
Hari berganti hari, Fajrin semakin sibuk dengan persiapan project besar yang mengharuskan dirinya untuk meninggalkan Jakarta selama empat belas bulan. Dengan beberapa orang yang sudah di tunjuk, Fajrin mulai merancang sebuah bangunan hotel mewah sekelas bintang lima dengan fasilitas lengkap dan super mewah. Hampir setiap hari Fajrin pulang malam bahkan tak jarang dia tidur di kantor, di dalam loker yang berada di bawah meja kerjanya sudah dia siapkan beberapa potong celana dan pakaian juga ****** *****. Karena kesibukannya yang semakin hari semakin padat membuat dia mengabaikan beberapa kali panggilan dan pesan dari Sofia, Fajrin hanya melihat sesaat dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Pak Fajrin, ponsel bapak berbunyi terus dari tadi sepertinya penting pak" ucap Ryan salah satu dari insinyur teknik sipil yang membantunya di project ini.
“kamu silent dan tolong masukkan ke loker saya" ucap Fajrin yang masih sibuk dengan gambar-gambar rancangannya.
Semua orang di kantor sudah mengenal Fajrin dengan baik tidak hanya sebagai salah satu orang kepercayaan CEO tapi juga sebagai orang yang telah menyelamatkan perusahaan sebelum mengalami kerugian besar. Sehingga banyak karyawan yang segan dengan Fajrin, meskipun Fajrin ramah tapi tidak semua orang bisa berbicara santai dengannya hanya orang-orang tertentu saja yang bisa berbicara santai dengannya.
Dulu sebelum orang-orang segan dengannya, hampir semua orang meremehkan kemampuan analisanya bahkan mengabaikan laporannya karena memang Fajrin mengawali karirnya di perusahaan milik Azkar sebagai mahasiswa intership. Tapi karena sikap Fajrin yang ramah dan teliti akan pekerjaannya membuat pelan-pelan orang yang meremehkannya merubah pandangannya tentang Fajrin. Hingga suatu peristiwa yang hampir saja membuat perusahaan ini menanggung malu dan rugi besar, saat itu Fajrin hanya mengunjungi salah satu project di luar Jakarta bersama dua orang teman sesama pegawai intership dan satu orang supervisor.
Fajrin dan kedua orang intership juga seorang supervisor sedang melakukan pengecekan mendadak tanpa sepengetahuan pengawas lapangan, Fajrin menemukan retakan pada beberapa beton bertulang. Pada saat itu project sudah berjalan kurang lebih satu bulan, Fajrin mendokumentasi temuannya dan melaporkan pada supervisor yang mengajaknya serta memberikan beberapa solusi untuk mengatasi temuannya. Supervisor itu mengijinkan Fajrin untuk membuat laporan hasil temuannya juga beberapa solusi untuk mengatasi temuannya, tapi semua laporan temuan Fajrin di abaikan oleh manager yang mengawasi project ini. Hingga terjadilah kecelakaan kerja yang mengakibatkan robohnya bagian itu dan memakan korban jiwa seorang tenaga kerja kasar dan beberapa orang terluka serta patah tulang.
Azkar dan semua direksi marah besar hingga menghentikan project itu selama dua minggu untuk melakukan penyelidikan penyebab robohnya struktur beton bertulang itu, supervisor yang mengetahui semua itu memberanikan diri mengatakan hasil temuan Fajrin. Azkar dan semua direksi membaca laporan Fajrin dari supervisor itu dan semakin membuat marah para petinggi di perusahaan.
Sejak saat itu orang-orang yang meremehkan kemampuan analisa seorang karyawan intership mulai merubah cara pandang mereka, Azkar dan para direksi memutuskan untuk menjadikan para karyawan intership termasuk Fajrin sebagai pengawas lapangan dan supervisor mereka sebagai manager pengawas.
Saat teman-teman seangkatannya sibuk menyebar daftar riwayat hidup setelah transkrip nilai keluar, tapi tidak dengan Fajrin dua hari setelah menyerahkan berkas persyaratan wisuda seorang manager HRD menghubunginya untuk segera bekerja. Tepat satu bulan sebelum wisuda, Fajrin sudah bekerja sebagai arsitektur di perusahaan milik Azkar.
“Bro, ayo makan siang dulu.... maketnya di lanjut nanti setelah makan siang" ucap Roby yang sudah berdiri dengan menyandarkan pahanya pada meja kerja Fajrin yang tak jauh dari meja gambar arsitektur yang di khususkan untuk Fajrin.
“sebentar sedikit lagi" ucap Fajrin sambil mengatur handle horizontal.
“sebentarmu itu satu jam buatku.... ayo kita makan.... aku sudah lapar ini" tarik Roby membuat Fajrin segera melepaskan handle horizontal.
“kita makan dimana?” tanya Fajrin sambil merapikan lengan kemejanya yang terguling hingga siku.
“makan di kantin bagaimana? Hari ini mereka ada menu spesial....” ucap Roby sambil menekan tombol lift.
“ayo.....” ucap Fajrin singkat.
Mereka masuk kedalam lift dan turun di lantai dua tempat kantin gedung Surendra berada, suasana kantin ramai sekali hingga terdapat beberapa antrian di beberapa tempat menu makanan. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengambil menu tom yam dan nasi putih, Fajrin menikmati makan siang dengan lahap karena sudah menghabiskan tenaga untuk menyelesaikan project baru yang sudah hampir mendekati dateline.
“bro.... pelan-pelan makannya.... kalau habis tambah lagi...” ucap Roby yang melihat Fajrin makan seperti orang yang tidak makan selama satu minggu.
“sorry aku tiba-tiba merasa lapar sekali setelah melihat makanan ini...... dan aku juga harus secepatnya menyelesaikan maket project tadi.” Ucap Fajrin sambil meneguk segelas jus jeruk.
“Pak Fajrin jadi imam ya....” pinta seseorang saat melihat Fajrin selesai wudhu.
Fajrin menganggukkan kepalanya dan Roby mulai mengucapkan kalimat iqomah, ternyata ada beberapa karyawan lain yang segera menyelesaikan wudhunya dan ikut berjamaah dengan Fajrin sebagai imam.
Selepas Sholat Dhuhur Fajrin lebih memilih berdzikir, Roby melihat ada aura kesedihan pada sahabatnya. Roby menunggu Fajrin hingga selesai dzikir dan mengajaknya duduk di sebuah taman gedung yang berada di lantai tujuh.
“bro.... ada masalah apa? Sampai mukamu sedih begitu.... kalau masalah dateline project baru aku yakin kamu mampu menyelesaikan sebelum dateline” ucapan Roby membuat fajrin menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.
“lamaran gue di tolak sama orang tua Sofia" ucap Fajrin pelan dan terdengar masih ada rasa kecewa.
“sumpah.... yang bener..... yakin kamu di tolak?” ucap Roby terkejut dan tidak percaya.
“lamaranku akan di terima kalau aku bisa memenuhi permintaan yang mereka ajukan" ucap Fajrin lemas.
“mereka minta apa sama kamu?” tanya Roby semakin penasaran.
“mereka meminta rumah mewah dengan fasilitas mewah, mobil sport dan logam mulia seratus gram.” Ucap Fajrin sambil mengusap kasar wajahnya.
“gila..... itu bukan mahar tapi pemerasan.... ternyata dugaanku benar tentang orang tua sofia materialistis.”ucap Roby penuh kebencian.
“terus kamu sanggup?”Roby semakin penasaran.
“tidaklah..... bisa gila aku memenuhi mahar begitu banyak..... hutang aku ke orang tuamu saja masih belum lunas masih ada hutang sama bang Azkar belum lunas juga....” ucap Fajrin kesal.
“terus?”
Fajrin terdiam tak bisa berkata-kata mengingat semua ucapan orang tua sofia yang sangat menyakitkan.
“sudahlah..... masih banyak perempuan single di luar sana.... kamu fokus saja sama project ini siapa tahu setelah kamu menyelesaikan project ini akan ada perempuan yang mengejarmu sampai kamu tidak bisa lari menghindarinya.” Ucapan roby hanya bisa di-amin-kan oleh Fajrin dalam hati saja.
“mana ada perempuan yang mau sama pria miskin dan banyak hutang" gumam Fajrin dalam hati.