My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 86 PERMAINAN



“ sudah paham kenapa kakak tidak bisa menatap kamu lama-lama? Sudah paham kenapa kakak hanya menatap kamu sebatas leher? “ pertanyaan Fajrin tidak hanya membuat Divya menganggukan kepala tapi juga Elena yang mendengar bacaan Divya.


“ tapi kak Fajrin pernah menatap wajah Divya lama.... kalau tidak salah lebih dari dua detik “ ucap Divya yang masih tertunduk.


Fajrin kembali menggerakkan jari telunjuknya menunjuk sebuah kalimat untuk Divya baca.


“Janganlah kamu mengikutkan pandangan dengan pandangan berikutnya. Sebab hanya pandangan pertama saja yang dibolehkan bagimu, tidak untuk pandangan setelahnya. HR Abu Daud nomor 2149 At-Tirmidzi nomor 2777 “ suara Divya kembali bergetar membaca kalimat yang Fajrin tunjuk.


Divya tertunduk tidak berani melihat Fajrin, Divya merasa dadanya seperti tertusuk tombok.


“ apakah ini berarti bahwa Divya sangat berharga di mata kak Fajrin? “ tanya Divya yang masih tertunduk.


“ setiap wanita sangat berharga bahkan tidak dapat di nilai dengan banyaknya harta, jadi buatlah dirimu menjadi wanita yang tidak dapat di nilai dengan harta benda, buatlah dirimu menjadi wanita yang selalu di muliakan oleh setiap orang yang melihatmu “ ucap Fajrin sambil mengacak-acak rambut Divya dengan tangan kirinya yang masih mengenakan sarung tangan.


Elena membuka lebar mulutnya melihat gerakan tangan Fajrin yang di luar prediksinya dan buru-buru Elena mengabadikan moment tersebut tanpa sepengetahuan Divya mau pun Fajrin. Saat Fajrin masih mengacak-acak rambut Divya dengan tiba-tiba Liam masuk membawa empat kantung tidur, membuat Fajrin menghentikan pergerakan tangannya tapi tetap diam di atas rambut Divya. Liam seperti mendapat tatapan elang dari Elena juga Divya, tapi Fajrin tersenyum melihat raut wajah Liam yang terlihat ketakutan beda sekali saat sedang mengawal Divya.


Malam ini Fajrin menginap semalam di unit Divya dengan di temani Elena dan Liam, Fajrin meminta supir yang mengantarnya untuk kembali pulang dan menjemputnya besok siang.


Karena bahan makanan di lemari pendingin sudah Fajrin habiskan untuk menu makan siang mereka makan malam ini Elena membeli makan malam di cafe lantai dasar apartemen. Elena membawa beberapa menu makanan India untuk makan malam mereka berempat.


“ biryani, butter chicken, rogan josh, dua tikka masala.... “ ucap Elena sambil mengeluarkan satu persatu makanan yang dia beli.


Divya membawa dua tikka masala untuk dirinya juga Fajrin, sementara Elena membawa satu biryani dan rogan josh. Liam yang tidak dapat memilih menu makanan hanya bisa menerima butter chicken saja. Mereka berempat makan tanpa ada pembicaraan apa pun, akhirnya Fajrin bisa berbangga diri karena bisa membuat Divya mengerti bahwa makan sambil berbicara adalah hal yang tidak di perbolehkan.


Setelah makan malam mereka mencoba mengisi malam ini dengan melihat acara televisi, tapi itu tidak berlangsung lama karena mereka tidak mengerti bahasa India. Hal ini membuat Divya bosan.


“ how about tonight we spend with a little game (bagaimana kalau malam ini kita habiskan dengan sebuah permainan kecil) “ ucap Elena membuat Divya sama sekali tidak berminat mendengarnya karena Fajrin sedang sibuk berbicara dengan seseorang di ponselnya.


“ What kind of game? Don't be weird (permainan apa? Jangan yang aneh-aneh) “ ucap Liam yang sedikit kuatir bila ide permainan Elena akan membuatnya melakukan hal-hal yang aneh.


“ Wait a minute, let's wait for Mr. Fajrin first (sebentar, kita tunggu pak Fajrin dulu) “ ucap Elena senang karena berhasil membuat Liam ingin tahu.


Beberapa menit kemudian Fajrin mematikan ponselnya dan meletakkan di meja serta bergabung dengan mereka bertiga.


“ Mr. Fajrin, do you want to come with us to play a game (pak Fajrin mau ikut kita bermain tidak)? “ tanya Elena sambil mengeluarkan sebuah pena.


“ What kind of game (permainan apa)? “ tanya Fajrin sambil membetulkan posisi duduknya.


“ the name of the game is truth or dare (nama permainannya tantangan atau kejujuran) “ jawab Elena semangat.


“ okay.... but the pen player has the right to determine questions or orders at what this pen is pointing at (boleh.... tapi pemutar pena berhak untuk menentukan pertanyaan atau pun perintah pada yang di tunjuk pena ini) “ ucap Liam yang kali ini mulai semangat.


Akhirnya mereka berempat sepakat untuk melakukan permainan ini, Liam dan Fajrin menyingkirkan sofa hingga ke tepi ruangan dan mereka duduk bersila mengelilingi meja bundar.


Liam mengambil pena pertama kali dan memutarnya, beruntung bagi Fajrin yang duduk tepat di depan Liam karena ujung pena menunjuk tepat pada dirinya. Liam berpikir sejenak untuk menyiapkan pertanyaan atau perintah pada Fajrin.


“ you choose challenge or honesty (anda memilih tantangan atau kejujuran)? “ tanya Liam dengan senang.


“ just honesty (kejujuran saja) “ ucap Fajrin santai, Liam senang mendengar jawaban Fajrin.


“ well .... this question you must answer honestly. If you are asked to side with someone who will you choose if you have to side with one of the ones I mentioned. your mother or your lover (baiklah.... pertanyaan ini harus anda jawab dengan jujur. Bila anda di minta untuk memihak seseorang siapa yang akan ada pilih bila harus memihak salah satu dari yang saya sebut. anda memilih ibu atau kekasih)? “ pertanyaan Liam membuat Fajrin tersenyum tapi tidak dengan Divya yang berharap-harap cemas.


“ I'll choose my little sister (saya akan memilih adik saya) “ jawab Fajrin tanpa ragu.


Divya, Elena dan Liam bingung mendengar jawaban Fajrin. Liam belum mengetahui informasi detail tentang Fajrin.


“ why you choose a little sister..... you should choose a mother (kenapa adik.... harusnya pak Fajrin memilih ibu) “ protes Elena membuat Fajrin semakin tersenyum lebar.


“ if your mother already pass away. Are you still choose your mother (kalau ibu kalian sudah berada di bawah tanah. Apa kalian masih tetap akan memihak ibu kalian)? “ ucapan Fajrin seketika membuat mereka bertiga sadar bahwa Fajrin sudah tidak memiliki ibu.


Mereka terdiam sesaat, sampai Elena memutar kembali pena.


“ now my turn (kalau begitu sekarang giliran saya) “ ucap Elena sambil memutar pena.


Ujung pena mengarah pada Divya, Elena sudah mempersiapkan sebuah pertanyaan.


“ I choose honestly (aku pilih kejujuran saja) “ ucap Divya pasrah.


“ are you still in virgin (apa kamu masih perawan)? “ Fajrin tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan Elena.


Tapi Elena terlihat santai.


“ of course I'm still virgin.... are you doubt me (tentu saja aku masih perawan.... apa kamu meragukanku)? “ ucap Divya tidak terima dan mulai cemberut.


“ fine I trust you that you're still virgin.... now your turn to turn on this pen (baiklah aku percaya kamu masih perawan... sekarang giliranmu memutar pena ini) “ ucap Elna sambil tersenyum kecil karena berhasil membuat Fajrin terkejut dan sekarang Elena melihat Fajrin sedikit canggung.


Ujung pena mengarah pada Liam, Liam mulai terlihat panik karena sepertinya Divya ingin menjahilinya.


“ especially Liam.... you have to do the challenge if you don't want to.... then the day after tomorrow when my last schedule you have to be topless during my photo shoot (khusus Liam.... kamu harus melakukan tantangan kalau tidak mau.... lusa depan saat jadwal terakhirku kamu harus mau telanjang dada selama pemotretanku berlangsung) “ ancaman Divya sukses membuat Liam mati kutu