My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 121 MERENUNG



Otak Divya yang tidak pernah berpikir menggunakan logika tiba-tiba kepala bagian belakang terasa sakit, selama ini Divya lebih menggunakan perasaannya dari pada logika sehingga apa pun yang Fajrin katakan atau pun ajarkan selama itu membuatnya nyaman Divya akan lakukan tapi bila ada hal yang tidak sesuai dengan perasaannya maka Divya akan mengabaikan bahkan Divya melupakannya menganggap bahwa tidak pernah mendengar itu semua.


Divya duduk termenung di sofa, merenungi setiap pertanyaan Davis hingga membuatnya lupa makan malam meski pun Liam sudah mengingatkannya.


“ ayang tidak melarang Divya menerima kontrak ini bahkan ayang mengatakan kalau itu pekerjaanku dan aku harus bertanggung jawab terhadap pekerjaanku..... kalau ayang tidak melarangku berarti ayang menerima aku dan pekerjaanku.... “ gumam Divya yang masih belum bisa menebak atau menemukan apa yang di pikirkan Fajrin.


Semalaman Divya memikirkan apa yang kemungkinan Fajrin pikirkan tapi Divya tidak bisa menemukan kemungkinan tersebut, menjelang pagi lingkaran hitam terlihat di sekitar mata Divya.


“ apa kamu sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada di dalam benak Fajrin tentang dirimu? “ suara Davis yang tiba-tiba membuatnya terkejut dan tersadar dari lamunannya.


Divya duduk di sebelah Davis dan menatapnya dengan heran.


“ kalau kamu serius menyukai Fajrin dengan dia yang seperti itu.... papi tidak akan melarang kalian bertemu....” ucapan Davis terhenti tapi sudah cukup membuat Divya hilang satu kekuatirannya selama ini.


“ tapi papi..... tidak bisa merestui hubungan kalian bila Divya masih seperti ini tidak berubah tidak mengerti apa yang Fajrin harapkan dari Divya “ seketika Divya kecewa dengan ucapan Davis dan membanting kasar punggungnya pada sandaran sofa.


“ papi tidak melarang kami bertemu tapi papi juga tidak merestui hubungan kami..... Divya bingung dengan sikap papi “ ucap Divya jengkel dan mulai emosi.


“ apa kamu sudah lupa wanita yang selama ini berada di sekitar Fajrin seperti apa dan bagaimana? “ suara tenang Davis membuat Divya terpancing mengingat sosok Helen, Nara dan Sofia.


Divya terdiam tak mampu menjawab pertanyaan Davis, kepala bagian belakang kembali terasa sakit mengingat sosok wanita yang berada di sekitar Fajrin.


Divya menjawab pertanyaan Davis dengan menggelengkan kepala. Davis menarik nafas panjang melihat reaksi putrinya yang terdiam seribu bahasa.


“ kamu pikirkan lagi baik-baik tentang semua yang sudah Fajrin lakukan padamu.... seberapa sabar seberapa kuat dia bertahan dengan sikap dan pola pikir kamu selama ini.... dan seberapa jauh batas kesabarannya. “ ucap Davis sambil memberi isyarat tangan pada Jason untuk mendekat.


“ look for information on Divya's flight schedule back to Jakarta, make us sit next to each other (carikan informasi jadwal penerbangan Divya kembali ke Jakarta, usahakan kami bisa duduk bersebelahan) “ perintah Davis membuat Jason sigap mencari informasi tentang jadwal penerbangan Divya.


“ papi akan mengawal kamu sendiri, Liam sudah papi kirim ke Jakarta.” Ucapan Davis semakin membuat Divya terkejut.


“ Miss Divya's flight schedule tomorrow morning at 8:15 by SQ plane from Suvarnabhumi airport directly to Soekarno Hatta (jadwal penerbangan nona Divya besok pagi pukul 8:15 dengan pesawat SQ dari bandara Suvarnabhumi langsung ke soekarno hatta) “ ucap Jason sambil menunjukan etiket Divya.


Davis melihat etiket tersebut untuk sesaat.


Divya menatap Davis dengan tatapan tidak percaya.


“ kenapa papi merubah penerbangan Divya, apa papi ada maksud tersembunyi dengan kedatangan papi kesini..... apa papi akan berusaha menjodohkan Divya dengan anak rekan bisnis papi? Papi..... Divya hanya mau menikah dengan ayang, Divya tidak mau dengan yang lain “ suara amarah dan air mata yang pelan-pelan jatuh membuat Davis menarik nafas panjang.


“ papi tidak akan lagi memperkenalkan kamu dengan anak-anak rekan bisnis papi..... papi ingin membantu putri cantik papi mendapatkan pria idamannya..... tapi kalau putri cantik papi tidak mau..... sepertinya papi harus menggunakan cara yang sedikit keras dan berbeda dari sekarang. “ ucapan Davis yang terdengar seperti sebuah teka-teki bagi otak Divya membuat Divya menatap Davis dengan heran.


Pukul 6:30 pagi hari waktu kota Bangkok, Divya dan Davis juga Jason sudah berada di dalam bandara Suvarnabhumi, selagi menunggu jadwal masuk pesawat mereka memesan makanan di sebuah restoran yang berada di dalam bandara.


“ habiskan makan pagi kamu “ ucap Davis pelan tapi terdengar tegas.


“ Divya sudah kenyang pi.... “ ucap Divya kesal.


“ kamu sendiri yang memilih menu ini.... jadi kamu juga harus bertanggung jawab untuk menghabiskannya.... bukan membuang-buang seperti ini “ ucap Davis dengan tegas membuat Divya semakin kesal.


Dengan sangat terpaksa Divya memasukan sepotong demi sepotong daging steak yang dia pilih, meski pun Divya sudah malas menghabiskan makanan yang berada di depannya tapi karena Davis menatapnya tajam. Mau tak mau Divya menghabiskannya hingga tak tersisa sepotong daging pun, selesai makan pagi mereka langsung menuju ke ruang tunggu karena 30 menit lagi jadwal penerbangan CX.


“ papi sudah membantumu untuk menyingkirkan gaun, tas, sepatu, kosmetik, parfum dan lain lain yang tidak terlalu penting bahkan tidak pantas kamu pakai, apa kamu masih tidak bisa memahami maksud papi?..... maaf kalau selama 20 tahun lebih papi tidak mengajarkanmu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Bukan papi tidak sayang atau keras padamu, tapi papi tidak ingin melihatmu menangis lagi karena kesalahan kamu sendiri “ nasehat Davis sedikit mengenak di hati Divya.


“ apa kamu masih mengingat bagaimana Fajrin meninggalkan kamu pada Dipta? “ ingatan Divya seketika kembali mengingat saat Fajrin meninggalkannya dengan amarah yang tertahan.


“ iya.... ayang marah hanya karena Divya tidak mau makan makanan yang sudah Divya pesan bahkan sampai Divya mengancam pun ayang tetap tidak mau melanjutkan hubungan di luar kontrak" ucap Divya pelan dan sedih mengingat hal itu.


“ kamu paham alasan Fajrin kenapa menahan amarahnya saat itu? “ pertanyaan Davis membuat Divya tertunduk dan menganggukan kepala.


Bagaimana Divya tidak lupa, hanya karena tidak mau makan makanan yang sudah di pesan sudah membuat Fajrin marah. Tapi tidak hanya itu saja yang membuat Fajrin marah saat itu tapi karena sikap Divya yang masih sama meski pun sudah berkali-kali Fajrin mengingatkan.


“ sampai di Jakarta jangan terburu-buru menemuinya.... kamu renungkan dulu apa yang sudah Fajrin lakukan, apa yang sudah dia katakan untuk selalu mengingatkan kamu. “ ucapan Davis sekali lagi membuat Divya berpikir keras mengingat apa saja yang sudah Fajrin katakan dan apa saja yang sudah Fajrin ajarkan padanya.


Tepat pukul 7:45 Divya dan penumpang yang lain masuk ke dalam pesawat untuk terbang ke Bandara Soekarno Hatta, penerbangan ke Jakarta di tempuh dalam waktu 3 jam 45 menit. Berkali-kali Divya menarik nafas panjang seperti berusaha melepaskan beban pikiran, Divya berusaha keras mengingat setiap kata yang Fajrin ucapkan sejak pertama kali dekat karena kontrak.