My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 13 HUTANG (2)



“bang Azkar..... kenapa begini?” tanya Fajrin dengan heran dan juga terkejut.


“kenapa? Tidak jadi melunasi hutangmu?” tanya balik Azkar membuat Fajrin semakin heran.


“ini terlalu berlebihan bang" ucap Fajrin.


“tidak berlebihan sama sekali mengingat apa yang sudah kalian lakukan pada adikku.....” ucap Azkar sambil memandangi sebuah figura kecil yang berada di meja kecil dekat dia duduk.


“itu sudah kewajiban dia menolong orang yang memerlukan bantuan" ucap Fajrin memperjelas sikapnya.


“manusia hanya memiliki satu nyawa dan nyawa itu tidak dapat dinilai dengan materi..... berapa pun materi yang kami miliki tidak dapat menggantikan nyawa yang hampir saja melayang. Kalau saja waktu itu tidak ada Nara mungkin tidak hanya nyawa adikku yang melayang tapi mungkin beberapa anggota keluargaku juga akan melayang.” Jelas Azkar membuat Fajrin memandangnya dengan wajah sendu.


“tapi bang...... apa yang sudah abang berikan pada kami sudah lebih dari cukup bahkan sangat berlebihan" ucap Fajrin memohon agar Azkar mau menerima pelunasan hutangnya.


“berapa pun yang kamu transfer ke rekening itu..... aku akan menganggap semua hutang kamu lunas.” Ucap Azkar membuat Fajrin tidak berkutik dan akhirnya mentransfer sejumlah uang ke rekening yang Azkar berikan.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya proses transfer selesai, Fajrin memperlihatkan bukti tranfer pada Azkar. Azkar berdiri dari sofa melangkah ke meja kerja dan membuka sebuah laci untuk mengambil sesuatu. Azkar kembali duduk di sofa dan mengulurkan tangan menyerahkan sebuah buku rekening dan kartu ATM pada Nara.


“Nara...... ambil ini" ucap Azkar membuat Nara melihatnya sesaat dan berganti melihat Fajrin dengan tatapan heran penuh pertanyaan.


“apa ini bang?” tanya Nara heran.


“ambillah.... anggaplah ini hadiah dari kami untuk kamu.... kamu sudah dewasa sebentar lagi menjadi mahasiswa pasti kamu akan butuh rekening sendiri.” Jelas Azkar semakin membuat Nara bingung.


“tapi ini milik bang Azkar bukan milik kak Fajrin..... kakak sudah memberi Nara uang saku jadi Nara tidak butuh ini" jelas Nara malu-malu.


“Nara...... abang sudah menganggap kalian sebagai keluarga..... dan seorang abang akan melakukan apa pun demi keluarga abang..... jadi terimalah.... abang hanya akan meminta Nara untuk belajar lebih rajin dari sekarang wujudkan cita-citamu buat kakak dan abang bangga hingga kami tidak bisa menahan air mata melihatmu sukses.” Jelas azkar membuat Nara terharu dan kedua matanya berkaca-kaca.


Fajrin membelai punggung Nara untuk menguatkan diri.


“terimalah dik...... itu hak kamu......” ucap Fajrin yang masih membelai punggung Nara.


Nara mengambil buku rekening dan kartu ATM yang ada di depannya.


“Masya ALLAH banyak sekali..... ini untuk Nara semua? Apa tidak terlau berlebihan?” tanya Nara heran.


“saat kuliah nanti, kamu pasti akan butuh komputer atau laptop atau mungkin kamu akan membuat server sendiri. Dan tentunya kamu juga membutuhkan jaringan internet..... pakai uang itu untuk memenuhi hal-hal yang paling kamu butuhkan selama kuliah.”jelas Azkar


Fajrin menggenggam erat kedua tangan Nara yang bergetar karena terharu dan merasa bahwa Azkar sangat mengistimewahkan dirinya, padahal mereka tidak ada hubungan darah sama sekali.


“terima kasih bang..... Nara tidak akan mengecewakan abang dan kakak.... Nara janji akan membuat kalian berdua bangga.” Ucap nara yang semakin tertunduk tak berani menatap Azkar mau pun Fajrin.


Setelah Azkar dan Fajrin selesai berbasa basi, Fajrin ijin untuk pulang.


“dik.... sebelum pulang kita mampir ke rumah teman kakak ya....” ucap Fajrin sambil membantu Nara mengenakan helm.


“iya" jawab Nara singkat dan tersenyum pada Fajrin.


Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh limq menit dengan menggunakan motor, mereka sampai di sebuah rumah yang menurut Nara sangat besar.


“rumah siapa kak?” tanya Nara sambil berusaha melepas helm yang dia pakai.


“ini rumah Roby.... kakak ada sedikit keperluan dengan om Rendra ayahnya Roby.” Ucap Fajrin yang sudah melangkah mendekati pagara dan menekan bel pintu.


Setelah menunggu kurang lebih tiga menit seseorang membuka pintu pagar untuk Fajrin dan Nara.


“Assalamu'allaikum” salam Fajrin dan Nara hampir bersamaan.


“Wa'alaikumsalam” balas orang itu.


“ada.... beliau ada di ruang tengah.... silahkan masuk" ucap orang itu dan mengantar Fajrin menemui Rendra yang sedang bersantai dengan istrinya dan seorang anaknya di ruang tengah.


“Assalamu'allaikum” salam Fajrin saat melihat Rendra dan keluarganya.


“Wa'alaikumsalam” balas Rendra dan keluarganyq hampir bersamaan.


“ayo.... masuk sini.... duduk sini" ucap Rendra pada Fajrin.


Saat Fajrin hendak melangkah masuk ke ruang tengah yang bisa di akses dari dapur tiba-tiba Nara menahan tangannya.


“ada apa?” tanya Fajrin heran.


“sebentar.... Tunggu, Nara lepas sepatu dulu" ucap Nara sambil membungkuk berusaha melepas sepatunya.


Segera Fajrin berjongkok di depan Nara dan membantu Nara melepas sepatunya, apa yang Fajrin lakukan saat ini membuat anak dan istri Rendra terkejut juga heran.


Fajrin menggengam tangan Nara dan mengajaknya duduk di sebuah sofa tepat di depan Rendra.


“bagaimana pekerjaan kamu..... lancar?” tanya Rendra membuka pembicaraan.


“Alhamdulillah om.... semua berkat doa om dan tante" ucap Fajri dengan sopan.


“ini pasti Febyanara..... bagaimana kabarmu.... sudah memutuskan mau kuliah dimana?” pertanyaan Rendra membuat Istri dan anaknya heran.


“iya om.... Insya ALLAH kuliah di universitas Dinamika”ucapan Nara membuat anak Rendra terkejut.


“wuiiiih..... kampus bergengsi tuh..... ambil jurusan apa?” tanya Vito.


“Insya ALLAH ilmu komputer dan sistem informasi" ucap Nara tertunduk.


Nara tidak berani memperlihatkan kedua matanya pada maya dan vito juga Rendra.


“om.... maaf menganggu waktunya..... saya kesini ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada om karena sudah percaya pada saya.... dan hari ini saya melunasi hutang saya pada om" ucap Fajrin dengan pelan dan sopan.


“iya.... Roby sudah cerita dan om juga sudah mendapatkan pesan notifikasi uang yang kamu transfer..... om juga terima kasih kamu sudah melunasi hutang-hutangmu" ucap Rendra dengan sabar.


“papa yakin.... semua hutang dia sudah lunas? Tidak kurang jumlahnya? Sini mama lihat pesan notifikasinya" ucap Maya sambil meraih ponsel Rendra.


“mama ini..... tidak sopan ada tamu jangan seperti ini" ucap Rendra tegas.


Maya tidak memperdulikan ucapan rendra dan tetap saja mencari pesan notifikasi transaksi yang masuk ke rekening Rendra, Rendra menggelangkan kepala melihat tingkah istrinya yang tidak percayainya.


“kenapa tidak ada lebihnya" ucap maya tiba-tiba membuat Fajrin dan Nara terkejut begitu juga dengan Rendra.


“mama..... itu sudah semua hutang-hutangnya.... kenapa ada lebihnya segala?” suara tegas Rendra terdengar sangat menusuk hati Fajrin.


“setiap pinjaman pasti kembali harus ada lebihnya" ucap Maya sewot.


“Astagfirullah mama..... riba itu" ucap Rendra yang merasa tidak enak pada Fajrin.


“tidak apa om kalau tante mau ada lebihnya.... akan saya transfer sepulang dari sini.... tante sebutkan saja berapa yang harus saya transfer lagi" ucap Fajrin dengan menahan sakit hati.


Kedua suami istri mulai berdebat membuat Vito malu hingga Rendra meminta Fajrin untuk keluar dari rumahnya.


“kak.... maafkan mama ya..... terima kasih sudah singgah di rumah kami.... lain kali datang lagi ya...” ucap vito dengan buru-buru karena Maya memanggilnya untuk masuk.