My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 82 KONFERENSI PRESS



Sejak meninggalkan apartemen Divya sepanjang perjalanan kembali ke Jaipur, kepala Fajrin terasa penat berusaha memejamkan mata untuk menghilangkan rasa penat tapi sia-sia karena di dalam otaknya masih terlintas jelas rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Bahkan dulu saat masih bersama Sofia, Fajrin sama sekali tidak merasakan hal ini.


Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya mereka sampai di apartemen. Fajrin segera berjalan cepat masuk ke kamarnya membuat Irvan juga Gultom melihatnya dengan heran, Fajrin meletakkan tas punggungnya sudut kamar dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi melepas semua kain yang melekat di tubuhnya. Di bawah guyuran air hangat Fajrin menenangkan otak dan tubuhnya yang terasa penat juga, setiap kali terlintas bayangan Divya saat memeluk dan menciumnya saat itu juga dada dan hatinya terasa tidak nyaman.


Setelah berada di bawah guyuran air hangat selama kurang lebih dua puluh menit, Fajrin keluar dan berganti dengan pakaian santai melihat ponselnya yang beberapa kali menerima pesan dan panggilan tidak terjawab dari Divya. Satu persatu Fajrin membaca pesan dari Divya, senyum tipis terulas saat membaca pesan terakhir Divya. Fajrin membalas pesan Divya dengan satu kalimat.


Selesai makan malam Fajrin tidak bersuara sekali pun, dan menyibukkan diri dengan laporan perkembangan project Jaipur. Membuat Irvan dan Gultom melihatnya dengan penuh pertanyaan, tapi mereka tidak berani menanyakan hal itu.


Fajrin mulai menyibukkan diri dengan project Jaipur, tapi setiap kali kedua tangannya tidak ada aktivitas setiap kali itu pula bayangan pelukan dan ciuman Divya selalu terlintas di benaknya. Karena Fajrin tidak ingin fokusnya terganggu dengan bayangan Divya, setiap hari Fajrin menyibukkan diri dan berusaha tidak memberi kesempatan sedikit pun pada otaknya untuk memikirkan bayangan Divya. Fajrin mulai melakukan puasa Nabi Daud untuk menekan otaknya agar tidak memikirkan bayangan Divya, tapi Fajrin masih tetap menghubungi Divya untuk mengingatkan waktu Sholat. setiap kali hendak menekan nomor Divya kembali otaknya memutar sosok Divya yang memeluk dan menciumnya, setiap kali selesai mendengar suara dan membaca pesan dari Divya, Fajrin selalu mengulas senyum tipis di bibirnya.


Sedangkan Divya sejak menerima pesan yang cukup panjang dan tidak seperti biasanya dari Fajrin, selalu terlihat gembira dan selalu membaca pesan itu setiap kali moodnya tidak bagus. Hingga tiba harinya bagi Divya untuk melakukan konferensi press terkait hubungannya dengan Fajrin.


Orang-orang kepercayaan Arbab di New Delhi sudah menyiapkan sebuah ruangan di sebuah hotel untuk Divya melakukan konferensi press, para wartawan media cetak mau pun elektronik sudah berkumpul di ruangan itu sejak pagi bahkan para pemburu berita paruh waktu juga menenuhi ruangan itu. tepat pukul sepuluh Divya dengan di dampingi Elena dan pengawalan ketat dari Liam juga Bibhu berusaha menembus kerumunan para wartawan yang sudah tidak sabar mendengar pernyataan Divya.


Divya duduk di sebuah kursi mendapati meja yang tepat berada di depannya sudah penuh dengan mic, ponsel, dan alat perekam yang lainnya. Liam dan Bibhu menjaga Divya dengan berdiri di samping kanan dan kiri meja, sementara Elena dan dua orang kepercayaam Arbab duduk di samping kanan dan kiri Divya. Para wartawan yang tidak bisa meletakkan alat perekamnya di meja depan Divya hanya bisa merekam dari tempatnya berdiri.


“ Good afternoon all journalist and also all news hunters. Thank you for waiting my coming, thank you for taking the time to come here (selamat siang rekan-rekan wartawan media dan juga rekan-rekan pemburu berita paruh waktu. Terima kasih sudah menunggu kedatangan saya, terima kasih kalian sudah menyempatkan waktu untuk datang kesini). “ ucap Divya dengan berdiri dan sedikit membungkukkan badannya kedepan untuk memberi hormat juga salam pada para semua wartawan yang datang.


“ related to the news that has been circulating about me, today I’ll tell you all that I’m Divya Prakash Lohia have been in a relationship with a young architect from Surendra Corp named Fajrin (terkait dengan berita yang beredar selama ini mengenai saya, hari ini saya akan mengatakan pada kalian semua bahwa saya Divya Prakash Lohia telah menjalin hubungan dengan seorang arsitektur muda dari Surendra Corp yang bernama Fajrin). “ mendengar pernyataan Divya, seluruh wartwan berebut untuk bertanya.


Bibhu dan Liam dengan sigap menghalau para wartawan yang berusaha mendekati meja Divya, Elena dengan isyarat kedua tangannya mencoba menenangkan para wartawan yang mulai gaduh.


“ calm down we’ll give you a chance to ask, now please listen to Divya's explanation first (tenang nanti kami akan memberi kalian kesempatan untuk bertanya, sekarang tolong dengarkan penjelasan Divya terlebih dahulu). Ucap Elena yang sudah berdiri dengan mengangkat tangan meminta para wartawan untuk tertib dan tidak berbuat gaduh.


Para wartawan kembali tenang dan hanya kilatan lampu kamera yang masih saja mengambil foto Divya.


“ we have been in a relationship more than a month ago and I know him a long time ago before we started this relationship. I really love him and I really respect his decision not to be here. As you know, the profession of an architect is a profession that requires high concentration in completing his work, because the slightest mistake can make someone who work in project get injury and may be also make them lose their lives. I sincerely implore all of you to respect his privacy and not disturb him. (kami sudah menjalin hubungan lebih dari satu bulan yang lalu dan saya mengenal beliau jauh dari sebelum kami memulai menjalin hubungan ini. Saya sangat mencintai beliau dan saya sangat menghargai keputusan beliau untuk tidak hadir disini. Seperti yang kalian ketahui profesi seorang arsitek adalah profesi yang menuntut konsentrasi tinggi dalam menyelesaikan pekerjaannya, karena kesalahan sedikit saja dapat mengakibatkan cedera bagi para pekerja project dan mungkin juga membuat mereka kehilangan nyawanya. Dengan sangat saya memohon kepada rekan-rekan semua untuk menghargai privasi beliau dan tidak mengganggu beliau.) “ ucapan Divya semakin membuat para wartawan ingin tahu lebih tentang sosok Fajrin.


“ if you all want to know the figure of the guy who is in a relationship with Divya at this moment..... you have to see this (bila kalian semua ingin mengetahui sosok pria yang sedang menjalin hubungan dengan Divya saat ini..... kalian biasa melihat ini) “ ucapan Elena membuat Divya menatapnya heran dan semakin membuat para wartawan ingin tahu lebih jauh tentang sosok Fajrin dan bertanya lebih banyak tentang Fajrin.


Elena mengeluarkan ponselnya dan meminta Derek menyerahkan sebuah laptop yang dia bawa, Elena menyalakan laptop dan menghubungkannya dengan ponsel menggunakan kabel data. Para wartawan tidak henti-hentinya mengabadikan moment disaat Elena sibuk dengan laptop dan ponselnya juga wajah Divya yang heran dan sepertinya menyimpan banyak pertanyaan untuk Elena.