
Karena Fajrin tahu betul apa saja mobil milik Davis, keringat dingin mulai mengalir di punggung juga lehernya.
“ ayang.... ayo.... papi kami pergi dulu ya “ ucap Divya yang sudah menarik ujung jaket kulit Fajrin.
Membuat Fajrin menjadi semakin gugup.
“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin dan mendapat balasan dari Nenek Ina yang sedari tadi menahan senyum melihat tingkah gugup Fajrin.
Fajrin belum tahu mobil brand apa yang kuncinya dia terima karena begitu menerima kunci mobil dari Jason, Fajrin langsung menggengam erat kunci tersebut. Divya menarik Fajrin hingga ke garasi mobil yang berjajar lebih dari 6 mobil mewah produksi Italia.
“ ayang ayo..... “ Fajrin sadar segera membuka genggamaan tangannya seketika kedua mata Fajrin membulat sempurna.
“ ini berlebihan.... kita naik taxi saja ya.... “ ucap Fajrin sambil menarik nafas panjang.
Belum sempat Fajrin melangkah, Divya sudah merebut kunci mobil dan menekan tombol dengan tanda pintu terbuka salah satu mobil mewah milik Davis menyalakan lampu depan.
“ Astagfirullah.... Divya.... ini terlalu berlebihan.... kita naik taxi saja ya... “ ucap Fajrin sambil menatap sebuah mobil keluaran italia seharga 3 milyar lebih.
Karena Divya sudah duduk di kursi samping kemudi, mau tak mau Fajrin mengikuti Divya dan duduk di kursi kemudi. Fajrin menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya membuat Divya tersenyum.
“ ayo jalan.... “ ucapan Divya semakin membuat Fajrin gugup karena baru kali ini menyetir mobil seharga 3 kali rumahnya.
“ bismillahirrahmanirrahim “ ucap Fajrin sambil menginjak pedal rem dan tombol start.
Fajrin sangat tegang dan gugup membuat pikirannya sedikit kosong, Divya mencoba menenangkan Fajrin dengan memgajaknya berbicara.
“ ayang..... waktu SMA pernah punya pacar? “ pertanyaan Divya bukan membuat Fajrin tenang tapi membuat Fajrin semakin gugup.
Fajrin sedikit ragu menjawab pertanyaan Divya, tapi Fajrin merasa bahwa Divya harus tahu dari pada Divya tahu dari mulut selain dirinya. Fajrin menarik nafas panjang menenangkan rasa gugupnya karena menyetir mobil mewah juga karena pertanyaan Divya.
“ dulu.... pernah ayang suka sama teman satu kelas tapi karena satu hal dia menolak ayang. “ ucap Fajrin yang masih berusaha menenangkan rasa gugupnya.
“ cantik tidak? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin mengeluarkan sarung tangan dari dalam jaket kulit yang masih dia pakai.
Fajrin memakai sarung tangan tersebut di sela-sela memegang kemudi mobil, tanpa Divya sadari tangan kanan Fajrin meraih tangan kiri Divya dan menggenggamnya erat.
“ kalau dulu semasa SMA dia mungkin paling cantik bagi ayang...... tapi saat ini dan seterusnya wanita paling cantik menurut ayang hanya 3..... ibu.... Nara dan wanita bernama Divya Prakash Lohia “ ucapan dan genggaman erat tangan Fajrin membuat pipi Divya bersemu merah dan membuat Divya ingin sekali menyandarkan kepalanya di bahu kanan Fajrin.
“ kalau boleh tahu.... siapa namanya? “ tanya Divya sambil tangan kanan memegang pipinya sendiri yang terasa sedikit panas.
“ namanya Eliza.... “ ucap Fajrin yang masih menggenggam tangan kiri Divya.
“ apa nanti dia datang juga? “ tany Divya semakin ingin tahu.
“ dia tidak bisa datang dan tidak akan pernah datang ke reuni sekolah “ ucap Fajrin
“ kenapa? Tinggal di luar Jakarta? “ tany Divya semakin penasaran.
“ Eliza meninggal karena kanker tulang “ Divya diam seketika tidak berani melanjutkan pertanyaannya.
Sepanjang menuju restauran Syafril, Fajrin menggenggam tangan kiri Divya seperti kuatir bila Divya akan merajuk nantinya.
Sampai di area parkir restauran Syafril sudah ada beberapa teman Fajrin yang sedang memarkir mobil atau pun motor mereka, mereka terpana melihat mobil mewah berhenti di area parkir restauran dan saling berbisik.
“ wuiiiih.... mobil mewah keluaran Itali “
“ bukankah hari ini restauran ini tutup dan hanya kita saja tamu restauran ini? “
“ benar juga.... tidak mungkin pemilik mobil itu salah satu dari teman kita “
Ucapan 3 orang teman sekelas Fajrin yang masih belum tahu siapa yang duduk di dalam mobil tersebut.
Saat mereka bertiga sudah di depan pintu restauran, Fajrin keluar dan membantu Divya keluar dari mobil. Seketika 3 orang teman Fajrin membulatkan kedua mata dan mulut mereka melihat Fajrin yang keluar dari mobil mewah tersebut sambil menggenggam tangan wanita cantik.
“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin saat berada tepat di depan mereka bertiga.
“ punya kamu? “ tanya Danang salah satu teman Fajrin tersebut.
“ salamku dibalas dulu baru tanya “ ucap Fajrin membuat mereka bertiga membalas salam Fajrin.
“ serius punya kamu? “ tanya Oni yang ingin tahu sekali.
“ bukan.... punya calon mertua “ jawab Fajri santai sambil memindah posisi Divya sedikit kebelakang agar mata nakal Andre tidak menelanjangi Divya.
“ aku masuk dulu ya.... “ ucap Fajrin yang sudah melangkah masuk ke restauran sambil memindahkan tangan kanan Divya yang berada di genggaman tangan kiri ke tangan kanannya sementara tangan kirinya berada di punggung Divya.
Syafril yang melihat Fajrin datang tersenyum senang.
“ aku ke atas dulu ya.... ganti baju.... “ sapa Fajrin yang lewat di depan syafril.
Syafril melambaikan tangan pada Divya membuat Divya semakin menempel pada Fajrin, dan Fajrin membalas lambaian tangan Syafril dengan tatapan tajam.
Di lantai 3 restauran Fajrin melepas tangan Divya.
“ duduk sini dulu.... ayang ganti baju.... “ Divya bukannya duduk tapi mengekor di belakang Fajrin.
Saat Fajrin meletakkan kunci mobil di meja dan melepas jaket kulit, terdengar suara tawa Divya dan membuat Fajrin membalikkan badan.
“ Divya.... ayang sudah bilang tunggu di luar.... ayang ganti baju dulu.... “ ucap Fajrin sambil mengeluarkan sebuah kemeja berwarna senada dengan tunik yang Divya pakai.
“ ingin lihat ayang ganti baju “ goda Divya.
Fajrin menarik nafas panjang mendekati Divya, jantung Divya berdetak tidak beraturan saat Fajrin mendekat.
“ berbalik..... sampai ayang bilang selesai “ ucap Fajrin membuat Divya mengerucutkan kedua bibirnya.
Saat Divya berbalik badan membelakangi Fajri, dengan cepat Fajrin berganti pakaian agar tidak terlihat oleh Divya. Selesai berganti dengan kemeja lengan panjang berwarna senada dengan tunik Divya, Fajrin kembali mengenakan sarung tangan dan berdiri di belakang Divya.
“ kalau sudah halal.... ayang akan perlihatkan semua “ suara berbisik Fajrin membuat bulu-bulu halus di tangan dan tengkuk Divya terasa berdiri.
Divya tertunduk malu mendengar bisikkan Fajrin, Fajrin tersenyum dan meraih tangan kanan Divya mengajaknya turun ke lantai 1. Fajrin tidak ingin keberadaanya di lantai 3 dengan Divya menimbulkan fitnah juga bahan ghibah bagi teman-temannya.
Saat Fajrin sudah berada di anak tangga terakhir lantai 1, Syafril mendekatinya.
“ cepat sekali.... tidak ada 10 menit.... memang dia sudah puas “ canda Syafril membuat Fajrin menarik simpul apron masak Syafril.
Syafril mengikuti langkah kaki Fajrin yang ingin menyapa semua teman-temannya, dengan tangan kirinya masih menggenggam erat tangan kanan Divya. Fajrin dan Syafril menyapa dan menyalami satu persatu teman-temannya serta pasangan mereka, tentunya Fajrin tidak menjabat tangan teman wanita mau pun wanita pasangan teman mereka. Mereka saling memperkenalkan pasangan masing-masing begitu juga dengan Fajrin yang memperkenalkan Divya sebagai calon tunangannya tapi karena ke jahilan Syafril, setiap kali Fajrin memperkenalkan Divya maka Syafril akan menambahi dengan kalimat yang sukses membuat Divya tersipu.