
Divya kesal karena Roby mau pun Dipta berkali-kali menertawakan dirinya dan terkadang lebih terkesan mengejek dirinya.
“kalian serius tidak sih..... bantu Divya biar bisa dekat sama kak Fajrin" gerutu Divya sambil melempar sebuah bantal kecil ke wajah Dipta yang sedari tadi tak bisa menahan tawa.
“Div.... begini saja lusa saat jam istirahat kamu ke kantor...... kamu bisa lihat sendiri bagaimana kesehariannya Fajrin.” Ucap Roby yang sudah berdiri hendak keluar ruangan Dipta.
“serius.....” teriak Divya gembira.
“hmmmm..... tapi pakai pakaian yang tertutup jangan sale seperti ini" ucap Roby sambil keluar dari ruangan Dipta, sedangkan Dipta menahan tawa melihat reaksi Divya saat Roby menggerakkan tangannya menunjuk pakaian Divya.
“kenapa abang tertawa?” tanya Divya heran.
“otak kamu itu harus di perbaiki...... ingin dekat dengan laki-laki sopan tapi pakaian kamu sendiri tidak sopan.” Ucap Dipta dan kembali duduk di kursi kerjanya.
Divya memandangi bayangan dirinya sendiri yang terpantul di lemari kaca tepat di belakang meja kerja Dipta.
“apa yang tidak sopan?” tanya Divya pada dirinya sendiri.
“kamu tidak lihat mantannya Fajrin? Apa kamu sudah lupa? Dan satu lagi..... kamu ingat apa yang abang bilang bahwa adiknya memakai cadar? Kalau kamu ingin mendekati pria baik-baik, sopan, menghargai wanita, memuliakan wanita seperti dia memuliakan ibu dan adiknya...... kamu harus menghargai dirimu sendiri dulu, menyayangi dirimu dulu...... bukan malah merusak diri sendiri" ucap Dipta mengingatkan kebiasaan Divya yang suka meminum wine dan begadang.
“abang..... memangnya abang sudah tidak minum wine?” tanya Divya yang sudah duduk di meja kerja Dipta.
Dipta menghela nafas panjang memandang Divya sesaat dan kembali memeriksa berkas-berkas kerjasamanya.
“abang berhenti menyentuh wine kurang lebih sudah dua tahun ini dan menganti dengan ini" ucap Dipta sambil menunjuk segelas air mineral.
“serius.....” tanya Divya meyakinkan diri, Dipta hanya menganggukan kepala saja.
“kenapa abang berhenti? Apa karena kak Fajrin?” tanya Divya semakin ingin tahu.
“salah satu alasannya karena Fajrin" ucap Dipta santai.
“kalau hanya tidak meminum wine sih..... mudah sekali..... Divya bisa kalau begitu" ucap Divya sedikit sombong.
“jangan sombong dulu.... nanti sudah menjalani dan tahu banyak sekali yang harus kamu rubah...... menangis..... menyesal dan ujungnya minta tolong abang" Dipta sambil mengetik sesuatu pada ponselnya.
“lusa ke kantor bang Azkar sebelum jam istirahat siang..... pakai pakaian yang menutup paha dan dada kamu ini" ucap Dipta sambil menunjuk paha dan dada Divya yang terekspose.
Divya memikirkan pakaian yang mana yang bisa dia pakai untuk besok lusa. Sepanjang perjalanan pulang Divya berpikir keras pakaian seperti apa yang bisa dia pakai karena semua pakaiannya memiliki potongan leher rendah dan semua mengekspose bahu dan lengan juga pahanya. Sampai di rumah Divya masih melamun hingga tidak menyadari bahwa di ruang tengah sudah ada empat pria yang memperhatikannya.
“dari mana dik?” tanya Ditya heran karena baru kali ini melihat wajah Divya terlihat sangat serius.
“eee..... ada bang Ditya.... tumben di rumah biasanya di club.” Ucap Divya yang mulai risih dengan pandangan mata ke tiga teman Ditya.
Ditya kakak kedua Divya, tipikal pria yang suka berganti-ganti pasangan sama seperti Dipta sebelum sadar dan sebelum bertemu dengan Fajrin.
“adik kamu semakin hari semakin seksi saja..... sampai kapan dia di Jakarta?” tanya salah seorang teman Ditya yang bernama Alex.
“sumpah itu kaki ingin aku makan....” ucap Frans dan sukses mendapat lemparan sebuah bantal kecil dari Ditya.
“memangnya paha ayam.... mau kamu makan?” ucap Joseph yang sedikit lebih pendiam di bandingkan ketiga pria tersebut.
“dik..... masuk kamar" perintah Ditya membuat Divya segera berlari menaiki tanggal dan masuk ke kamar dengan membanting keras daun pintu kamarnya.
“Dit.... adikmu buat aku ya....” ucap Alex sambil menggerakan kulit dahinya naik turun.
“cari perempuan lain sana.... kenapa harus Divya" tolak Ditya sambil menenggak segelas kecil whiskey.
Semetara Divya di kamar sibuk membongkar ruang ganti yang menyimpan semua pakaiannya.
“tidak ada yang menutup dada dan paha indahku" gerutu Divya.
Divya melempar keluar semua pakaiannya hingga berserakan dimana-mana membuat kamarnya berantakan, Divya terduduk di lantai memandangi semua pakaiannya. Seketika kedua matanya melebar mendapati sebuah gaun yang menurutnya menutupi dada dan paha indahnya.
“nah...... sepertinya ini mas sekali" ucap Divya sambil berdiri dan memegang sebuah gaun.
Divya meletakkan gaun itu di dadanya dan berkaca memandangi wajah cantiknya.
“aku pakai ini saja.” Ucap Divya penuh percaya diri.
Menjelang makan malam, Dipta datang dengan wajah sangat kusut dan pakaian berantakan. Divya yang sedang bersantai sambil melihat acara Fashion Show Victoria Secret Dark Angel mengabaikan kedatangan Dipta.
“tahun depan aku harus bisa menjadi salah satu dari mereka" ucap Divya dengan semangat.
“mana mau Fajrin sama wanita seperti itu.” Ucapan Dipta menyandarkan Divya dan membuatnya mematikan televisi.
“abang habis berkelahi?” tanya Divya asal.
“berkelahi demi mendapatkan mutiara hitam lebih baik dari pada berkelahi demi permen bekas.” Ucap Dipta yang sudah duduk di kursi ruang makan sambil menempelkan sekantung air hangat di wajahnya yang lebam.
“kenapa harus permen bekas? Ini Divya ada permen” ucap Divya sambil menyerahkan beberapa buah permen yang dia pegang.
Dipta berdiri dari kursi dan naik ke lantai dua mengabaikan Divya yang masih bingung dengan maksud ucapan Dipta.
“memang ada permen bekas yang bisa membuat orang berebut sampai berkelahi?” gumam Divya bingung.
“ada non.... sekarang banyak permen bekas yang jadi rebutan sampai membuat celaka banyak orang.” Ucap bi Ina membuat Divya menolak ke belakang mencari asal suara.
“serius?” tanya Divya singkat.
“begini non.” Bi Ina mendekati Divya mengambil dua permen yang ada di depan Divya, membuka satu permen menghisap sebentar dan meletakkan kembali di samping permen yang belum terbuka.
“bi ina jorok..... permen habis di hisap kenapa di taruk meja lagi" ucap Divya dengan raut wajah jijik.
“non mau tidak makan permen bekasnya bibi? Tidak mau kan..... sama tuan muda Dipta tidak mau makan permen bekas ini..... kalau misalkan permen ini wanita cantik seksi atau pria tampan dan seksi..... non mau tidak?” ucapan bi Ina membuat Divya berpikir keras maksud dari ucapan Dipta.
“lantas apa hubungannya dengan mutiara hitam?” tanya Divya heran.
“non pasti tahu harga mutiara hitam air Laut berapa?..... mahal bukan..... dan untuk mendapatkan mutiara hitam sangat sulit sekali..... sekalinya ada harga per-gram-nya sekitar....... dua juta tiga ratus rupiah..... itu pun ukurannya kecil.” Jelas bi ina semakin membuat Divya berpikir keras.
“sama kalau semisal mutiara hitam itu adalah seorang wanita yang kalau di lihat tidak cantik dan tidak seksi karena tertutup cangkang kerang yang keras dan di tumbuhi terumbu karang.... pasti para nelayan akan kesulitan untuk menemukan mutiara hitam itu" jelas bi ina yang sudah mengambil kembali permen yang tadi sudah dia hisap.
“jadi maksud bibi..... bang Dipta lagi suka sama wanita yang sulit dia tahklukkan begitukah?” ucap Divya dengan mata berbinar-binar karena berhasil memahami ucapan Dipta.