My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 54 SARAN



Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam tiga puluh delapan menit akhirnya mereka sampai di apartemen, Fajrin melangkah dengan sedikit cemas karena belum mendapatkan kabar dari Nara. Saat Fajrin masuk ke dalam unitnya tiba-tiba ponselnya berdering, Fajrin segera masuk ke dalam kamar untuk membaca pesan itu dan menghubungi Nara dengan skype.


“Assalamu'allaikum kak....” salam Nara


“Wa'alaikumsalam..... dimana dik?” tanya Fajrin


“oooo...... lagi di perpustakaan pusat kak.... ada tugas tapi ini sudah mau pulang.... ada apa kak?” tanya Nara sambil merapikan diktatnya.


“dik.... bisa bantu kakak..... cari sumber berita dari rekaman CCTV yang kakak minta" ucap Fajrin sedikit bingung.


“maksud kakak..... Nara harus memblokir semua berita yang sudah beredar di media begitu kah?” tanya Nara heran.


“kurang lebih seperti itu" ucap Fajrin singkat.


“Nara usahakan ya kak.... tapi nanti kalau sudah sampai rumah..... kalau pakai wifi perpustakaan nanti di batasi aksesnya" ucap Nara yang sudah memasukkan semua diktatnya ke dalam tas.


“iya di rumah saja.... nanti kabari kakak ya.....Assalamualaikum” salam Fajrin.


“Wa'alaikumsalam” balas Nara.


Dan mereka memutus sambungan skype.


Hingga sore hari waktu Jaipur, Fajrin masih belum mendapatkan kabar dari adiknya. Fajrin semakin cemas dan bingung bagaimana mengambil sikap menghadapi berita yang sudah menggiring berbagai opini yang tidak jelas. Tiba-tiba ponselnya berdering, Fajrin segera membaca sebuah pesan masuk dan kembali masuk ke kamarnya. Sementara Gultom dan Irvan melihatnya dengan heran dan juga kasihan karena baru kali ini melihat leader mereka terlihat gelisah dan tidak bisa berbuat apa-apa.


“Assalamu'allaikum bang" salam Fajrin dengan wajah lesu.


“Wa'alaikumsalam.... kenapa begitu muka kamu.....” canda Azkar.


“entahlah bang..... bingung aku harus berbuat apa..... beritanya semakin mengarah ke berbagai opini yang aneh.... belum ada kabar dari Nara pula" ucap Fajrin sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


“jangan bilang kalau kamu menyuruh Nara untuk meretas server mereka dan menghapus semua berita itu....” tebakan Azkar sukses membuat Fajrin tercengang.


“abang tahu dari mana Aku menyuruh Nara melakukan itu?” tanya Fajrin heran dan semakin gusar.


“kamu lupa kalau aku juga punya adik yang sejenis dengan Nara.....? dia tadi barusan saja bilang sudah ada hacker yang mencoba menghapus semua berita tentang kamu dan Divya..... siapa lagi hacker yang mau mengerjakan pekerjaan yang tidak ada manfaatnya kalau bukan Nara atas permintaan kamu.....” ucapan Azkar semakin membuat Fajrin gusar.


“aku bingung bang..... harus bagaimana menghadapi berbagai opini mereka..... abang tahu sendiri saya seperti apa....” ucap Fajrin semakin gusar.


“Fajrin..... aku bicara sebentar" ucap Helen yang sudah duduk di samping Azkar suaminya.


“bicaralah..... otakku sudah tidak bisa di ajak berpikir menghadapi masalah ini" ucap Fajrin lemas.


“saran apa..... jangan yang aneh-aneh.... kalau aneh-aneh aku blokir nomor kamu" ucap Fajrin sedikit mengancam Helen membuat Azkar membulatkan kedua matanya menatap Fajrin.


Helen dan Fajrin adalah rekan satu kampus satu angkatan tapi beda jurusan, mereka saling mengenal karena pernah menjalani kuliah kerja nyata di kelompok dan desa yang sama. Helen melihat sosok Fajrin sebagai seorang pekerja keras dan tangguh, membuat para mahasiswi berangan-angan untuk bisa dekat dengannya seperti Helen. Dari awal perkenalan mereka, Helen sudah mengatakan menyukai Fajrin sebagai seorang kakak meskipun umur mereka sama. Karena jarak usia yang terpaut jauh antara Helen dan kedua kakak kandungnya, Helen membutuhkan sosok kakak yang bisa dia jadikan tempat untuk menceritakan semua keluh kesannya hingga Fajrin mengenalkan Helen pada Azkar.


Helen mulai memberikan beberapa saran dan masukkan untuk Fajrin dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang mungkin akan terjadi di luar kendalinya, Fajrin mendengarkan dengan serius semua saran dan masukkan dari Helen meskipun sesekali Fajrin menggelengkan kepala seperti menolak saran Helen.


“di coba dulu.... melakukan saran dari aku saja belum sudah pesimis seperti itu..... kamu masih ingat apa kata Abah waktu bos kamu ini melamarku?” pertanyaan Helen membuat Azkar tersenyum simpul mengingat kejadian saat melamar Helen tanpa membawa sanak saudara dan hanya membawa Fajrin saja.


“iya ingat..... ladang pahala..... tapi ini beda kasusnya dengan kamu.... secara status sosial saja sudah jauh sekali perbedaannya" ucap Fajrin mencoba menolak saran Helen.


“memangnya aku sama bos kamu ini sama status sosialnya?” ucap Helen yang mulai geram dengan ucapan Fajrin yang terkesan pesimis.


“di coba dulu saja semua saran dariku.... kalau kemungkinannya seperti yang bos kamu ini bilang.... tidak ada salahnya kamu melakukan saranku..... lagi pula kamu juga menganggur" ucap Helen sambil mencubit paha Azkar karena tangan Azkar yang jahil.


“aku ada project yang harus selesai, enak saja menganggur..... " ucap Fajrin yang mulai menyerah dan tidak memiliki ide apa pun untuk menghadapi berita yang semakin menggiring opini yang tidak-tidak tentang dirinya dan Divya.


“sudahlah bang.... aku mau makan malam dulu.... lapar perut aku.... Assalamualaikum “ ucap Fajrin yang terkesan menghindar dari pembahasan yang lebih aneh di luar nalarnya.


“Wa'alaikumsalam” balas Helen dan Azkar hampir bersamaan.


Fajrin memutus sambungan skype dan masuk ke kamar mandi untuk sholat magrib, Fajrin termenung memikirkan saran Helen hingga tanpa sadar hampir setengah jam dia sudah duduk dengan posisi takhiyat akhir. Fajrin melipat sajadahnya dan keluar kamar mendapati Irvan dan Gultom yang sibuk mencari berita tentang kejadian tadi malam dalam bahasa inggris, sesekali mereka terlihat kagum dengan kecantikan Divya membuat Fajrin semakin gusar.


“kalian mau terus-terusan melihat berita itu..... kalian tidak lapar? Sudah jam berapa ini.... apa kalian tidak mengecek makan malam kita?” ucap Fajrin sedikit dingin.


Membuat Irvan dan Gultom segera menutup browser mereka dan menghubungi Ryan juga muslim.


“makan malam sudah ada di unitnya muslim pak" ucap Irvan dengan meringis.


“kita makan malam sekarang pak..... siapa tahu dengan makan malam pikiran bapak bisa tenang dan bisa menemukan solusi terbaik untuk berita ini" ucap Gultom membuat Fajrin jengah dan melangkah keluar unit.


Fajrin merasa makan malam kali ini tidak begitu nikmat, entah karena memikirkan beritanya atau karena sudah merasakan makanan mewah di Taj Palace. Sesekali Fajrin mengerutkan kulit di antara kedua alisnya seperti sedang berpikir keras, dan sesekali Fajrin meneguk minumannya yang ternyata sudah habis tapi Fajrin tidak menyadarinya membuat keenam rekannya menahan tawa melihat tingkah leader mereka yang di luar kebiasaan.


Muslim menuangkan air mineral ke dalam gelas kosong Fajrin membuat kelima rekannya menjadi merasa kasihan dengan leader mereka.


“kalau menurut kalian bagaimana?” tiba-tiba Fajrin bersuara membuat Gultom terkejut melihatnya.


Tidak hanya Gultom yang terkejut mendengar pertanyaan Fajrin, Mereka semua terkejut melihat Fajrin dengan tatapan tidak percaya dan penuh dengan berbagai pertanyaan, tapi mereka belum berani memulai pertanyaan.


“apa kalian tidak ada ide untuk menghadapi berita kejadian tadi malam? Beritanya semakin menggiring opini yang tidak jelas.” Ucap Fajrin sambil meletakkan peralatan makannya asal.