My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 178 KEJUTAN



Saat pintu terbuka semua orang melihat ke arah Fajrin tanpa terkecuali, terlihat jelas wajah bahagia Divya dan wajah-wajah lega dari keluarga besar Surendra yang sedari tadi terlihat jelas sangat tegang dan kuatir bila Fajrin tidak bisa datang tepat waktu. Fajrin melangkah dengan sedikit membungkukkan badan mendekati kursi yang berada di antara Selo dan Azkar, dengan tangan kiri menggenggam erat kantung kertas kotak perhiasan dari Nara. Selo menepuk bahu kanan Fajrin dan tersenyum bahagia, begitu juga dengan Freya yang terlihat sejelas sangat bahagia sampai kedua matanya berkaca-kaca melihat perjuangan Fajri untuk sampai disini tepat waktu.


“ lihat wajah Divya.... dia sangat cantik malam ini.... dia memakai bros yang kamu beli “ bisik Azkar membuat Fajrin tertunduk malu tidak berani melihat ke arah tempat duduk Divya.


“ Divya memang cantik bang.... dan kali ini aku harus bisa menghalalkan dia.... “ ucap Fajrin sambil mengeratkan genggaman tangannya di kantung kertas yang sedari tadi di pegang.


Azkar memjiat bahu kiri Fajrin, sangat mendukung keputusan Fajrin. Divya yang sedari tadi melihat Fajrin dari pertama kali membuka pintu hall terlihat jelas sangat bahagia karena Fajrin bisa datang tepat pada waktunya.


Pengarah acara memulai acara lamaran dan pertunangan malam ini dengan membaca surat pendek, jantung Fajrin semakin berdetak lebih cepat dari biasanya. Fajrin terlihat jelas sangat gugup juga bahagia, kedua tangan dan jari-jemari kedua kakinya terasa dingin. Bahagia karena apa yang akan dia katakan di hadapan keluarga besar Divya dan keluarga besar Surendra adalah pengakuannya selama ini apa yang dia rasakan pada Divya wanita yang berhasil membuat hati dan otaknya naik turun tidak beraturan juga menenangkannya. Gugup karena ini pertama kalinya Fajrin melamar seorang gadis dihadapan tiga keluarga besar, Fajrin kuatir bila yang akan dia katakan ada kata-kata yang akan menyinggung perasaan salah seorang anggota keluarga dari pihak Divya.


Tiba waktunya pada acara inti, Fajrin yang duduk di antar Azkar dan Selo mulai mengatakan apa maksud dan kedatangannya dengan membawa keluarga besar Surendra kemari. Dengan kedua tangan dan kaki yang terasa semakin membeku serta suara bergetar, Fajrin berusaha mengatakan isi hatinya.


“I'm here not for myself. I’m here because of my fear to ALLAH. I’m here not for myself but for you, who will be the first priority in my life after God and the Prophet. Let me with all the feelings that ALLAH gives me make a confession. We've been through a lot of together…..it's not easy but, all the difficulties for me is nothing as long as it's about you. (aku di sini bukan untuk diriku sendiri. Aku di sini karena ketakutanku pada ALLAH. Aku di sini bukanlah untuk diriku sendiri melainkan untuk dirimu, yang akan menjadi prioritas utama dalam hidupku setelah Tuhan dan Nabi. Izinkan aku dengan segala perasaan yang ALLAH berikan ini membuat pengakuan. Banyak yang sudah dilalui bersama.....tidak mudah memang tapi, segala kesulitan bagiku seperti tak berarti asal itu tentang Kamu.) “ suara Fajrin semakin terdengar bergetar menahan rasa gugup.


Fajrin sengaja mengucapkan dengan bahasa Inggris karena keluarga besar Divya tidak bisa berbahasa Indonesia selain Davis, Dipta dan Nenek Ina.


Freya mulai meneteskan air mata dan kedua mata Azkar mulai berkaca-kaca karena selama ini dia sangat mengetaui apa saja yang Fajrin pernah alami selama dekat dengan Divya.


Kedua mata Divya terlihat jelas berkaca-kaca begitu juga Davis dan Dipta juga Nenek Ina, Davis tahu apa saja yang sudah Fajrin lalui agar bisa hadir disini. Dipta yang tidak pernah meneteskan air mata karena perkataan Fajrin yang berkali-kali sangat menusuk tepat di dadanya, kali ini berusaha keras menahan air matanya yang sudah siap mengalir.


“ It's okay, if I'm get into big trouble if it's because of you. But, isn't everything in this world always accepted with consequences? No difficulty stands alone. Troubles always go hand in hand with happiness. I just want to keep you until it's lawful for me to touch you. And tonight, I want to say with all my longing. In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful, be my only angel in this world and the hereafter. (Boleh saja, bila mendapatkan kesulitan yang besar jika itu bersamamu. Tapi, bukankah segala hal di dunia ini selalu diterima dengan konsekuensi? Tidak ada kesulitan yang berdiri sendiri. Kesulitan selalu seiring dengan kebahagiaan. Aku hanya ingin menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu. Dan malam ini, aku ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. Dengan nama ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, jadilah bidadari dunia dan akhiratku.) ” Ucapan Fajrin dengan suara yang masih bergetar membuat hampir semua mata orang yang hadir berkaca-kaca.


Bahkan Divya air mata sudah mengalir di pipi kirinya menganggukan kepala dua kali untuk menjawab semua apa yang Fajrin ucapkan.


Azkar, Selo dan Freya terlihat sangat lega melihat anggukan kepala Divya. Davis tersenyum bahagia melihat anggukan kepala Divya, sedangkan Fajrin yang masih menunduk tidak berani melihat Divya mendapatkan pijatan kecil di bahu kiri dari Azkar.


“ sampai tahap ini kamu berhasil meyakinkan mereka..... Divya menerima lamaranmu.... om Davis tersenyum bahagia sampai beliau tidak mampu menahan air matanya “ ucapan Azkar membuat Fajrin semakin gugup


“ I accept your proposal for Divya and become a part of Prakash big family as well as Lohia big family (aku menerima lamaranmu untuk Divya dan menjadi bagian dari keluarga besar Prakash juga keluarga besar Lohia) “ ucapan Davis membuat rasa gugup Fajrin sedikit berkurang.


Pengarah acara meminta Fajrin dan Divya dengan keluarga dekat untuk berdiri di antara para keluarga besar.


Davis menggandeng tangan Divya untuk melangkah menuju ke area tengah yang sudah di siapkan untuk proses pemasangan cincin di jari Divya, Selo menepuk bahu Fajrin agar segera berdiri dari kursi dan melangkah ke area tengah dengan dirinya juga Freya yang sudah siap dengan kotak cincin di tangan kirinya.


Freya menyamatkan cincin di jari manis tangan kiri Divya, kedua mata Davis menatap cincin tersebut dengan tidak percaya. Davis paham betul apa brand cincin itu dan berapa nilainya, Divya tersenyum bahagia saat Freya menyematkan cincin yang Fajrin pilih untuk dirinya dan memperlihatkan pada Fajrin yang masih belum berani menatap wajah Divya.


Fajrin dengan tangan bergetar mengeluarkan kotak perhiasan dari kantung kertas yang dia pegang dan membukanya, memperlihatkan isi kotak tersebut pada Divya. Divya tidak mampu lagi menahan rasa haru juga terkejutnya.


“ ayang..... ini bagus sekali “ ucap Divya dengan bahagia juga terkejut melihat apa yang Farjin genggam dari tadi.


Fajri mengulas senyum di bibirnya.


“ tante.... bisa bantu Fajrin memakaikan ini pada Divya “ ucap Fajrin dengan suara bergetar karena gugup sambil tangan kanannya menyodorkan kotak perhiasan yang sudah terbuka memperlihatkan sebuah kalung pemberian dari Nara.


Pengarah acara yang melihat proses ini saat mengambil kantung kertas kosong dari tangan Fajrin seketika terkejut membaca tulisan di kantung kertas tersebut.


“ George Jensen... Oslo “ ucap salah seorang pengarah acara saat membaca tulisan di kantung kertas yang dia pegang.


Dan sukses membuat semua para wanita di keluarga besar Divya menjadi saling berbisik apa lagi saat sebuah kamera memperlihatkan kalung yang Freya sematkan di leher Divya, mereka semakin riuh membisikkan apa yang mereka dengar dan lihat sendiri. Mendengar nama seorang desainer perhiasan asal Denmark yang sangat di kagumi dan terkenal di kalangan atas masyarakat skandinavia Eropa mau pun di benua Amerika dan melihat karyanya melingkar di leher Divya.


“ ayang..... bagus sekali.... pasti mahal “ ucap Divya dengan mata berkaca-kaca.


“ itu kalung dari adik..... sebagai tanda bahwa adik mengikat Divya untuk selalu berada di samping kakaknya yang egois ini “ ucapan Fajrin membuat Davis yang berdiri di samping Divya merasa terharu dan semakin ingin tahu sosok Nara yang sebenarnya.