para tamu undangan yang hendak mengucapkan selamat pada Fajrin dan Divya semakin panjang, akhirnya Alif dan Fitri melangkah dan memberi isyarat tangan untuk saling memberi kabar.
Ditya yang sedari tadi tidak tenang duduk di kursinya melangkah mendekati Davis yang terlihat berbincang-bincang dengan Selo.
“ papi.... bisa Ditya bicara sebentar? “ ucap Ditya tanpa permisi menyela pembicaraan dua pria setengah baya.
Dengan sedikit malu Davis meminta izin pada Selo untuk menghentikan pembicaraan mereka, Davis melangkah sedikit menjauh dari Selo.
“ ada apa? “ pertanyaan Davis membuat Ditya sedikit bingung.
Disaat Ditya bingung hendak memulai dari mana, Fajrin dan Divya mendekati mereka.
“ papi..... Fajrin mau minta izin.... setelah ini selesai Fajrin tidak bisa pulang ke rumah papi.... tante Freya sudah mempersiapkan perjalanan kami “ ucap Fajrin yang masih terkesan sedikit malu-malu.
“ kalian mau langsung bulan madu..... baguslah.... buatkan papi cucu yang banyak “ ucapan Davis membuat wajah Fajrin bersemu merah dan Divya hanya tersenyum menahan malu.
“ terima kasih pi.... kami kembali ke kamar dulu ganti pakaian “ Davis menganggukan kepala menjawab Fajrin.
Fajrin dan Divya terlihat sudah tidak sabar ingin menikmati kebersamaan mereka berdua. Saat belum terlalu jauh melangkah Roby mendekatinya.
“ koper kalian sudah ada di mobil...... kami sedang menunggu alokasi waktu untuk Sundth Air..... “ ucap Roby dengan formal karena Azkar yang berdiri tak jauh dari mereka sedang menatapnya dengan tajam.
“ tumben berbicara formal? “ goda Fajrin tapi tidak membuat Roby goyah.
“ ada big bos di sebelah sana..... dari tadi big bos mengawasiku “ ucap Roby sedikit berbisik.
Fajrin tersenyum tipis dan menepuk lengan Roby.
“ terima kasih.... kami ke atas dulu.... “ ucap Fajrin dan melangkah meninggalkan Roby yang masih terlihat tegang.
Di dalam kamar mereka sudah menunggu seorang perias dan beberapa asistennya, dengan cepat Divya sudah melepas pakaiannya dan berganti dengan pakaian yang ternyata sudah dipersiapkan oleh para pengawal Davis atas permintaan para pengawal Azkar. Fajrin sudah mengenakan celana kain dan polo t-shirt terlihat lebih santai, begitu juga dengan Divya yang sudah berganti mengenakan abaya tapi tanpa hijab.
Kedua mata Fajrin tidak bisa beralih dari penampilan Divya saat ini, abaya dengan potongan leher bulat yang sedikit menampilan tulang selangka sudah cukup membuat Fajrin ingin memangsanya. Fajrin berjalan pelan mendekati Divya dengan perlahan memeluk Divya dari belakang, Divya sedikit terkejut hingga membuatnya tak mampu mengendalikan detak jantungnya sendiri. Menghirup aroma harum Divya membuat Fajrin lupa tujuan awal masuk ke kamar ini karena bibir dan indera pengecapnya mulai bergerak menyurusi kulit leher jenjang Divya dan meninggalkan sedikit tanda merah. Membuat pemilik kulit meremas kedua tangan Fajrin yang sudah melingkar erat di perutnya, dengan perlahan Fajrin memutar posisi Divya agar menghadapnya. Untuk beberapa detik kedua mata Fajrin menatap kedua mata indah Divya, kedua mata mereka bertemu untuk pertama kalinya lebih dari 3 detik mereka saling menatap seakan akan mereka berbicara dengan kedua mata mereka.
“ apa ayang akan melakukannya disini? “ suara Divya membuat Fajrin tersenyum.
“ kalau disini hanya bisa sebentar.... bagaimana kalau kurang dan ayang ingin meminta lagi? “ suara halus dan lembut Fajrin membuat kedua pipi Divya bersemu merah.
Dengan perlahan Fajrin memperpendek jarak di antara kedua bibir mereka saat jarak hanya tinggal satu milimeter saja, seseorang mengetuk pintu kamar. Membuat Fajrin menghentikan gerakkannya dan memilih mencium dahi Divya, Divya terlihat cemburut karena ada yang menganggunya.