
Dari pagi tim Jakarta sudah bersiap di lobi apartement menunggu mobil yang akan mengantar mereka ke bandara Phu Quoc untuk pulang ke Jakarta
“akhirnya pekerjaan kita selesai juga aku sudah kangen makan nasi pecel, rujak cingur, lontong balap.....”ucap Muslim yang memang berasal dari Surabaya.
“Jakarta..... aku pulang" ucap Gultom yang sudah tidak sabar segera boarding.
“pak.... yakin yang serah terima project kita rekan rekan Vietnam?” tanya Cahyo.
“iya.... biar mereka saja....yang penting kita menjaga kualitas bangunan hingga bisa di pakai untuk beberapa dekade ke depan. Tapi kalau kamu ingin ikut acara serah terima silahkan saja.... kami akan kembali ke Jakarta” ucap Fajrin sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Meskipun project yang mereka kerjakan tidak sesuai target yang seharusnya selesai dalam empat belas bulan tapi mundur hingga delapan belas bulan, kesalahan bukan pada mereka tapi pada pemilik project karena beberapa kali pemilik project terlambat melakukan pembayar berkala sesuai perjanjian dan sangat terpaksa Fajrin menghentikan pengiriman material hingga mereka selesai melakukan pembayaran sesuai kesepakatan. Meskipun tidak ada satu pekerja pun yang telat pembayarannya tapi tetap saja membuat kantor pusat memutar otak untuk pembayaran para pekerjanya.
Tepat pukul sepuluh tiga puluh menit private jet Sundth Air menerbang mereka kembali ke Jakarta.
“maaf pak Fajrin, bos besar Azkar menghubungi anda..... bisakah anda masuk ke dalam kokpit?” ucap seorang pramugara.
Fajrin berdiri dan melangkah masuk kedalam kokpit untuk menerima sambungan komunikasi dengan Azkar.
“Assalamualaikum, ya bang" salam Fajrin.
“......”
“iya bang, ini masih di atas kepulauan Riau" ucap Fajrin pelan.
“.......”
“wa'alaikumsalam” salam Fajrin dan menyerahkan kembali headset ke pramugara.
Fajrin kembali duduk di kursinya dan menarik nafas panjang.
“besok kita masuk untuk melaporkan semua kegiatan kita selama di Phu Quoc dan mulai lusa kita mendapat libur selama satu minggu penuh.”ucapan Fajrin.
Seketika membuat seisi pesawat riuh karena gembira mendapatkan cuti satu minggu penuh setelah delapan belas bulan tidak bertemu keluarga.
Private jet Sundth Air mendapat di terminal tiga khusus private jet tepat menjelang Adzan Ashar waktu setempat. di pintu kedatang sudah menunggu dua buah mobil yang akan mengantar mereka untuk pulang ke rumah masing-masing atau pun tempat kost mereka.
Fajrin melangkah pelan masuk ke dalam rumah yang sudah terlihat rapi dan bersih.
“apa adik sudah di rumah?” ucap Fajrin yang sudah memasukkan membuka pintu rumah.
“Assalamualaikum.... dik......adik sudah pulang kah?” salam Fajrin mencari tahu keberadaan Nara.
“wa'alaikumsalam..... kakak..... Nara kangen..... “ balas Nara yang sudah melompat ke dalam pelukkan Fajrin dan bergelantungan seperti koala.
“kangen kakak ya..... bagaimana sekolahnya..... bagus tidak nilai adik?" Tanya Fajrin sambil menahan Nara yang masih memeluk Fajrin seperti koala.
“bagus dung..... Nara kan rajin..... oya kak.... besok hari terakhir pendaftaran gelombang tiga di Universitas Dinamika...... kakak besok temani Nara ya......” pinta Nara sambil memohon.
“mmmmm..... besok kakak masih harus masuk kantor untuk laporan pekerjaan selama di Phu Quoc.....” ucap Fajrin dan membuat Nara turun dari pelukkan Fajrin.
“pendaftaran gelombang tiga sampai jam berapa?” tanya Fajrin yang sudah menyeret kopernya masuk ke kamar.
“sampai jam tiga sore" ucap Nara sambil menunjukkan kertas selebaran pendaftaran mahasiswa baru Universitas Dinamika.
“Insya ALLAH bisa..... tapi kakak berangkat dari kantor..... kita ketemuan di depan gerbang universitas saja bagaimana?” ucap Fajrin yang sudah mengeluarkan semua pakaian kotornya dari dalam koper.
“boleh.....janji ya...” ucap Nara sambil mengacungkan jari kemungkinannya pada Fajrin.
“adik yakin mau kuliah disana? Adik sudah tahu belum berapa biaya kuliah disana?”tanya Fajrin yang kuatir dengan biaya kuliah Nara.
Fajrin mulai memikirkan berapa banyak biaya kuliah Nara untuk tahun pertama kuliah, mengingat bahwa bonus dari project Phk Quoc akan dia pakai untuk membayar hutang pada seorang tua Roby. Fajrin melihat selebaran brosur yang tadi Nara tunjukkan. Fajrin membaca nominal biaya development fee dan biaya kuliah per semester yang senilai dua pertiga dari gajinya.
“dik..... kalau daftar ke Universitas lain bagaimana?” tanya Fajrin sedikit pelan kuatir kalau Nara akan merajuk.
“jurusan yang Nara pilih hanya ada di kampus ini..... apa kakak mau Nara kuliah di NTU?” ucapan Nara seketika membuat Fajrin tertegun.
“Apa adik tidak tertarik dengan jurusan yang lain? Management mungkin atau ekonomi bisnis atau kimia?” tanya Fajrin mencoba membujuk Nara.
“Nara hanya mau jurusan ini...... “ Nara mulai merajuk.
“Ya ALLAH..... bonus project Phu Quoc hanya lewat saja tak ada yang tersisa untuk aku simpan.” Gumam Fajrin dalam hati.
“Baiklah..... kalau adik memaksa ambil jurusan itu..... tapi kakak ada syarat yang harus adik penuhi” ucap Fajrin mencari tahu keseriusan Nara.
“Apa kak?” Nara semakin penasaran.
“IP setiap semester tidak boleh di bawah tiga koma depan sembilan, tidak boleh titip absen, tidak boleh mengeluh banyak tugas, tidak boleh ada nilai di bawah B. Kalau adik sanggup kakak akan dukung adik sepenuhnya.” Ucap Fajrin dengan tegas mengingat biaya kuliah yang besar sekali bila di bandingkan biaya kuliahnya.
“Nara janji.... tapi kalau ada semester pendek Nara boleh ikut ya....” rayu Nara kembali.
“Ok..... besok kakak antar adik daftar.”ucap Fajrin yang sudah memasukkan pakaian kopernya ke dalam mesin cuci.
Sebenarnya Fajrin memahami sekali kenapa Nara bersikeras memilih jurusan itu tidak mau berpaling ke jurusan lain, tapi Fajrin tidak mau tebakannya salah jadi dia memberikan syarat yang mungkin menurutnya terlalu berat tapi ternyata Nara menyanggupi persyaratan yang dia ajukan.
Fajrin termenung di dalam kamar menghitung Kira-Kira berapa besar bonus yang dia terima, karena dengan bonus ini dia ingin melunasi hutang-hutangnya pada orang tua Roby.
“Kalau lima puluh persen dari bonus di tambah gaji selama tujuh bulan..... hutang ke papa Roby langsung lunas, hutang biaya renovasi rumah ini pakai gaji empat bulan, hutang biaya sekolah Nara di Lampung pakai gaji tiga bulan......”Fajrin menghela nafas panjang.
“Uang development kuliah Nara empat bulan gaji dan spp semester pakai uang mana?” gumam Fajrin sambil menggeser layar ponselnya yang menampilkan jumlah kredit gajinya selama depan belas bulan di Phu Quoc.
“tidak mungkin aku pinjam lagi untuk bayar spp selama satu tahun.....”gumam Fajrin sambil mengacak-acak rambutnya yang tak terasa gatal.
“Aaaahh..... Sudahlah nanti ada rezeki lagi bisa di tabung lagi... yang penting Nara bisa kuliah.” Ucap Fajrin sambil mematikan ponselnya.
“Kak..... kalau kakak tidak ada uang..... belikan Nara laptop saja dan pasang jaringan internet di rumah..... Nara akan belajar sendiri di beberapa website" ucap Nara yang sedari tadi melihat kegelisahan Fajrin.
Fajrin membelai rambut adiknya dan memeluk erat serta mencium puncak kepala Nara berkali-kali.